Tampilkan postingan dengan label Ceritaku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ceritaku. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 Oktober 2016

Separuh Darah

Sumber ilustrasi
Serupa garpu hangat disentuhkan di atas secawan mentega, sorot matanya melelehkan hatiku. Usianya empat tahun lebih sebulan. Serta merta kusadari, tak pada tempatnya menyalurkan amarahku pada balita berambut ikal, bermata besar dengan sudut luar naik ke atas, dan berhidung bulat-mungil ini. Makin lama menatapnya, makin aku ingat akan sebentuk wajah yang kerap kulihat di dalam cermin: wajahku.

"Kak Nadia." Bening suaranya menyeru namaku. Anak bapakku yang pantas menjadi anakku itu memajang senyum.

Kami tercipta di dalam rahim berbeda meskipun dibuahi oleh sperma milik lelaki yang sama. Lelaki yang meninggalkan ibuku, setelah 23 tahun dicintai sepenuh hati. Lelaki yang menikahi perempuan separuh usianya demi menggapai mimpi menimang anak lelaki kala ibuku tak punya rahim lagi.

Ternyata, dengan perempuan berbeda, anaknya perempuan juga.

Anak ayahku itu melorot turun dari kursinya, mendekatiku, suara jernihnya memanggil namaku lagi, disertai sentuhan lembut di lututku. Kualihkan mataku dari sepatuku ke wajah mungilnya. Sepasang bibir merah muda itu merekah, memamerkan giginya yang belum genap.

Kudengar hembusan napas gelisah keluar dari hidung ibu si balita.

“Mbak Nadia... bagaimana, mbak?” Untuk kesekian kalinya istri ayahku bertanya. Ia memanggilku ‘mbak’ sebab ia setahun lebih muda dariku. “Dokter bilang Mbak Nadia adalah donor paling tepat.” Mengambang suaranya, bagai asap tipis keluar dari rebusan air, hilang terhisap udara. Pasti ia telah menduga akan menerima reaksi semacam itu dariku.

Sudah dua tahun aku mendengar kabar kalau ginjal ayahku bermasalah. Tiga minggu lalu ia meneleponku, mengatakan cara terbaik untuk sembuh adalah transplantasi. Ia memintaku menjadi donor. “Kata dokter, donor terbaik adalah anak kandung atau orang tua. Kemungkinan organnya ditolak tubuh resipien jauh lebih kecil daripada organ milik orang asing,” jelasnya.

Kalau tidak sedang berada di kantor saat itu aku pasti sudah mengumpat.

Lelaki yang pernah jadi pilar hidupku selama 21 tahun itu benar-benar tak tahu diri. Ia menginginkan salah satu ginjalku setelah mencampakkanku demi anak lelaki yang hingga kini tak juga ia miliki.

“Tidak,” jawabku singkat dan dingin.

“Ini bukan untukku, Nadia. Ini demi adikmu,” bujuknya.

Adikku? Sejak kapan aku punya adik? Bukannya rahim Ibu diambil karena tumor ganas saat aku 5 tahun? Mungkin lelaki yang pernah amat kucintai ini tak hanya gagal ginjal, otaknya juga majal.

Sesampai di rumah, telepon Bapak tak kusampaikan pada Ibu.

Ketika diceraikan Bapak 6 tahun lalu, Ibu dan aku keluar dari rumah. Saat itu aku masih kuliah. Aku pindah ke kamar kos tak jauh dari kampusku. Pemilik rumah kos itu, seorang pedagang kayu yang baik, mengijinkan Ibu tinggal sekamar denganku. Ibu punya sedikit tabungan. Ibu menjual semua perhiasannya dan menukar mobil – satu-satunya harta keluarga atas nama Ibu – dengan sepeda motor. Kami hidup hemat; tak membeli pakaian atau sepatu baru selama dua tahun.

Sambil kuliah aku bekerja paruh waktu sebagai pelayan apotik yang bertugas di akhir pekan dan hari libur, ketika orang-orang butuh cuti. Tugasku tidak berat, hanya melayani pelanggan. Bila sedang sepi aku sembunyi-sembunyi membaca atau mengerjakan tugas kuliah. Aku yakin pemilik apotik tahu kalau aku sering mencuri waktu, namun ia membiarkan.

Keberadaan Ibu di rumah kos kami, yang dihuni 20 mahasiswi, dianggap berkah. Teman-teman serumah sering memintanya memasak. Kami berdua jadi bisa makan gratis dan Ibu mendapat penghasilan. Sedikit, namun cukup untuk menutup biaya kamar kos tiap bulan. Ibu tidak malu. Ia bahkan rajin membersihkan rumah kos kami. Teman-teman serumah melarangnya, namun Ibu berkeras. “Untuk mengisi waktu dan mengusir sakit hati,” katanya.

Dua tahun kemudian, ketika aku sedang menulis skripsi, pemilik rumah kos meminta Ibu membantu mengelola hotel melati yang ia beli dari seorang pengusaha bangkrut. Ibu bahagia. Tangis syukurnya lebih panjang daripada saat Bapak menceraikannya.

Dulu, sebelum menikah Ibu bekerja sebagai staf humas di sebuah hotel berbintang di Surabaya. Sehabis menikah Bapak memintanya berhenti bekerja dan memboyongnya ke Yogya. Katanya Bapak ingin Ibu jadi ratu di rumahnya, ibu untuk anak-anaknya. Bapak ingin punya tiga anak, dua lelaki dan satu perempuan. Ia satu-satunya anak lelaki dari 4 bersaudara. Katanya, tanpa memiliki anak lelaki garis keturunannya akan mati.

Tak tahu bagaimana kejadiannya, aku masih balita, setelah melahirkanku Ibu dua kali keguguran. Ada tumor ganas di rahimnya. Aku baru saja merayakan ulang tahun kelima saat rahim Ibu dikeluarkan dari rongga perutnya.

"Ibumu ini sekarang bukan lagi perempuan," keluhnya. Saat itu usiaku 18 tahun. Bapak makin gelisah, kewalahan menahan keinginan beristri lagi demi mendapat anak lelaki.

Acap kali kupergoki Bapak dan Ibu bertengkar. Kata Bapak keturunannya punah karena aku perempuan. Bila aku bersuami, anakku akan menjadi keturunan suamiku, bukan keturunan bapakku. Tak bisa kugambarkan bagaimana pedih hatiku saat itu, hampir tiap malam aku menangis di kamar, merutuki diri, merasa telah menjadi penyebab rusaknya rahim Ibu sekaligus menumpaskan keturunan bapakku.

Berkali-kali paman-tante dan kakek-nenekku berupaya menjelaskan kalau tumbuhnya tumor ganas di rahim Ibu itu bukan salahku. Tante Hanna, adik bungsu Ibu, sampai merujuk statistik, “Semua perempuan di atas 18 tahun atau yang sudah aktif secara seksual, di rahimnya sewaktu-waktu bisa tumbuh tumor. Di Indonesia setiap tahun ada ratusan ribu perempuan meninggal karena kanker rahim. Lihat ini.” Tante Hanna menyodorkan beberapa lembar kertas penuh grafik di depanku.

Mungkin mudah bagi Tante Hanna, ia tidak mengalaminya. Baginya, ibuku hanya satu titik di dalam grafik. Bagi Ibu, kehilangan rahim berarti tamat riwayatnya sebagai perempuan dan berakhirnya cinta Bapak padanya. Ibu gagal meneruskan keturunan suaminya.

“Mbak Nadia ….”

Aku tersadar. Kulepas mataku yang melekat di gelas berisi frappuccino. Istri ayahku menunggu jawabanku. Sudah lebih 5 menit aku membisu, terseret ke masa lalu.

“Paling lambat kapan?” tanyaku, menatap matanya.

Kudengar hembusan napas lega. “Makin cepat makin baik, Mbak. Kalau bisa minggu ini. Terima kasih sebelumnya.”

“Saya belum bilang setuju.”

“Oh, tidak apa-apa, Mbak. Kalau Mbak Nadia sudah bersedia memikirkannya, saya sudah senang.”

“Tolong jangan panggil saya mbak. Dua hari lagi saya kabari." Berkata begitu aku permisi. Kutinggalkan 3 lembar lima puluh ribuan di meja meskipun ia berusaha mencegahku. Sebelum keluar dari cafe itu, kuelus rambut ikal si kecil. Separuh darah di tubuh montoknya dan separuh darah di tubuh kurusku berasal dari lelaki yang sama.

Aku bertanya-tanya, kalau saja Bapak tidak sakit, apa putri kecilnya itu akan ia tinggalkan juga bila istrinya tidak bisa melahirkan orok lelaki.

Malam itu Ibu curiga ada hal genting bercokol dalam pikiranku. Aku tidak menyentuh makanan favoritku: rawon dengan bawang merah goreng dan rajangan seledri melimpah, menutupi permukaan mangkuk.

“Cuma urusan kantor biasa,” bohongku.

“Pasti bukan.”

Aku tidak merespon, pura-pura mengganti saluran TV.

“Kalau kamu nyalakan TV tanpa nonton acaranya, tandanya ada masalah berat.” Ibu meraih remote control dari tanganku. “Apa ini urusan sakit ginjal bapakmu?” Ternyata Ibu sudah tahu. “Sebulan lalu istrinya nelpon Ibu.”

“Beraninya dia!” geramku.

“Sebelumnya bapakmu juga sudah nelpon.” Ibu menjangkau lenganku, aku hendak bangkit dari sofa. “Nadia, jangan pergi, duduk sini. Bagaimanapun juga dia bapakmu. Ada mantan istri atau suami, tapi tidak ada mantan anak atau bapak. Berapa kali Ibu harus mengingatkanmu?”

Suara Ibu membawa kembali kenangan 6 tahun lalu. Kala itu aku histeris, saking kecewanya atas keputusan bapakku menceraikan Ibu. Namun Ibu sama sekali tidak menangis, ia justru menenangkanku, mengatakan kalau dia tetap bapakku meskipun sudah menceraikan Ibu. Katanya bapakku bisa memilih antara Ibu atau perempuan lain; namun aku tak bisa memilih, ia selamanya bapakku.

“Ibu berusaha kuat untukmu dan untuk diri sendiri.” Ibu bisa membaca pikiranku. “Waktu itu tidak ada gunanya menghalangi niat ayahmu, hanya menghabiskan tenaga dan memperpanjang penderitaan. Dia bisa pergi kapan saja dan menikah lagi secara siri.” Ibu mendesah panjang. “Kamu tahu, amarah dan dendam adalah benalu di dalam hati. Tidak ada yang bisa melihatnya. Kita sendiri yang digerogoti. Sampai mati ngenes. Ibu tidak mau begitu.” Ibu mengusap-usap punggungku. “Jangan biarkan siapapun, termasuk bapakmu sendiri, membenihkan amarah di sini ….” Ibu menyentuh ulu hatiku.

“Aku tidak sekuat Ibu.”

“Jangan bilang begitu. Kamu lebih kuat, bahkan dari bapakmu. Lihat, berkat doronganmu, baru 6 tahun Ibu sudah bisa mendiri, meskipun kecil punya gaji. Dulu, bersama bapakmu, 20 tahun lebih Ibu membiarkan diri tergantung padanya. Apa kamu sama sekali tidak menyadari perubahan ini?” Tatapan Ibu menembus hingga ke hati. Ibarat serat zylon, meskipun halus dan lembut, tatapannya kuat, liat, dan tak mudah meleleh.

Kugolekkan kepalaku di ribaannya. Kepergian Bapak menyisakan luka, hingga kini masih menganga dan terasa perihnya. Alasan ingin punya anak lelaki itu meremukkan harga diriku. Kalau bapakku sendiri tega meninggalkanku untuk mengejar sesuatu yang belum ada, bagaimana dengan lelaki lain? Aku jadi sulit percaya pada lelaki, itu sebabnya hingga kini aku memilih sendiri. Ibu tentu saja sedih, sudah tiga kali aku menolak lelaki yang menyatakan cinta padaku.

“Cobalah melihat ke depan. Jangan sampai masa depanmu tercuri oleh masa lalu Ibu.” Ibu membarut rambutku, meminta maaf.

“Bukan salah Ibu. Ini salahnya. Biar saja dia merasakan hukumannya. Biar saja ginjalnya busuk, seperti kelakuannya.”

“Sampai kapan kamu mau membebani diri dengan amarah seperti ini?”

“Sampai aku melihat dia menderita.”

“Kamu pikir saat ini dia tidak menderita? Enam tahun lalu dia sehat. Kini tubuhnya rusak. Bisa jadi ayahmu mengalami tekanan batin, menyesali perbuatannya.”

“Kalau menyesal, mengapa selama enam tahun dia tidak sekalipun menghubungi aku? Tahu-tahu muncul minta ginjal! Memangnya ada yang jual!” Kuangkat kepalaku dari pangkuannya.

“Dengar, Nadia.” Ibu menyentuhku dengan tatapan lembutnya. “Coba pikirkan anak itu.” Ibu menelan ludah, “Nazlina … usianya baru 4 tahun, setiap saat dia bisa jadi anak yatim. Kalau kamu yang sudah dewasa bisa menderita ditinggal ayahmu, bisa kamu bayangkan apa yang terjadi pada anak itu kalau ayahnya meninggal?”

“Ibu kenapa begitu baik sama Bapak?”

