Senin, 17 Juni 2013

Bebek-bebek di Kecamatan


Sumber Foto
Bumi masih enggan melepaskan selimut kabutnya ketika pagi merayap naik bersama sang surya. Puluhan jenis burung di dalam sangkar warna-warni yang bergantungan menghias teritisan Dalem Kecamatan berkicau bersahutan. Saling melengkapi bagai sebuah orkestra penanda hari baru segera berawal.

Kanjeng Camat menggeliat malas di peraduan. Ia enggan beranjak dari kasur mewah yang dirancang khusus untuknya oleh seorang ahli ortopedi paling ternama di penjuru kecamatan. Bukan karena kambuh encoknya bila Kanjeng Camat masih betah tergolek di atas kasur. Ia tengah memikirkan mimpinya yang tak mau pergi jua walaupun mata telah terbuka.

“Mimpiku…” ujar Kanjeng Camat pada salah satu abdinya yang berjaga di sebelah kanan peraduannya.

“Kanjeng Putri Camat sedang mandi,” jawab si abdi mengira Kanjeng Camat menanyakan sang istri.

“Mimpiku… Aku mimpi… Mimpiku!” Kanjeng Camat berteriak dengan suara agak serak.

“Ampun, Kanjeng Camat.” Seorang abdi lainnya yang berjaga di sebelah kirinya mendekat sambil membantu tuannya duduk di tepi peraduan.

“Siapkan air panas. Aku mau mandi,” perintah Kanjeng Camat pada dua abdinya. “Setelah itu segara panggil Patih untuk menghadap,” seru Kanjeng Camat sambil menyeret sendalnya menuju kamar mandi.

Ketika telah rapi berpakaian kebanggaan karya perancang favoritnya, Kanjeng Camat bergegas menemui Patih yang telah duduk di Pendopo Kecamatan. Begitu melihat junjungannya, Patih bangkit dari duduknya dan menghaturkan sembah dengan cara menelangkupkan kedua telapak tangan di dada.

“Selamat pagi, Kanjeng Camat. Ada titah apa?” Patih memandang wajah gundah penguasa kecamatan itu. Pasti ada kejadian genting lainnya karena Kanjeng Camat memanggilnya untuk menghadap sepagi ini. Bahkan mentari belum lebih tinggi dari pucuk daun jagung yang mengering di ladang samping rumahnya.

“Aku mimpi, Patih. Bila mimpiku ini jadi nyata, maka kecamatan kita akan terbebas dari kutukan.”

Tanpa panjang kata seperti biasanya, tanpa gerakan-gerakan tangan serupa pujangga membaca syairnya, Kanjeng Camat mulai bercerita. Dalam mimpinya Kanjeng Camat ditemui seorang pertapa tua. Sedemikian tuanya pertapa itu hingga bukan hanya rambut dan jenggotnya saja yang berwarna putih keperakan, juga kulit tubuh dan bola matanya. Semuanya putih, menyilaukan mata. Katanya, sang pertapa adalah jelmaan angin barat yang dipercaya sering bertiup ke timur menyebarkan keajaiban yang mampu membebaskan siapa saja dari kutukan.

Sang pertapa menyuruh Kanjeng Camat agar meminta warganya menyerahkan bebek ke Pendopo Kecamatan. Bebek-bebek itu akan diambil telurnya. Kanjeng Camat harus memilih seribu biji telur yang paling bersih dan besar. Telur-telur itu harus digoreng di Dapur Kecamatan dan dipotong kecil-kecil. Potongannya dibagikan pada seluruh warga kecamatan. Setiap warga harus mendapat satu bagian. Bila kata pertapa tua itu dilaksanakan maka kecamatan akan menjadi makmur dan tenteram.

