Tampilkan postingan dengan label Catatanku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatanku. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Desember 2016

10 Juta Pekerja China?


Sumber foto
Sulitkah belajar berhitung? Pastinya!

Buktinya, banyak orang - entah berapa jumlahnya - percaya berita bahwa ada 10 (atau malah 20) juta tenaga kerja China (ilegal) masuk Indonesia. Bisakah membayangkan seberapa besarnya gerombolan 10 - 20 juta pekerja itu? Apalagi jika semua berpakaian biru?

Sini, saya ajari cara membayangkannya.

Jumlah penduduk Singapur itu 5,9 juta. Iya. Cuma segitu itu. Nggak ada separonya dari jumlah penduduk Greater Jakarta. Bayangkan jika mereka serentak mengendap-endap masuk ke Indonesia. Ya… tidak dalam sehari, bayangkan saja dalam rentang sebulan. Supaya mudah, saya bulatkan jumlah penduduk Singapur jadi 6 juta. Jadi dalam sehari ada 200.000 orang secara ilegal masuk Indonesia sampai negara itu kosong.

Kira-kira mereka naik apa?

Pesawat dan kapal. Ya. Ilegal, lho. Ilegal.

Tahukah kalian bahwa hanya ada 30 bandara internasional di seluruh tanah air Indonesia? Atau mungkin 32? Anggap saja 30. Dan kita punya sekitar 114 pelabuhan. Nah… tiap hari bandara dan pelabuhan di Indonesia dilalui orang-orang ilegal ini. Oh! Itu belum termasuk pendatang lain - yang entah jumlahnya berapa, pasti juga ratusan ribu - yang keluar-masuk wilayah Indonesia secara legal setiap hari untuk berbagai keperluan: wisata, bisnis, mengunjungi keluarga, sekolah, pertukaran budaya dan alasan lain.

Baik, sebagian dari pekerja ilegal itu ada yang lewat pelabuhan-pelabuhan kecil, atau - mungkin - diterjunkan dari pesawat dengan berparasit di tengah malam di hutan-hutan, atau terapung-apung dengan perahu layaknya pengungsi.

Sebagai perbandingan, yang semoga lebih mudah untuk dibayangkan, jumlah jemaah haji Indonesia tahun 2016 lalu dilaporkan 168.000 orang. Untuk mengangkut jumlah sekecil itu (dibandingkan 10-20 juta jumlah itu keciiil, Mak!) dari 13 embarkasi di seluruh Indonesia, butuh waktu 2 minggu dalam 384 kloter (kloter itu kependekan dari ‘kelompok terbang’, kalau-kalau belum tahu).

Nah. Sekarang pasti lebih mudah membayangkan bagaimana 10-20 juta orang masuk Indonesia. Dan berlangsung tiap hari selama sebulan penuh. Atau maunya masuk bertahap selama 1 tahun? Boleh. Atau selama kurun waktu 2 tahun sejak 20 Oktober 2014 (ini tanggal dilantiknya Jokowi sebagai Presiden Republik Indonesia). Baiklah. Suka-suka kalian. Tapi bayangkan sendiri, ya.

Mari saya ajak menengok negara-negara besar yang sering menjadi sasaran pekerja dari China. Tahukah, bahwa di Amerika Serikat saat ini imigran asal China tak genap 4 juta kepala dan hanya sekitar setengahnya yang kelahiran China. Sisanya lahir di mana? Coba cari tahu sendiri.

Kita bergerak ke Australia. Penduduk Australia itu hanya 24 juta! Tidak percaya? Makanya, sering-sering baca. Baca. Bandingkan dengan jumlah penduduk Provinsi Jawa Barat yang nyaris 46 juta tahun ini. Lalu… bayangkan lagi jika separonya masuk Indonesia. Kanguru, koala dan platypus akan jadi ratu dan raja. Menurut statistik, Australia selama kurun 2014 - 2015 menerima sekitar 189.000 imigran. Kira-kira sama dengan jumlah jemaah haji Indonesia pertahun.

Ingin tahu Eropa? Di tahun 2015 jumlah imigran, termasuk pengungsi (coba cari tahu beda imigran dengan pengungsi) yang masuk ke Eropa, ke berbagai negara di sana, kira-kira 1,3 juta dan sebagian para pencari asilum dari Suriah, Afghanistan, Irak dan Kosovo.

Jadi, kalau ada 10 bahkan 20 juta pekerja China masuk Indonesia dalam kurun waktu 2 tahun ini, pasti seluruh dunia sudah geger gendra membicarakannya, bukan hanya di Facebook (atau twitter) saja.

Bagaimana halnya dengan puluhan ribu orang pekerja China itu? Wajar saja. Di berbagai negara, terutama negara-negara yang relatif aman dan mapan, imigran berdatangan, legal maupun ilegal. Sudah terjadi sejak jaman purba dan akan makin deras di tahun-tahun mendatang sebab jumlah penduduk bumi tiap detik bertambah. Apalagi dari China. Tahu kalian jumlah penduduk China?

***

Minggu, 03 Januari 2016

Kupu-kupu Patah Sayap

Sumber Foto

Lupa sudah apa yang membuatku menonton film biografi artis Amerika yang namanya kondang di akhir tahun 50-an hingga meninggalnya di bulan November 1981 itu. Aku begitu saja menemukan videonya - yang berkualitas lumayan - di YouTube. Durasi film 2 jam 45 menit tak membuatku beranjak dari kursi.

Kisah hidup Natalie - dipanggil Natasha oleh keluarga - bagaikan kupu-kupu yang sayapnya patah. Indah namun tak mampu terbang ke tempat yang ia mau. Karirnya di dunia film diawali dengan upaya sadis oleh ibunya: menarik putus dua sayap seekor kupu-kupu besar hitam untuk membuat Natalie menangis. Saat itu Natalie belum genap 5 tahun. Ibunya, Maria, gigih merencanakan dan mewujudkan karir anaknya sejak ia mendengar seorang gypsy meramalkan bahwa Natalie akan menjadi orang besar yang terkenal namun akan mati ditelan air. Ramalan itu diceritakan pada banyak orang oleh Maria termasuk pada cucu-cucunya, anak-anak Natalie.

Sedemikian keras Maria melecut semangat Natalie hingga batin si cantik itu babak belur. Hubungan ibu-anak itu selain penuh kasih juga dirundung benci. Saat Natalie remaja ia menjalin cinta dengan pemuda biasa. Maria melarangnya. Akibatnya fatal. Sang pemuda patah hati dan bunuh diri. Hati Natalie ambyar. Tidak sampai di sana. Saat usia Natalie menginjak 19 tahun, Maria mengijinkan putri yang merupakan tambang emas keluarga itu menikahi Robert Wagner, antara lain membintangi It Takes A Thief, Hart to Hart dan muncul dalam beberapa episode NCIS sebagai ayah Anthony Dinozzo. Namun Maria, yang dalam film biografi itu digambarkan berbicara dengan aksen Rusia amat kental, menuntut syarat berat: Natalie dilarang hamil dan punya anak. Susah masuk di akal!

Ketenaran dan harta melimpah ruah di saat Natalie remaja. Namun ada luka menganga di dalam batinnya. Selepas cerai dari Wagner, Natalie dikabarkan punya banyak pacar. Ia juga berteman dengan Warren Beatty. Dalam salah satu momen ia curhat pada suami Annette Bening itu. Ia mengolok-olok kesuksesannya sendiri. Katanya sinis: "I wanna be a movie star, wanna have fancy cars, big house in Beverly Hills, 9 guys working for me. That's what I wanted and that's what I got." Ketika Beatty mengatakan bahwa Natalie sudah sukses besar, ia menyahut, "It's funny about success. I'm 27 years old, don't have a husband or a baby, not in love with anybody, nobody's in love with me.... Big success, huh?"

Natalie juga bilang bahwa sebenarnya saat itu, di usia akhir 20-an, ia hanya ingin 'take some classes at UCLA, paint and read books'. Keinginan sederhana yang tak terpenuhi.

Film biografi bintang film yang mati tenggelam - persis ramalan si gypsy - ini baik ditonton oleh orang tua yang memaksakan ambisi mereka pada anak-anak. Atau yang mendorong anak-anak mereka menempuh 'segala cara' demi meraih sukses. Pun menegaskan bahwa ketenaran tidak selalu seiring sejalan dengan kebahagiaan; bahwa gemerlapnya materi bukan jaminan ketentraman hati.

Untuk yang berminat menonton filmnya, bisa klik tautan ini: The Mystery of Natalie Wood. Film biografi yang cukup menarik, di dalamnya ditampilkan bintang-bintang ternama yang kini masih hidup, termasuk Robert Wagner. Ada juga Christopher Walken, yang dianggap tahu banyak tentang matinya Natalie, dan Marilyn Monroe. Sedikit disinggung bagaimana kematian Marilyn semakin membuat Natalie tertekan hingga ia ingin menyusul seniornya itu.

***

Sabtu, 07 November 2015

Tips Menumbuhkan Uban


Aku dan Rambut Berubanku
Menumbuhkan uban? Bukankah uban tumbuh sendiri? Ya, pastinya. Ini bukan soal logika bahasa, ini perkara berhenti mengecat rambut (yang sudah beruban) dan menyamarkan tampilan rambut aneh dua warna: uban di akar rambut dan warna cat (hitam/coklat) di bagian bawahnya.

Nyaris setahun saya berpikir untuk berhenti mengecat rambut dan menampakkan warna asli rambut saya yang sudah mulai tumbuh uban sejak awal 30-an.

Kok sampai setahun mikirnya? Takut terlihat tua?

Bukaan! Saya yakin usia itu matematika dan penampilan itu biologi, jadi sedikit hubungannya. Saya sungguh tidak mau rambut saya terlihat aneh, dua warna, terlihat wagu. Dan saya tidak tahu bagaimana menyamarkan tampilan aneh dua warna itu.

Saya mencoba mencari tahu lewat internet, tidak banyak membantu. Artikel berbahasa Indonesia yang saya temukan semuanya tentang cara memperlambat tumbuh uban dan mengecat rambut beruban. Artikel berbahasa Inggris banyak menampilkan contoh-contoh gaya rambut beruban, namun tidak saya temukan artikel tentang ‘cara menyamarkan dua warna’ yang saya maui itu. Kebanyakan hanya menuliskan bahwa ‘rambut dua warna’ itu sudi-tak-sudi harus dijalani. Sampai suatu saat, kira-kira di atas 8 bulan, ketika rambut yang beruban sudah cukup panjang, rambut bisa dipotong pada batas bawah ubannya. Wah. Lama. Kalau ingin lebih cepat, 3-4 bulan saja, harus rela rambut dipotong cepak gaya maskulin.

Selain tidak menemukan artikel yang membantu saya membuat keputusan, saya juga tidak mendapat jawaban memuaskan dari salon-salon rambut yang saya datangi untuk berkonsultasi. Semua, ya… semua petugas di salon-salon itu terheran-heran, tidak paham maksud saya. Bahkan sebagian mengatakan bahwa kemungkinan rambut saya akan makin kering, ada juga yang kuatir tampilannya akan jelek.

Beberapa orang mengatakan bahwa salon yang bisa melakukan ‘tugas semacam itu’ hanya salon high-end, alias mahal. Tidak masalah. Tapi, ketika saya datangi salon yang termasuk mahal di Yogya, inilah jawaban yang saya terima: “Yaaa… ditunggu aja sampai 6 bulan baru dipotong pendek.”

Maju. Mundur. Maju. Mundur. Maju. Dan majuuu.... Ya, saya maju.

Kemarin siang, 6 November 2015, saya masuki salon langganan saya yang murah-meriah-ramah.

“Berani!” jawab Yuli, salah satu penata rambut. “Itu hanya seperti di-highlight, di bagian-bagian tertentu, lalu diwarna uban,” sambungnya mantap. Lalu kami berdiskusi sebentar.

Dia akan melakukan layaknya proses bleaching rambut.

“Rambut Bu Endah sudah coklat. Bagian akarnya sudah tumbuh uban hampir 2 centi. Bagian belakang ubannya sudah lebih panjang. Ini akan cepat. Mungkin hanya perlu bleaching dua kali.” Yuli tegas. Mantap!

