Tampilkan postingan dengan label J50K. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label J50K. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Maret 2013

Mia Terseret Arus Cerita

Sumber: film dokumenter tentang pengungsi Burma
Cerita panjang – cerber atau novel atau apapun namanya – yang saya juduli ‘Tembak Di Tempat’ ibarat telur yang nggak juga menetas meskipun sudah dikerami selama 2 tahun. Wuih! Kalau menetas jangan-jangan nanti menjelma dinosaurus….

Tembak Di Tempat (TDT) ini hasil kegiatan J50K tahun 2011. Dulu, saya pingin banget menulis cerita tentang ‘pengalaman lapangan’ berdekatan dengan pengungsi di perbatasan barat-utara Thailand-Burma. Bayangan saya bakal asyik menulisnya. Memang asyik, sebab saya jadi membaca-baca laporan proyek, artikel, dan buku (fiksi dan non-fiksi) yang berkaitan dengan konflik di kawasan itu; juga mewawancarai teman-teman kerja dan memelototi foto-foto yang kualitasnya kurang mantap karena diambil dengan tergesa di sela-sela urusan pekerjaan.

Oh, ya… ketika mulai menulis TDT ini, saya sering mencuri-curi waktu kerja, sampai Bos saya tahu kalau saya punya ‘proyek sampingan’. Untungnya dia malah suka, bahkan membelikan beberapa buku untuk memperkaya wawasan saya.

Jadi proses menulis TDT ini saya awali dengan semangat 45. Selain itu, waktu itu saya sedang sangat ingin belajar menulis banyak tokoh dalam sebuah cerita, terilhami oleh novel-novel ‘besar’ yang saya baca.

Ternyata… amboi… ternyata. Menulis cerita dengan banyak tokoh – yang peranannya sama-sama penting – sulitnya berlipat-lipat. Tiap-tiap tokoh sudah saya rinci: tanggal/tahun/tempat lahir, pekerjaan, nama orang tua/saudara kandung, hobi, pendidikan, ciri-ciri fisik, kebiasaan, dan segala macam atribut yang bisa memperkaya karakter mereka. Tetapi semua rincian itu sering timbul-tenggelam terseret arus perkembangan cerita.

Mia, misalnya, si Aku yang menuturkan kisahnya. Dia adalah perempuan dewasa yang cenderung dingin, cuek, menahan diri (tertutup) terhadap lelaki, tidak suka dandan, punya hobi merajut (yang agak aneh untuk anak muda), membaca komik, dan mendengarkan musik klasik. Namun dalam cerita sepanjang 20 bagian itu (yang sudah rampung saya tulis dan masih ada beberapa bagian lagi hingga tamat) saya sama sekali belum pernah menyebutkan hobi merajutnya! Pun tak ada secuil kalimat yang menceritakan si lajang dari Jogja itu membaca komik. Konyol, bukan? Karakternya yang dingin itu juga baru terjelaskan dalam bagian 14, saat ia bertemu dengan Ronn. Namun, menurut saya, penjelasan itu dangkal dan ‘numpang lewat’, kurang mantap. Itulah yang saya maksud dengan ‘timbul tenggelam’.

Bukan hanya Mia saja. Setelah saya baca ulang, sebelum meneruskan menulis bagian 21, tokoh-tokoh lain seperti Tim, Rudi, Tong Rang, Naing Naing, dan Ronn seolah terbenam dalam plotnya. Tim, Mia, Tong Rang, dan Ronn punya sejarah hidup yang maunya… mau saya… akan jadi sub-plot. Namun, masih menurut saya, mereka justru hilang di antara tumpukan sub-sub-plot itu. Hadeeeh…!