Sebenarnya kecamatan itu wilayahnya amat subur. Lebih subur dari kecamatan-kecamatan lain yang terletak di sekelilingnya. Tanahnya gembur dan hujan turun secara teratur memenuhi sungai-sungai yang meliuk di sela-sela gunung dan perbukitan. Namun kutukan tampaknya telah mengubah tanah sawah berangsur-angsur tandus, perbukitan terancam gundul, dan sungai-sungai mengering perlahan. Kanjeng Camat telah bekerja keras untuk mencari cara agar wilayahnya terbebas dari kutukan. Namun upayanya tak membuahkan hasil. Hingga ia bermimpi bertemu seorang pertapa yang memberinya wangsit agar dirinya mengumpulkan bebek di Pendopo Kecamatan.

“Daulat, Kanjeng Camat,” kata Patih dengan penuh hormat. “Namun para penduduk kecamatan saat ini sangat melarat. Beras tak ada. Panen tak seberapa. Mereka tak akan mampu membeli bebek, Kanjeng Camat.”

Kanjeng Camat tercenung. Tiba-tiba wajah gelisahnya berubah cerah. “Aku punya gagasan.” Kanjeng Camat memandang Patih lekat-lekat. “Para warga akan membeli bebek dengan cara patungan. Satu bebek akan dibeli oleh sepuluh warga. Bagaimana? Gagasan yang cerdas, bukan?”

Patih yang setia mengangguk-anggukan kepalanya yang gundul dan tertutup kupiah kuning cerah itu. “Bagus, Kanjeng Camat. Bagus sekali.” Patih manggut-manggut tak henti-henti.

Pagi itu juga, tepat ketika matahari naik hampir setinggi pohon kelapa, Kanjeng Camat mengeluarkan perintah resmi. “Patihku yang setia. Perintahkan pada para Lurah agar warga mereka menyerahkan bebek ke Pendopo Kecamatan segera. Satu bebek dibeli oleh sepuluh warga.”

Sebelum tengah hari, Patih sudah mengumpulkan semua Lurah dan menyampaikan perintah Kanjeng Camat. “Wahai para Lurah, perintahkan pada para Kepala Dukuh agar warga mereka menyerahkan bebek ke Pendopo Kecamatan segera. Satu bebek dibeli oleh sepuluh warga.”

Para Lurah kemudian berlarian kembali ke desa mereka masing-masing dan mengumpulkan para Kepala Dukuh. Titah yang sama mereka serukan pada para Kepala Dukuh. Hari itu, semua Lurah dan Kepala Dukuh se kecamatan sibuk menghitung jumlah semua warga yang tinggal di wilayah kekuasaan masing-masing. Selanjutnya mereka menghitung jumlah bebek yang harus dibeli dan meminta semua warga untuk menyerahkan uang.

** 

Di salah satu desa di kecamatan itu ada seorang janda kaya raya. Selain berdagang, perempuan beranak tiga itu juga beternak bebek. Ada ribuan bebek yang setiap hari hilir mudik keluar masuk kandangnya yang lebih luas dari lapangan sepak bola. Sang janda bergembira ria. “Aku akan semakin kaya. Kanjeng Camat menitahkan para warga mengirim bebek ke Pendopo Kecamatan.”

Sepanjang malam perempuan itu bernyanyi sambil melayani para Kepala Dukuh yang antri membeli bebeknya.

“Itu bebekku. Aku sudah memilih yang gemuk itu!” teriak seorang Kepala Dukuh pada Kepala Dukuh lainnya yang merebut bebek dari tangannya. “Ini sudah kuikat kakinya dari tadi!” gertak Kepala Dukuh lainnya lagi. Maka hingar-bingar rumah sang janda kaya oleh suara bebek bercampur baku hantam para Kepala Dukuh yang saling berebut bebek paling gemuk.

“Tunggu! Tunggu dulu!” pekik sang janda. “Aku punya akal. Bebek-bebek yang sudah terbeli atau dipilih, akan aku beri warna berbeda pada bulunya agar kalian tidak bertengkar.”