“Ini cara Ibu menyembuhkan diri. Menyimpan marah dan dendam, sekali lagi, sama saja dengan menyakiti diri.” Ibu kembali memandangku dengan tatapan serat zylon itu. “Sudahlah. Ibu tidak mau berdebat soal ini lagi. Pikirkan saja baik-baik. Ayahmu minta salah satu ginjalmu. Kalau kamu ikhlas, berikan. Kalau tidak ikhlas, ya sudah, bilang saja secepatnya. Jangan ditunda-tunda.”

Aku merenung selama tiga hari.

**

Matahari melukis bayanganku memanjang ke timur saat kakiku menapak di teras rumah Bapak. Rumah yang pernah kuhuni, yang semula kuanggap surga. Pintu dibuka sebelum aku mengetuknya. Wajah kurus Bapak menyambutku. Senyumnya gagal menyembunyikan tubuh sakitnya: layu.

Ia membuka lebar dua lengannya, siap memelukku. Namun yang kuulurkan hanya tangan kananku. “Apa kamu tidak kangen bapakmu?” Ia menggenggam tanganku dengan dua tangannya, mengajakku masuk ke ruang tengah. Aku minta duduk di ruang tamu.

Sebelum pantatku menyentuh kursi, istri Bapak muncul membawa nampan berisi dua gelas es sirup dan segelas air putih. Di ruangan yang amat kukenal itu aku merasa asing dan senyap, seperti melihat diriku sendiri dalam sebuah film tanpa suara.

“Saya datang sesuai janji.” Sikapku resmi, menghindari basa-basi. “Sudah saya putuskan. Saya tidak bersedia menjadi donor. Salah satu ginjal saya akan saya cadangkan untuk Ibu, siapa tahu suatu saat Ibu memerlukan.”

“Apa ada gejala ibumu sakit ginjal?” tanya Bapak.

“Sama sekali tidak.”

“Syukurlah. Lalu….”

“Selalu ada kemungkinan,” potongku.

“Artinya kamu tidak mau?”

“Saya tidak bisa. Semoga Bapak menemukan orang yang bersedia jadi donor.” Suaraku datar dan kosong, layaknya mesin otomatis penjawab telepon.

Ruangan sedemikian nyenyat, aku bisa mendengar dengung kulkas di dapur. Mata Bapak tertambat pada lututnya sendiri. Kulihat dengan jelas dadanya naik-turun, seperti ada rasa kecewa yang hendak menerobos keluar dari dalam. Istrinya memilin-milin ujung gaunnya. Matanya berpindah-pindah dari wajahku ke wajah suaminya.

“Saya pamit.”

“Ahhh… jangan tergesa. Diminum dulu. Diminum dulu ….” Istri Bapak menyodorkan minuman.

Kuraih gelas di depanku. Kuteguk nyaris habis isinya. Selain haus, aku juga ingin menyenangkan hatinya. Tiba-tiba saja muncul rasa iba pada perempuan muda itu. Jangan-jangan cinta Bapak padanya berkurang akibat gagal memberi anak lelaki.

“Nadia.” Mata Bapak bertemu mataku. “Bapak minta maaf atas semua yang telah Bapak lakukan di masa lalu.”

“Saya tidak ingin mendengar apapun tentang masa lalu.”

“Nadia.” Bapak beringsut maju, tangannya hendak meraih tanganku. Punggungku reflek mundur hingga membentur punggung kursi. Tangan bapak terhenti di udara, lalu kembali ia letakkan di atas lututnya.

“Kalau tidak transplantasi, usia Bapak tidak akan lama. Sampai saat ini belum ada donor….”

“Kenapa bukan Anda?” potongku cepat, memandang istri Bapak.

“Kemungkinan reject-nya makin besar kalau memakai ginjal saya. Kalau sampai reject, tidak ada gunanya.”

“Saya tahu. Tapi tidak ada salahnya dicoba. Apa ruginya. Anda istrinya. Anda yang butuh dia.”

“Nadia!” Tegas Bapak tak lagi menyembunyikan perasaan kecewa. Saat itu kusadari cintaku padanya benar-benar sirna.

“Kalau sampai terjadi sesuatu pada Bapak, saya berjanji akan membiayai Nazlina. Anda tak perlu khawatir. Separuh darah saya dan separuh darah Nazlina berasal dari lelaki yang sama.” Kutatap mata istri Bapak. “Saya sarankan Anda segera mencari pekerjaan, supaya bisa mandiri kalau jadi janda.”

Bapak berseru. Matanya terbelalak manatapku. Rasa sakit yang kupendam lama membuatku mati rasa. Aku pamit. Bapak terlongong.

Matahari sudah bergeser meninggalkan cakrawala sewaktu aku meninggalkan rumah bapakku. Langkahku ringan, sebagian bebanku telah kulepaskan.

** 

Bapak meninggal beberapa bulan seusai operasi. Kata-kata Ibu terbukti. Selain beban marah tetap bercokol, di dalam hatiku juga tumbuh sesal. Bukan lantaran aku tidak memberikan ginjalku, namun karena telah bersikap kasar pada Bapak dan tidak sempat meminta maaf.

Sore itu, sepulang kantor kukunjungi makam Bapak. Kubawa seikat anggrek bulan. Bunga kesukaan Bapak yang anehnya baru kuingat setelah dia tiada. Aku berdoa di atas makamnya. Dalam perjalanan pulang dari makam, aku mampir ke rumah Bapak, rumah kami, rumah yang kini ditempati istri Bapak dan Nazlina.

“Saya akan menepati janji,” kataku, setelah beberapa saat berbasa-basi. “Saya akan menyokong kebutuhan Nazlina.”

“Oh, Mbak Nadia baik sekali. Jangan repot-repot. Kami akan pulang ke Semarang. Ke rumah orang tua saya. Rumah ini bukan hak saya. Namun mobil akan saya bawa.”

Istri Bapak ini orang baik, batinku. “Saya tetap akan rutin mengirim uang untuk Nazlina. Dia adik saya.” Kuharap ia bisa menangkap ketulusan hatiku. “Dan…,” aku terkelu sesaat. “Untuk mengurangi dosa saya pada Bapak.”

Kami bertatapan. Genangan air memberati matanya.

“Baik, kalau begitu. Terima kasih sebelumnya.” Ia mengantarku sampai di luar pagar. “Saya akan pamit sebelum boyongan. Sekalian menyerahkan kunci rumah dan surat-suratnya,” ujarnya, tersenyum samar.

Beberapa bulan kemudian, istri Bapak meneleponku, mengucap terima kasih atas kiriman uang.

Rumah yang pernah mengayomiku selama 21 tahun itu kami jual. Uangnya kami bagi tiga: untukku dan Ibu, untuk keluarga Bapak, dan untuk Nazlina.

Sekali lagi kata-kata Ibu terbukti. Menyimpan amarah dan dendam sama dengan menyimpan penyakit yang menggerogoti diri. Aku ingin sembuh dari penyakit itu. Pelan-pelan aku belajar mencintai Nazlina, bukan hanya mengiriminya uang. Kalau ada waktu luang aku mengunjunginya di Semarang. Sesekali ia diantar ibunya ke Yogya untuk menginap di rumah kami.

Kasih sayang yang kupupuk untuk Nazlina berangsur-angsur tumbuh subur, menyisihkan benalu dendam, membuahkan rasa tenteram.


~ Ditulis lewat tengah hari di Ngaglik, 2013 ~ 

Selasa, 27 Oktober 2015

Perdu Mawar

Sumber Gambar

Seminggu yang lalu. 

Suara berdebum disusul lengkingan membelah udara Sabtu siang yang gerah. Mei meletakkan baju yang tengah dijahitnya. Tanpa peduli pada kakinya yang tak beralas, ia tergopoh berlari ke rumah tetangga sebelah.

Begitu membuka pintu pagar Mei melihat Deti berteriak-teriak histeris di beranda rumahnya. Matanya melotot, menatap perdu mawar di sudut halaman. Mei berusaha menenangkan perempuan yang sejak bercerai berubah jadi penyendiri itu; perempuan yang selama 5 tahun nyaris tak lagi bertegur sapa dengan para tetangganya.

“Alinaaa… Alinaaa… Alinaaa…!!!” Deti meneriakkan nama anaknya. Mei kewalahan. Dilihatnya perdu mawar itu – yang selalu rimbun, subur, dan berbunga indah semerah darah – tertimbun batu bata dan adukan semen.

Tetangga di sebelah rumah Deti, Rustam, sedang membangun kamar di lantai dua. Mungkin tukangnya kurang hati-hati, batu bata yang tengah dipasangnya roboh, jatuh menimpa perdu mawar itu.

Rustam muncul diikuti si tukang batu. Mereka membantu Mei menenangkan Deti. Rustam minta maaf, berjanji akan menggantinya, berapapun biayanya.

Walaupun Deti tak lagi bergaul dengan tetangga, namun mawarnya sering jadi pembicaraan. Selain indah dan selalu mekar, para tetangga setiap pagi mendapati Deti merawat mawar-mawarnya, memotong batang-batangnya, dan menyiangi rumput liar yang tumbuh di sekitarnya. Bila malam, Mei pun kerap melihat sosok Deti duduk di beranda, menatap ke arah perdu mawar itu.

Jeritan Deti tak berhenti, justru meninggi, menyayat hati. Lalu ia kejang dan pingsan.

** 

“Kami tidak tahu keberadaan keluarga Bu Deti. Kami juga tidak tahu ia kerja di mana. Dia hidup sendiri,” jelas Rustam pada petugas administrasi di rumah sakit.

Di ruang IGD, Mei dan istri Rustam menemani Deti yang belum juga siuman.

Rustam menghubungi Pak RT, meminta bantuannya untuk melacak keluarga dan kawan-kawan Deti. Ditemani tetangga lain, Pak RT terpaksa masuk ke rumah Deti untuk mencari informasi: nama-nama dan nomor-nomor telepon yang bisa dihubungi.

** 

Sembilan tahun sebelumnya. 

Mei senang punya tetangga baru. Sudah bertahun-tahun rumah di sebelahnya itu kosong setelah pemiliknya pindah tugas ke lain kota. Saking girangnya, hari itu Mei memasak lebih mewah dan lebih banyak dari biasa. Urusan jahitan ia serahkan pada asistennya. Dengan wajah gembira, menjelang makan siang, Mei mengantar semangkuk opor ayam dan sepiring sambal goreng untuk tetangga barunya. Si pemilik rumah, Deti dan suaminya, menyambut gembira. Mereka berkenalan dan berbincang akrab.

“Sudah berapa bulan, Jeng?” tanya Mei memandang perut Deti.

“Empat bulan,” jawab Deti dan suaminya berbarengan. Mereka tertawa. Bahagia.

“Anak Mbak Mei berapa?” tanya Deti dengan mata berbinar, tangan kanannya mengelus-elus perutnya.

“Dua. Sudah sekolah semua. Okto, yang besar, kelas 3 SD dan adiknya, April, kelas 1.”

Kembali mereka tertawa-tawa.

Hubungan dua keluarga itu terjalin hangat. Sepulang Okto dan April dari sekolah, Alina, anak Deti, sering bermain ke rumah mereka diantar pengasuhnya. Menjelang malam Deti akan menjemput Alina sambil membawa jajanan yang ia beli di toko roti dekat kantornya.

Empat tahun kemudian semuanya berubah.

“Capek, ya, Mas. Setiap hari mendengar orang bertengkar,” keluh Mei pada suaminya. “Sudah hampir sebulan mereka begitu. Makin malam makin gencar.”

“Serba salah. Mau diam gimana, mau bantu nggak bisa,” kata suaminya. “Kita doakan saja supaya mereka bisa segera mengatasi masalah.”

Beberapa minggu berikutnya Mei tak lagi melihat suami Deti. Sekitar dua bulan selanjutnya rumah sebelah itu nyenyat. Sesekali saja Mei melihat Deti keluar rumah untuk bekerja. Wajahnya berkabut. Matanya selalu melekat ke tanah. Rambutnya lengket di kulit kepala.

Para tetangga menebak-nebak pasangan itu bercerai dan Alina dibawa ayahnya. Beberapa kali Mei berusaha menemui Deti, namun ditampik. Bila didatangi, Deti tak membuka pintu. Pesan-pesannya tidak dibalas, telepon-teleponnya juga tidak diangkat.

Mei akhirnya menyerah.

** 

Tiga hari yang lalu. 

Rustam, Pak RT, dan dua tetangga lain berkumpul di rumah Mei.

“Terima kasih banyak atas bantuan bapak-bapak dan ibu-ibu,” ujar Henri, mantan suami Deti. “Meskipun saya sudah bukan suaminya, saya akan berusaha membantu perawatannya.” Panjang lebar Henri menjelaskan keberadannya.

Para tetangga Deti menyimak sopan, masing-masing memendam setumpuk pertanyaan.

“Orang tua Deti sudah meninggal dua-duanya. Saya sudah menghubungi kakak Deti. Dia dan keluarganya tinggal di Eropa. Setahu saya mereka tak pernah pulang ke Indonesia. Saya sendiri juga tidak pernah bertemu Deti. Bahkan saya tidak bisa menemui Alina dan tidak tahu sekarang dia di mana.”

“Bukannya Alina ikut Anda?” potong Pak RT.

“Tidak. Sejak bercerai dia ikut ibunya.”

Ruang tamu mendadak sepi. Mei dan Rustam bertatapan. Lama. Dua tetangga penghuni rumah yang mengapit rumah Deti itu sudah lima tahun tidak mendengar suara – apalagi melihat – Alina.

** 

Siang tadi.