Setelah rambut dipotong, proses bleaching dimulai. Yuli memutihkan beberapa bagian rambut, disesuaikan dengan pola tumbuh uban di kepala saya. Proses pemutihan pertama selesai dalam 30 menit. Ketika dibuka, warna rambut di bagian akar sudah kuning terang, sedangkan ujung bawah masih kecoklatan. Sehabis dicuci dan dikeringkan, saya suka melihat hasilnya.

“Bleach sekali lagi, Bu. Habis itu baru dicat warna silver,” Yuli tampak senang.

Yuli benar. Hanya dengan 2 kali pemutihan, helai-helai rambut saya di sana-sini sudah berubah kuning terang. “Keramas sekali lagi, dan diwarnai ini,” Yuli menunjukkan cat rambut warna perak/abu-abu.

Sejam kemudian, aku bersorak. Yuli kegirangan pun, sebab ia kuberi tip cukup banyak.

Hasilnya, bisa dilihat di foto. Rambutku tidak lagi wagu. Aku cinta ubanku.

Untuk para perempuan beruban yang ingin berhenti mengecat rambut seperti saya, jangan ragu-ragu. Kalau tak ingin rambut dipotong sangat pendek, cara yang saya tempuh ini bisa ditiru. Kata anak dan menantu saya hasilnya unyu-unyu!

 ***

Catatan: menurut Yuli, kalau rambut sudah biasa dicat hitam, pemutihan bisa sampai 3 atau 4 kali. Lebih lama prosesnya. Proses saya ini butuh waktu sekitar 4 jam.

Senin, 26 Oktober 2015

Kisah Para Penyintas Chernobyl


Sumber Foto
Membaca kumpulan cerita ‘Voices from Chernobyl’ karya Svetlana Alexievich, pemenang Nobel 2015 untuk karya sastra, memaksaku belajar tentang Belarus, Rusia dan perang saudara di Tajikistan.

Buku versi pdf yang kuunduh gratis hanya berisi bagian pertama dari kumpulan cerita itu, dua bagian lainnya sulit sekali kutemukan. Mungkin memang belum beredar atau harus membayar.

Kumpulan cerita ini diawali dengan secuplik sejarah terjadinya bencana Chernobyl, sebagai informasi untuk pembaca (muda) bahwa di tahun 1986 terjadi ledakan pada salah satu reaktor di kawasan pembangkit listrik tenaga nuklir tak jauh dari kota Pripyat, Ukraina, kira-kira 16 km dari perbatasan Ukraina-Belarus. Bencana ledakan reactor nuklir itu merupakan yang terbesar sepanjang sejarah penggunaan reactor nuklir sebagai pembangkit tenaga listrik. Jumlah korban hingga kini, saat artikel ini ditulis, sulit dihitung. Konon sebaran radioaktifnya hingga ke seluruh penjuru Eropa dan melepaskan radiasi 400 kali lebih dahsyat dari bom yang menghancurkan Hiroshima.

Bagian pertama dari kumpulan cerita pendeknya itu, sebagian ia sebut sebagai monolog, mengisahkan tentang kematian.

Dalam prolognya, ia menuliskan tuturan seorang istri (Lyusya) salah satu petugas pemadam kebakaran (Vasya) yang terlibat langsung dalam usaha pemadaman api di reactor yang meledak. Karena parahnya kondisi Vasya, dan demi keperluan penelitian di laboratorium, ia diterbangkan ke rumah sakit khusus di Moskow. Lyusya menyusul suaminya dan dengan cerdik tapi nekad ia bisa diijinkan masuk ke ruangan tempat suaminya dirawat. Perempuan berusia 23 tahun, pengantin baru, itu berbohong bahwa dirinya sedang tidak hamil demi bisa menjaga suaminya. Ia sama sekali tidak tahu – tidak ada yang tahu, memang dirahasiakan – bahwa radiasi nuklir sangat fatal bagi diri dan janinnya.

Tubuh suaminya itu telah terkena radiasi hingga sekian kali lipat dari ambang batas yang mematikan. Vasya telah merupa reactor nuklir, ujar salah satu perawat yang memohon agar Lyusya tidak berada dalam satu ruangan dengan suaminya.

Lyusya menuturkan perubahan wujud suaminya, bagaimana kulitnya melepuh dan penuh gelembung warna-warni, bagaimana ia berak darah dan nanah 25 hingga 30 kali sehari dan rambutnya yang rontok setiap kali kepalanya bergerak, bagaimana tubuhnya mrotholi sedikit demi sedikit. Lyusya menunggui Vasya selama 14 hari hingga petugas pemadam kebarakan itu meninggal.

Tak berhenti di sana, bayi perempuan mereka meninggal hanya beberapa jam setelah dilahirkan sebab radiasi nuklir menembus tubuh Lyusya hingga ke rahim dan melukai janin.

Beberapa tahun kemudian Lyusya menikah. Ia melahirkan bayi lelaki yang utuh yang ia namai Andrei. Keduanya sakit, tak jelas apa penyakitnya. Mereka tahu, setiap saat mereka bisa terjatuh dan tidak bangun lagi. Mati.

Kisah-kisah lain yang ada di bagian pertama buku ini adalah monolog dari beberapa orang, di antaranya seorang psikolog bernama Pyotr. Ia merasa horror yang menghantui hidupnya lenyap ketika perang berakhir. Namun kengerian itu kembali merenggutnya saat ia datang ke kawasan bencana Chernobyl. “The future is destroying me, not the past,” tutur Pyotr mengakhiri monolognya.

Dalam monolog lain, seorang perempuan menuturkan bagaimana orang-orang tidak tahu ‘wujud’ radiasi di sekitar mereka.

“Seperti apa itu radiasi?”

“Ibu, itu semacam kematian. Bilang nenek kalian harus pergi, kalian pindah ke rumah kami.”

Seperti apa wujud radiasi? Putih atau apa? Orang bilang radiasi tidak berwarna dan tidak berbau. Orang lain lagi bilang warnanya hitam. Seperti tanah. Namun kalau itu tidak berwarna, itu seperti Tuhan. Tuhan ada di mana-mana.

Mencekam.

Ada pula monolog yang menggambarkan bagaimana sebuah keluarga dari negara tetangga, Tajikistan, memilih tinggal di kawasan bencana itu. Mengapa? Sebab di negeri mereka tengah terjadi perang saudara antara kaum Kulyab dan Pamir. Perang saudara itu terjadi pada tahun 1992, kira-kira 6 tahun setelah meledaknya salah satu reactor nuklir Chernobyl.

Kelaurga itu rela pindah ke Belarus agar tidak dibantai oleh saudara sendiri. “Mereka orang-orang biasa, hanya menyandang senjata otomatis,” tutur perempuan yang mengaku bernama Svetlana, yang melihat bagaimana orang-orang disuruh turun dari bis dan ditembak bahkan sebelum sempat menjawab pertanyaan dari para penyandang senjata itu.

Ketika tiba di salah satu desa tak jauh dari Chernobyl dan melihat banyak rumah kosong, mereka tak peduli meskipun diberi tahu bahwa di wilayah itu sangat berbahaya karena radiasi tinggi. Mereka tak takut pada radiasi. Mereka takut pada manusia.

** 

Judul bagian pertama “The Land of the Dead” sesuai dengan kisah-kisah yang diperoleh Svetlana Alexievich dari wawancara dengan para penyintas radiasi dan perang yang terjadi di sekitar kawasan bencana Chernobyl. Radiasi tak terlihat mata, tak terendus dan tak teraba, namun kengerian dan kepedihannya sungguh nyata.

** 

Bagi yang ingin membaca kisah-kisah itu, sila unduh dari tautan ini.

Jumat, 26 Juni 2015

Sebuah Kamar dan Sebendel Uang


Membaca essay Virginia Woolf ‘A Room of One’s Own’ saya teringat Kartini. Selisih usia mereka tidak jauh. Virginia lahir di Inggris pada Januari 1882 dan Kartini pada saat itu akan beranjak 3 tahun. Namun Kartini malang tidak berusia panjang untuk punya kesempatan menulis buku. Sebaliknya Virginia menghasilkan banyak karya dan empat di antaranya dikenal masyarakat luas, berupa novel Mrs. Dalloway, To the Lighthouse dan Orlando, serta sebuah essay yang judulnya saya sebut di atas.

Saya tergerak membaca essay tersebut selepas membaca diktumnya – lupa dalam artikel apa ditulis oleh siapa – yang menurut saya perih terasa, yakni: a woman must have money and a room of her own if she is to write. Duhai!

Meskipun Inggris kala itu sangat berkuasa dan menjajah banyak negara dari ujung timur hingga ke ujung barat dunia, nasib para perempuan di sana 11-12 dengan di Indonesia yang masih dijajah Belanda.

Virginia marah di dalam essay itu. Di jamannya para perempuan terlalu miskin harta dan sempit kesempatan untuk berkarya sesuai minatnya, terutama kesusastraan. Oleh karenanya ia dengan sinis mempersilakan orang menyebut dirinya Mary Beton, Mary Seton, Mary Carmichael*) atau apa saja, sebagai pengganti ‘aku’ untuk menekankan bahwa keberadaannya tidak penting; sebab ia seorang perempuan.

Ia merujuk gagasan para lelaki tentang perempuan yang merendahkan sekitar setengah dari seluruh spesies manusia itu. Amarahnya terhadap rendahnya posisi perempuan di dunia yang patriarkal itu sebagian ia luapkan dengan mencipta karakter lelaki yang ia namai Professor von X, seperti cuplikan berikut ini:

 “[…] Professor von X engaged in writing his monumental work entitled The Mental, Moral, and Physical Inferiority of the Female Sex. He was not in my picture a man attractive to women. He was heavily built; he had a great jowl; to balance that he had very small eyes; he was very red in the face. His expression suggested that he was labouring under some emotion that made him jab his pen on the paper as if he were killing some noxious insect as he wrote, but even when he had killed it that did not satisfy him; he must go on killing it; and even so, some cause for anger and irritation remained. Could it be his wife, I asked, looking at my picture? Was she in love with a cavalry officer? Was the cavalry officer slim and elegant, and dressed in astrakhan? Had he been laughed at, to adopt the Freudian theory, in his cradle by a pretty girl? For even in his cradle the professor, I thought, could not have been an attractive child. Whatever the reason, the professor was made to look very angry and very ugly in my sketch, as he wrote his great book […]”

Wah!

Ia juga mencipta karakter lain bernama Judith Shakespeare, sebagai adik William Shakespeare, untuk menegaskan bahwa di abad 16, di masa kejayaan Ratu Elizabeth (yang dikenal dengan era Elizabethan), perempuan musykil menulis karya sastra sehebat laki-laki.

Ia menjelaskan bahwa ketika William bersekolah dan belajar berbagai ilmu pengetahuan khususnya seni dan kesusastraan, Judith tinggal di rumah menyulam stoking. Meskipun Judith adalah anak kesayangan ayahnya, ia akan segera dinikahkan dengan anak lelaki tetangga sebelum usianya genap 16. Bila ia menolak maka ayahnya – kalau tidak memukulinya – akan memohon agar Judith tidak mempermalukannya. Lalu Judith akan ditaburi dengan mutu manikam dan gaun-gaun indah asalkan ia mau menikah dengan lelaki pilihan ayah.

Sebuah fantasi yang pedih. Terlebih karena itu nyata. Kepedihan serupa itu juga terungkap dalam surat-surat Kartini. Puteri Bupati Rembang itu dinikahkan dengan Joyodiningrat, lelaki yang telah beristri tiga.

Namun dalam situasi seburuk itu terbit juga novel-novel hebat, di antaranya karya Emily Bronte Wuthering Heights dan belasan novel karya Jane Austen yang sebagian sudah difilmkan.

Kini keadaan sudah berubah. Jauh berubah. Perempuan tidak hanya punya kamar sendiri untuk berkarya sesuka dan sesuai minat mereka. Tak sedikit yang kaya karena punya pekerjaan hebat di berbagai bidang yang seabad lalu masih didominasi lelaki. Di toko-toko buku berderet karya para penulis perempuan. Terlepas dari silang sengkarut karya sastra Indonesia, novel Pulang dan Amba**) yang disorot banyak pihak itu keduanya ditulis oleh penulis perempuan.

 Essay Virginia, buat saya pribadi, adalah pengingat bahwa kesempatan (untuk menulis, berkarya, berbuat baik) harus dicari dan ditemukan bila itu tidak tampak di mata. Dan bila itu tersedia harus dimanfaatkan sebaik-baiknya, jangan dibuang demi sekian macam alasan. Banyak orang harus mati untuk memperolehnya.