Para Kepala Dukuh setuju. Pertengkaran sedikit mereda walaupun masih saja ada adu mulut di sana-sini. Sebelum tengah malam, para Kepala Dukuh dan pembantu mereka menggiring bebek-bebek yang telah diberi warna itu berbaris ke Pendopo Pedukuhan. Sedangkan sang janda begadang sepanjang malam, menghitung tumpukan uang hingga fajar menjelang.

 ** 

Keseokan harinya, terlihat dari segala arah rombongan Kepala Dukuh menggiring ribuan bebek ke Pendopo Kecamatan. Penduduk yang tinggal di kecamatan itu berjumlah tiga puluh ribu, jadi ada tiga ribu bebek yang pagi itu digiring masuk ke Pendopo Kecamatan.

“Hei! Pak Dukuh! Lewat sini! Bukan lewat situ!” Seorang penjaga kecamatan berteriak marah pada seorang Kepala Dukuh yang tidak mau antri dan mau menerobos lewat gerbang belakang.

“Di depan penuh, Pak Penjaga. Saya mau cepat masuk ke pendopo agar bebek-bebek saya yang gemuk-gemuk ini segera dilihat Kanjeng Camat,” kilahnya.

“Tidak bisa! Harus lewat depan!” Penjaga mengacungkan tombaknya.

“Pak Penjaga, tolonglah…” Sambil berkata begitu Kepala Dukuh itu membuka kantongnya yang bergemerincingan penuh dengan keping uang.

Tanpa banyak bicara, Pak Penjaga segera menurunkan tombaknya dan membuka gerbang belakang. “Cepat. Cepat,” bisik Pak Penjaga sambil menyelipkan beberapa keping uang ke saku celananya.

Sementara itu barisan bebek terus saja memasuki halaman pendopo kecamatan. Mereka gaduh bukan kepalang. Para Kepala Dukuh kesulitan menertibkan para bebek yang berlarian ke sana ke mari semau mereka sendiri. Seorang Kepala Dukuh yang mengecat bulu bebek-bebeknya dengan warna biru belingsatan mengejar dua ekor bebeknya yang masuk ke lingkaran bebek-bebek bercat hijau milik Kepala Dukuh tetangganya.

Suasana Pendopo Kecamatan gaduh tiada tandingan. Dalam waktu singkat tidak hanya keributan saja yang terlihat di pendopo kecamatan, tapi ada bau tak sedap yang menyebar karena ribuan bebek itu bergantian buang kotoran yang lembek kehitaman. Patih berteriak-teriak mencoba mengatasi keadaan yang makin sulit dikendalikan.

“Mana Kanjeng Camat?” tanya seorang Kepala Dukuh tidak sabar. “Bebek-bebek ini mulai kelaparan. Kami tidak punya makanan,” keluhnya sambil mengusap lelehan keringat di jidat dan lehernya.

“Sebentar… Sebentar…” Patih berlari masuk ke Dalem Kecamatan.

Dengan ketakutan ia memanggil Kanjeng Camat yang tengah menikmati sarapan. “Kanjeng Camat, ampunkan Patih yang tak becus ini. Para Kepala Dukuh sudah berada di pendopo dengan ribuan bebek yang gemuk. Bebek-bebek itu semua kelaparan, belum diberi makan sejak kemarin malam.”

Kanjeng Camat meninggalkan meja makan dengan muka masam. Ia tak berkenan. Langkahnya dipacu menuju Pendopo Kecamatan. “Mengurus bebek saja kalian tidak becus,” dengusnya.

Begitu tiba di Pendopo Kecamatan, Kanjeng Camat segera menyesali kata-katanya sendiri. Ribuan bebek beserta tahi lembek dan rontokan bulu berserakan menjijikkan. Bagaimana mereka bisa bertelur kalau suasana seperti perang begini? Mengapa tak kusuruh Patih dan semua Punggawa menyiapkan kandang duluan? Mengapa tak kusuruh para Penjaga menyiapkan pakan? Keluh Kanjeng Camat pada diri sendiri.