Kampung yang tenang itu berguncang. Satu tim polisi memasuki rumah Deti. Mereka membongkar perdu mawar yang sebagian tertimbun adukan semen kering dan batu-bata.

***

Jumat, 10 April 2015

K E L I K

Sumber Foto
Hampir sepuluh menit aku duduk di meja kesukaanku ini, namun anak lelaki itu belum terlihat juga. Biasanya beberapa detik setelah duduk di kursi ini aku sudah bisa mendengar gemerincing lonceng kecil yang ia kaitkan di kotak peralatan semirnya, disusul dengan sapaan riangnya, “Selamat siang Mbak Niar. Mau makan apa kali ini? Sepatunya mau disemir lagi?” Tangan kurusnya itu akan melambai ke arahku, ditemani senyum yang mempertontonkan giginya yang putih cemerlang.

Orang-orang heran ia bisa memiliki gigi sebersih itu, padahal hidupnya lebih banyak ia habiskan di jalan.

“Kamu ikut kontes gigi sehat, aja, Lik. Siapa tahu menang. Bisa jadi bintang iklan. Muncul di tivi saban hari. Jadi kaya. Dijekar-kejar cewek di mana-mana,” godaku.

“Kalau dikeramas di salon rambutmu itu tak kalah sama Giring Nidji,” gurau salah satu temanku.

Berkali-kali aku memintanya memanggilku ‘bu’. Usianya kira-kira 3 tahun lebih muda dari anak sulungku. Namun ia berkeras, “Mbak Niar cakep, nggak pantes dipanggil bu,” ia merayu supaya aku melepas sepatuku.

“Memangnya cuma orang jelek yang pantas dipanggil bu?” sahut temanku yang lain.

“Itu! Bu Wiwik…” kepala yang ditumbuhi rambut keriting itu meneleng ke kanan. Kami tahu siapa yang dia maksudkan. Pemilik kios sate ponorogo berbadan super besar-gempal dengan wajah kurang sedap dipandang. Memang hanya dia saja yang dipanggil ‘bu’ oleh semua pelanggan dan penjual lain di food court ini. Namun Bu Wiwik baik hati, ia jarang absen memberi Kelik makanan.

Aku dan tiga teman kantorku selalu makan siang di food court itu. Kami suka tempatnya yang terbuka dan makanannya yang beragam. Jaraknya tak sampai 5 menit jalan kaki dari kantor kami. Tidak ada yang ingat kapan pertama kali kami melihat Kelik mulai menjual jasa di sini. Tahu-tahu saja suatu siang dia muncul, dengan kotak semirnya yang dicat merah menyala dihiasi lima lonceng kecil yang ia kaitkan di salah satu sisinya.

“Mbak… Mas… Sepatunya disemir, ya? Itu udah berdebu.” Tangan kurusnya menyibakkan segumpal rambut keriting yang menutupi separuh keningnya. Matanya memandangi sepatu kami satu-satu.

Aku suka pada senyumnya yang dihiasi gigi-gigi bersih itu, lalu kulepas sepatuku. “Hati-hati, lho! Ini kulit asli. Buatan Itali,” selorohku.

Ia tertawa senang, kembali gigi-gigi bersih itu terpampang. “Mau dari Itali mau dari Belanda. Kalau udah dipakai tetep aja bau,” tukasnya.

“Hey! Kalau kamu berani bilang sepatuku bau. Aku nggak mau bayar,” goda salah satu temanku sambil melepas sepatunya.

Kelik juga kreatif. Selain semir dan sikat, ia juga membawa lap kain dan sebotol air bersih. “Untuk mbersihin sepatu yang bahannya kain atau kanvas,” kilahnya.

Selain agar sepatu kami selalu bersih, kami memakai jasanya karena ingin membantu. Sambil menyemir Kelik gemar bercerita. Lulusan SD yang semestinya duduk di bangku SMP itu memilih bekerja. Bapaknya dulu tukang batu yang mati akibat demam berdarah. Ibunya buruh tani, penghasilannya tak cukup untuk memberi makan empat anaknya. Sebuah kisah pedih yang mulai terdengar klise di telinga.

“Sekolah itu cuma ngabisin waktu dan duit. Katanya aja gratis, tapi bayar seragam, buku, les ini-itu. Setelah lulus juga belum tentu bisa kerja,” gumamnya biasa-biasa saja, tak ada penyesalan dalam suaranya. “Kalau gini, meskipun nggak banyak, tiap sore aku bisa setor duit buat Emak. Adik-adikku bisa makan.”

“Mereka sekolah, kan?” Tanya salah satu temanku. Nyata sekali ia berharap Kelik akan mengatakan ‘ya’ atau mengangguk.

“Yang ragil dan yang nomer tiga masih sekolah. Adikku satunya udah kerja.” Suara Kelik bangga.

Ah, pekerjaan macam apa yang bisa didapat anak usia 12 tahun, pikirku.

“Adikku itu pinter njahit. Ada juragan garmen yang tiap hari ngedrop baju dan seragam. Kerjaan adikku masang kancing,” seakan ia bisa mendengar isi pikiranku. “Dulu emakku yang minta kerjaan di juragan itu, tapi yang ngerjakan adikku,” tambahnya.

Makanan kami sudah tersaji. Kelik belum menampakkan diri.

“Mungkin Kelik udah kerja sama orang itu,” temanku mengingatkan. Ia tahu aku sedang memikirkan penyemir sepatu kesayanganku itu.

Kutengok sepatuku. Wajah Kelik menari-nari di ujung-ujungnya yang berdebu.

Tiga hari lalu Kelik bercerita dengan bangganya kalau dia baru saja bertemu seorang boss baik hati. “Dia mau ngasih aku kerjaan kantor,” katanya. “Gajinya gedhe, Mbak. Kata boss itu aku bakal bisa beli sepeda motor setelah 6 bulan kerja. Nanti lama-lama beli rumah buat Emak.” Ia bangga bahkan sebelum tahu apa pekerjaannya dan alamat kantornya.

Temanku ingin tahu siapa orang baik yang mau memberi anak lulusan SD pekerjaan bergaji besar. Namun Kelik tidak mau cerita, hanya tertawa. Katanya yang penting gajinya.

“Selamat, ya. Kalau udah kaya jangan lupa sama kami,” selorohku, mengulurkan uang untuk membayar jasanya.

Hingga saat kami harus meninggalkan food court itu, gemerincing lonceng di kotak merah Kelik tidak kudengar.

** 

Lima hari berlalu tanpa Kelik menyemir sepatu kami.

“Nggak keluar?” Temanku melongokkan kepalanya ke ruanganku.

Saatnya makan siang, namun perutku masih kenyang, mungkin karena pisang dan jeruk yang kumakan bersama semangkuk havermut pagi tadi.

“Es dawet juga nggak pingin?” temanku menggoda. Semua temanku tahu aku mencintai es dawet melebihi suamiku. “Siapa tahu hari ini Kelik muncul,” diliriknya sepatuku.

Sejak aku bertemu Kelik, kebersihan sepatuku memang kupercayakan padanya. Dan aku kangen senyumnya. “Oke. Kalian duluan,” kataku, menyimpan dokumen dan foto-foto yang masih terbuka di layar komputer.

** 

Aku belum sempat duduk ketika Bu Wiwik terengah-engah membawa tubuh gempalnya mendekati kami. Di tangannya ada lembaran koran.

“Kelik, Mbak Niar! Kelik…” Wajah Bu Wiwik semakin jelek akibat menahan tangis. “Ini… Ini…”

Koran itu ia gelar di atas meja favorit kami. “Ini! Kata orang-orang ini Kelik…”tangisnya meledak.

Aku belum membaca koran sejak pagi. Di halaman depan bagian bawah kulihat judul berita yang ditulis besar-besar: Mayat Remaja Lelaki Ditemukan, Organ-organ Tubuhnya Hilang.

***
 

Jumat, 09 Januari 2015

A P I


Sumber Foto
“An eye for an eye makes the whole world blind.” 
Mahatma Gandhi


“Ini apa?” tanya seorang lelaki tua pada bocah lelaki yang terus menatapnya. Tangan si tua menggenggam obor. Baru saja ia sorongkan ujung obor itu ke api unggun. Nyala api obor itu membara.

“Api,” jawab si bocah tanpa berpikir. Manik-manik matanya bercahaya.

“Bukan! Ini bukan api…” Si lelaki tua berteka-teki.

“Oh?” Mata bocah itu melekat pada lelaki yang berdiri masih dengan obor di tangan.

“Ini senjata.”

Dua lelaki beda usia itu saling memandang. Mata mereka berkilat-kilat memantulkan lidah api unggun yang menjilat-jilat udara. Di antara gelap malam dan lolong serigala, menyelinap sebuah rencana jahat.

Potongan adegan film itu menusuk-nusuk dinding otakku. Menyerikan sakit hatiku. Menyalakan dendamku. Aku tak ingat judul film itu, apalagi ceritanya. Namun adegan itu bercokol bagai benalu di pikiranku. Menggerogoti.

Api adalah senjata. Aku bisa mudah mendapatkannya. Cukup dengan sejerigen bensin dan sebatang korek api, aku akan punya senjata ampuh untuk memusnahkannya.

 ** 

Tiga belas tahun lalu kebahagiaanku direnggut dariku, semasa aku masih bocah.

Baru delapan tahun umurku. Bersama ibuku, yang hanya 16 tahun lebih tua dariku, aku tinggal tak jauh dari jembatan. Bukan di sampingnya, namun di bawahnya. Sepetak kamar selebar dua depa dan panjangnya tak sampai 10 langkah itu kusebut rumah.

Sebagai buruh cuci, ibuku melarat; mana ada buruh cuci yang kaya. Dalam sehari uang yang ia peroleh sering tak cukup untuk membeli nasi. Saat itu aku masih terlalu muda untuk mengerti.

Pagiku selalu habis untuk bermain di kali. Sambil menunggui ibu mencuci di sumur yang mirip belik di bantaran kali, aku rajin mencari apa saja yang terbawa arus kali. Kalau ada barang yang terapung aku suka mengejarnya. Berteriak-teriak. Kalau berhasil kuraih, aku akan bersorak. Teman-temanku sering iri, aku bisa bermain sepanjang hari sementara mereka harus duduk di ruang kelas, dengan tangan sedekap di atas meja, mendengarkan guru bicara.

Suatu pagi aku beruntung menemukan cincin emas. Kata ibuku itu cincin kawin. Ukurannya cukup kecil, pas di jari manisnya. Katanya itu mungkin milik seorang istri yang baru diceraikan suami, lalu dibuang ke kali. Tanpa menunggu cuciannya kering, ibu membawaku ke pasar, melego cincin itu.

Orang-orang di pasar melihat kami dengan sorot mata aneh, pasti mereka mengira aku mencuri, gerutu ibuku. Ia tak peduli, apalagi aku. Yang kuingat hanya satu, ibu membelikanku baju baru.

“Ini hadiah ulang tahunmu, Nduk. Yang ke delapan.” Ibu memelukku erat. Itulah pertama kali aku dapat hadiah ulang tahun. Saat itu pula pertama kali ibu menyadari kalau payudaraku mulai tumbuh. Seingatku, ah… aku sebenarnya ingin melupakan hari itu. Ya, seingatku Ibu membeli sepotong baju untuk dirinya juga.

Ia menuntunku ke kamar mandi yang jauh lebih kotor dari sumur di kali dan bau pesingnya membuat pusing. Kami berganti baju di situ. Dengan baju baru itu, kulihat ia berubah cantik. Mirip Jeng Siwi, salah satu majikan ibu, yang sering membawa makanan kalau menyetor baju kotor.

“Kita sekarang beli pukis. Mau?” Ibu menawariku. Wah. Tentu saja aku suka sekali. Bau pukis yang wangi membuat perutku yang baru diisi nasi ayam lapar lagi. Tukang pukis berkumis itu memuji kecantikan ibu.

“Mbak, boleh kenalan?” Seorang lelaki bersepeda motor mencolek lengan ibu. Ibu tampak senang disapa pemuda itu. Tongkrongannya mirip Mas Dito, mahasiswa yang seminggu sekali mengantar baju kotor untuk dicuci ibu. Sepeda motornya bercat merah, terlihat gagah. Belum pernah kulihat ada lelaki setampan itu berbicara dengan ibu. “Ini adiknya? Sama-sama manisnya,” tambah lelaki itu. Ibuku malu-malu. Matanya berbinar menatap wajahku.

Entah bagaimana selanjutnya aku lupa, aku sibuk menikmati pukis isi keju yang rasa manisnya meleleh di mulutku. Tahu-tahu lelaki itu membantu ibu mengangkat tubuhku ke atas sadel sepeda motornya. Ia mengantar kami pulang ke rumah. Ya, ke rumahku, ke bedeng di bawah jembatan itu.

Aku ingat saat itu Jumat malam, sebab Mbah Jirah menyetel radionya keras-keras, mendengarkan acara wayang. Duljani, anaknya yang pincang itu, marah-marah. Suara radio emaknya mengganggu suara TV yang sepanjang hari tak henti ia pelototi. “Nduk… cepat sembunyi. Di sini…” Ibu menarik lengan kiriku. Tubuhku ia jejalkan ke bawah amben kayu. Selembar jarik lusuh yang biasa ia pakai alas menyeterika digelar di atas kasur kapuk, ujungnya dibiarkan keleweran menutupi kolong amben.