*** 

*) Sila googling ‘the four mary’ bila ingin tahu lebih lanjut tentang mereka.
**) Saat artikel ini ditulis novel Pulang dan Amba sedang hangat dihujat dalam kaitannya dengan Frankfurt Book Fair.
***) Tautan untuk mengunduh format pdf dari A Room of One's Own

Senin, 22 Juni 2015

Menua Bersama dengan Mesra

Itulah kesan pertama selepas nonton film '5 Flights Up' yang menjejerkan 2 bintang favorit saya sebagai lakon: Morgan Freeman (Alex) dan Diane Keaton (Ruth). Beberapa reviewer film menganggap film ini ringan, serupa cerita pendek di majalah perempuan, tanpa kejutan sedikitpun dan tawar. Bagi saya film ini menjadi jeda yang nyaman sehabis disuguhi adu cacat-cela di media sosial.

Pasangan Alex dan Ruth bersama seekor anjing bernama Dorothy tinggal di sebuah apartemen berlantai 5 di Brooklyn. Ruth adalah pensiunan guru dan berkulit putih. Alex adalah pelukis berkulit hitam yang karyanya cukup laku dan masih produktif hingga tua. Mereka berniat menjual apartemen berkamar 2 yang telah mereka huni selama 40 tahun.

Rencana itu dipengaruhi oleh keponakan mereka, Lilly, seorang broker rumah, dengan alasan bahwa Alex dan Ruth menua hingga perlu pindah ke apartemen yang dilengkapi dengan lift supaya mereka tidak kesulitan naik-turun tangga.

Kisah berkutat pada proses menjual apartemen lama dan membeli yang baru (yang dilengkapi lift). Diselingi sakitnya si Dorothy dan reportase langsung di TV tentang adanya ancaman bom oleh teroris yang akan meledakkan truk tangki minyak di dekat jembatan Brooklyn. Benar bahwa film ini plotnya sederhana, namun akting Freeman dan Keaton memesona hingga saya menikmati tiap kata dan kedip mata mereka. Bahkan sesekali membayangkan diri saya bersama suami akan tetap semesra mereka 20 tahun lagi.

Cara mereka membahas suatu persoalan, bercanda dan saling mengejek mencerminkan perkawinan mereka yang bahagia meskipun jalan yang mereka tempuh terjal. Dalam salah satu adegan Ruth mengatakan bahwa saat mereka menikah 30 negara bagian di Amerika Serikat masih menganggap pernikahan campur sebagai tindakan ilegal. Dan 20 tahun berikutnya orang masih memandang mereka dengan penuh prasangka. Keluarga Ruth sendiri tidak mendukung pernikahan itu. Namun mereka melaluinya dengan baik.

Riak-riak kecil sehari-hari dalam perjalanan pernikahan - dengan sedikit flashback - berhasil ditampilkan wajar dan memikat. Ada beberapa sentilan dan humor dalam dialognya. Misalnya ketika teman mereka, keluarga pemilik galeri yang sudah lama menjual lukisan-lukisan Alex, meminta Alex mengubah gaya lukisannya. Terjadi dialog yang menegaskan bahwa galeri adalah bisnis, jadi keuntungan adalah tujuan utama. Sementara bagi Ruth dan Alex beda lagi; seniman melukis bukan untuk memuaskan pasar, seniman melukis untuk memuaskan dirinya sendiri. Juga ketika Alex harus minum obat dan ia gagal membuka botolnya. Di dekatnya ada gadis kecil yang menolongnya. “Mengapa mereka membuat botol sulit dibuka seperti ini?” tanya Alex pada si gadis kecil. “Untuk mencegah agar tidak dibuka anak-anak,” jawab si gadis kecil, menyerahkan botol yang berhasil ia buka tutupnya. Dan saya tergelak.

Sebuah film yang nyaman ditonton sambil menunggu buka puasa, atau sejenak rehat dari keruwetan sehari-hari. Saya paling suka dengan citra yang tersurat dalam kisahnya: pasangan yang menua bersama dan tetap mesra.

***

Rabu, 03 Juni 2015

Lelaki yang Kehilangan Tiga Anak Perempuannya

Sumber foto
Lelaki itu mantan tetanggaku.

Karena kegagalannya menjaga tali kasih-setia, ia bercerai dari istrinya. Perceraian yang banyak dikenang orang sebab diawali kekerasan berdarah hingga si istri harus dirawat di rumah sakit selama seminggu. Dan karenanya si suami masuk bui beberapa bulan, seminggu sebelum putusan cerai ditimpakan.


Peristiwa itu sudah lama.

Dan beberapa hari lalu, hari pernikahan anak keduanya, semua rangkaian kisah tak indah itu hadir lagi di mataku.

Lelaki itu tiba pagi itu juga dari luar kota dengan kereta. Ia tidak masuk ke rumah mantan istrinya, namun langsung menuju rumah tetangganya tempat para panitia resepsi pernikahan anaknya sedang dirias. Kebetulan saja aku satu-satunya perempuan yang sedang menunggu untuk dirias, hingga aku bisa menyambut kedatangannya dan berbasa-basi dengannya.

Ia menanyakan kabarku. Senyumnya masih seramah dulu. Tubuhnya kurus dan layu. Kabarnya ia sakit gula. Semua derita hidupnya – mungkin akibat ulahnya sendiri – terlukis di wajahnya. Ia pandangi aku dari kaki hingga kepala dan memujiku tampak awet muda. “Sekarang seger,” sambungnya. Maksudnya tentu aku gemuk. Terakhir bertemu dengannya bobotku 44 kg.

Ia pun menanyakan kabar semua orang, termasuk anak-anak kami. “Semua baik. Semua sehat. Anak saya sekarang di Jakarta. Menikah tahun lalu…” Kujelaskan banyak hal, termasuk anak ragil si pemilik rumah tempat kami dirias, yang sebaya dengan anak bungsunya, yang juga sudah menikah dan tengah hamil muda.

“Sungguh waktu begitu cepat berlalu. Begitu cepat berlalu. Luar biasa cepat. Benar-benar sekejap. Semua berubah. Anak-anak yang dulu kecil-kecil sekarang sudah menikah.” Berkata begitu mata lelaki itu terbang, mengembara entah ke mana.

Tiba-tiba di tengah celoteh ceria para perempuan yang sibuk berdandan, sebersit pedih berhasil menyelinap menggores hatiku. Lelaki itu memiliki 3 anak perempuan. Semuanya ia tinggalkan demi seorang selingkuhan, yang kini ia peristri. Konon secara fisik, sosial, intelektual dan finansial istri keduanya itu di bawah istri pertamanya. Entahlah kalau urusan lainnya.

Ketika kami sedang berbicara, anak sulungnya muncul di pintu. Ia datang bukan khusus menyambut ayahnya, namun untuk menyerahkan pakaian yang harus dikenakan lelaki itu saat upacara ijab kabul.

“Papa sehat?” suaranya datar tanpa getar rindu seorang anak perempuan pada ayahnya yang lama tak ia temui. Ada adegan cium pipi kanan-kiri yang mekanis. “Nanti Papa didandani mbak itu.” Si anak menunjuk pada salah satu perias yang sedang sibuk. Lalu ia keluar. Begitu saja. Si sulung yang punya satu anak itu sama sekali tidak bicara tentang kaluarganya – anak dan suaminya – pun tidak tentang adiknya, si anak kedua, yang beberapa saat lagi menikah.

Dan rasa pedih itu kembali menusukku. Untuk mengusir canggung, aku bercerita tentang hal-hal indah yang terjadi di kampung kami. Kampungnya juga, dulu. Sekitar 13 tahun lalu.

Dari pintu kulihat anak ragilnya masuk. Pasti kakak sulungnya telah menyuruhnya datang untuk menyalami ayahnya. Jelas sekali dari gerak tubuh dan sorot matanya, gadis 24 tahun itu tidak merindukan ayahnya.

“Sehat, Pa?” sapanya. Tanpa cium pipi. Tanpa salaman. Hanya dua kata terucap: sehat pa. Itu saja. Lalu ia bercanda dengan beberapa temannya yang sedang dirias, yang hendak menjadi pager ayu.

“Saya antar ke rumah depan?” Kutawarkan padanya untuk masuk ke rumah mantan istrinya, mantan rumahnya, untuk menengok anak keduanya yang sebentar lagi akan ia nikahkan.

“Ah. Tidak usah. Nanti ngganggu.” Ia menunduk, mempermainkan ritsleting tas tempat menyimpan pakaian yang harus ia kenakan. “Nanti juga ketemu,” tambahnya.

Dari matanya bisa kulihat dirinya tidak di dalam tubuhnya. Suwung. Mungkin jiwanya sedang mngunjungi masa lalu. Mungkin ia tengah menyesali diri, menyesali kegagalannya menahan hasrat liarnya. Hasrat liar yang merenggut tiga anak perempuannya dari hidupnya.

***

Rabu, 13 Mei 2015

Dicari: Perempuan Sempurna

Sumber ilustrasi
Alisku terangkat dan senyumku mengembang ketika seorang ibu yang kutemui di sebuah acara menanyakan kalau-kalau aku segera punya cucu.

“Pangestunipun, Bu. Semoga segera,” jawabku mengelus punggungnya. Lalu dia lekas-lekas kutinggalkan.

Pertanyaan serupa itu terlontar entah untuk keberapa kalinya sejak setahun ini. Sejak aku punya menantu. Awalnya aku menambah jawabanku dengan penjelasan bahwa anak-anakku belum berniat punya anak namun bila Sang Pencipta memutuskan segera membenihkan janin, mereka tidak menolak. Seiring bulan berganti, kupikir penjelasan semacam itu tak perlu.

Ketika beberapa jam lalu aku bertemu seorang ibu – beliau tidak memiliki anak dan hanya kuasa Allah semata bila ia kelak memilikinya sebab usianya sudah 60-an – yang menanyakan hal serupa, maka kuputuskan untuk menulis curhatan perasaan ini.

Seorang perempuan dituntut sempurna oleh orang (perempuan) lain. Sempurna dalam hal ini adalah: menikah (dan tidak bercerai atau dimadu), punya anak, punya cucu, punya pekerjaan hebat, pintar mengatur waktu antara keluarga-pekerjaan-kehidupan sosial-diri sendiri dan penampilan menarik sampai-tua-tetap-cantik. Itu saja dulu batasan sempurna meskipun bagi beberapa kalangan masih ada syarat lagi, misalnya: solehah. Apa itu maksud solehah jelas tidak akan dibahas di sini (sebab aku juga tidak paham). Dan dalam tulisan curhat ini fokusnya adalah pada tiga hal paling awal yaitu menikah, punya anak dan punya cucu.

Ketika usia belasan hingga awal 20-an, pertanyaan yang acap muncul adalah “apa sudah punya pacar.” Selulus sarjana, pertanyaan berkembang jadi “kapan menikah.” Dan pertanyaan satu ini bisa berlanjut hingga bahkan umur 40-an. Tak jemu-jemu mereka bertanya. Sehabis dijawab ‘belum menikah’ maka bertebaran nasihat di depan muka. Wuahhh! Wajar saja bila yang mengalaminya ingin jauh-jauh buang muka mendapat pertanyaan sejenis itu.

“Sudah menikah? Oh! Bagus! Sudah bathi?” ini pertanyaan tingkat lanjut. Bathi adalah bahasa Jawa yang berarti untung, maksudnya punya anak. Bila jawabannya belum, maka terburai lagi bulir-bulir petuah.

Jika anak pertama menginjak usia 2 tahun atau lebih, segera berdenging pertanyaan kesekian: “Nggak dikasih adik? Anak tunggal itu nanti manja, tidak mandiri. Tralala-trilili bla-bla-bla-bli-lbi-bli…”
Aku adalah perempuan yang duluuu… duluuu… sering mendengar pertanyaan semacam itu.

Anakku satu. Aku hamil dua kali. Kehamilan pertama berhasil nyaris sempurna dan lahirlah anak lelaki yang kini sudah punya istri. Kehamilan kedua hanya bertahan 8 minggu – atau kurang – aku lupa. Sudah lamaaa.

Berhenti pertanyaan dari orang (sesama perempuan) lain sehabis beranak? Tidak. Ada lagi. “Oh? Anak sudah dewasa? Sudah lulus sarjana? Kapan mantunya?” Jreng! Dreng… dreng… dreng…

Pasti tidak tuntas di sana. Kalau tuntas tidak kutulis jreng-dreng-dreng itu. Maksudnya itu musik pengiring adegan paling seram dalam film horor.