Karena sudah mencapai 20 bagian (masing-masing bagian sepanjang kurang-lebih 1.500 kata), beberapa hal tentang tokoh-tokoh itu terpaksa tidak saya ungkapkan dalam cerita. Sudah terlambat! Artinya karakter mereka jadi berbeda dengan keinginan awal saya. Tentu saja saya kecewa. Paling tidak rencana saya untuk menceritakan mengapa Mia memilih merajut untuk mengisi waktu luangnya tidak kesampaian.

Mengapa sampai begitu? Entahlah…. Mungkin jawaban yang paling masuk akal adalah saya masih harus banyak belajar menulis, terutama menguasai teknik-teknik pengembangan karakter para tokohnya agar mereka tidak tertutup oleh jalan ceritanya. Sebab salah satu elemen terpenting cerita adalah karakter para tokohnya.

Meskipun begitu, cerita yang saya nilai bantat itu rupanya disukai beberapa pembaca. Tidak banyak, jumlah mereka bisa dihitung dengan jari tangan kanan. Dan yang membuat saya sukaaa… salah satu pembaca ‘setia’ bisa menangkap premis atau sesuatu yang mendasari kisah TDT ini: drama yang dilakoni orang-orang yang membantu para pengungsi, bukan kisah konflik di perbatasan Thailand-Burma.

Untuk para pembaca itu, saya berhutang terima kasih. Karena mereka, saya tetap bersemangat meneruskannya. Meskipun tidak banyak, bagi saya, pembaca – yang menikmati cerita saya – adalah ratu dan saya senang melayani mereka.

***

Selasa, 02 Oktober 2012

Dari Draft Naskah Menuju Novel

Januari 50.000 Kata atau J50K adalah kegiatan menulis novel sebanyak 50 ribu kata selama 31 hari di bulan Januari. Kegiatan ini terbuka untuk semua orang yang berminat dan berambisi untuk menulis novel selama sebulan penuh.

Kampung Fiksi sudah dua kali menyelenggarakan acara ini, di 2011 dan 2012. Pertama kali, peminatnya hanya duapuluhan. Kedua kalinya mencapai duaratusan. Tidak semua peminat yang benar-benar menulis dan menjejak tumpuan ‘start’ mampu mencapai garis ‘finish’. Itu hal biasa. Dalam acara apapun, pada awalnya peserta selalu bersemangat, namun tak semua berhasil mempertahankan semangat mereka sampai akhir. Termasuk diri saya, for sure!

Yang luar biasa adalah, beberapa peserta (yang mencapai 50 kata maupun yang tidak) berhasil meneruskan dan mengedit cerita mereka, lalu menerbitkannya jadi novel.

Elly Suryani, peserta J50K tahun 2011, berhasil merampungkan tulisannya. Sejumlah 23 prosa dan 2 puisi berjudul Ilalang Menarilah! ia terbitkan lewat Kampung Fiksi bekerja sama dengan Nulisbuku.com.

Pada tahun 2012, Adeliany Azfar berhasil menerbitkan novel berjudul ‘Kamu’ selepas hajatan ini. Seorang peserta lain, Winda Krisnadefa, lewat novelnya yang berjudul ‘Magali Chronicle’ mampu menembus 10 besar dalam lomba menulis novel Qanita Romance 2012 yang diselenggarakan penerbit Mizan.

Sebenarnya mengarang itu gampang. Memang. Dari awal tahun 80-an Arswendo Atmowiloto sudah bilang begitu, lewat tulisannya di majalah remaja Hai berjudul ‘Mengarang Itu Gampang’ yang kemudian dibukukan dengan judul sama. Saya akan mengutip sebagian isi buku yang disajikan dengan gaya tanya-jawab ini, khusus dari halaman pertama, yang menurut saya merupakan inti-sarinya.

1. Mengarang itu gampang. Apakah ini tidak salah judul? Tidak. Dan tentunya kamu tidak salah baca. Mengarang itu gampang. Sekurangnya lebih gampang dari yang kamu duga. Memang tak ada yang sukar, kalau kita mempunyai minat dan ambisi terus menerus.