Beberapa menit kemudian kudengar langkah kaki melewati satu-satunya pintu bedeng kami. Dari sela selebar dua jari antara tepian jarik dan kaki amben, aku tahu itu sepasang kaki lelaki. Ia menyapa ibuku seperti saat ibu menidurkanku waktu aku kecil dulu. Lembut. Membuai. Aku merasa kenal suara itu. Tak begitu lama, amben reyot yang beberapa pakunya copot itu berkerenyit, melengkung terbebani tubuh ibuku dan tubuh lelaki itu. Kudengar suara-suara. Napas ibuku memburu, seperti sedang menggosok celana jeans penuh lumpur. Lama-lama aku tak bisa lagi membedakan suara-suara yang menyerbu telingaku. Debu-debu rontok mengotori wajahku, sebagian masuk ke mataku. Aku menahan batuk sekuat-kuatnya, sampai dadaku mau pecah. Aku ketakutan amben itu ambruk menindihku. Lalu kudengar lenguhan panjang, bukan dari mulut ibuku. Lenguh yang belum pernah kudengar dari mulut manusia. Serupa sapi kekenyangan. Sapi milik tetangga kami yang kaya di desa asal ibu.

“Jangan merokok di sini, Mas,” suara ibu kudengar, sedikit terengah.

“Cerewet!” Lelaki itu membentak.

“Tolong, Mas, kalau mau merokok keluar sebentar.”

“Plaaak!” Kudengar suara pukulan disusul rintihan ibu. “Asu!” Lelaki itu mengumpat.

Perasaan takut merambati tubuhku. Ia mengumpat sekali lagi sebelum membuka pintu lalu menghempaskannya kuat-kuat sampai-sampai genteng keripik yang sebagian sudah pecah itu serpihannya rontok.

“Nduk!” Cepat ibuku menyingkap jarik, mengangsurkan lengannya, menarikku keluar. “Maafkan Ibu.” Ia memangku tubuhku yang basah oleh keringat. Wajahku lesi. “Kita bisa beli nasi ayam. Kamu mau?” Ibu melirik selembar uang 20 ribu yang tergeletak di atas baju yang belum diseterika. Baju itu mawut-mawut entah tadi kena tendang kaki siapa.

Selanjutnya lelaki itu datang kapan saja. Lelaki yang memboncengkan kami pulang dari pasar. Lelaki yang tadinya kukira baik hati. Kadang ia muncul pagi-pagi sebelum adzan subuh. Baunya mirip cairan pemutih yang dipakai ibu menghilangkan noda baju.

“Ibumu sekarang nyambi nglonthe, Nduk. Kamu sini saja,” tukas Mbah Jirah suatu pagi, ketika aku merangkak keluar dari kolong amben dan lelaki itu mendengkur sekeras mesin diesel di bengkel sepeda motor di barat jembatan. Ibu sudah turun ke sumur di pinggir kali. Mencuci.

Minggu berlalu. Bulan datang menggantikan. Ibuku masih saja didatangi lelaki itu. Juga sering dipukuli. Namun setelah ia pergi, ibu selalu membelikanku makanan yang lezat. Tubuhku jadi sedikit berisi. Ibu juga membelikan sandal seperti milik Neny, anak bungsu Bu Hesti yang bajunya sering dicuci ibu. Warnanya kuning seperti kembang kenikir yang ditanam Yu Sarti, tetangga kami yang jualan gorengan di timur jembatan. Kata Mbah Jirah kalau memakai sandal itu aku jadi ayu.

Suatu sore ibu didatangi seorang pelanggan, diminta membantunya di rumah. Ia punya hajatan dan butuh bantuan di dapur, mencuci piring dan gelas serta pekerjaan lainnya. Aku ditinggal sendiri. Mbah Jirah mengajakku ke rumahnya, mendengarkan siaran radio kesukaannya. Aku tidak suka radio. Aku ingin sekali nonton TV, tapi Duljani hanya akan membentakku, mengusirku seperti kucing pencuri teri. Kutolak ajakan Mbah Jirah. Lebih baik keleletan di amben rumah, membantu ibu melipat baju kering yang belum diseterika. Supaya bedeng kami rapi.

Aku sedang menyusun lipatan baju ketika pintu terbuka. Lelaki itu berdiri di ambang pintu, kakinya mengangkang, menanyakan ibu. Kubilang ibu sedang bekerja di rumah orang. Aku tak berani menatap matanya. Sejak pertama memukul ibu, tak kudengar lagi suaranya yang membuai. Tapi kali ini ia tidak marah, malah tertawa renyah. Dengan sekali langkah ia sudah berada di dekatku. Mengangkat tubuhku. “Nduk, cah ayu. Lihat dirimu. Mulai mekar. Segar.” Lalu ia duduk di amben. Tubuhku dipangku. Tangannya berpindah dari pinggangku ke dadaku. Meraba payudaraku yang putingnya baru sedikit menyembul. Menekannya keras-keras sampai aku tak bisa bernapas. Ia merebahkan tubuhku. Selanjutnya aku tak ingat. Yang pasti ketika pulang ibu melolong panjang melihat darah berlepotan di pahaku.

Kejadian itu berulang. Tak hanya dua-tiga kali. Selama berminggu-minggu. Sampai ibu tak tahan lagi. Suatu malam mereka berkelahi. Ujungnya ibuku mati, dengan 17 tusukan di tubuhnya. Tetanggaku ramai-ramai menghajarnya. Lelaki itu kabarnya masuk bui.

Jangan tanyakan bagaimana rasanya, marah, sedih, sakit hati, dendam, dan takut bercampur dalam tubuh kecilku. Kala itu aku ingin ikut mati, lumer dalam darah ibuku yang mengucur sederas air kali.

Seminggu kemudian aku tinggalkan bedeng, menggelandang di jalanan. Tetanggaku tak ada yang peduli.

**

“Nduk, ada titipan,” suara Samson membuyarkan lamunanku. “Ini!” Lelaki kelahiran Papua itu menyorongkan amplop coklat ke hidungku. “Pesenanmu. Dari Kampret.”

Mendengar nama Kampret disebut aku melompat meraih amplop itu. Sudah beberapa minggu aku minta bantuannya. Mencari laki-laki yang membunuh ibuku dan mengoyak hidupku. Ia bebas dari penjara setahun lalu. Amplop kubuka. Isinya secarik kertas ditempeli sebuah foto dengan alamat lengkap tertulis di bawahnya.

“Siapa?”

“Bajingan itu,” pendek jawabku. “Ia utang nyawa padaku.”

“Mau kubantu nagih?”

Aku menggeleng.

“Hati-hati,” pesannya. Kuminta Samson mengantarku mencari alamat itu. Lelaki yang tubuhnya menyerupai batang pohon sawo tua di halaman balai kota itu sudah hampir 13 tahun menjadi pelindungku. Ia menemukanku hampir mati kelaparan di sudut sebuah pasar swalayan, meringkuk di sisi bak sampah tempat para pegawai membuang sisa-sisa makanan dan sayuran busuk tak terjual.

Kata orang-orang setelah dewasa kini aku mirip ibuku, namun aku lebih pandai dan lebih berani. Samson mengajariku membaca dan menulis, juga teknik berkelahi dan mempertahankan diri. Sebagai balasannya, sejak empat tahun lalu, setelah aku cukup dewasa, aku menjadi pasangan tetapnya. Aku setia. Ia suka masakanku.

“Itu,” Samson menepikan sepeda motor, berhenti di antara dua truk penuh bahan bangunan, di depan sebuah rumah yang cat temboknya mengelupas di sana-sini. Atapnya miring. Halamannya kering, bungkus rokok dan tas kresek tersebar di sana-sini. Rumah itu seperti tak dihuni. Di sekitarnya berderet toko bahan bangunan. Entah siapa pemilik rumah kecil itu, terselip di antara baliho dan spanduk iklan genteng, cat tembok, keramik dan segala macam pernak-pernik penghias rumah.

“Kita pergi,” kataku.

“Pergi? Aku bisa nagih hutangnya sekarang ini!” Suara Samson dipenuhi rasa benci. Ia tahu kisahku dari mantan tetanggaku. Selama hampir 13 tahun mulutku terkunci. Aku tak sudi membicarakan deritaku yang nyaris menguburku hidup-hidup di kota ini.

“Lain kali.” Kutepuk punggung Samson, memintanya pergi.

Hari berikutnya kudatangi rumah itu. Sendirian. Wajah lelaki itu masih sama, hanya menua. Tubuhnya kini kurus, terbungkus oblong kumal dan celana jeans yang terlihat berbulan-bulan tak dicuci. Susah payah ia menyalakan mesin sepeda motornya. Hampir 10 menit kakinya mengengkol namun si mesin tua yang tak terawat tetap membeku. Wajah yang tak kalah lusuh dengan celananya itu banjir keringat. Rambut pendeknya lengket di kepala. Ia menoleh ke kanan-kiri, mencari-cari orang lewat yang mungkin mau membantunya. Ia tak melihatku. Kalaupun matanya menangkap sosokku, pasti ia tak mengenaliku. Untuk nyawa ibuku yang ia cabik-cabik dengan belati, ia hanya diganjar 11 tahun, bukan dihukum mati. Mata seorang tukang parkir menumbuk mata lelaki itu. Namun si tukang parkir pura-pura tak melihat, mulutnya terus berteriak, tangannya sibuk membantu supir truk menepikan kendaraannya. Bekas narapidana yang kejahatannya seolah tertempel pada wajahnya itu menyerah. Dua tangan kurusnya menuntun motor, gontai langkahnya menjauh dari hingar bingar di sekitarnya tanpa ada yang peduli, serupa tikus yang takut-takut menyelinap keluar dari got di depan rumahnya.

Kuhabiskan waktu seminggu mengintainya. Di rumah yang terjepit toko itu, ia tinggal seorang diri.

**

Pukul 1.20 dini hari. Sudah dua jam aku meringkuk di balik tumpukan kotak-kotak kayu di seberang jalan, mengamati rumah itu. Selepas tengah malam, jalan ini bagai mati. Lelampu jalan gagal menembus tabir hitam malam. Tiga truk kosong terparkir hampir menempel pada pintu-pintu toko, bayangannya kelam, menghalangi sorot lampu-lampu kecil di langit-langit emperan toko. Tak kuhiraukan puluhan nyamuk menyerbu tubuhku. Tak berkedip mataku menatap teras rumah itu, lampu 5 watt tertempel di antara lubang-lubang menganga di langit-langitnya. Malam ini penghuninya harus membayar lunas hutangnya padaku.

Aku sabar menunggu.

Sepeda motor berhenti di depan rumah beratap miring itu, suara mesinnya terengah, bagai orang sekarat. Lelaki itu datang. Langkahnya sempoyongan menuju pintu.

Mengendap-endap aku menyeberang jalan. Kubuka tutup jerigen penuh bensin di tanganku. Pantat serata papan itu kutendang dari belakang. Lelaki itu mengumpat, lalu berbalik.

Di bawah temaram lampu teras ia berusaha mengenali sosokku. Bibirnya menyeringai, tangannya terulur, mencoba meraihku. “Heiii… siapa kamu?” Suaranya serak.

Aku tak bergerak. Kuatur jarak. Kakiku kokoh berjaga-jaga.

Matanya lurus menembus mataku. “Hahaha… aku ingat kamu!” Mungkin ia mengira sedang melihat hantu. “Kamu pelacur yang membuatku dipenjara. Hahaha…!”

Tawanya tersumbat isi jerigen yang kusiram ke mukanya, membasahi separuh atas tubuhnya. “Apa ini…?”

Sekejap ia panik. Seketika matanya mendelik. Ia tahu.

Kunyalakan pemantik murahan yang kuambil dari saku jaket Samson. Cepat kulemparkan. Api langsung berkobar. Melahap rambutnya. Menjilati mukanya. Aku berkelebat pergi. Jeritannya mengoyak kepekatan malam, terdengar bagai nyanyian.

***

Cerita ini pernah dimuat dalam kumpulan cerpen "Kotak Pandora" yang diterbitkan Kampung Fiksi dan sudah dicabut peredarannya. 

Rabu, 24 September 2014

Sang Apoteker


Sumber Gambar
“Jangan pernah merencanakan pembunuhan. Pembunuhan harus terjadi tanpa rencana, seperti kehidupan.” Alfred Hitchcock.

Menjelang tengah malam seperti ini, seluruh pagar rumah terkunci sudah. Penghuninya lelap tertidur. Iryani hati-hati membelokkan mobil memasuki gerbang kompleks perumahan. Pohonan cemara berderet di kanan kiri jalan, mengangguk-angguk tertimpa sisa-sisa rinai hujan.

“Kita udah hampir sampai, Bram.” Tangan kiri Iryani terulur ke kiri, menggoyang tubuh Bram.

“Hmmmhhh…” tubuh kokoh itu menggeliat. Kenikmatan yang belum lama ia hisap dari tubuh Iryani membuainya ke alam mimpi meskipun perjalanan dari hotel ke rumah kekasihnya itu tidak lama. Malas ia melepas seatbelt.

“Jangan turun,” cegah Iryani.

Terlambat. Lelaki simpanannya itu sudah membuka pintu mobil. Sisa kantuk membuat tubuh jangkungnya sempoyongan. Dua kakinya tidak bersamaan menapak tanah. Ia mengaduh. Reflek Iryani menoleh ke kanan. Lampu ruang tengah tetangga depan rumah masih menyala. Pertanda penghuninya masih melek.

“Sialan,” Iryani menyumpah.