Dan, drum-drum-drum-didum-didum... bila anak telah menikah… masih ada lagi pertanyaan. Seperti di atas itu: “Kapan punya cucu?”

Siapa tak ingin punya pasangan? Punya anak? Punya cucu? Mungkin ada satu-dua dan mereka punya alasan yang jitu untuk keputusan mereka itu. Namun umumnya orang – makanya disebut umumnya – ingin punya anak-cucu.

Orang-orang – anehnya yang bertanya memang lebih banyak sesama perempuan – bertanya mungkin hanya basa-basi saja. Mungkin? Kukira tidak. Yakin? Apa buktinya? Ada.

Dengarkan baik-baik obrolan para perempuan saat mereka bertemu. “Oh. Anak Bu Itu tahun ini 30 tahun tapi belum nikah…” atau “Coba, Jeng. Sudah 5 tahun Si Ini nikah. Tapi masih belum bathi… hihihihihiiii…”

Mungkin saatnya para perempuan berhenti saling menanyakan hal semacam itu. Tak peduli niatnya sekedar basa-basi atau benar-benar ingin tahu apalagi bila bermaksud menyindir. Ada ribuan pertanyaan lain yang bisa diajukan. Pertanyaan-pertanyaan yang menyenangkan.

***

Minggu, 05 April 2015

Chloe: Membayar Perempuan untuk Menggoda Suami


Saya menonton film ini, Chloe, dua kali. Jelas karena Liam Neeson memerani tokoh utamanya, David Stewart. Lain tidak! Pertama nonton saya sama sekali tidak terkesan dengan kisahnya. Biasa. Apalagi akhir kisahnya tidak fair untuk Chloe. Kedua kalinya, saya terilhami untuk berbagi sesuatu - yang saya pelajari dari film ini - dengan pembaca yang kesasar ke blog saya ini.

Diklaim sebagai sexual thriller, film ini menceritakan sepasang suami istri yang memasuki usia paruh baya, David dan Catherine Stewart (diperankan oleh salah satu aktris favorit saya pemenang Oscar 2014: Julianne Moore). Mereka sukses dalam karir, David sebagai profesor dan Catherine sebagai dokter kandungan. Tanpa mereka sadari, David dan Catherine saling menjauh akibat terhisap kuat oleh derasnya arus sukses pekerjaan masing-masing. Sebagai profesor David populer di kalangan mahasiswinya. Siapa yang tidak termehek-mehek punya dosen sekeren Liam Neeson? Sebaliknya Catherine kerap harus mendengarkan curhat para pasiennya tentang masalah hidup mereka. Memang enak jadi dokter?

Hubungan mereka memburuk semenjak David menghindari pesta kejutan yang dibuat Catherine untuk merayakan ulang tahun suaminya itu. Sebenarnya David sudah tahu istrinya mengundang sahabat-kerabatnya ke rumah, saat ia sedang berada di luar kota untuk seminar. Agar terhindar dari pesta yang tak ia sukai itu, David berbohong bahwa dirinya ketinggalan pesawat. Catherine curiga David selingkuh dan menghabiskan malam bersama kekasihnya.

Keeseokan paginya, ketika masing-masing sedang hendak berangkat kerja, Catherine mencuri lihat sebuah MMS yang masuk ke ponsel David. Voila! Kecurigannya makin parah saat dilihatnya foto David berdua dengan gadis muda, mahasiswinya.

Konflik berawal dari sana.

Kemudian kisah berkembang.

Catherine menyewa seorang gadis panggilan bernama Chloe untuk menyamar sebagai mahasiswi dan menggoda suaminya. Chloe bersedia.

Namun tulisan ini bukan tentang film itu. Ini tentang pasangan suami istri, entah yang baru saja menjalani bulan madu, baru mendapat bayi cantik mungil sehat menggemaskan, baru membeli rumah, maupun yang sudah sukses seperti David dan Catherine.

Perjalanan sebuah perkawinan tidak pernah semulus janji setia suami-istri di depan naib atau pendeta. Pun tak bakal seindah foto pengantin. Selalu ada lubang menjebloskan, gundukan menghadang, kelokan menyesatkan, tanjakan memberatkan bahkan jembatan putus yang memaksa harus berbalik dan mencari jalur alternatif atau nekat menuruni tebing dan menyebrangi sungai – yang mungkin berarus kuat, dalam dan penuh batu-batu tajam.

Perjalanan pernikahan memang berat, namun tidak berarti seluruhnya menyedihkan, memilukan dan sakit. Sudah pasti tidak selalu menyenangkan, membahagiakan dan nikmat. Ia campuran antara sedih-senang, bahagia-pilu dan sakit-nikmat.

Agar campuran berjuta rasa itu menjelma musik yang harmonis dibutuhkan komunikasi dua arah yang jujur, terbuka dan dijaga. Terus menerus. Pantang menyerah – yaaa… kecuali kalau memang ingin pisah!

Seandainya David mau bicara jujur pada Catherine bahwa dia tidak suka pesta ulang tahun – sebab itu mengingatkan dirinya makin tua – mungkin Pak Dosen itu tidak perlu susah payah mencari cara agar terlambat tiba di rumah. Jika Catherine menahan hati cemburu dan memilih bertanya pada suaminya tentang gadis muda yang ada dalam fotonya itu, mungkin ia tak perlu membayar Chloe untuk mengetahui bahwa suaminya selingkuh. Biasa kalau seorang dosen sering diminta foto oleh atau menjadi idola para mahasiswinya. Aih! Kebetulan saja suami saya dosen!

Komunikasi terbuka dan jujur tidak turun golong-golong teplok ke pangkuan suami istri. Ia harus dipelajari, diakrabi dan yang terpenting dijalankan. Bersama. Berdua. Mustahil sendiri-sendiri, apalagi hanya sepihak. Komunikasi terbuka dan jujur wajib dilandasi baik sangka. Kalau ada prasangka buruk, curiga, segara minta maaf setelah persoalannya didudukkan dengan benar. Bahkan bila bersikap dan berkata jujur itu menyakitkan, tetap harus ditunjukkan. Supaya bisa mencari jalan tengah bila pasangan tidak mau menerima. Supaya beban bohong tidak menumpuk dan akhirnya pernikahan itu mati tertimbun kebohongan mereka sendiri.

Sebutir demi sebutir komunikasi terbuka dan jujur dirangkai bersama. Hingga lambat laun bicara dan bersikap jujur dan terbuka pada pasangan merupa hiasan terindah dan termegah sebuah perkawinan. Dan hidup sebagai pasangan suami istri akan nikmat. Menentramkan. Lalu masing-masing bakal awet muda.

Bila – karena beratnya persoalan – pasangan suami istri harus berpisah, tetap saja komunikasi terbuka dan jujur mempermudah proses dan mengurangi rasa sakit. Percayalah!

***

Senin, 30 Desember 2013

The Hunt: Kebohongan Kecil yang Menghancurkan

Film Denmark yang dibintangi pemeran serial Hannibal, Mads Mikkelsen, ini awalnya saya sangka film action-thriller. Karena judulnya itu: The Hunt.

Saya salah.

Setting film ini mengingatkan saya akan Halifax, sebuah kota di pantai timur Kanada tempat saya dan keluarga pernah tinggal selama 2 tahun: nyenyat, dingin, lindap, penduduknya sedikit, dan permukaan tanahnya selalu dipenuhi rontokan daun. Namun tempat berlangsungnya kisah bukan kota, semacam desa yang penduduknya saling kenal dan rukun.

Mads Mikkelsen yang menurut saya seksi dan misterius itu memerankan Lucas, duda cerai yang bekerja sebagai guru taman kanak-kanak. Ia memiliki seorang anak lelaki bernama Marcus yang tinggal bersama mantan istrinya.

Lucas hidup seorang diri di sebuah rumah mungil dan ditemani seekor anjing betina tua bernama Fanny. Lucas disayangi murid-muridnya dan sangat piawai menangani mereka. Selain bermain bersama anak-anak, tugasnya termasuk membantu cebok selepas buang air besar. Di antara muridnya ada gadis lucu berwajah sedih bernama Klara. Sejak pertama Klara diperlihatkan murung. Ia ditemukan Lucas ‘hilang’ di depan sebuah toko swalayan. Ia mengaku tidak bisa menemukan jalan pulang. Lucas yang ditemani Fanny mengantarnya pulang. Di jalan Klara meminta ijin untuk sesekali mengajak Fanny jalan-jalan. Lucas menyambut senang.

Sesampai di rumah ayah Klara berkomentar kalau anak bungsunya itu memang sering keluyuran sendiri tanpa pamit.

Klara punya seorang kakak remaja yang sedang getol-getolnya mengunduh foto-foto porno dengan tabletnya. Suatu kali ia menunjukkan foto alat kelamin laki-laki yang sedang ereksi dan ejakulasi. Remaja itu bilang, “Lihat, nih. Mencuat sekeras besi….!” Sambil cekakakan bersama sobatnya. Klara tampak terguncang.

Gadis kecil nan pemurung itu sangat menyukai Lucas. Mungkin karena gurunya itu sahabat baik ayahnya sejak kecil dan sangat sayang padanya pula. Suatu hari Lucas dan murid-murid lelakinya bercanda ria, mereka bergulingan. Klara memandang mereka dan sangat ingin bergabung. Tiba-tiba si kecil yang jarang tersenyum itu menubruk Lucas dan mencium bibir gurunya itu sekilas. Sebelum kejadian itu, Klara membungkus hadiah – sebuah mainan warna pelangi berbentuk hati - untuk seseorang. Rupanya hadiah itu untuk sang guru tersayang. Dengan lembut Lucas mengembalikan hadiah itu dan wanti-wanti agar Klara tidak mencium bibir siapapun sebab ciuman semacam itu hanya pantas diberikan untuk ayah dan ibunya.

Klara kecewa. Ia gundah. Ia marah.

Sorenya, ibunya terlambat menjemput Klara. Saat disapa kepala sekolahnya, Grethe, Klara berbohong tentang Lucas. Bagi Grethe kebohongan itu terdengar nyata sebab Klara bisa menggambarkan 'burung Lucas yang mencuat sekeras besi....'

Kebohongan kecil itu berbuah petaka bagi Lucas.

Lelaki yang hidup sederhana dan menyayangi anak-anak itu tiba-tiba dianggap monster oleh para tetangganya. Ia dibenci. Ia dijauhi. Sebegitu marah mereka hingga Marcus - yang mengunjungi ayahnya sembunyi-sembunyi karena dilarang ibunya - dan si anjing Fanny menerima hukuman pula.

Salah satu keluarga tetap percaya bahwa Lucas bukanlah orang jahat peleceh bocah seperti yang dituduhkan. Dalam sebuah perbincangan teman yang kaya itu mengatakan, “It’s always assumed that children tell the truth….

Meskipun kemudian polisi membebaskan Lucas dari tuduhan akibat tidak cukup bukti dan Klara berusaha menjelaskan bahwa Lucas tidak melakukan apapun dan ia hanya berbohong, namun vonis ‘peleceh anak’ terlanjur dijatuhkan oleh masyarakat.

Akting Mads Mikkelsen elok. Sepanjang film ini ia sukses merupa binatang jinak yang disudutkan dan tak melihat jalan keluar. Saya menangis melihat Lukas, Marcus, dan Fanny menderita. Saya sedih melihat Klara yang begitu lugu dan sama sekali tak memahami akibat kebohongannya. Saya ikut sakit melihat orang-orang di sekeliling Lucas tiba-tiba menjauhinya.

Film ini berhasil menggambarkan bagaimana sebuah dusta kecil – apalagi dilakukan oleh anak-anak – mampu memecah-belah masyarakat. Bagaimana kebencian menabiri kebenaran. Bagaimana gossip menenggelamkan kebaikan. Sebuah gambar yang acap saya lihat muncul di masyarakat kita. Apapun perkaranya dan siapapun pelakunya. Betapa manusia itu lemah namun pongah. Bila ia sudah percaya sesuatu – meskipun salah – mata jadi buta dan telinga berubah tuli. Pun rasa pelan-pelan mati…. Hilang cinta yang dibangun oleh Lucas dan ayah Klara selama puluhan tahun, dicuri oleh curiga dan dikuasai amarah.