2. Selain minat dan ambisi yang terus menerus, apa ada syarat lain? Ada syarat lain. Yaitu bisa membaca dan bisa menulis. Gampang kan? Kalau kamu sudah mengangguk berarti harus diperhatikan benar bahwa membaca dan menulis yang baik dan benar itu perlu latihan, perlu disiplin, perlu minat yang tak kunjung habis.

3. Minat lagi. Apa sebenarnya minat dan ambisi yang tak kunjung habis? Minat dan ambisi seperti juga rasa cinta. Terus mengalir. Ini didasarkan pada kepercayaan diri, bahwa dengan mengarang kita melakukan sesuatu yang kita cintai, dan kita percaya ada sesuatu yang baik yang bakal kita lakukan dengan itu.

4. Ambisi? Kalau kamu tidak mengenal putus asa. Mengarang memang tidak sekali jadi. Rasanya tak ada pengarang baik yang sekali jadi mengarang, dan langsung berhasil.

Dari 4 poin di atas, ada beberapa kata kunci yang oleh penulisnya sering diulang di dalam buku: minat, ambisi, membaca, latihan, disiplin, pantang putus asa, dan tidak sekali jadi. Nah!

Saat menulis ‘Magali Chronicle’, Winda Krisnadefa memenuhi semua syarat itu. Dan dia berhasil. Sebagai produk J50K, karangan Winda baru mencapai sekitar 15 ribu kata di akhir Januari 2012. Si Emak Gaoel ini kemudian memutuskan ngebut memperbaiki darft naskahnya selama 2 bulan penuh untuk mengejar deadline lomba Romance Qanita. Konon, bisa ia rampungkan sampai 47 ribu kata. Namun ia tidak berhenti pada jumlah saja. Karangan itu ia pangkas sana-sini, tambah ini-itu, sampai ia merasa siap melepasnya untuk lomba.

Untuk membuat karangannya hidup, Winda melakukan riset, juga membaca buku (novel lain dan buku-buku yang berkaitan dengan tema cerita). Ia kumpulkan setumpuk informasi seputar kuliner: tugas para chef restoran sampai chef di kapal pesiar, puluhan resep kue yang lagi nge-trend, dan berbagai hal tentang kehidupan seorang freelance writer di sebuah majalah. Semua informasi itu ia olah agar menyatu dengan plot yang sudah ia siapkan. Bukan pekerjaan sekali jadi, pasti. Butuh disiplin, fokus dan ambisi. Sebelum diterbitkan menjadi novel oleh Mizan, kemungkinan Magali Chronicle akan diedit lagi, agar makin bagus dan memuaskan pembacanya.

Produk J50K 2011 saya, berjudul 'Tembak Di Tempat', mencapai 42 ribu kata di akhir Januari. Delapan ribu kata di belakang garis finish. Cerita ini saya biarkan ngendon di folder selama setahun lebih. Baru saya tengok lagi awal April 2012.

Setelah saya baca ulang, ternyata dari 42 ribu kata itu separuhnya lebih hanya sampah. Sebagian kisahnya juga sudah saya comoti. Saya tulis ulang sebagai cerita pendek yang saya tayangkan di blog pribadi, milik teman, dan ada satu di Kompas.com berjudul 'Langit Merah Jambu'. Namun saya tetap punya ambisi untuk menyelesaikan karangan ini jadi sebuah cerita utuh.

Proses menyelesaikan, memperbaiki, dan mengedit itu butuh waktu dan tenaga yang tidak sedikit. Juga nyaris ‘tanpa ampun’: potong ratusan kata sana-sini. Seperti kata Arswendo, proses itu saya lakukan dengan penuh minat dan disiplin. Tiap hari saya baca dan tulis ulang, sebagian demi sebagian. Kalimat dan paragraf satu-satu saya bongkar. Beberapa bagian saya perdalam dengan riset. Sudah pasti saya membaca buku dan tulisan yang sesuai tema cerita, di antaranya konflik di Burma dan negara lain serta kisah-kisah korban kekerasan. Selain membaca, saya juga mencatat hal-hal penting (yang saya pikirkan, dengar, atau lihat) yang saya anggap akan mendukung jalan cerita.