Lelaki jomblo bernama Panca itu biasanya tidur awal. Jarang terlihat begadang. Lima tahun menjadi tetangga membuatnya hapal. Sebelum pukul 11 lampu ruang tengahnya pasti sudah mati. Kalau tahu begini dia tidak bakal membawa Bram pulang. Perempuan itu mengutuk diri sendiri. Seharusnya sejak awal ia menyuruh Bram tetap tinggal di mobil sampai masuk garasi. Istri pegawai senior kilang minyak lepas pantai itu hati-hati membuka pintu mobil. Ia tak ingin mengundang perhatian Panca. Mungkin lelaki itu lembur di rumah, pikir Iryani. Kakinya berjingkat. Telunjuk kiri ia taruh di bibir, menyuruh Bram tidak berisik.

Namun pikiran lelaki itu belum sepenuhnya terkumpul. Ia juga dikuasai hasrat kembali mencecap nikmat. Ia tak sabar. Ingin lagi. Lengannya terulur, meraih pinggang perempuan tanpa anak itu. Menarik tubuhnya ke dalam pelukannya. Penuh nafsu bertubi-tubi menghunjamkan ciuman ke lehernya.

“Jangan di sini!” Serak suara Iryani, berusaha meronta, “Nanti tetanggaku…” Suara Iryani terhenti. Jantungnya seakan mencelat. Dilihatnya gordin jendela rumah tetangganya terkuak lebar. Di bawah temaram lampu teras, Iryani tak bisa melihat muka lelaki itu. Namun ia yakin mata pegawai bank itu melekat ke dirinya dan lelaki yang sedang mencumbunya. Lelaki yang bukan suaminya.

** 

Pagi yang panas dan lembab. Kemeja biru muda bergaris-garis putih yang dikenakan Panca sudah mulai terasa lengket meskipun ia belum keluar rumah. Arloji digital di pergelangan tangan kanannya memperlihatkan angka 6.45. Saatnya berangkat bekerja. Pegawai bank itu menyukai pekerjaannya. Tak lama lagi ia tahu akan naik pangkat. Lelaki lajang itu sangat memperhatikan kebugaran tubuh dan kebersihan penampilannya. Selain bersepeda, ia rajin berenang dan sesekali bermain golf menemani atasannya. Tangannya baru meraih kunci mobil ketika tiba-tiba rasa pusing memukul-mukul rongga kepalanya. Tubuh langsingnya menyandar di pintu garasi, lehernya ia putar hati-hati ke kanan-kiri, lalu ke atas-bawah. Melemaskan otot-ototnya. Selama beberapa menit ia mengatur nafas, mencoba mengisi paru-paru dengan oksigen sebanyak-banyaknya.

“Kenapa sejak kemarin aku diserang rasa mual dan pusing-pusing begini?” risaunya dalam hati. Ia merasa tak ada yang salah dengan dirinya. Ia makan seperti biasa. Minum vitamin secara rutin. Bersepeda tak ketinggalan. Sambil terhuyung Panca membuka pintu garasi. Ia bisa saja menelepon teman kerjanya, namun ia tak mau seorangpun tahu kalau dirinya kurang sehat. Ia ingin terlihat senantiasa prima dan bersemangat di mata koleganya.

Mungkin aku hanya penat, harapnya. Lelaki itu meninggalkan rumah tanpa menutup pintu pagar. Namun ia masih sempat melambaikan tangan pada tetangganya.

 ** 

Pukul 3 sore. Terlihat sepuluh orang menunggu dilayani. Apotik di dekat kampus itu jarang sepi pengunjung. Tak salah Iryani membayar sewa mahal di tempat itu. Dalam waktu kurang dari lima tahun bukan hanya modalnya telah kembali, ia juga mulai menimbun keuntungan.

“Bu Iryani, ada telpon.”

“Dari mana?”

“Katanya tetangga Ibu. Tidak menyebutkan nama.”

Tetangga yang mana, pikirnya. Jangan-jangan ada yang sakit. Butuh obat mendadak. Melepas kacamata Iryani menerima gagang telepon dari pegawainya. “Tolong pintu ditutup,” perintahnya.

“Ya. Halo. Saya Iryani,”

“Selamat sore, Bu Yani. Maaf mengganggu. Anu… saya Bu Nandar. Ada kabar buruk, Bu. Tetangga kita. Pak Panca. Meninggal tiba-tiba. Di kantornya.” Bu Nandar terbata-bata.

“Oh… Ya, Tuhan! Sakit apa? Tadi pagi saya masih ketemu pas mau berangkat kerja…”

“Kurang tahu, Bu. Saya cuma diminta Pak RT nelpon Bu Yani. Mau minta ijin mendirikan tenda di jalan, di depan rumah Bu Yani.”

“Oh… Tentu saja… tentu saja…” Suara Iryani tertahan di tenggorokan, “Saya akan segera pulang. Kalau perlu apa-apa bisa langsung minta Prapti.” Iryani menyebut nama pembantunya yang hanya bekerja siang hari. “Jam segini dia belum pulang.”

“Terima kasih, Bu.” Lalu telepon ditutup. Iryani tercenung sesaat. Kemudian dia membuka pintu, memanggil asistennya. “Sinta, tolong jaga. Kalau ada yang penting telpon aja. Jangan sms. Jangan BBM. Telpon. Ya? Aku mau pulang.”

Asisten apoteker itu mengangguk sopan. Ia mengerti atasannya itu mengabdikan hidupnya untuk pekerjaan. Jarang meninggalkan apotek bila tidak ada urusan darurat. Suaminya yang tiap 5 minggu pulang selama 2 minggu itu cakap mengurus diri sendiri, tak suka dilayani.

Meskipun orang sering menggunjingkan, Iryani tak peduli. Bukan salahnya bila hingga 5 tahun menikah rahimnya belum berbuah. Ia tak perlu mengumbar kabar kalau sperma suaminya selain malas bergerak, jumlahnya juga tidak banyak. Mungkin suaminya kecapekan bekerja di kilang minyak, nun jauh di negeri seberang. Ia menutupi hal itu dari keluarganya. Kalau ayahnya sampai tahu pasti Iryani disuruh minta cerai. Bagi sang apoteker itu pernikahan harus dijaga kelanggengannya, berapapun harganya, apapun risikonya. Perceraian hanya akan merendahkan martabatnya. Mungkin rejekiku memang bukan anak, pikirnya.

Prapti tergopoh-gopoh. Selepas majikannya menelepon mengabarkan kepulangannya, perempuan kurus tinggi itu tak menunggu waktu membuka pintu garasi. Pintu pagar sejak tadi telah dibuka. Ada empat tukang tenda sedang bekerja. Prapti meminta mereka memberi jalan agar mobil majikannya bisa masuk ke halaman.

“Tadi Bu Irwan pinjam gelas dan karpet. Saya…”

“Ya.” Iryani memotong laporan Prapti. “Bawa ke dalam. Saya mau langsung ke depan.” Iryani mengangsurkan tas kerja yang diterima Prapti seketika. Iryani menutup pintu mobil. Tangan kanannya memasukkan sesuatu ke dalam kantung blazernya.

“Aduh… Bu… Tadi ada polisi…” ujar Prapti, matanya mengerjap-ngerjap.

Langkah Iryani terhenti sebelum melewati pintu garasi. “Polisi?” Ia memiringkan kepalanya.

“Iya, Bu. Nggak tahu…” Sebelum selesai bicara majikannya sudah menyeberang jalan, melewati tukang-tukang yang sibuk memasang tenda, menuju rumah si tetangga yang meninggal tiba-tiba.

Selama bertetangga Iryani baru tiga kali masuk rumah Panca. Ia lupa kapan dan untuk keperluan apa. Bujangan 38 tahun itu jarang ikut pertemuan kampung, seperti dirinya. Sibuk sekali. Lagi pula ia tak punya peliharaan atau apapun yang memerlukan perawatan. Tidak juga tanaman. Meskipun begitu, hampir tiap pagi mereka saling menyapa bila hendak berangkat bekerja. Sesekali ia memesan vitamin atau obat padanya.

Tiga hari lalu ia menyerahkan sebotol vitamin baru pesanannya. Panca terlihat sehat. Saat itu sikapnya juga biasa saja. Iryani percaya Panca hanya pura-pura tidak peduli telah memergokinya membawa pulang lelaki.

Iryani yakin bila ada kesempatan, bujangan itu pasti akan menggunjingkan dirinya.

“Bu Yani, masuk saja.” Yu Menik, perempuan yang datang tiga kali seminggu untuk membersihkan rumah Panca sedang menggelar karpet. Ia yang memberikan kunci rumah Panca pada Pak RT. “Ini kami pinjam…”

“Ya. Prapti sudah bilang,” cepat Iryani menukas. Dilihatnya ruangan tengah sudah kosong, perabotan yang tak seberapa itu sudah dikumpulkan di garasi. Beginilah rumah bujangan, pikir Iryani, mengedarkan matanya.

“Jenazahnya masih di rumah sakit,” tetangga yang sibuk membantu Yu Menik bercerita.

Di perumahan tempat Iryani tinggal segala sesuatunya tertata. Termasuk bila ada yang meninggal. Sudah ada ibu-ibu yang mengurusi. Bapak-bapak biasanya baru muncul sepulang kantor. Yang di rumah akan mengurusi perabotan atau menghubungi keluarga di luar kota atau menyewa tenda dan kursi.

“Katanya ada polisi?” Iryani membantu Bu Nandar mengeluarkan gelas dari kotaknya. Sebagian gelas-gelas itu miliknya. Sebagian lagi entah milik siapa. Mungkin inventaris RW.

“Iya. Katanya ada yang tidak wajar dengan kematiannya. Mungkin akan diotopsi.”

“Memangnya kenapa meninggalnya?” Iryani membukai semua lemari dapur yang tertempel di dinding, mencari-cari sesuatu. “Tidak ada nampan. Dasar bujangan,” keluhnya.

“Saya ambil nampan ke rumah sebentar.” Sambil keluar mata Iryani menyergap botol vitamin di meja makan, di antara toples gula, tisu, botol kecap, botol saus tomat, cangkir kosong, dan tusuk gigi. Tangannya terulur meraih botol itu.

“Apa itu, Bu?” Pak RT muncul dari arah garasi. Keringat membasahi bagian depan kausnya. Ia baru selesai membantu tukang tenda menata kursi.

“Nggak tahu, Pak. Mungkin vitamin.” Tangan kanan Iryani meletakkan botol kecil itu kembali ke atas meja. Tangan kirinya merogoh kantung blazer, mengambil Blackberry. “Saya harus mengabari suami saya, Pak.” Sambil berlalu ia menelepon sang suami.

** 

Malam hampir mencapai puncaknya. Iryani bisa mendengar obrolan diselang-seling canda bapak-bapak yang berjaga di depan rumah almarhum Panca, yang berhadap-hadapan dengan rumahnya. Ia menyuruh Prapti menginap, supaya bisa membantu menyiapkan teh dan kopi.

Rupanya memang benar ada yang salah dengan kematian Panca. Kabarnya akibat racun. Entah apa. Ada yang bilang arsenikum. Yang lain mengatakan racun tikus. Sempat terhembus berita kalau Panca pecandu; sesuatu yang tak masuk nalar, tubuh lelaki itu senantiasa segar dan kinerjanya tanpa cela. Satunya bercerita tentang bisa ular yang dicampur dalam kopi. Ada yang menyebarkan kabar Panca disantet. Koleganya iri sebab ia baru mendapat promosi. Katanya ada juga suami yang cemburu, entah siapa, sebab istrinya punya affair dengan bujangan malang itu. Semua berspekulasi, seolah-olah mereka paling mengerti.

Serupa sirop yang menetes di lantai, semut tak butuh waktu untuk berbaris mengerumuni. Begitulah berita buruk kematian Panca. Kasihan sekali, pikir Iryani, bahkan orang meninggal pun tak luput dari olok-olok.

Tadi dilihatnya polisi datang lagi. Mereka bertanya-tanya. Memeriksa setiap jengkal rumah lelaki itu. Ada satu yang marah-marah pada Pak RT, para tetangga dianggap mengacaukan TKP.

“Ibu tidur saja. Sudah hampir jam 1. Biar saya yang jaga,” Prapti terkantuk-kantuk di depan layar TV. Iryani mengucapkan terima kasih. Sesuatu yang amat jarang diucapkan perempuan kaya itu, apalagi pada pembantunya. Tanpa Prapti, LED TV 60 inci di ruang tengah itu bakal merana tak pernah menyala.

“Saya mau nengok ke depan sebentar.” Iryani mengambil sweater ke dalam kamar.

Prapti membuntuti. Duduk di teras menunggu sang majikan. Iryani mengangguk pada bapak-bapak yang duduk di bawah tenda. Ekor matanya menangkap kelebat dua polisi memasuki pintu garasi. Angin dini hari membuat kulit mulus perempuan cantik itu meremang.

“Selamat malam, Bu.” Seorang lelaki yang wajah dan sosoknya persis Panca bangkit dari kursi, menyapanya. Meskipun tampak tegar, matanya gagal menyembunyikan rasa duka. “Saya Sapto. Adik Mas Panca.” Tangan kanannya agak gemetar, terulur menyalami, tangan kirinya membuang rokok yang tersulut setengah. “Silakan, Bu. Di dalam ada ibu-ibu.”

“Ikut bela sungkawa yang sedalam-dalamnya.” Iryani tulus.

Sapto berbasa-basi. Dari para tetangga Sapto tahu kalau semua karpet itu milik Bu Yani, tetangga depan rumah. Ia ingin menyampaikan terima kasih secara khusus. Ia juga mengatakan kalau sebagian keluarganya masih di rumah sakit menunggu otopsi selesai.