Klara bagi saya adalah simbol kepolosan dan kemurnian. Di dunia fana ini tak ada satupun yang murni mutlak. Bahkan gadis kecilpun bisa berbohong bila ia dirundung kecewa.

Film ini membuat saya ingin lebih berhati-hati bicara dan terutama berpikir berkali-kali sebelum bereaksi terhadap b/cerita. Semoga saya mampu menjalankannya, bukan berhenti pada ‘ingin’ belaka.

***

Catatan: satu menit sebelum film berakhir saya baru paham film ini dijuduli 'The Hunt'.

Kamis, 03 Oktober 2013

Menjangkau Hunian Hijau


Rumah Eko Prawoto, arsitek ahli bambu dan pendaur-ulang bahan bangunan
Kudapati bagian depan rumah temanku gelap gulita. Jangan-jangan ia tidak di rumah. Sewaktu kakiku menapaki halaman, lampunya tiba-tiba menyala.

Ah, dia di rumah, hanya lupa menyalakan lampu, pikirku lega.

Sebenarnya temanku bukan lupa. Lampu halaman rumah temanku di kota Melbourne, Australia, itu memang dilengkapi alat sensor; alat untuk mendeteksi gerakan/panas tubuh. Di malam hari, atau dalam keadaan gelap, bila alat itu menangkap gerakan/panas tubuh, secara otomatis lampu akan menyala. Alat semacam itu sudah jamak dipasang di tiap rumah. Gelap, dong! Tidak juga. Sebab penerangan jalan menjadi tanggung jawab pemerintah, dan jarang bermasalah.

Pemasangan alat semacam itu bertujuan untuk menghemat listrik, yang merupakan salah satu praktek ‘green architecture’.

Arsitektur hijau – green architecture – sering pula disebut arsitektur bioklimatis atau arsitektur berkelanjutan. Arsitektur hijau merujuk pada bangunan yang dirancang dan dibangun dengan mempertimbangkan iklim dan kelestarian lingkungan serta mengurangi penggunaan air, listrik, dan sumberdaya alam yang tak bisa diperbarui untuk mencapai kenyamanan. Dibandingkan dengan negara-negara lain Indonesia tertinggal cukup jauh dalam melaksanakan konsep ‘go green’ di tingkat hunian keluarga. Menurut Eko Prawoto, dosen dan arsitek pecinta bambu, prakteknya masih sebatas pada slogan bisnis yang tidak menyentuh persoalan intinya.

Kesederhanaan sebagai gaya hidup
Pada tingkat hunian, bagian terpenting dari praktek ini adalah membatasi konsumsi. Salah satu cara dalam membangun rumah hijau yaitu menerapkan konsep 3R – reduce-reuse-recycle – seperti mengelola sampah. “Jangan segan memakai bahan bangunan bekas yang masih bagus. Misalnya kusen dan daun pintu/jendela. Penting untuk mengadopsi kesederhaan secara sukarela, bukan karena ingin hemat. Kalau ingin hemat, setelah punya banyak uang nanti beda lagi,” papar Eko Prawoto.

Skylight: hiasan sekaligus memasukkan cahaya
Ia juga mencontohkan perilaku konsumtif yang tanpa disadari merupakan pemborosan luar biasa. “Pemakaian marmer dari Zimbabwe, contohnya. Bayangkan besarnya energi yang dibutuhkan untuk mengangkutnya hingga ke Indonesia.”

Memang. Bila sudah menyangkut hasrat batasnya hanya langit.

Ketinggalan jaman dan mahal 
Di Indonesia arsitektur hijau bukan barang baru. Sejak berabad-abad lalu orang telah memraktekannya, rumah-rumah tradisional menjadi buktinya. Misalnya rumah panggung. Kolong di bawah lantai tidak saja menghindarkan penghuni rumah dari serangan binatang serta pengaruh lembab tanah basah, juga memberi kesempatan angin lalu-lalang menyejukkan ruang di atasnya. Pun rumah tradisional Jawa dengan perpaduan atap tinggi berteritis lebar dan jendela serba terbuka untuk mengurangi panas matahari sekaligus melancarkan sirkulasi udara.

Di wilayah-wilayah lain, seperti Spanyol, Australia, Pakistan dan India, penggunaan adobe hingga kini masih menjadi alternatif untuk menghemat bahan bakar fossil. Bahan bangunan ini dibuat dengan cara mencetak tanah liat yang dicampur pasir dan dijemur di bawah sinar matahari, tanpa dibakar.

Dalam perkembangannya, khususnya untuk rumah atau hunian, arsitektur hijau menjadi tidak populer, bahkan cenderung dihindari. Mengapa? Ada dua alasan utama: dianggap ketinggalan jaman dan dinilai mahal.

Serupa pakaian, kebanyakan orang menginginkan desain rumah yang mengikuti trend. Rumah bukan sekedar tempat bernaung, ia juga simbol status sosial-budaya-ekonomi penghuninya. Hal ini berpengaruh tidak hanya pada rancangan, juga pemilihan bahan bangunan dan kelengkapannya. Bila mampu membayar listrik ribuan watt demi rumah berpenyejuk udara sentral mengapa repot membuat jendela lebar yang – mungkin – akan memasukkan debu, karbonmonoksida atau malah maling sekalian? Bila mampu memasang lelampu di halaman agar terang benderang dan lebih aman, mengapa membiarkannya gelap gulita dan mengundang pencoleng datang?

Kira-kira hal semacam itu menjadi penyebab orang enggan memraktekkan prinsip-prinsip arsitektur hijau dalam merancang hunian. Adanya anggapan bahwa hunian go green itu (lebih) mahal juga menjadi hambatan. Prakteknya tidak demikian. Ambil saja salah satu elemen utilitas hunian ini: penghawaan dan pencahayaan. Iklim di Indonesia sangat mendukung, sinar matahari melimpah ruah sepanjang tahun. Prinsip-prinsip penghawaan dan pencahayaan alam bisa (kembali) dipraktekkan tanpa tambahan biaya berarti. Jendela dibuat lebar dengan daun yang bisa dibuka maksimal; untuk keamanan bisa dilengkapi tralis.

Jendela nako, yang popular di tahun 80-an, sebenarnya ramah lingkungan dan murah, namun kini sudah dilupakan karena dianggap ketinggalan jaman.

Panen air 
Di Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, orang terbiasa memanen air hujan dan menampungnya ke dalam bak-bak ukuran besar. Di wilayah tandus yang selalu kekeringan di musim kemarau itu air hujan dipakai untuk minum dan masak. Di berbagai negara lain, termasuk Australia, kebiasaan memanen air hujan dilakukan juga, didukung oleh perlengkapan yang banyak dijual di pasar serta mudah dipasang. Di sana, air hujan ini dipakai untuk menyiram tanaman dan mengguyur toilet.

Bagian atas pintu tak harus pepat, agar cahaya bisa lewat
Pada peringatan ulang tahun ITB yang ke-92, Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto menyebutkan bahwa kekurangan air di musim kemarau makin mengancam pulau Jawa yang dihuni oleh sekitar 58% penduduk Indonesia. Dalam kondisi ini, panen air bisa menjadi salah satu solusi, khususnya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga selain air minum dan memasak.

Sebagai negara dengan rata-rata curah hujan 2.000 – 3.000 mm/tahun (menurut beberapa sumber telah terjadi penuruan curah hujan rata-rata 1 – 50 mm permusim pertahun) layak mendapat perhatian. Bila seluruh rumah di Indonesia mau memraktekkannya, pasti dahsyat pengaruhnya pada penghematan air.

Teknologi tepat guna 
Umumnya orang mengaitkan teknologi tepat guna dengan kemiskinan dan keterbatasan sumberdaya. Salah kaprah ini sudah saatnya diperbaiki. Pada kenyataannya teknologi tepat guna tidak sama dengan low-tech, ia bisa juga high-tech. Contohnya panel surya. Seperti pendapat Eko Prawoto, “Panel surya itu contoh teknologi tepat guna yang high-tech. Sekarang harganya masih dianggap mahal karena kita masih sekedar konsumen. Dengan kekayaan sinar matahari yang kita miliki, panel surya ini tepat guna. Tidak hanya di wilayah-wilayah yang belum terjangkau listrik, bagi yang mampu berinvestasi, sudah saatnya memakai teknologi ini.”

Saat ini di pasar sudah banyak dijual panel surya dengan berbagai merk, harga, dan spesifikasi. Konon produk dalam negeri juga mulai mudah diperoleh di pasar dengan harga lebih terjangkau dan kualitas bersaing. Benar bahwa harga panel surya masih mahal bagi kantung rata-rata keluarga Indonesia. Namun untuk hunian di wilayah-wilayah yang belum terjangkau listrik, untuk jangka panjang penggunaan panel surya lebih eknomis dibandingkan penggunaan mesin diesel atau alat lain yang butuh bahan bakar setiap kali hendak dipakai. Apalagi di beberapa wilayah di Indonesia bahan bakar selain sangat mahal juga tidak selalu tersedia.

“Bila peminatnya melimpah, kemungkinan harga panel surya akan murah dalam waktu tidak lama lagi,” tambah Eko Prawoto.

Gunakan bahan bangunan lokal
Banyak orang tidak menyadari bahwa penggunaan bahan bangunan lokal merupakan bagian penting dalam mendukung hunian hijau. Bila dipraktekkan secara luas dengan penuh kesadaran, dampaknya bisa luar biasa, bahkan mampu memperkuat akar budaya bangsa.

Rumah Gadjah Air - foto Mamang Firmansyah
“Contohnya penggunaan bambu,” jelas Eko Prawoto, “ketika orang tidak lagi memakainya, kita kehilangan banyak sekali. Di antaranya tradisi budidaya bambu, ketrampilan lokal menganyam dan mengolah bambu, produksi berbagai peralatan pertukangannya, dan merambat ke punahnya matapencaharian berbasis bambu.”

Masih menurut Eko Prawoto, selama ini kita salah paham terhadap penggunaan kayu sebagai bahan bangunan. Masyarakat Indonesia dihimbau tidak memakai kayu dengan alasan global warming dan deforestasi. “Faktanya, kayu kita dijual ke luar negeri. Indonesia bangga menjadi penyedia kayu dunia sementara negara-negara lain getol melindungi hutan mereka. Arsitektur Indonesia itu bertumpu pada kayu. Ia tumbuh di halaman kita. Sama dengan bambu, bila kita berhenti memakai kayu karena alasan yang keliru, tradisi kayu kita akan hilang, hingga ke hutan-hutannya. Kita terpaksa mengimpor besi dan aluminium dari negara lain. Yang penting adalah memakai kayu dengan bijaksana, menanam lagi setelah menebang, dan menggunakan kayu seumur pohonnya. Artinya, bila menebang pohon umur 60 tahun, kayunya harus dipakai untuk konstruksi atau perabotan yang kuat dipakai minimal selama 60 tahun. Tidak seperti sekarang ini. Pohon umur 60 tahun ditebang untuk dijual ke negara lain, diserut menjadi tripleks yang usianya hanya 3 bulan. Itu kejahatan lingkungan yang tidak kita sadari,” jelas Eko Prawoto panjang lebar.

Membangun hunian hijau memang bukan trend yang muncul sesaat, ia harus menjadi gaya hidup, dijalani dengan semangat kesederhaan dan penuh kesadaran.

***


Catatan: artikel ini rencananya akan dimuat dalam majalah arsitektur, namun si majalah batal terbit.

Minggu, 30 Juni 2013

Zombie Rasa Brad Pitt

Saya tidak suka film zombie. Tapi nonton zombie yang satu ini sungguh tidak mengecewakan. Pasti karena Brad Pitt. Saya mulai suka Brad Pitt sejak nonton Legends of the Fall meskipun tidak semua film yang ia bintangi saya sukai; termasuk Mr. & Mrs. Smith.

Saya baru tahu kalau World War Z adalah film tentang zombie ketika sedang antri membeli brondong. Anak saya bilang, “Moga-moga Ibu suka zombie yang ini.” Mata saya membeliak, “Zombie???” Anak saya ganti tanya, “Ibu nggak tahu? Tapi aku jamin pasti suka. Banyak yang bilang beda,” yakinnya meraih brondong dari tangan saya.

Anak saya benar. Zombie kali ini beda, tidak lelet, tidak berjalan tertatih-tatih semacam robot-robotan habis batere. Mereka giras, kuat, dan ganas.