Kadang kala sehari bisa selesai 2 ribu kata, namun tak jarang hanya beberapa paragraf. Pekerjaan mengarang-ulang ini, masih seperti kata Arswendo, saya lakukan dengan penuh cinta, saya resapi.

Saya tidak tahu bakal seperti apa jadinya kisah 'Tembak Di Tempat' ini. Apalagi cerita ini tidak memenangkan lomba apapun, tidak dipuji siapapun, pembacanya juga tidak banyak, hanya berkisar puluhan orang. Namun saya yakin, pada akhirnya akan muncul sesuatu yang baik, minimal untuk saya pribadi. Juga menumbuhkan keyakinan bahwa karangan yang berkualitas (dalam arti baik secara teknis sekaligus disukai pembaca) bukan karya sekali jadi. Sebelum bisa dinikmati pembaca – atau memenangkan lomba - ada jalan panjang berliku yang harus ditempuh lebih dulu.

***

Jumat, 14 September 2012

Jennie, Si Kecil di Kamp Pengungsi

Anak-anak di perbatasan Thai-Burma ~ dokumentasi pribadi
Hujan deras mengguyur pegunungan di perbatasan Burma dan Thailand. Halilintar menyambar-nyambar. Angin kencang menerobos pohonan, memaksa rerantingnya bergesekan, mendendangkan kepiluan. Dua puluh tiga nyawa berlindung di bawah gubuk yang dindingnya berlubang-lubang. Jalinan daun rumbia kering penaung gubuk satu-satu tertiup angin, lalu terbang. Derasnya air hujan makin leluasa menyerbu tubuh mereka.

Seorang bayi perempuan berusia enam bulan menangis kedinginan. Ibunya tak kuasa memberi perlindungan. Semua yang ada di badannya basah. Si ibu mengeluarkan pentilnya, menjejalkan ke mulut bayinya. Namun tak setetespun susu keluar, si ibu sudah dua hari tidak makan. Jerit si bayi meninggi.

“Jarak kita cukup jauh. Mereka tidak akan mendengar,” ucap ayah si bayi mencoba menenangkan semua orang, “Tangisannya tersamar suara halilintar,” tambahnya sambil mendekap anak lelakinya yang berusia 10 tahun.

Anak-anak lainnya menempel pada tubuh orang tua mereka, mencari kehangatan, meskipun hanya dinginnya air dan sabetan angin yang mereka rasakan. Ada delapan anak di dalam rombongan pengungsi yang telah berhari-hari menyusuri pegunungan di perbatasan Burma dan Thailand itu. Salah satunya Maung Si, kakak lelaki si bayi.

“Kita akan baik-baik saja, Maung Si. Sebentar lagi kita mencapai perbatasan. Kita akan diselamatkan,” janji si ayah pada anak lelakinya yang ketakutan.

Hujan berhenti, namun tidak tangis si bayi. Si ibu dan perempuan lainnya berusaha menenangkannya. Air hujan mereka tampung dengan botol-botol plastik, lalu disuapkan. Tangis si bayi tak berhenti. Mereka memutuskan pergi dari gubuk itu, tak mau menanggung risiko tertangkap patroli yang setiap saat muncul bagai hantu.

Rombongan itu belum jauh dari gubuk ketika rentetan tembakan terdengar. Mereka berlari memencar. Tangis si bayi menjadi-jadi. Ayah Maung Si menangkap tangan salah satu lelaki.