Teringat akan pakan, Kanjeng Camat makin gundah. Dari mana ia akan mendapat uang untuk membeli dedak? Apakah warga yang miskin pangan itu mau bila diminta patungan lagi? Ataukah gunung di perbatasan itu dijual saja pada Raden Camat tetangga?

Kanjeng Camat terduduk lemas memandangi ribuan bebek yang rontokan bulu dan tahinya mengotori lantai dan dinding Pendopo Kecamatan. Para Kepala Dukuh belingsatan membersihkan sekujur pakaian mereka yang belepotan tahi bebek yang lembek-hitam. Sementara Patih diam-diam melangkah keluar meninggalkan Pendopo Kecamatan melalui gerbang belakang.

 ***

Senin, 10 Juni 2013

Mommy, Vera Has No Bird!

Saya dan anak di hari wisuda, Februari 2013
Sebelum menulis judul di atas, saya terlebih dulu minta ijin anak lelaki saya, karena selarik pendek kalimat itu sudah menjadi semacam ‘quote’ dalam keluarga kami. Yang pasti, nama asli Si Vera saya ganti, sebab saya tidak punya kesempatan minta ijin memakai namanya di ruang publik.

Alkisah, 17 tahun lalu, di sebuah bangunan tinggi asrama mahasiswa, di kompleks kampus di Kota Halifax, Nova Scotia, Canada. Tersebutlah para mahasiswa Indonesia yang sedang belajar yang tinggal di dalam bangunan 25 lantai itu. Banyak di antara mereka yang membawa keluarga – istri/suami dan anak-anak. Suami saya salah satunya. Kami menjadi akrab satu sama lain, layaknya keluarga besar. Anak-anak kami, yang semuanya masih balita atau batita, pun tak kalah rukunnya.

Di antara anak-anak itu, ada salah satu gadis kecil yang menjadi sahabat akrab anak saya yang waktu itu usianya sama-sama 3 tahun. Sebut saja namanya Vera. Gadis mungil cantik pintar ini sering main di apartemen kami.

Suatu siang, di akhir pekan, sehabis bermain, Vera minta diantar ke kamar mandi untuk pipis. Setelah saya bantu duduk di toilet, saya ke dapur. Tak lama terdengar pekikan anak lelaki saya. Lantang dan panjang.

“Mommyyyy… Vera has no bird! Vera has no bird!”

Saya melompat ke depan kamar mandi dan melihat anak saya tidur tengkurap persis di depan toilet itu, mengamati Vera yang tengah pipis. Untuk beberapa saat saya kebingungan. Tapi saya tidak berkata apa-apa, hanya meminta anak saya untuk bangkit lalu saya membasuh Vera. Mereka memang telah pandai pipis dan pupup di toilet walaupun saat berada di Day Care (tempat penitipan anak balita) mereka kadang memakai pampers.

Anak saya mulai benar-benar belajar bicara dan bermasyarakat justru ketika kami berada di Kanada, sehingga saat itu ia fasih berbahasa Inggris, laiknya native speaker, meskipun beberapa istilah seperti ‘bird’ itu jelas berasal dari bapak dan ibunya.

Peristiwa itu menjadi semacam tonggak bagi saya dan anak lelaki saya untuk mulai bicara tentang seks karena ia tak henti-henti bertanya soal Vera yang tidak punya burung. Saya sangat kebingungan awalnya. Saya jelaskan sebisanya - bukan saya marahi atau alihkan pembicaraan - dengan bantuan buku-buku science yang banyak gambarnya ditambah dengan benda-benda. Saya berikan pula contoh-contoh barang-barang perempuan dan laki-laki yang berbeda bentuknya, seperti sepatu, rok, celana panjang, hingga celana dalam. Saya ingin dia tahu bahwa perbedaan itu sifatnya alamiah. Saya berusaha tidak berbohong dengan alasan demi ‘kebaikannya’. Bila saya kesulitan menjawab pertanyaannya, dengan jujur saya sampaikan dan berjanji akan menjawab kalau sudah tahu.