Cerita dibuka dengan menampakkan kesibukan pagi hari di rumah keluarga Gerry dan Karen Lane (Brad Pitt dan Mireille Enos). Gerry yang baru pensiun dari pekerjaannya sebagai ‘investigator khusus’ PBB menyiapkan sarapan untuk istri dan dua anak perempuannya. Pada adegan pembuka ini sudah mulai terasa suasana tegang akibat aneka berita di TV yang mengabarkan berbagai anomali di beberapa wilayah di bumi. Berikutnya Gerry dan Karen mengantar buah hati mereka ke sekolah. Saat itu konflik langsung menyergap penonton. Sambil bermobil mereka mendengarkan siaran radio yang mengabarkan berita buruk munculnya epidemi yang menyerang manusia dan mengubah mereka menjadi zombie. Ketika itu pula, di jalanan pusat kota Philadelphia yang macet pada jam sibuk pagi, panik menyerang semua orang. Zombie telah datang!

Selanjutnya, adegan seru Gerry dan Karen menyelamatkan diri dimulai. Dalam hitungan menit kota berubah menjadi padang zombie. Teror datang silih berganti, bertubi-tubi.

Sebagai mantan staf PBB berkeahlian khusus tenaga Gerry dibutuhkan. Ia dipanggil untuk memimpin misi pencarian pasien pertama yang terkena dan menyebarkan virus zombie itu guna membuat vaksin demi menyelamatkan keberlangsungan umat manusia. Sebagai kompensasi, keluarganya dijamin keselamatannya dan ditampung di sebuah kapal Angkatan Laut Amerika yang bersiaga di pantai New York.

Akting Brad Pitt – mengingat ini film zombie – cukup memukau. Adegan-adegan penuh horor sepanjang film dihiasi oleh close-up wajahnya, dengan rambut gondrong dan cambang berantakan. Matanya senantiasa waspada, bibirnya terkunci rapat, dan rahangnya tegang. Salah satu yang saya suka adalah make-up para pemainnya. Kulit wajah dan bibir mereka – terutama Brad Pitt dan Mireille Enos – dibiarkan telanjang, kering, dan berkerut. Menambah efek panik, darurat bencana, dan teror mencekam.

Keganasan para zombie di film ini berbeda dengan kerabatnya di film-film lain. Selain liar dan brutal, mereka juga pandai menyusun strategi untuk menyerang. Kepala mereka sekeras baja, bisa menghantam dinding dan kaca tebal demi mendapat daging dan darah manusia sehat segar. Mereka bisa bahu-membahu memanjat benteng pertahanan yang menjulang tinggi, juga menyergap helikopter sampai terjungkal dan meledak.

Film ini kabarnya menyimpang jauh dari novelnya “World War Z: An Oral History of the Zombie War” karya Max Brooks. Namun beberapa reviewer film terkemuka menilai para pembaca novelnya tidak bakal kecewa.

Hal yang saya anggap kurang adalah plotnya yang berbelok dari usaha penyelamatan keluarga menjadi sebuah aksi heroik yang berpusat pada Gerry. Keluarganya hanya merupa bayang-bayang untuk memberi Gerry sentuhan manusiawi. Namun kekurangan itu terbayar oleh asyiknya guncangan demi guncangan akibat menonton adegan tegang susul menyusul sejak menit pertama. Selain itu, kisahnya tidak fokus pada para zombie, tidak berlama-lama mengekspos keburukan rupa dan perilaku brutal mereka, tapi lebih banyak pada aksi Gerry dalam menyelamatkan dunia dan kemanusiaan.

Salah satu pesan moral yang saya tangkap dari cerita mayat hidup ini adalah manusia harus makin berhati-hati dengan berbagai perubahan – khususnya penyakit yang bermutasi – akibat meningkatnya populasi, pola konsumsi, dan mobilitas (manusia dan barang) yang makin kompleks.

***

Senin, 10 Juni 2013

Mommy, Vera Has No Bird!

Saya dan anak di hari wisuda, Februari 2013
Sebelum menulis judul di atas, saya terlebih dulu minta ijin anak lelaki saya, karena selarik pendek kalimat itu sudah menjadi semacam ‘quote’ dalam keluarga kami. Yang pasti, nama asli Si Vera saya ganti, sebab saya tidak punya kesempatan minta ijin memakai namanya di ruang publik.

Alkisah, 17 tahun lalu, di sebuah bangunan tinggi asrama mahasiswa, di kompleks kampus di Kota Halifax, Nova Scotia, Canada. Tersebutlah para mahasiswa Indonesia yang sedang belajar yang tinggal di dalam bangunan 25 lantai itu. Banyak di antara mereka yang membawa keluarga – istri/suami dan anak-anak. Suami saya salah satunya. Kami menjadi akrab satu sama lain, layaknya keluarga besar. Anak-anak kami, yang semuanya masih balita atau batita, pun tak kalah rukunnya.

Di antara anak-anak itu, ada salah satu gadis kecil yang menjadi sahabat akrab anak saya yang waktu itu usianya sama-sama 3 tahun. Sebut saja namanya Vera. Gadis mungil cantik pintar ini sering main di apartemen kami.

Suatu siang, di akhir pekan, sehabis bermain, Vera minta diantar ke kamar mandi untuk pipis. Setelah saya bantu duduk di toilet, saya ke dapur. Tak lama terdengar pekikan anak lelaki saya. Lantang dan panjang.

“Mommyyyy… Vera has no bird! Vera has no bird!”

Saya melompat ke depan kamar mandi dan melihat anak saya tidur tengkurap persis di depan toilet itu, mengamati Vera yang tengah pipis. Untuk beberapa saat saya kebingungan. Tapi saya tidak berkata apa-apa, hanya meminta anak saya untuk bangkit lalu saya membasuh Vera. Mereka memang telah pandai pipis dan pupup di toilet walaupun saat berada di Day Care (tempat penitipan anak balita) mereka kadang memakai pampers.

Anak saya mulai benar-benar belajar bicara dan bermasyarakat justru ketika kami berada di Kanada, sehingga saat itu ia fasih berbahasa Inggris, laiknya native speaker, meskipun beberapa istilah seperti ‘bird’ itu jelas berasal dari bapak dan ibunya.

Peristiwa itu menjadi semacam tonggak bagi saya dan anak lelaki saya untuk mulai bicara tentang seks karena ia tak henti-henti bertanya soal Vera yang tidak punya burung. Saya sangat kebingungan awalnya. Saya jelaskan sebisanya - bukan saya marahi atau alihkan pembicaraan - dengan bantuan buku-buku science yang banyak gambarnya ditambah dengan benda-benda. Saya berikan pula contoh-contoh barang-barang perempuan dan laki-laki yang berbeda bentuknya, seperti sepatu, rok, celana panjang, hingga celana dalam. Saya ingin dia tahu bahwa perbedaan itu sifatnya alamiah. Saya berusaha tidak berbohong dengan alasan demi ‘kebaikannya’. Bila saya kesulitan menjawab pertanyaannya, dengan jujur saya sampaikan dan berjanji akan menjawab kalau sudah tahu.

Kebiasaan ini berlanjut terus hingga suatu saat kami berbincang tentang kehamilan. Seingat saya, usianya sekitar 9 tahun. Saya dan suami membahas hal itu bersama anak kami di meja makan dengan memakai buku biologi sebagai acuan. Kami memilih istilah-istilah teknis seperti ‘kopulasi’ atau ‘persetubuhan’, supaya lebih bermakna alamiah dan ilmiah. Kami juga tak ragu-ragu menyebut kata vagina untuk kelamin perempuan dan penis untuk kelamin laki-laki, begitu pula sperma dan sel telur. Supaya lebih mantap kami perlihatkan gambar-gambar dari buku biologi. Selain membahas kehamilan pada manusia, kami lengkapi dengan binatang dan tumbuhan, agar ia tahu bahwa kopulasi itu bukan hal tabu, namun sebuah proses alam yang dilakukan semua makhluk hidup untuk berkembang biak dan mempertahankan keturunan.

Setelah ia paham tentang kopulasi, pelan-pelan kami mulai bicara tentang norma, aturan, cinta dan moral. Sungguh, bicara moral ini tidak gampang. Sebagai ibunya, neraca moralitas saya naik-turun juga. Untuk topik seks dan moral ini, saya lebih fokus pada ‘mengapa’ dan bukan ‘apa’, sehingga diskusi bisa berkembang. Dalam hal ini agama jadi salah satu pintu masuk utama, walau sering saya minta ia bertanya pada ahlinya, agar saya tidak salah bicara.

Saya pernah jadi remaja juga, dan saat itu saya bisa berpikir dan menganalisa, tidak hanya asal coba-coba, jadi saya percaya bahwa anak saya punya kemampuan setara. Pada topik ini, pemahaman saya tentang nilai dan norma, baik yang lokal maupun universal, diuji.

Saat ia memasuki usia belasan, kami sering nonton film bersama. Awalnya dia suka menggerak-gerakkan kaki karena geli tiap melihat adegan ciuman. Kadang-kadang menutup mata sambil tertawa-tawa, namun lama-lama jadi biasa. Tentu saja kami membahasnya, bukan sekedar menonton saja. Saya tahu bahwa bila mau, dia bisa melihat gambar-gambar atau film-film yang lebih vulgar lagi di belakang saya. Saya menyadari bila ada fasilitas internet, hal semacam itu ‘only one click away’, jadi saya tidak mau berasumsi bahwa dia tidak melakukannya. Dengan begitu, sebagai orang tua saya bisa lebih waspada.

Pertama kali ia mulai bicara tentang teman perempuan istimewa, saya segera wanti-wanti agar ia menjaga kehormatan dirinya dan terlebih-lebih teman perempuannya itu. Kesetaraan gender wajib diajarkan sejak dini. Namun harus dibarengi dengan memahamkan bahwa dunia di luar sana sering tidak memakai teori, sehingga lelaki wajib melindungi perempuan di dunia yang faktanya didominasi oleh lelaki ini. Berbagai akibat dari persetubuhan di masa remaja dan di luar pernikahan kami bahas dengan contoh-contoh yang sudah ada di lingkungan dan media. Saya garis bawahi betapa besarnya penderitaan yang akan dipikul gadis remaja yang hamil di luar nikah, sedangkan si remaja lelaki bisa berkelit dengan mudah.

Mengingat anak kami hanya satu, proses yang saya lalui tidak gampang, terutama saat usianya 13 – 15 tahun. Kadang sebelum menjelaskan sesuatu, saya harus belajar sungguh-sungguh bagaikan mau melakukan presentasi proyek di depan mitra kerja. Sampai-sampai harus membuka kamus segala. Namun hasilnya memang tidak sia-sia. Paling tidak, hingga kini, anak kami berhasil melalui masa remaja tanpa halangan berarti dalam hal yang satu ini.

Kini, setelah usianya menginjak 20 tahun, kami jarang diskusi tentang seks lagi karena ia sudah cukup dewasa untuk mengatasi sendiri. Justru saya sering belajar darinya tentang hal-hal lain yang lebih ia kuasai. Kasus terakhir yang kami bahas, dan tonton bersama, adalah video heboh Luna Maya-Ariel dan Cut Tari-Ariel.

Mau tahu apa katanya?

“Kayak orang lagi aerobik aja. Nggak pake rasa cinta.”

Jawaban ini melegakan, sebab saya jadi tahu bahwa bagi anak saya bersebadan itu bukan perkara adu fisik semata, harus ada cinta, minimal paham dan wajib bertanggung-jawab akan akibatnya bila dilakukan asal-asalan.

Segala yang kasat mata dan teraba di dunia kini semakin cepat berganti dan tak terduga, apa saja ada, apa saja bisa terjadi, pada siapa saja, di mana saja dan kapan saja. Sebagai ibu saya tidak selalu bisa menjaga dan melindunginya. Saya percaya, seorang anak terlahir tidak untuk dijauhkan dari bahaya yang ada di luar rahim ibunya. Ia justru harus diajari mengenal dunia beserta semua bahaya, ancaman dan rintangan, sambil membantunya mengasah potensi dan membekali diri agar ia mandiri dan kuat menghadapi semua itu dalam perjalanan panjang hidupnya.

***

Ditulis tahun 2010, untuk merenungkan masa 20 tahun menjadi ibu dan dipersembahkan untuk para ibu muda.