“Bapak sudah pergi dinas lagi?” Sapto menanyakan suaminya. Iryani mengangguk. “Maaf, ya, Bu. Waktu malam itu saya tidak menyapa. Saya kuatir mengganggu. Seharusnya saya keluar dan berkenalan.” Sapto terlihat malu-malu. Terbayang lagi bagaimana tetangganya itu bercumbu di halaman rumah. Ia maklum, Panca pernah cerita kalau suami Bu Iryani bekerja jauh dari rumah.

“Oh?” Iryani berkerut dahi. Tidak paham maksud adik almarhum yang belum pernah ia kenal itu.

“Seminggu yang lalu. Bu Yani dan Bapak pulang malam-malam. Saya hanya membuka gorden tapi tidak keluar. Saya kira waktu itu Mas Panca pulang. Dia tugas luar kota. Kebetulan saya sedang di sini…”

Iryani tak lagi mendengar kelanjutan kata-kata lelaki muda itu.

“Bu Yani istirahat saja. Di sini sudah banyak orang. Katanya jenazah akan diantar pukul 3. Otopsi sudah selesai. Katanya hasilnya baru diketahui beberapa hari lagi. Katanya…”

Langkah Iryani terseok-seok. Ia salah sasaran. Otaknya belum mampu memutuskan dengan cara apa Sapto akan ia bungkam. Prapti berlari-lari menyongsong majikannya. Pikirnya sang majikan pasti kecapekan.

*** 

Kisah ini pernah dimuat dalam buku kumpulan cerpen "Kotak Pandora" terbitan Kampung Fiksi.

Kamis, 20 Maret 2014

Pohon Kenanga di Halaman Belakang

Sore itu Bobi memacu sepeda motornya bagai pembalap kalap. Sesuatu telah membuatnya ketakutan melebihi kehilangan nyawanya. Ia ingin segera sampai di rumah barunya, di pinggir kota.

“Bobi …!” seru Kiki, raba-rubu membuka pintu. Perempuan lajang 26 tahun itu hapal suara sepeda motor adiknya. Ia khawatir. Pikirnya, pasti ada hal genting yang membuat si pendiam itu memasuki halaman rumah dengan raungan mesin sepeda motor yang menggetarkan kaca-kaca jendela.

“Gawat, mbak. Gawat. Kacau. Gawat. Kacau ….” Bobi bergumam seolah merapal mantra.

“Ada apa? Tenang, Bob.” Kiki merengkuh lengan pemuda 20 tahun itu, mendudukkannya di kursi tengah tempat mereka menonton TV dan menerima kunjungan sahabat serta keluarga.

“Kita bakal ketahuan, Mbak. Gawat.” Lelaki muda yang memilih bekerja selulus SMA itu menggigil. Dua tangannya meremas-remas rambut ikalnya. “Kita bakal ketahuan ….” Lirih suaranya meremangkan bulu tengkuk kakaknya.

“Ada apa, Bob?” Kiki bersimpuh di depan adiknya, lembut memegangi dua lututnya.

“Pohon kenanga kita sudah ditebang. Pemilik rumah itu mau membongkar halaman belakang. Rumah itu mau ditingkat,” desis Bobi. “Pagi tadi tukangnya sudah mulai menggali tanah buat pondasi.” Tubuh jangkung kurus itu gemetaran.

Kiki bangkit, lalu duduk mepet adiknya. Lengan kanannya ia rangkulkan ke pundak lelaki yang senantiasa ia lindungi itu. “Kita akan baik-baik saja. Yakinlah, Bob. Kita akan baik-baik saja. Kalau sampai terjadi apa-apa, Mbak Kiki tidak akan sembunyi. Mbak Kiki akan menanggungnya.”

Berkata begitu tangan kanan Kiki mengusap-usap punggung Bobi dan tangan kirinya membelai tangan adiknya yang kaku mencengkeram lutut.

** 

Tiga belas tahun silam.

Keluarga Subakti tertimbun duka. Bu Subakti meninggal dunia dalam usia muda, 37 tahun, akibat penyakit lupus yang mulai menyiksanya selepas melahirkan anak pertama. Kala itu Kiki belum genap 13 tahun dan tiga hari sebelumnya Bobi merayakan ulang tahun ke-7.

Pak Subakti sedari muda dikenal bengal. Yang mau dekat dengannya hanya orang-orang yang membutuhkannya. Perilakunya tak membaik meskipun sudah beranak dua. Selain mudah marah tanpa alasan, ia gemar main perempuan. Beberapa kali ia pernah mencoba meniduri pembantu rumahnya. Ketika kabar tersiar, tak ada lagi pembantu rumah tangga yang sudi bekerja di rumah mereka. “Istriku sakit-sakitan,” atau “Istriku tidak bisa melayaniku lagi,” begitu alasannya tiap ditegur orang.

Menjadi duda dalam usia 40 dengan tanggungan dua anak yang tengah membutuhkan kasih sayang membuat pemilik toko kayu itu menjadi-jadi. Ia serupa kapal yang rusak mesin dan putus jangkar: terapung-terapung terhempas gelombang.

Ia tak peduli bahwa dua anaknya makin memerlukan dirinya. Sepeninggal istrinya ia jadi makin sering dan makin lama pergi, mencari kayu di berbagai wilayah dan gentayangan mirip hantu di hutan-hutan yang ia datangi. Bila pulang, ia rajin membawa perempuan, tak jelas siapa dan bertemu di mana. Keluarga besar Subakti prihatin. Berbagai cara telah mereka upayakan untuk menghentikan kebejatannya, hingga akhirnya mereka kewalahan. Mereka juga sama-sama punya beban hidup yang tak bisa ditangguhkan. Tangisan Kiki dan Bobi pada kakek-nenek dan paman-bibinya makin hari merupa tembang pilu yang membosankan untuk didengar. Mereka tak bisa mencarikan jalan keluar. Hal terbaik yang bisa mereka berikan adalah menghibur dengan kata-kata, yang hari ke hari hanya itu-itu saja.

Belum genap setahun sejak istrinya meninggal, salah satu perempuan yang sering dibawa Subakti hamil. Lelaki itu tak hendak bertanggung jawab. Punya dua anak dari istri sah saja ia telantarkan, apalagi ini akan dianggap anak haram. Perempuan itu dipaksanya menggugurkan kandungan dengan imbalan uang.

Semenjak itu, Subakti berubah.

Ia tak lagi terlihat menggandeng perempuan. Ia jadi lebih sering pulang dan rajin mengundang salah satu pegawai lelakinya bertandang ke rumah. Kadang pegawainya itu menginap. Orang-orang mengira Subakti jera, mulai memerhatikan anak-anaknya, menyuruh pegawainya itu membantu bersih-bersih rumah.

“Ayahmu sudah sadar, Ki. Semoga dia segera menemukan jodoh lagi. Meskipun ibu tiri, akan ada orang yang merawat kalian,” ujar nenek Kiki, menghibur si cucu dengan impiannya.

Namun mimpi nenek Kiki tak jadi nyata. Subakti ternyata tidak betah di rumah. Bila pergi ke hutan atau mendatangi lelang kayu, ia selalu membawa serta pegawainya yang masih muda itu. Seiring waktu, perangai Subakti makin menyakitkan keluarganya. Apalagi setelah pegawainya itu keluar tanpa pamit dan pindah ke lain kota.

Bila sedang di rumah, ia sering mengajak Bobi bermain, hanya berdua saja, tanpa Kiki. Dari kecil Kiki tidak mendapat kasih sayang ayahnya. Ia dianggap sebagai sumber malapetaka, asal-usul bibit penyakit yang diderita ibunya. Bila ia menangis, bukan pelukan atau belaian yang ia terima, justru hardikan dan sesekali tamparan. Namun gadis belia itu tangguh dan selalu berusaha kukuh.

“Gara-gara kamu, ibumu jadi sakit dan mati!” bentak lelaki itu pada anak sulungnya tiap kali Kiki memintanya tinggal di rumah lebih lama.

Memasuki akhir tahun kedua hidup tanpa bunda dan terus menerus menanggung murka ayahnya, amarah Kiki tumbuh bagai sel-sel kanker: tak terlihat namun mematikan. Gadis itu menyalurkan amarahnya lewat sepak bola dan karate. Ia ingin kuat dan perkasa demi melindungi adik yang ia sayangi.

“Mbak Kiki akan menjagamu. Jangan kuatir,” janji Kiki pada adiknya bila si adik menangis merindukan ayah-bundanya.

Di sepenggal pagi, Kiki mendapati Bobi tersedu-sedu di sudut kamarnya.

“Ada apa, Bob?” Kiki mengelus kepala adiknya yang sebulan lagi ulang tahun ke-9. Adiknya membisu. Air matanya membanjir. Kiki memeluknya tanpa bertanya lagi. Ia tahu ayahnya telah berbuat sesuatu yang menyakitkan hati adiknya.

Pada hari ulang tahun Bobi, Subakti membelikannya satu set komputer. Namun Bobi menolaknya. Ia berlari ke kamar. Ayahnya membanting pintu depan. Pergi.

“Kenapa, Bob?” tanya Kiki, membujuk adiknya agar menerima hadiah itu. Bobi tetap menolak. Kiki mendesaknya, mengatakan kalau Bobi beruntung mendapat perhatian besar dari ayahnya, sedangkan ia jarang disapa.

“Aku nggak mau! Ayah jahat, Mbak. Ayah memberi hadiah agar aku mau terus digituin ….” Tangis anak lelaki itu tumpah ruah.

Saat itu Kiki tidak mengerti, tidak menyadari petaka yang menimpa adiknya. Ia mengira Bobi sekedar dibentak ayahnya. Seperti biasa, Kiki hanya memeluk Bobi sampai tangisnya reda.

Hingga seminggu kemudian.

Kiki terbangun oleh suara pintu depan dibuka. Ayahnya pulang dini hari, tanpa membuka pintu garasi. Pasti ia menggadaikan lagi mobilnya, atau malah menjualnya akibat kalah judi, pikir Kiki. Ia tengah berusaha kembali tidur saat terdengar rintihan dari kamar adiknya, disusul suara ayahnya berusaha membujuk Bobi. Awalnya Kiki tak berniat bangun, namun ia ingat keluhan Bobi tentang ayahnya.

Remaja itu curiga. Sesuatu yang tak sepenuhnya ia pahami menyuruhnya segera menengok adiknya. Gadis 15 tahun itu pelan-pelan membuka pintu kamar Bobi. Matanya terbeliak. Mulutnya menganga namun tak ada suara. Jantungnya seakan mencelat hingga menyumpal tenggorokannya. Dalam temaram lampu tidur 5 watt Kiki melihat tubuh tambun ayahnya menunggangi tubuh kerempeng adiknya.

Kiki ingat tumpukan potongan kayu di halaman belakang.

Lari gadis remaja itu cepat bagai ditarik setan.

Beberapa menit berikutnya, pedagang kayu itu tersungkur di lantai dengan tulang tengkuk patah dan tengkorak pecah.

** 

“Mbak Kiki akan menanam pohon di sudut halaman belakang itu. Pohon kenanga,” bisik gadis remaja itu di telinga adiknya. “Kamu tidak perlu takut. Mbak Kiki akan mengurus semua. Tidak bakal ada yang curiga. Ayah tak peduli pada kita. Selalu pergi. Semua orang tahu itu. Bila dia tidak pulang, orang akan mengira dia sengaja meninggalkan kita.” Tangan Kiki mendekap erat tubuh kurus adiknya.

Peristiwa dini hari itu tak diketahui orang.

Kiki dan Bobi sehidup-semati menjaga rahasia, saling berjanji akan melupakan semuanya, memendamnya di bawah pohon kenanga.

Sekian tahun kemudian, pohon di sudut halaman belakang yang ditanam Kiki itu tumbuh rimbun. Bunga kuningnya senantiasa mekar sepanjang tahun dan wanginya bisa tercium oleh tetangga. Tiap kali mimpi buruknya menghantui, Kiki mengajak adiknya berdoa di bawah pohon itu.

Untuk menopang hidup Kiki dan Bobi, kakek dan paman mereka sepakat menjual toko kayu Subakti yang terbengkelai. Tak satupun anggota keluarga berniat mencari lelaki itu. Semua orang yakin Subakti minggat atau terbunuh di hutan saat berkelahi berebut kayu dengan pembalak liar.

Satu-satunya orang yang menginginkan lelaki itu cuma si bandar judi, yang tiap hari datang menagih hutang. Untuk menutup hutang itu, adik perempuan Subakti membeli rumahnya. Kelebihan uangnya, bersama hasil jual murah sisa-sisa kayu gelondongan, ditabung untuk tambahan biaya hidup Kiki dan Bobi.

Kakak-beradik itu tetap diijinkan menempati rumah itu.

Mereka hidup menumpang di sana sampai setahun lalu, ketika Kiki selesai kuliah dan bekerja. Walau tidak banyak, Bobi juga sudah punya penghasilan sendiri. Sisa tabungan mereka cukup untuk membayar uang muka sebuah rumah kecil di pinggir kota. Selebihnya mereka angsur bersama.

Kiki sama sekali tidak mengira kalau bibinya akan menjual rumah itu segera setelah ia dan Bobi pindah ke rumah baru.