Kebiasaan ini berlanjut terus hingga suatu saat kami berbincang tentang kehamilan. Seingat saya, usianya sekitar 9 tahun. Saya dan suami membahas hal itu bersama anak kami di meja makan dengan memakai buku biologi sebagai acuan. Kami memilih istilah-istilah teknis seperti ‘kopulasi’ atau ‘persetubuhan’, supaya lebih bermakna alamiah dan ilmiah. Kami juga tak ragu-ragu menyebut kata vagina untuk kelamin perempuan dan penis untuk kelamin laki-laki, begitu pula sperma dan sel telur. Supaya lebih mantap kami perlihatkan gambar-gambar dari buku biologi. Selain membahas kehamilan pada manusia, kami lengkapi dengan binatang dan tumbuhan, agar ia tahu bahwa kopulasi itu bukan hal tabu, namun sebuah proses alam yang dilakukan semua makhluk hidup untuk berkembang biak dan mempertahankan keturunan.

Setelah ia paham tentang kopulasi, pelan-pelan kami mulai bicara tentang norma, aturan, cinta dan moral. Sungguh, bicara moral ini tidak gampang. Sebagai ibunya, neraca moralitas saya naik-turun juga. Untuk topik seks dan moral ini, saya lebih fokus pada ‘mengapa’ dan bukan ‘apa’, sehingga diskusi bisa berkembang. Dalam hal ini agama jadi salah satu pintu masuk utama, walau sering saya minta ia bertanya pada ahlinya, agar saya tidak salah bicara.

Saya pernah jadi remaja juga, dan saat itu saya bisa berpikir dan menganalisa, tidak hanya asal coba-coba, jadi saya percaya bahwa anak saya punya kemampuan setara. Pada topik ini, pemahaman saya tentang nilai dan norma, baik yang lokal maupun universal, diuji.

Saat ia memasuki usia belasan, kami sering nonton film bersama. Awalnya dia suka menggerak-gerakkan kaki karena geli tiap melihat adegan ciuman. Kadang-kadang menutup mata sambil tertawa-tawa, namun lama-lama jadi biasa. Tentu saja kami membahasnya, bukan sekedar menonton saja. Saya tahu bahwa bila mau, dia bisa melihat gambar-gambar atau film-film yang lebih vulgar lagi di belakang saya. Saya menyadari bila ada fasilitas internet, hal semacam itu ‘only one click away’, jadi saya tidak mau berasumsi bahwa dia tidak melakukannya. Dengan begitu, sebagai orang tua saya bisa lebih waspada.

Pertama kali ia mulai bicara tentang teman perempuan istimewa, saya segera wanti-wanti agar ia menjaga kehormatan dirinya dan terlebih-lebih teman perempuannya itu. Kesetaraan gender wajib diajarkan sejak dini. Namun harus dibarengi dengan memahamkan bahwa dunia di luar sana sering tidak memakai teori, sehingga lelaki wajib melindungi perempuan di dunia yang faktanya didominasi oleh lelaki ini. Berbagai akibat dari persetubuhan di masa remaja dan di luar pernikahan kami bahas dengan contoh-contoh yang sudah ada di lingkungan dan media. Saya garis bawahi betapa besarnya penderitaan yang akan dipikul gadis remaja yang hamil di luar nikah, sedangkan si remaja lelaki bisa berkelit dengan mudah.

Mengingat anak kami hanya satu, proses yang saya lalui tidak gampang, terutama saat usianya 13 – 15 tahun. Kadang sebelum menjelaskan sesuatu, saya harus belajar sungguh-sungguh bagaikan mau melakukan presentasi proyek di depan mitra kerja. Sampai-sampai harus membuka kamus segala. Namun hasilnya memang tidak sia-sia. Paling tidak, hingga kini, anak kami berhasil melalui masa remaja tanpa halangan berarti dalam hal yang satu ini.