Sabtu, 08 Juni 2013

An ASS out of U and ME

Sumber Gambar
Sebuah drama dengan pemain solo dan penonton tunggal terjadi di ruang tengah rumah saya sore ini. Diiringi suara gemericik hujan, teman saya menuturkan penyesalannya yang teramat dalam. Air matanya sesekali menetes, menambah basah suasana.

“Kenapa sampai nangis gini?” tanya saya, menutup buku yang sesiangan saya baca.

“Aku nggak tahu kalau selama ini aku salah duga. Gara-gara teman di media sosial….” Ia menyebut sebuah media social paling populer sejagat raya.

“Oh?”

“Antara kami pernah terjadi salah paham. Karena sebel, aku curhat ke teman itu.” Ia menyebut nama teman di media social itu, saya tulis saja Fifi. Pastilah bukan nama sebenarnya.

“Kamu pernah ketemu sama Fifi?”

“Belum. Tapi kami sering saling curhat. Fifi kenal Ina, juga cuma di media social. Mereka belum pernah ketemu.”

Si Ina ini – juga nama comotan – kenal baik teman saya di dunia nyata. Mereka pun sering bertemu.

Suatu hari, beberapa bulan lalu, teman saya ini jengkel dengan ulah Ina, lalu curhat pada Fifi di media social. Si Fifi ini lalu menjelek-jelekkan Ina. Entah apa sebabnya, saya sedang tidak minat bertanya-tanya menyelidiki sesuatu yang bukan urusan saya. Anehnya teman saya ini percaya saja.

“Kamu juga aneh. Udah nyata-nyata belum pernah ketemu Fifi kok percaya aja omongannya….”

“Kamu malah bikin aku tambah merasa bersalah!” rutuknya, lelehan air matanya menderas. “Sekarang aku harus gimana? Mau minta maaf ke siapa? Keluarganya?”

Ina, temannya yang ia jauhi sejak beberapa bulan, meninggal sekitar 3 minggu lalu. Penyesalan teman saya berawal dari situ.

“Didoakan aja. Sampai kamu merasa lega. Percuma menjelaskan hal ini ke suami atau anak-anaknya. Malah bikin runyam. Mereka tidak tahu duduk-soalnya. Lagi pula, seperti kamu bilang tadi, kamu hanya menjauh dari Ina, bukan memusuhi. Iya, kan?” omongan sok bijak saya.

“Tapi aku nggak nengok waktu dia sakit. Gara-gara omongan Fifi!” Ia menyedot ingusnya. Buru-buru kuangsurkan sekotak tisu.

“Jangan nyalahin orang. Omongan orang mestinya kamu saring. Apalagi dari orang yang hanya kamu kenal di media social, sedekat apapun perasaanmu tapi kamu belum pernah ketemu.” Rasa-rasanya saya bukan teman curhat yang elok, sebab komentar saya justru makin menyudutkannya.

Saya jadi ingat gurauan yang sering kami – saya dan anak saya – lontarkan. Kata assume (yang berarti menduga, mengira, berasumsi) merupakan singkatan dari ‘making an ASS out of U and ME), alias bikin kita kacau-b(G)alau.

Nurut saya, menduga-duga sikap orang atas dasar omongan orang lain itu tidak bijaksana. Pada dasarnya tiap orang tidak berkarakter tunggal: jahat saja, nakal saja, curang saja, manis saja, lembut hati saja, jujur saja, atau pintar saja. Memang ada orang yang berkarakter buruk: yang jelek-jelek saja yang dominan. Namun jarang yang berkarakter serba baik: semua-muanya baik sama sekali nggak ada jeleknya secuilpun. Yang serupa itu mungkin bukan manusia.

Karakter-karakter antarorang sering bertubrukan. Berikutnya muncul perselisihan. Kalau bertemu dengan karakter yang saling cocok sebuah hubungan bisa bertahan lama; kalau tidak, ya ‘I’m sorry good bye’ saja.

Maka, di sini letak seninya dalam berteman. Saya pun tidak selalu sukses, kadang salah menilai orang dan berakhir dengan penyesalan. Namun siapa pula yang tidak pernah menyesal? Penyesalan itu buah kekeliruan, munculnya belakangan: bertanam kekeliruan dulu, baru tumbuh buah penyesalan. Dan tiap orang pasti meskipun sekali pernah keliru.

Ada sebuah quote, entah punya siapa, yang berbunyi kira-kira begini: menilai karakter seseorang hanya dari salah satu sifat buruknya itu ibarat melihat lautan hanya dari satu gelombanganya. Wah! Agak berlebihan, namun tepat. ‘Ora bener nanging pener’, kalau boleh saya bolak-balik sebuah pepatah Jawa. Tidak sepenuhnya benar tapi pas. Karakter orang itu ibarat lautan, tak bisa dinilai dari segulir gelombangnya.

Nah. Entah kenapa teman saya memutuskan berubah sikap pada Ina hanya dari ocehan Fifi semata. Padahal teman saya mengenal Ina lebih baik dan lebih lama daripada mengenal Fifi. Ia juga mengenal keluarga Ina. Paling tidak sosok Ina ini jauh lebih nyata ketimbang Fifi yang hanya ia kenal di dunia maya.

“Sudahlah. Nggak perlu diperburuk lagi. Doakan saja almarhumah Ina,” ulang saya. "Kamu bisa minta maaf lewat Tuhan," gurau saya.

“Aku harus bilang apa sama Fifi?”

“Nggak usah bilang apa-apa. Two wrongs don’t make a right,” saya sok berfilsafat.

Teman saya membuang kuat-kuat gumpalan napas penuh penyesalan melewati mulutnya. Suaranya sungguh memilukan, serupa dengkingan serigala yang beberapa hari tidak makan.

“Kamu pasti lapar. Mau lapis legit rasa pandan? Mau ya?” kata saya. “Sama kopi, ya? Atau teh? Kalau bir aku nggak punya.”

Ia mengangguk. “Kopi aja,” sahutnya, menyeka air mata.

Dan drama itu berakhir, masih dengan seonggok sesal membebani pundak teman saya. Namun paling tidak ia merasa lega telah bercerita.

“Boleh aku tulis buat blog? Udah lama aku nggak apdet blog. Udah sebulan lebih. Boleh, ya?”

 Ia mengangguk sambil berusaha meringis.

Senin, 22 April 2013

Kisah Pohon

Pohon di Wat Chedi Luang - Chiang Mai. Foto: Endah Raharjo

Seorang ibu berkecak pinggang beradu argumentasi dengan sekelompok bapak-bapak yang menjadi panitia pengaspalan jalan di kampungnya. Si ibu berusaha mempertahankan pohon di depan rumahnya agar tidak seluruhnya ditebang. Ia hanya mengijinkan mereka memotong dua atau tiga dahan yang besar-besar yang menjulur ke arah jalan.

Para bapak berkilah bahwa dengan menebang pohon-pohon yang tumbuh di pinggir jalan di dalam kampung itu, panitia bisa menghemat dana sekitar dua juta rupiah karena tidak harus membeli kayu bakar untuk menggodog aspal.

Si ibu makin menentang kalau sebagian pohon yang telah belasan tahun tumbuh di kampungnya hanya dihargai semurah itu, sementara tanaman kecil dalam pot saja harganya ratusan ribu rupiah. Apalagi pohon yang tumbuh di depan rumahnya itu punya banyak kisah. Paling tidak di pohon kiara payung itu, yang lebih dikenal orang dengan nama filicium, ada sepasang burung hantu yang telah lama bersarang di salah satu cabangnya yang kuat, di antara rimbunnya dedaun. Di batangnya yang kokoh juga tertera nama anak tunggalnya beserta gangnya yang mereka ukir ketika masih di taman kanak-kanak. Bentuk pohonnya juga cekli karena secara berkala cabang-cabangnya dipangkas agar tidak tumbuh menjulang terlalu tinggi.

Ya. Sebagaimana ribuan makhluk lain yang hidup di muka bumi, setiap batang pohon pasti punya kisah. Mungkin saja ia berawal dari biji yang terbawa oleh angin atau serangga atau burung ke tempat tertentu dan tumbuh di tempat itu, menjadi besar, rindang dan meneduhi.

Penanda

Manfaat ekonomi pohon tidak perlu dipertanyakan lagi. Pun pohon punya nilai sosial budaya. Ia bisa menjadi penanda tempat, peristiwa dan saksi sejarah.

Pohon kelapa, misalnya, sangat lekat dengan negeri kita hingga banyak nyanyian mengumandangkannya sebagai negeri nyiur melambai. Janurnya, atau daun-daunnya yang masih muda, dapat dirangkai indah untuk menandai kesucian ijab-kabul sepasang pengantin.

Kota Penang, di Malaysia, diberi nama demikian karena banyaknya pohon pinang yang tumbuh subur dan menjadi salah satu gantungan hidup penduduknya. Orang Kanada bahkan mengabadikan daun pohon maple ke dalam bendera negara mereka. Bila berkunjung ke Kanada, kemana saja mata mengarah pasti akan bertemu dengan pohon yang bentuk daunnya sangat khas dan mudah dikenali ini. Pohon ini getahnya dibuat sebagai bahan dasar sirup maple, yang sungguh lezat bila dinikmati dengan waffle, panekuk, sereal atau French toast.

Ketika orang berbicara tentang Jepang, selain teknologinya yang ampuh mendunia, sakura tetap tak pernah terlewatkan. Pohon yang bunganya nan jelita menghiasi hampir setiap cinderamata yang dijual di sana itu juga dikenal dengan nama Cherry Blossom. Mekarnya bunga ini menandai datangnya musim semi. Sedemikian tinggi nilai pohon ini bagi rakyat Jepang sehingga pada 1912 pemerintah Jepang menghadiahkannya pada pemerintah Amerika Serikat sebagai penanda persahabatan. Tidak main-main, pemerintah Amerika menempatkan pohon berbunga cantik ini di sekitar Tidal Basin, di dalam komplek Taman Nasional di Washington, DC.

Sumber Kehidupan 

Siapa tak kenal film Avatar, salah satu film nominator untuk piala Oscar 2009 itu berkisah tentang pentingnya nilai sebatang pohon bagi kehidupan semua makhluk yang hidup di Pandora. Paling tidak dalam film itu dikisahkan tentang 3 pohon, yakni Hometree, Tree of Voices dan Tree of Souls.

Kemudian Laskar Pelangi. Novel yang telah diangkat ke layar lebar ini mengisahkan 10 anak dari keluarga tak mampu yang bersekolah di SD dan SMP Muhammadiyah di Belitong. Markas mereka adalah sebuah pohon kiara payung, atau filicium. Walaupun bukan pohon itu yang kemudian membawa wisatawan mengunjungi Belitong, paling tidak anak-anak jadi lebih mengenalnya karena hampir setiap liputan seputar kisah 10 bocah itu nama pohon filicium disebut-sebut.

Mitos 

Lihatlah pohon beringin yang sulit dipisahkan dari kisah Keraton Jogja. Pohon yang batangnya kuat perkasa, buahnya kecil, dedaunnya sangat rimbun dan akarnya mampu menyimpan banyak air. Orang yang datang ke Jogja pasti tahu ringin kurung. Pohon beringin yang ditanam di tengah-tengah alun-alun utara dan alun-alun selatan ini punya banyak kisah.

Wisatawan pun suka meluangkan waktu untuk mencoba melakukan masangin di alun-alun selatan, yaitu berjalan dengan mata tertutup memasuki ruang di antara dua pohon beringin. Konon, bila berhasil melakukannya maka orang itu akan mendapat keberuntungan dalam hidupnya. Tidak percaya? Thukul, sang host sebuah talk show televisi yang mengklaim dirinya fenomenal pernah mencobanya. Dan dia berhasil masuk dengan sempurna!

Sebatang pohon yang besar dan rindang merupakan habitat bagi banyak makhluk lain. Di dalam tanah yang berdekatan dengan akar paling tidak ada tiga macam komunitas yang tergantung padanya seperti semut, uret, dan cacing. Di batang pohon dan cabang-rantingnya ada lumut, jamur, aneka jasad renik, semut berbagai jenis, ulat, burung, laba-laba dan serangga lainnya.

Hilangnya sebatang pohon berarti hilangnya habitat bagi banyak makhluk hidup lainnya. Masihkah kita akan terus menebangi dan mengakhiri kisah mereka?