“Tolong bawa Maung Si bersamamu. Aku akan berlari ke sana,” ayah Maung Si menunjuk arah barat. Mereka seharusnya berlari ke timur. “Istri dan bayiku akan kubawa serta, supaya kalian selamat." Lelaki itu mengelus kepala anak lelakinya. "Jangan kamu bersedih, Maung Si. Kita akan segera bertemu kembali. Pergilah. Pergilah bersama pamanmu ini. Larilah.” Dengan cepat lelaki itu memeluk anak sulungnya lalu menarik tangan sang istri yang menggendong bayi.

Maung Si menurut saja ketika pamannya menyeretnya ke timur sementara orang tua dan adiknya berlari ke barat. Tak lama berselang, jeritnya tertahan, dari belakangnya tembakan menyalak bersahutan. Raungan ayah ibunya mengalahkan halilintar. Ia menangis dalam diam. Air matanya tertutup rinai hujan. Sang paman mempererat genggaman tangannya. Berdua terseok-seok menyusuri gelapnya hutan.

 ** 

Pada pertengahan tahun 90-an, tak kurang dari selusin kamp pengungsi resmi tersebar di sepanjang perbatasan Burma-Thailand. Tham Hin di wilayah Thailand bagian barat hingga Ban Mae di utara. Jangan tanyakan kondisi kamp yang dibangun dan tumbuh tanpa perencanaan itu. Kumuh bukan kata yang pas untuk menggambarkan. Kamp-kamp yang lebih kecil dan berpindah-pindah jumlahnya tak diketahui.

Di sana, nyawa penghuninya setiap saat terancam. Yang mengincar bukan hanya petugas patroli perbatasan, pemberontak etnis minoritas atau gerombolan penjahat tanpa identitas. Malaria, demam berdarah, diare dan berbagai penyakit lainnya tak kalah berbahaya. Kelaparan pun kerap menjebak mereka hingga mati.

Wilayah itu nirhukum, segala bentuk kejahatan menjadi legal, lebih ganas dari hutan belantara dengan hukum rimbanya. Seekor singa akan meninggalkan mangsanya bila perutnya kenyang. Tapi tidak manusia, ia tak ada puasnya.

Setiap pengungsi membawa kisah sendiri, yang bagiku semua terdengar sama, tentang kebengisan manusia terhadap sesamanya. Desa-desa yang dibakar begitu saja, anak-anak dan bayi yang ditembak atau dipenggal di depan ibu mereka. Gadis-gadis belia yang ditelanjangi dan diperkosa beramai-ramai lalu digantung di pohon, disaksikan sang ayah yang diikat di batang pohon itu. Anak lelaki yang dipaksa membunuh ayahnya dengan cangkul yang ia pakai bekerja di ladang. Para lelaki yang disuruh berlari di tengah sawah lalu ditembaki sambil tertawa-tawa. Kebiadaban tak terbayangkan yang tak dilakukan binatang.

Setiap mendengar cerita seperti itu aku teringat pada nasihat ayahku. Lelaki pengasih yang telah berpulang itu gemar menyitir ayat-ayat suci lalu menyampaikan padaku dengan cara sederhana. Tuhan bersumpah demi buah tin, demi buah zaitun, demi bukit-bukit Tursina dan demi kota Mekkah yang senantiasa aman, manusia diciptakan menjadi makhluk paling mulia di antara semua ciptaanNya, namun mereka sering tegelincir menjadi serendah-rendahnya ciptaan di muka bumiNya. Mungkin manusia yang tergelincir itulah yang tega menindas sesamanya.

**

Menuju kamp pengungsi Ban Mae adalah perjalanan brutal bagi kami. Meski kami dikawal oleh para relawan yang biasa bekerja untuk LSM lokal, tidak ada jaminan semuanya akan lancar.

Bagai bermain judi, dokumen resmi yang menyertai kami adalah dadu yang harus dilempar. Bila angka yang muncul di atas cocok, kami menang. Bila meleset, kekalahan yang akan kami terima bentuknya tak bisa diperkirakan. Namun aku menggenggam daduku sendiri, rangkaian doa yang kupanjatkan tiada henti. Cukup bagiku Tuhan, Maha Pelindung dalam susah dan senang.