Kini, setelah usianya menginjak 20 tahun, kami jarang diskusi tentang seks lagi karena ia sudah cukup dewasa untuk mengatasi sendiri. Justru saya sering belajar darinya tentang hal-hal lain yang lebih ia kuasai. Kasus terakhir yang kami bahas, dan tonton bersama, adalah video heboh Luna Maya-Ariel dan Cut Tari-Ariel.

Mau tahu apa katanya?

“Kayak orang lagi aerobik aja. Nggak pake rasa cinta.”

Jawaban ini melegakan, sebab saya jadi tahu bahwa bagi anak saya bersebadan itu bukan perkara adu fisik semata, harus ada cinta, minimal paham dan wajib bertanggung-jawab akan akibatnya bila dilakukan asal-asalan.

Segala yang kasat mata dan teraba di dunia kini semakin cepat berganti dan tak terduga, apa saja ada, apa saja bisa terjadi, pada siapa saja, di mana saja dan kapan saja. Sebagai ibu saya tidak selalu bisa menjaga dan melindunginya. Saya percaya, seorang anak terlahir tidak untuk dijauhkan dari bahaya yang ada di luar rahim ibunya. Ia justru harus diajari mengenal dunia beserta semua bahaya, ancaman dan rintangan, sambil membantunya mengasah potensi dan membekali diri agar ia mandiri dan kuat menghadapi semua itu dalam perjalanan panjang hidupnya.

***

Ditulis tahun 2010, untuk merenungkan masa 20 tahun menjadi ibu dan dipersembahkan untuk para ibu muda.

Sabtu, 08 Juni 2013

An ASS out of U and ME

Sumber Gambar
Sebuah drama dengan pemain solo dan penonton tunggal terjadi di ruang tengah rumah saya sore ini. Diiringi suara gemericik hujan, teman saya menuturkan penyesalannya yang teramat dalam. Air matanya sesekali menetes, menambah basah suasana.

“Kenapa sampai nangis gini?” tanya saya, menutup buku yang sesiangan saya baca.

“Aku nggak tahu kalau selama ini aku salah duga. Gara-gara teman di media sosial….” Ia menyebut sebuah media social paling populer sejagat raya.

“Oh?”

“Antara kami pernah terjadi salah paham. Karena sebel, aku curhat ke teman itu.” Ia menyebut nama teman di media social itu, saya tulis saja Fifi. Pastilah bukan nama sebenarnya.

“Kamu pernah ketemu sama Fifi?”

“Belum. Tapi kami sering saling curhat. Fifi kenal Ina, juga cuma di media social. Mereka belum pernah ketemu.”

Si Ina ini – juga nama comotan – kenal baik teman saya di dunia nyata. Mereka pun sering bertemu.

Suatu hari, beberapa bulan lalu, teman saya ini jengkel dengan ulah Ina, lalu curhat pada Fifi di media social. Si Fifi ini lalu menjelek-jelekkan Ina. Entah apa sebabnya, saya sedang tidak minat bertanya-tanya menyelidiki sesuatu yang bukan urusan saya. Anehnya teman saya ini percaya saja.

“Kamu juga aneh. Udah nyata-nyata belum pernah ketemu Fifi kok percaya aja omongannya….”

“Kamu malah bikin aku tambah merasa bersalah!” rutuknya, lelehan air matanya menderas. “Sekarang aku harus gimana? Mau minta maaf ke siapa? Keluarganya?”

Ina, temannya yang ia jauhi sejak beberapa bulan, meninggal sekitar 3 minggu lalu. Penyesalan teman saya berawal dari situ.

“Didoakan aja. Sampai kamu merasa lega. Percuma menjelaskan hal ini ke suami atau anak-anaknya. Malah bikin runyam. Mereka tidak tahu duduk-soalnya. Lagi pula, seperti kamu bilang tadi, kamu hanya menjauh dari Ina, bukan memusuhi. Iya, kan?” omongan sok bijak saya.