***

Rabu, 06 Maret 2013

Mia Terseret Arus Cerita

Sumber: film dokumenter tentang pengungsi Burma
Cerita panjang – cerber atau novel atau apapun namanya – yang saya juduli ‘Tembak Di Tempat’ ibarat telur yang nggak juga menetas meskipun sudah dikerami selama 2 tahun. Wuih! Kalau menetas jangan-jangan nanti menjelma dinosaurus….

Tembak Di Tempat (TDT) ini hasil kegiatan J50K tahun 2011. Dulu, saya pingin banget menulis cerita tentang ‘pengalaman lapangan’ berdekatan dengan pengungsi di perbatasan barat-utara Thailand-Burma. Bayangan saya bakal asyik menulisnya. Memang asyik, sebab saya jadi membaca-baca laporan proyek, artikel, dan buku (fiksi dan non-fiksi) yang berkaitan dengan konflik di kawasan itu; juga mewawancarai teman-teman kerja dan memelototi foto-foto yang kualitasnya kurang mantap karena diambil dengan tergesa di sela-sela urusan pekerjaan.

Oh, ya… ketika mulai menulis TDT ini, saya sering mencuri-curi waktu kerja, sampai Bos saya tahu kalau saya punya ‘proyek sampingan’. Untungnya dia malah suka, bahkan membelikan beberapa buku untuk memperkaya wawasan saya.

Jadi proses menulis TDT ini saya awali dengan semangat 45. Selain itu, waktu itu saya sedang sangat ingin belajar menulis banyak tokoh dalam sebuah cerita, terilhami oleh novel-novel ‘besar’ yang saya baca.

Ternyata… amboi… ternyata. Menulis cerita dengan banyak tokoh – yang peranannya sama-sama penting – sulitnya berlipat-lipat. Tiap-tiap tokoh sudah saya rinci: tanggal/tahun/tempat lahir, pekerjaan, nama orang tua/saudara kandung, hobi, pendidikan, ciri-ciri fisik, kebiasaan, dan segala macam atribut yang bisa memperkaya karakter mereka. Tetapi semua rincian itu sering timbul-tenggelam terseret arus perkembangan cerita.

Mia, misalnya, si Aku yang menuturkan kisahnya. Dia adalah perempuan dewasa yang cenderung dingin, cuek, menahan diri (tertutup) terhadap lelaki, tidak suka dandan, punya hobi merajut (yang agak aneh untuk anak muda), membaca komik, dan mendengarkan musik klasik. Namun dalam cerita sepanjang 20 bagian itu (yang sudah rampung saya tulis dan masih ada beberapa bagian lagi hingga tamat) saya sama sekali belum pernah menyebutkan hobi merajutnya! Pun tak ada secuil kalimat yang menceritakan si lajang dari Jogja itu membaca komik. Konyol, bukan? Karakternya yang dingin itu juga baru terjelaskan dalam bagian 14, saat ia bertemu dengan Ronn. Namun, menurut saya, penjelasan itu dangkal dan ‘numpang lewat’, kurang mantap. Itulah yang saya maksud dengan ‘timbul tenggelam’.

Bukan hanya Mia saja. Setelah saya baca ulang, sebelum meneruskan menulis bagian 21, tokoh-tokoh lain seperti Tim, Rudi, Tong Rang, Naing Naing, dan Ronn seolah terbenam dalam plotnya. Tim, Mia, Tong Rang, dan Ronn punya sejarah hidup yang maunya… mau saya… akan jadi sub-plot. Namun, masih menurut saya, mereka justru hilang di antara tumpukan sub-sub-plot itu. Hadeeeh…!

Karena sudah mencapai 20 bagian (masing-masing bagian sepanjang kurang-lebih 1.500 kata), beberapa hal tentang tokoh-tokoh itu terpaksa tidak saya ungkapkan dalam cerita. Sudah terlambat! Artinya karakter mereka jadi berbeda dengan keinginan awal saya. Tentu saja saya kecewa. Paling tidak rencana saya untuk menceritakan mengapa Mia memilih merajut untuk mengisi waktu luangnya tidak kesampaian.

Mengapa sampai begitu? Entahlah…. Mungkin jawaban yang paling masuk akal adalah saya masih harus banyak belajar menulis, terutama menguasai teknik-teknik pengembangan karakter para tokohnya agar mereka tidak tertutup oleh jalan ceritanya. Sebab salah satu elemen terpenting cerita adalah karakter para tokohnya.

Meskipun begitu, cerita yang saya nilai bantat itu rupanya disukai beberapa pembaca. Tidak banyak, jumlah mereka bisa dihitung dengan jari tangan kanan. Dan yang membuat saya sukaaa… salah satu pembaca ‘setia’ bisa menangkap premis atau sesuatu yang mendasari kisah TDT ini: drama yang dilakoni orang-orang yang membantu para pengungsi, bukan kisah konflik di perbatasan Thailand-Burma.

Untuk para pembaca itu, saya berhutang terima kasih. Karena mereka, saya tetap bersemangat meneruskannya. Meskipun tidak banyak, bagi saya, pembaca – yang menikmati cerita saya – adalah ratu dan saya senang melayani mereka.

***

Kamis, 17 Januari 2013

Ada Apa dengan Bule dan Janda?

Sumber Foto
Tulisan ini lahir karena sebuah komentar di Facebook.

Syahdan pada suatu malam di negeri Facebook, saya memasang tautan ke salah satu cerpen lama, ‘Faith’, yang tayang di Kampung Fiksi. Salah satu tokoh dalam kisah itu adalah janda asal Jogja bernama Astari yang jatuh cinta pada lelaki Amerika bernama Liam. Tokoh utama cerita ini adalah Aku yang mengisahkan perjalanan cinta ibunya (Astari). Liam, si bule, hanya pemeran pembantu.

Entah mengapa salah satu pembaca, yang kebetulan juga membaca novel perdana saya, berkomentar bahwa karakter-karakter dalam cerita saya ‘pasti bule dan wanitanya janda anak priyayi’. Awalnya saya tertawa, sebab dua tokoh utama dalam novel saya ‘Senja di Chao Phraya’ juga janda dari Jogja dan bule Amerika. Duh!

Namun sehabis tertawa muncul selusin lipatan di jidat. Benarkah karakter-karakter saya ‘pasti bule dan wanitanya janda’? Eiiittts…! Tunggu dulu. Di sini saya cantumkan tautan ke beberapa cerpen saya yang dimuat di Kompas.com, Kampung Fiksi, Baltyra, dan blog saya ini:

Bagai Shabu-Shabu - tokohnya perawan dan jejaka Indonesia
Malaikat Bergaun Merah - tokohnya perempuan bersuami dan jejaka Indonesia
Bara Dendam - tokohnya preman perempuan Indonesia
Pulang - tokohnya dua perempuan lajang Indonesia
Sang Penderas Nira - tokohnya perempuan lajang Indonesia
Allambee, Anak Lelaki Wurundjeri - tokohnya anak Aborigin dan perempuan bersuami Indonesia
Darsinem - tokohnya perempuan lajang Indonesia
Tante Wari - tokohnya perempuan lajang Indonesia

Yang saya sebut di atas hanya sebagian (kecil) dari puluhan cerpen yang pernah saya tulis. Bila benar-benar dihitung, jumlah tokoh yang masuk kategori ‘bule dan janda priyayi’ tak bakal mencapai 5% dari semua tokoh dalam cerita-cerita saya. Ada 8 cerpen saya yang sudah dibukukan dalam 4 kumpulan cerpen oleh Kampung Fiksi. Kalau tidak salah ingat, tidak satupun ada tokoh bule di situ; juga tak ada jandanya. Dalam cerpen ‘A p i’ yang masuk dalam kumpulan cerpen ‘Kotak Pandora’, tokohnya justru preman perempuan, seperti dalam ‘Bara Dendam’.

Mengapa kombinasi ‘bule dan janda’ ini tampak menyolok bagi (sebagian) pembaca? Sungguh – mati – saya jadi penasaran (kok malah nyanyi… hihihiii….). Apakah kebetulan cerita-cerita saya yang menokohkan ‘bule dan janda’ merupakan cerita terbaik saya, hingga karakter-karakter itu melekat dalam benak pembaca? Apakah kombinasi ‘bule dan janda’ itu nyerempet bahaya – yang bagaimana pula ini? Bukankah sudah jamak perempuan Indonesia menikahi bule? Entahlah.

Yang jelas, semua tulisan saya terilhami oleh orang-orang dan kejadian di sekitar saya. Kebetulan teman-teman lelaki bule saya menurut saya (jelas subyektif) tidak mempersoalkan status perempuan – menikah, janda, perawan tua/muda, lajang perawan/tidak perawan. Sedangkan beberapa – sekali lagi hanya beberapa – teman lelaki lokal lebih rewel.

Ada duda tanpa anak, masih relatif muda, menolak saya kenalkan dengan janda. Alasannya: kalau sudah menjanda biasanya rewel. Loh? Buat saya, dengan penolakan itu si duda rewel juga. Bukan begitu? Look who’s talking!

Sebaliknya, perempuan lajang lebih luwes. Sudah saya buktikan juga. Beberapa waktu lalu saya mencoba mengenalkan teman perempuan dengan duda beranak dua. Teman perempuan itu membuka diri, katanya: “Oke. Siapa tahu saling cocok .” Lalu mereka saling bertukar PIN Blackberry. Kalau mereka jadian, waaah… saya mendapat ganjaran Tuhan.

Pengalaman itu jadi ilham. Saya sesekali pilih tokoh bule. Disanggah atau diterima, terutama di kota-kota besar, pola hubungan lelaki-perempuan kini lebih bervariasi ketimbang beberapa dekade lalu. Kemandirian finansial yang diraih perempuan telah ‘memerdekakan’ mereka dari ketergantungan terhadap lelaki (suami, ayah, atau kakak). Perempuan mandiri jadi enggan berpasangan dengan lelaki rewel, yang dikit-dikit minta dilayani, bahkan untuk sekedar menyeduh kopi. Mereka banyak yang menolak menukar kemerdekaan dengan cinta, apalagi kalau harus dihakimi sebagai ‘perawan tua’ atau ‘tak lagi perawan’. Lelaki bule, yang terlahir dan tumbuh di negara-negara yang sudah lebih dulu melewati proses itu (jangan dikira di negara-negara para bule itu perempuan tidak ‘dinomorduakan’. Mereka pun harus berjuang keras untuk meraih kesetaraan) secara umum sudah mau lebih terbuka dan menerima berbagai ‘jenis’ perempuan. Misalnya: mereka tidak mengaitkan keperawanan seorang perempuan dengan moralnya. Kalau ada itu pengecualian.

Bule itu juga semacam symbol saja. Bisa diartikan juga saya telah salah menilai laki-laki Indonesia. Bias. Berprasangka buruk.

Namun saya bukan sosiolog, dan sama sekali jauh dari niat menganalisa secara ilmiah. Yang saya tuliskan itu semata logika plus hasil pengamatan dan pengalaman sehari-hari, untuk menghidupkan tokoh-tokoh cerita saya.

Tokoh-tokoh cerita saya – yang bule – sudah setengah baya. Sempat juga muncul pertanyaan iseng ini: apakah (sebagian) pembaca secara tak sadar mengaitkan tokoh cerita saya dengan para bintang film Hollywood yang – saya akui – tetap sexy meskipun usia menua? Mungkin sambil membaca, ingatan sang pembaca otomatis terhubung dengan hot guys seperti Richard Gere, Mark Harmon, Harrison Ford, George Clooney, dan ‘handsome old fox’ berambut perak lainnya, yang seliweran mejeng di layar TV kita. Hmmm… apa ada yang punya jawabannya?

Saya hanya bisa garuk-garuk kepala.

Mungkin saya perlu menulis kisah dengan pemeran utama duda Indonesia dan perempuan (muda) bule. Tapi tugas saya pasti akan luar biasa berat. Sebab ketika saya membayangkan ‘duda Indonesia’, yang muncul di kepala adalah sosok-sosok di TV itu, para petinggi negeri yang… iiihhh… enggak banget, deh!

Catatan:
Nama Liam dlm cerpen 'Faith' itu jelas-jelas karena saya termehek-mehek sama Liam Neeson. Dan dia dari Irlandia. Begitu juga si Liam McKenna kekasih Astari.... 
 

*** 

Tulisan ini untuk Mbak Edi, yang kebetulan sarjana antropologi, seperti tokoh janda dalam novel saya, yang jatuh cinta pada bule Amerika.