Pagi di akhir bulan Januari sesaat setelah pukul enam. Bersama dua orang relawan aku dan tiga teman kerjaku, Tim, Tong Rang dan Rudi, naik truk yang kami sewa dengan bayaran dolar Amerika. Supirnya sudah belasan tahun menjadi mata-mata bagi kelompok-kelompok pemuda dan pelajar pro Aung San Suu Kyi. Ia dapat diandalkan. Orang memanggilnya MT. Rambutnya lurus panjang hampir mencapai pinggang, diikat jadi satu di belakang punggung.

“Semua siap?” MT memandang kami, enam calon penumpangnya.

Diawali oleh Tim, kami saling bantu satu-satu naik ke atas bak truk. Theo, salah satu relawan, mengangkat kakiku dari bawah sementara di atas bak truk Tong Rang menarik tanganku. Rudi melompat paling akhir, menyerahkan dulu tas berisi kamera pada Tim.

“Kita berangkat!” Kho, relawan satunya, memukul panel samping bak truk, memberi isyarat pada MT untuk berangkat.

“Pakai masker dan goggle.” Tim mengingatkanku.

“Sebaiknya begitu,” tambah Kho, memasang scarf panjang menutupi muka di bawah kaca mata hitamnya.

“Tidak bakal hujan kan?” Tanya Rudi, tersadar kalau bak truk itu terbuka.

“Tidak. Tapi itu ada terpal!” Tim setengah berteriak mengatasi deru mesin truk, menunjuk gulungan terpal hijau tentara, teronggok di samping bak truk, diduduki Theo dan Tong Rang.

Aku duduk merapat pada dinding bak, menghadap ke belakang, diapit Tim dan Rudi. Ransel kugendong di depan, melindungi dada dari terpaan angin pagi yang menggigit. Di bulan Januari, musim dingin masih belum beranjak dari kawasan perbatasan itu. Tak sedingin di benua Eropa dan Amerika Utara, namun cukup membuat gigiku gemeletuk, apalagi kami berada di belakang bak truk yang terbuka.

Begitu membelok dari jalan aspal, di kejauhan tampak pegunungan hijau kebiruan. Di sana tersimpan cerita keji dari jutaan pengungsi. Tangis mereka terjerat di ranting-ranting pohon. Jeritnya terperangkap dalam jurang-jurang atau menguap begitu saja bersama udara. Darahnya tersapu derasnya hujan, sebagian terserap di akar-akar tumbuhan. Aku menggigil. Tim mengingatkanku agar melilitkan scarf ke leher erat-erat.

Kami melalui delapan pos penjagaan. Di setiap pos, MT menghentikan truk, turun untuk menyapa penjaga dengan lagak seorang teman, lalu menyelipkan uang ke tangannya agar portal dibuka. Tim membekalinya dengan beberapa bungkus rokok impor, kalau-kalau diperlukan.

Hujan sudah jarang datang. Jalan tanah lempung tidak rata, membuat truk terguncang-guncang. Kami bagai butiran beras yang diayak di atas tampah, terlempar-lempar. Perutku mulai terasa mual ketika mesin truk menggerung menaiki bukit terjal. Roda-roda yang terseok menyisakan debu tebal kemerahan yang menyebar. Kuperbaiki posisi kacamata goggle dan kukencangkan masker. Tim tak henti-henti berusaha menahan tubuhku agar aku tidak terjengkang.

Truk berhenti. Deru mesinnya terdengar nyaring sekali di tengah kesunyian hutan. Sebentar mesin terbatuk-batuk, tersedak, lalu diam. Debu kemerahan kembali mengepul di belakang truk. Terdangar pintu depan dibuka, disusul oleh suara orang meloncat turun. Ada sedikit erangan. Kaki MT terpeleset. Theo membuka panel belakang bak truk. Suara gerendel berkerenyit karena karat.