“Tapi aku nggak nengok waktu dia sakit. Gara-gara omongan Fifi!” Ia menyedot ingusnya. Buru-buru kuangsurkan sekotak tisu.

“Jangan nyalahin orang. Omongan orang mestinya kamu saring. Apalagi dari orang yang hanya kamu kenal di media social, sedekat apapun perasaanmu tapi kamu belum pernah ketemu.” Rasa-rasanya saya bukan teman curhat yang elok, sebab komentar saya justru makin menyudutkannya.

Saya jadi ingat gurauan yang sering kami – saya dan anak saya – lontarkan. Kata assume (yang berarti menduga, mengira, berasumsi) merupakan singkatan dari ‘making an ASS out of U and ME), alias bikin kita kacau-b(G)alau.

Nurut saya, menduga-duga sikap orang atas dasar omongan orang lain itu tidak bijaksana. Pada dasarnya tiap orang tidak berkarakter tunggal: jahat saja, nakal saja, curang saja, manis saja, lembut hati saja, jujur saja, atau pintar saja. Memang ada orang yang berkarakter buruk: yang jelek-jelek saja yang dominan. Namun jarang yang berkarakter serba baik: semua-muanya baik sama sekali nggak ada jeleknya secuilpun. Yang serupa itu mungkin bukan manusia.

Karakter-karakter antarorang sering bertubrukan. Berikutnya muncul perselisihan. Kalau bertemu dengan karakter yang saling cocok sebuah hubungan bisa bertahan lama; kalau tidak, ya ‘I’m sorry good bye’ saja.

Maka, di sini letak seninya dalam berteman. Saya pun tidak selalu sukses, kadang salah menilai orang dan berakhir dengan penyesalan. Namun siapa pula yang tidak pernah menyesal? Penyesalan itu buah kekeliruan, munculnya belakangan: bertanam kekeliruan dulu, baru tumbuh buah penyesalan. Dan tiap orang pasti meskipun sekali pernah keliru.

Ada sebuah quote, entah punya siapa, yang berbunyi kira-kira begini: menilai karakter seseorang hanya dari salah satu sifat buruknya itu ibarat melihat lautan hanya dari satu gelombanganya. Wah! Agak berlebihan, namun tepat. ‘Ora bener nanging pener’, kalau boleh saya bolak-balik sebuah pepatah Jawa. Tidak sepenuhnya benar tapi pas. Karakter orang itu ibarat lautan, tak bisa dinilai dari segulir gelombangnya.

Nah. Entah kenapa teman saya memutuskan berubah sikap pada Ina hanya dari ocehan Fifi semata. Padahal teman saya mengenal Ina lebih baik dan lebih lama daripada mengenal Fifi. Ia juga mengenal keluarga Ina. Paling tidak sosok Ina ini jauh lebih nyata ketimbang Fifi yang hanya ia kenal di dunia maya.

“Sudahlah. Nggak perlu diperburuk lagi. Doakan saja almarhumah Ina,” ulang saya. "Kamu bisa minta maaf lewat Tuhan," gurau saya.

“Aku harus bilang apa sama Fifi?”

“Nggak usah bilang apa-apa. Two wrongs don’t make a right,” saya sok berfilsafat.

Teman saya membuang kuat-kuat gumpalan napas penuh penyesalan melewati mulutnya. Suaranya sungguh memilukan, serupa dengkingan serigala yang beberapa hari tidak makan.

“Kamu pasti lapar. Mau lapis legit rasa pandan? Mau ya?” kata saya. “Sama kopi, ya? Atau teh? Kalau bir aku nggak punya.”

Ia mengangguk. “Kopi aja,” sahutnya, menyeka air mata.

Dan drama itu berakhir, masih dengan seonggok sesal membebani pundak teman saya. Namun paling tidak ia merasa lega telah bercerita.

“Boleh aku tulis buat blog? Udah lama aku nggak apdet blog. Udah sebulan lebih. Boleh, ya?”

 Ia mengangguk sambil berusaha meringis.