** 

“Tulang tidak bisa busuk, Mbak,” rintih Bobi, duduk membeku dengan dua siku bertumpu di lutut dan dua tangan menutup muka. “Kita menguburnya tak sampai 2 meter.” 

Kiki makin ketat mendekap adiknya.

***

Senin, 07 Oktober 2013

Bara Dendam

~ Balas dendam terdengar kejam, namun itu alamiah ~ William Makepeace Thackeray, Vanity Fair 



Selembar kartu nama warna putih tulang tergeletak di atas meja jati bundar berpelitur hitam. Sepasang mata mirip goresan arang membaca nama yang tertulis di atas kertas itu. Gigi tonggos sedikit mengintip di balik senyum sinis yang tersungging di bibir berpoleskan lipstik merah jambu.

“Asistennya menunggu di luar, Mak,” Darto lapor pada perempuan yang duduk menyerupai arca itu. Dari sorot matanya seolah akan keluar api, siap membakar kartu nama itu. “Orangnya ada di dalam mobil. Katanya dia perlu bantuan Emak untuk menemukan laptopnya yang dicuri tadi malam. Kalau Emak mau, Emak akan diajak ke kantornya untuk bicara. Dia menyebut uang ratusan juta.”

Sudah hampir 10 menit. Perempuan berpakaian sewarna bulu burung kepodang yang dipanggil Emak itu bahkan tidak berkedip. Darto tak berani bersuara lagi. Sikap Emak yang diam itu pertanda kurang baik. Ia sedang berpikir keras dan tak ingin diusik.

“Bilang aku sedang tidur,” desis perempuan itu, “Tak ada orang berani menggangguku.” Kibasan tangan kiri perempuan itu mengisyaratkan agar Darto cepat keluar dari ruangan.

Tubuh berotot sekekar batang pohon beringin itu menghilang di balik pintu. Sebagai tangan kanan dan centeng kesayangan, Darto akan melakukan apa saja untuk perempuan itu. Selain Darto, masih ada empat orang lainnya. Berlima mereka bergiliran menjaga majikan perempuan yang dikenal oleh setiap penghuni dunia hitam sebagai Emak. Semua copet, jambret, penjudi kakap, maling dan preman di kota itu kenal dan takut pada Emak. Lima centengnya siap pasang badan. Keluarga para centeng itu dijamin penuh oleh Emak. Biaya sekolah anak-anak mereka ditanggung hingga lulus sarjana. Rumah pun dibangun tanpa kesulitan. Istri-istri mereka tak ketinggalan. Ada yang memiliki usaha salon, katering, toko kelontong dan warung internet. Istri Darto telah memiliki lima truk untuk disewakan.

“Dasar pengecut!” Emak menyumpah. “Kalau berani kenapa tidak menemuiku langsung.” Bibirnya mengerucut, membungkus gigi tonggosnya. “Dikiranya dia siapa.” Sinis suaranya.

Tiga centengnya saling melirik dengan ekor mata, tak bernyali menggerakkan tubuh apalagi membuka suara. Bila Emak menggerutu berkepanjangan seperti itu biasanya ada sesuatu yang memicu amarahnya.

Tiba-tiba dua tangannya bersamaan meraih kartu nama itu, menyobeknya menjadi kepingan-kepingan seukuran bulir beras, lalu menyebarnya ke kolong meja. Serpihan-serpihan kertas malang itu melayang, berhamburan, mengingatkannya pada hatinya yang patah berkeping-keping hampir 30 tahun lalu.

“Bersihkan!” perintahnya pada perempuan muda, pelayan pribadinya yang sedari tadi duduk menunduk bagai pajangan di pojok ruang.

** 

Yogi Sukmajaya. Namanya harum di kalangan gadis-gadis remaja. Sudah pasti ia tak menganggap Sugirah ada. Andai wajahnya secantik Farah, tubuhnya seindah Triana, rambutnya setebal dan sehitam Vina dan orang tuanya sekaya orang tua Pipit, mungkin Yogi akan mengenalnya. Bila beruntung ia akan menjadi temannya. Yogi sang idola. Si kaya yang elok rupa.

Sementara Sugirah bukan hanya tonggos giginya. Namanya saja sudah memancing ledekan teman sekelasnya. Belum kepalanya yang terlalu besar dibandingkan tubuh kecil-pendeknya; membuat orang menjulukinya gonteng. Setiap kali mata Yogi bertemu dengan matanya, remaja ganteng itu membuang muka, lalu meludah jijik. Di matanya gadis itu laiknya kecoa. Bukannya Sugirah tak tahu kalau Yogi pantang mengenalnya.

Namun gadis itu tak menyerah. Mimpinya sederhana, sekedar berharap suatu hari pujaannya itu akan memberinya senyum indah. Sepotong senyum saja. Akan cukup menyembuhkan rasa sakit yang ia tanggung untuk mendapatkannya.

Rupanya Yogi mematok harga terlampau tinggi untuk seulas senyumnya. Suatu pagi, Yogi tiba di gerbang sekolah bersamaan dengan Sugirah. Sang gadis berniat menyapa. Dengan keringat berlelehan di wajah, sambil menuntun sepedanya, Sugirah mendekati Yogi. Lelaki muda yang diperebutkan para gadis di sekolahnya itu merasa terhina. Didorongnya tubuh pendek Sugirah hingga terjengkang. Gadis itu jatuh bersamaan dengan sepedanya, tepat di atas genangan air hujan, nyaris tercebur ke selokan. Seragamnya dipenuhi lumpur. Salah satu sakunya robek tersangkut pedal sepeda. Sepanjang hari ia menjadi bahan olok-olok teman-temannya. Meskipun lebih pahit dari brotowali, kenyataan itu ia telan dalam diam.

Semenjak peristiwa itu, mimpinya melihat senyum Yogi terhenti. Setiap pagi ia bangun dengan hati dipenuhi dendam, wajah tampan itu ingin ia hancurkan.

Pagi itu, sekitar pukul 6.30, dengan wajah asam Sugirah mengayuh sepeda bututnya ke sekolah. Suasana kampung di pinggiran kota saat itu masih sepi, tak ada sepeda motor, apalagi mobil berseliweran.

Semua orang, pelajar dan pegawai, mengendarai sepeda. Pelajar yang kaya naik sepeda mini warna warni. Ada yang bersadel panjang dengan stang melengkung tinggi. Ada yang pedalnya bulat berhias kaca yang bisa menyala di malam hari. Gadis-gadis mengayuh bangga sepeda mereka yang dilengkapi keranjang di atas roda depan. Namun Sugirah hanya mengendarai sepeda tua, warna hitamnya sudah pudar, rantainya karatan, stangnya sedikit bengkok akibat jatuh berkali-kali, pedal kirinya tinggal separuh membuatnya sulit dikayuh.

Seperti biasa Sugirah bersepeda sendiri, jauh di belakang teman-temannya yang beriringan dalam rombongan kecil-kecil, berdua atau bertiga, berceloteh dan tertawa-tawa. Rambut tipisnya membuat kepalanya terlihat makin besar, melambai tertiup angin pagi. Sepasang kaki pendeknya susah payah mengayuh pedal. Kulit gelap wajahnya berkilat tertimpa sinar matahari. Mata kecilnya bagai dua goresan arang, menyipit menahan silau. Bibir ungunya kering, megap-megap memasukkan udara ke paru-parunya, memamerkan gigi tonggosnya.

Ketika hendak berbelok ke jalan raya, remaja itu mendengar rintihan dari selokan di sebelah kiri jalan. Karena penasaran, ia berhenti. Sepeda ia sandarkan ke pohon kelapa, lalu pelan-pelan kepala gontengnya ia longokkan ke selokan. Tak ada sesiapa. Namun rintihan itu kembali ia dengar, kali ini lebih keras.

Sugirah berjongkok. Tangannya menyibak daunan ilalang, sesosok tubuh gempal terlihat meringkuk di sela-sela semak rimbun yang tumbuh di tepian selokan. Ada bercak-bercak darah berlepotan di singlet dekil yang dikenakannya. Jantung Sugirah berdebar-debar. Siapakah orang ini, tanyanya dalam hati.

“Pak….” Takut-takut Sugirah menyapa. Lelaki itu diam saja. “Pak….”

Lelaki itu pelan-pelan mendongak. Dilihatnya kepala gonteng Sugirah lewat semak-semak. Ia lega. Anak sekolah, pikirnya. Semoga ia tidak berteriak, doanya. “Tolong saya, Nduk,” rintihnya.

Sugirah menengok sekelilingnya yang mulai sepi. Teman-temannya sudah tak terlihat lagi, sementara para pegawai belum berangkat kerja. Tiba-tiba saja ada kekuatan yang membuatnya mengulurkan tangan menyibak semak makin lebar. Kini ia bisa melihat kepala lelaki itu, rambut keritingnya berlepotan darah kering. Sekali lagi lelaki itu mendongak, matanya yang bulat hitam bertemu dengan mata kecil Sugirah.

“Tolong saya, Nduk,” rintihnya lagi. “Saya jatuh dari pohon kelapa itu.” Lelaki itu berbohong.

“Saya akan minta tolong orang kampung, Pak.”

“Jangan, Nduk. Jangan….”

“Saya….”

“Pergilah ke Pasar Pon. Carilah orang bernama Karjo Gemblung. Katakan kalau aku jatuh dari pohon kelapa. Di selokan ini. Namaku Freddy.”

“Saya…” Mata Sugirah mengerjap berkali-kali. Ia ingat akan doanya yang sering ia ucapkan dalam kesendiriannya, memohon pada Tuhan agar diberi tempat yang bisa dituju selain sekolah.

“Cepat, Nduk.” Meski gemetar suara lelaki itu sangat tegas.

Tanpa berpikir lagi, Sugirah meninggalkan tempat itu, menuju Pasar Pon tak jauh dari sekolahnya. Ia tahu telah terlambat masuk sekolah, namun hatinya justru senang. Inilah tempat lain itu, pikirnya, doaku terkabulkan. Untuk apa ke sekolah kalau hanya menjadi bahan ledekan saja. Untuk apa bertemu Yogi, kalau ia tak menyadari kehadirannya. Kalau saja ada tempat tujuan lain, ia pasti akan membolos sekolah setiap hari. Kini alasan itu ia dapatkan.

Ia juga merasa dibutuhkan orang. Selama hidupnya, jarang ada orang mau mengajaknya bicara. Orang itu membutuhkan pertolongnanku, serunya dalam hati, aku harus menolongnya. Tersengal-sengal remaja itu mengayuh sepeda tuanya.

Seminggu kemudian, Sugirah berhenti sekolah. Ia menjalin persahabatan dengan Freddy, si germo dan sang raja judi. Lelaki yang ia tolong itu. Pemilik toko kelontong di kota itu merasa berhutang nyawa pada Sugirah.

Di belakang toko itulah ia mengoperasikan bisnis yang sesungguhnya. Judi dan pelacuran kelas tinggi. Setiap hari belasan orang dari berbagai kota mendatangi toko Freddy. Supaya tidak menyolok, mereka memarkir kendaraan cukup jauh dari toko Freddy. Sebagian ada yang diantar supir, diturunkan di suatu tempat, lalu berjalan kaki memasuki toko kelontong itu, pura-pura membeli sesuatu.

Sugirah bekerja di sana, melayani pembeli. Orang tua Sugirah tak kuasa menahan anaknya. Sugirah muda belajar berbagai ilmu pada guru barunya yang menganggapnya sebagai hoki. “Aku disediakan kamar di sana, Mbok. Kamar yang bagus, dindingnya tembok, lantainya tegel hijau, kasurnya besar dan empuk.”

Sejak itu, Sugirah tak pernah pulang. Ia dianggap anak hilang.

Freddy memperlakukan Sugirah secara istimewa. Semua anak buahnya wajib menghormati remaja buruk rupa itu. Bisnis judi milik Freddy berkembang pesat. Sugirah belajar dengan cepat.

Dua puluh lima tahun kemudian Sugirah mewarisi tahta sang guru, dinobatkan sebagai ratu dunia hitam di kotanya. Emak adalah panggilan kehormatannya. Perjudian, pelacuran, pencucian uang dan penadahan barang-barang curian hanya sebagian dari lahan bisnisnya. Para pembesar kota sering minta perlindungan Sugirah dari musuh mereka. Polisi tak ada yang berani menangkapnya karena atasan mereka menjadi pelanggannya.

** 


“Gimana? Dia mau bantu?” Yogi penuh harap. Kalau perempuan itu tidak bersedia menemukan laptopnya yang hilang, nama baiknya terancam hancur dan pencalonannya sebagai walikota bakal gugur.

“Tidak tahu, Boss. Dia sedang tidur. Centengnya tak ada yang berani membangunkan.”

“Dasar goblok! Mestinya kamu bilang kalau aku mau bayar ratusan juta!”

“Sudah, Boss. Mereka tetap tidak berani.”

“Kita pergi. Akan saya kirim orang untuk membujuknya. Bila perlu sekalian membawa uangnya!”

** 

“Darto! Temukan laptop itu sebelum gelap!”

“Baik, Mak.” Tubuh besar itu berkelebat tanpa suara.

Matahari belum sepenuhnya sembunyi di balik busur langit ketika Darto meletakkan sebuah laptop berwarna keperakan di atas meja jati bundar. Dua goresan arang di wajah Sugirah bersinar.

“Panggil Zebra!”

Jago komputer dengan berat tubuh cuma 40 kilogram yang dipanggil Zebra itu terbirit-birit masuk ke ruangan majikannya.

“Ada perintah apa, Mak?” Sosoknya mirip angkrek, muncul dari balik punggung kekar Darto. Buru-buru rokok ia matikan, lalu puntungnya ia selipkan ke saku celana.

Tangan Sugirah memberi isyarat agar Zebra duduk di dekatnya. Darto buru-buru menarik sebuah kursi. “Itu tugasmu!” Dengan dagunya Sugirah menunjuk laptop di atas meja. “Lihat isinya. Pasti ada yang berharga ratusan juta.”

Sugirah bertepuk tangan. Dari mulutnya keluar semacam lolongan. Mata kecilnya menyorot licik ke layar laptop. Tangan kirinya menarik salah satu laci, meraih sebungkus rokok, menyorongkan rokok itu ke dekat Zebra. Lelaki kurus itu menyeringai senang. Bagai belulang menari jemarinya lincah, melompat, mengetuk, berpindah-pindah.

Hanya dalam hitungan menit, Zebra berhasil menemukan sesuatu. Mata ahli komputer itu tak berkedip memandangi hasil kerjanya. Deretan gambar di depannya itu pastilah yang dicari majikannya. “Yihaaa…!!!” serunya memecah telinga. Semua yang ada di dalam ruangan penasaran.

Sigap laptop ia putar agar sang majikan bisa melihat gambar yang terpampang di layar.

Mulut Sugirah terbuka lebar, gigi tonggosnya berkilat-kilat. Mata kecilnya memelototi belasan gambar dengan nanar. Satu demi satu ingatan perih masa kecilnya ikut berbaris di layar. Luka hatinya kembali meradang. Bulu-bulu tengkuk perempuan itu meregang. Bara dendamnya seketika menyala. Perempuan itu tak mau menyia-nyiakan kesempatan. “Kini nasibmu ada di tangan dekilku! Akan segera kau rasakan cabikan cakarku!” Sugirah bersorak dalam diam. Inilah saatnya membuat si tampan itu buruk rupa.

“Sebarkan!” Perintah Sugirah pada Darto, disusul ledakan tawa membahana.

Tubuh pendeknya berguncang-guncang, kepala gontengnya bergoyang-goyang, dua gores arang di wajahnya berkerlipan. Sugirah terlihat seperti mainan anak-anak yang bisa melompat-lompat naik turun bila tombol di punggungnya diputar-putar.

** 


Tabir malam belum sepenuhnya terkuak saat Darto tergopoh-gopoh menenteng koran pagi. Di halaman depan tertulis besar-besar berita skandal seks sejenis yang dilakukan oleh sang calon walikota Yogi Sukmajaya. Lengkap dengan foto-foto sebagai bukti.

*** 

Catatan: cerita ini pernah diunggah di Kompas.com dan diterbitkan oleh Kampung Fiksi dalam kumpulan cerpen Kotak Pandora

Jumat, 20 September 2013

Mbah Imo dan Pohon-Pohon Melinjo

Ilustrasi oleh Azam Raharjo
Dua tangannya liat dan berkeriput, terulur menggapai tubuh yang bersimpuh di samping ambennya. Kilau cahaya melemah pada sepasang mata rabunnya.

“Ini Jono, Mak,” si anak mencondongkan tubuhnya, berbisik ke telinga kiri emaknya. Terdengar helaan napas memburu. Lirih perempuan tua itu menyampaikan pesan terakhirnya, “Kalau emak dipundhut Gusti, emak minta dikubur di bawah pohon melinjo.”

“Nggih, Mak. Nggih,” ujar Jono, mendekap tubuh renta itu. “Akan saya pilih tempat di bawah pohon paling subur. Di pekarangan belakang,” janjinya.

Perempuan 77 tahun itu tersenyum samar, lalu gelagepan, napasnya tersengal. Beberapa saat kemudian kepalanya lunglai. Ia meninggal dalam pelukan anaknya.

Sambil melafalkan doa lelaki tambun berambut keriting itu membaringkan tubuh emaknya yang terkulai tak bernyawa. Digenggamnya dua tangan yang masih hangat itu, diciumnya buku-buku jemarinya yang berbonggol dan keras. Dengan menahan sedu-sedan, Jono meminta istrinya mengabarkan kematian emaknya pada para tetangga.

 ** 

Mbah Imo dikenal oleh seluruh warga desa. Hingga detik terakhir hidupnya perempuan itu selalu memakai jarit dan kebaya, dengan kendit hitam dililitkan ke perut dan pinggulnya. Hidupnya berawal dan berakhir di sebuah desa di kaki Gunung Merapi.

Sejak kanak-kanak Mbah Imo telah gemar bekerja. Ia rajin ikut emak dan bapaknya bertani, paling suka menyertai mereka memetik biji melinjo, bunganya yang dinamai kroto dan daunnya yang disebut so. Setelah tenggok-tenggok di dapur emaknya penuh biji melinjo dan kroto, Mbah Imo selalu minta ikut bapaknya, berjalan sejauh 5 kilometer ke pasar di kota, menjual hasil panen mereka.

Hubungan Mbah Imo dengan pohon melinjo serupa laki-bini. Apalagi setelah suaminya meninggal, saat dirinya tengah mengandung anak kedua, ia bagai mengawini pohon-pohon tinggi-lencir itu.

Pohon melinjo telah menjadi sumber penghidupannya. Membantunya membesarkan dua anak lelakinya. Yang sulung bernama Hartono, pengusaha sukses di Jakarta. Anak kedua dinamai Jono, tinggal tak jauh dari rumahnya, menjadi guru SD di samping kantor desa.

Berkali-kali Hartono meminta Mbah Imo tinggal bersamanya. Begitu pula Jono, meskipun cuma guru desa ia sanggup mencukupi semua kebutuhan emaknya. Namun Mbah Imo menolak tawaran mereka, memilih tinggal di rumah gedek hingga meninggalnya.

“Emakmu ini masih bisa nyonggo urip, ‘Ngger,” kilahnya.

Untuk melegakan hati anak-anaknya, Mbah Imo membiarkan lantai tanah rumahnya dilapis tegel. Langit-langit pun dipasang di bawah atap, agar bila hujan tidak tampias. Begitu pula pintu dan jendela, diganti dengan yang lebih kokoh.

Pekarangan rumah Mbah Imo dirimbuni pohon melinjo. Cintanya pada pohon itu membuat Mbah Imo menanami hampir setiap tanah kosong di desa dengan pohon melinjo; dengan seijin pemiliknya. Setiap hari Mbah Imo keliling desa: menanam, merawat, dan memanen pohon-pohon melinjonya.

Perempuan itu tahu, setelah berumur 5 atau 6 tahun, pohon melinjo dapat dipanen bijinya, setahun dua kali. Antara Mei sampai Juli wajah Mbah Imo semakin berseri-seri. Ia panen besar, setiap hari ke pasar, mengenakan jarit teruntum kesukaannya. Sepulangnya, ia membeli jajanan, dibagi-bagikan pada para pemilik tanah. Uang yang diperolehnya tak seberapa, sekedar ditukar beras, bumbu dapur, dan gula-teh. Namun Mbah Imo tak pernah lupa pada mereka.

Antara Oktober hingga Desember, Mbah Imo panen biji melinjo lagi. Hasilnya tak sebesar panen Mei-Juli. Biasanya, Mbah Imo akan membeli mainan di pasar, diberikan pada cucu-cucunya atau cucu-cucu tetangga.

Mbah Imo lebih mengenal polah tingkah pohon-pohon melinjo daripada kebiasaan para tetangganya. Setiap pagi, ketika sedang memetik daun-daun muda dan krotonya, Mbah Imo mengajak pohon-pohon itu berbicara. Saat musim sedang tak ramah, ia paham apa yang harus dikerjakan agar pohon-pohon itu tidak marah dan tetap menghidupinya.

Tanpa menghitung dan mencatat Mbah Imo tahu, pohon yang telah cukup umur dan sehat, tiap tahun memberinya 100 kilo klathak, biji melinjo yang telah dikupas kulitnya. Belum lagi kulit bijinya, krotonya, dan daunnya.

Mbah Imo hapal, semua pohon jantan setiap selapan daun-daunnya bisa dipanen, diikat segenggam demi segenggam. Bila hendak memanen so, ia minta bantuan pemuda desa. Si pemuda akan melemparkan tambang ke tengah-tengah batangnya, manariknya kuat-kuat ke bawah, mengikatnya kencang-kencang pada pasak bambu yang dipancang di tanah. Kemudian Mbah Imo dengan sigap memetik kroto dan daun-daun muda. Tangannya lincah melemparkan hasil panen itu ke tenggok di punggungnya. Tanpa meminta, pemuda yang membantunya pasti memperoleh persenan dari hasil penjualannya.

Hati Mbah Imo melekat pada pohon-pohon yang menjadi perantara bagi dirinya dengan Gusti Sang Pemberi Rizki. Sehabis panen, batang-batang pohon yang kayunya rapuh itu ia usap-usap mesra.

NdukNgger… matur nuwun,” ucapnya sepenuh jiwa, seakan tengah membelai anak-anaknya.

 ** 

Dua tahun sebelum meninggal Mbah Imo kerap gundah hati. Satu persatu lahan kosong di desanya dibeli orang kaya dari kota. Pohon-pohon melinjonya ditebangi. Sebagai gantinya ditanamlah berderet-deret kamar, disewakan pada mahasiswa atau pekerja yang butuh kos-kosan. Mbah Imo jadi sakit-sakitan.

Pagi itu, Hartono datang dari Jakarta membawa temannya, seorang pengembang real estate di berbagai kota. Sang pengusaha tertarik membeli sebidang tanah luas milik Pak Lurah yang terletak di pinggir jalan raya desa.

Di belakang tanah itu mengalir sungai kecil yang berhulu di lereng Gunung Merapi, di bawah menyatu dengan Sungai Code yang membelah Kota Jogja. Ukuran, lokasi dan topografi tanah itu sempurna, cocok dikembangkan menjadi perumahan mewah. Hanya dalam waktu beberapa hari saja, kepemilikan tanah telah berpindah tangan.

“Mak, aku dapat untung besar,” lapor Hartono setelah transaksi terjadi, pulang ke rumah emaknya.

“Ya, syukur pada Gusti. Untung besar apa, Ngger?”

“Dari jual beli tanah Pak Lurah, Mak.”

“Tanah yang mana, Ngger? Pak Lurah tanahnya banyak.”

“Yang di Dusun Timbulsari, yang di dekat kali itu, di pinggir jalan raya desa.”

Mbah Imo terperanjat. Nalurinya mengatakan akan ada lagi perubahan besar di desa. Sudah berhektar-hektar sawah dan ladang di desanya berubah menjadi kumpulan gedong magrong-magrong entah milik siapa. Rumah-rumah yang sebagian besar dibiarkan kosong, yang dikelilingi pagar tinggi dengan gardu jaga di gerbang depan.

“Untuk investasi,” ujar para pemuda desa yang bekerja sebagai satpam di sana.

“Untuk ngeram istri muda,” kilah yang lainnya, tertawa-tawa.

Dengan dada berdebar Mbah Imo tergagap bertanya, “Untuk apa? Mau dibangun gedong-gedong juga?”

Anak sulungnya mengangguk sambil menyesap kopi tubruk seduhan emaknya.

“Duh, Gusti, tiba juga saat ini. Saat yang aku kuatirkan akan terjadi,” rintih Mbah Imo dalam hati.

Kecuali pekarangan miliknya, tanah Pak Lurah itu satu-satunya tanah kosong di desa yang masih bisa ia tanami. Tangan-tangannya telah puluhan tahun merawat pohon-pohon yang tumbuh subur di sana.

“Ngger, jangan lakukan itu. Jangan sekarang ini. Tunggu sebentar lagi kalau emakmu sudah ditimbali Gusti.” Mbah Imo memohon agar anaknya membatalkan jual beli yang telah terjadi.

Namun daya tak lagi ada walau upaya sudah dicoba. Dengan hati pilu, paginya si sulung berpamitan pada emaknya. Mbah Imo tak mau menerima uang komisi jual-beli yang diberikan untuk menambal luka kecewa.

Selang beberapa bulan, berbagai alat berat didatangkan untuk menebang pohon-pohon melinjo di atas tanah itu. Suara bisingnya memekakkan telinga.

Mbah Imo mengawasi penebangan itu dari seberang kali. Ia menggelesot di bawah pohon kelapa, menatap para kekasihnya yang tegak gagah ijo royo-royo itu satu-satu lunglai di tanah. Air mata Mbah Imo membanjiri keriput pipi. Dua tangannya yang selalu mengelus-elus batang-batang pohon melinjo itu tertangkup di dada, menahan nyeri.

Setiap kali sebatang pohon terkapar, dada Mbah Imo serasa ditebas juga, lalu berdarah.

Sejak hari itu, Mbah Imo sakit dan tergeletak di amben kayunya. Ia tak mampu menahan duka. Sebulan kemudian, Mbah Imo dipanggil Tuhan berbarengan dengan pohon melinjo terakhir yang ditebang jatuh oleh tangan-tangan kokoh para pekerja bangunan.


*** 


 Pernah dimuat di sebuah tabloid budaya yang sudah tidak terbit lagi


Keterangan:
Dipundhut Gusti: diambil (nyawanya) oleh Gusti
Nyonggo urip: menyangga (membiayai) hidup
Ngger: dari kata ‘angger’, artinya anak atau bocah
Gedong magrong-magrong: bangunan besar dan mewah
Ditimbali Gusti: dipanggil Tuhan
Ijo royo-royo: hijau subur