“Kalian baik-baik saja?” Teriak MT dari bawah menanyakan keadaan enam penumpangnya.

“Hooiii…!” Tong Rang membalas teriakannya sambil melompat turun. Disusul Theo, lalu Rudi dan Tim. Mereka membantuku turun. Kho turun paling akhir. MT membantu Kho menutup panel bak truk.

Di tangan kanan MT ada parang tertutup sarung kulit yang bisa dikaitkan pada sabuk. Ia mengangsurkan benda itu pada Kho. “Ini untuk kalian.” Dari dalam kabin truk MT mengambil beberapa batang bambu tua, sepanjang sekitar 1 meter dengan diameter 5 cm. “Mau satu?” MT memandangku. Aku menggeleng.

“Biar kami saja,” Rudi meminta dua batang, menyerahkan satu pada Tong Rang.

“Jangan kuatir. Semua sudah diatur. Semua penjaga tahu hari ini kita datang. Tidak ada manusia lain di hutan ini kecuali kita berenam,” Theo bercanda, “dan ratusan tikus hutan!” Ia melompat, seekor tikus gemuk menyelusup di antara dua kakinya. “Kita juga punya cukup makanan. Kemarin kontak kita sudah mengantar uang untuk Kolonel. Ia akan menyediakan makanan seperlunya. Cukup agar perut kita tidak lapar.”

Yang dimaksud dengan Kolonel adalah kepala kamp pengungsi, anggota militer Thailand berpangkat Kolonel yang dipanggil Kolonel C oleh semua orang. C adalah singkatan nama belakangnya yang panjang dan sulit diucapkan: Chalermpalanupap.

“Kami juga bawa cukup bekal,” Tim menepuk-nepuk ranselnya yang menggelembung besar. Para lelaki masing-masing membawa 2 liter air dan 1 liter larutan isotonik, kecuali aku yang hanya membawa separuhnya. Di ranselku juga tersimpan makanan padat energi seperti granola bar, cukup untuk bertahan selama 2-3 hari.

“Dari sini kita harus jalan kaki. Naik ke arah sana,” sambil menautkan parang pada ikat pinggangnya, Kho menunjuk pegunungan di sebelah utara. Antara jalan dan pegunungan itu dipisahkan hutan. Satu-satunya penanda adanya manusia hanyalah jalan tanah selebar 1,5 meter yang diapit belukar. Cericit serangga, jerit burung dan tikus hutan bersahutan di antara desau angin. “Tidak jauh, sekitar 30 menit kita sudah sampai di sana,” Kho mamandangku.

“Aku baik-baik saja,” berkata begitu kubuka kacamata goggle dan masker.

“Besok pagi kami dijemput di sini. Pukul 9 pagi. Okay?” Tim menepuk pundak MT.

“Hati-hati,” MT mengangguk ke arahku. Tim reflek mendekatiku, satu-satunya perempuan di dalam rombongan.

“Ayo. Saya berjalan paling depan dan Theo paling belakang!” Kho memasuki jalan tanah menembus kerimbunan hutan. Ia melolos parang dari sarungnya. Tangannya sibuk menyabet ke kiri dan ke kanan, membersihkan sarang laba-laba, ranting dan duri-duri tajam perintang jalan.

Kami berbaris. Pada permukaan jalan yang tidak tertutup daunan tampak ada bekas roda sepeda motor. Aku berjalan di antara Tong Rang dan Tim. Kami semua mengenakan topi hutan untuk melindungi kepala dan wajah dari serangga yang jatuh. Di ketinggian 1.500 meter, kelembaban sangat rendah, udara terasa kering. Sinar matahari terhambat oleh ketebalan pohonan.

“Ranselmu berat?” tanya Tong Rang dari belakangku.

“Tidak apa apa, aku baik-baik saja. Aku akan bilang kalau merasa tidak nyaman.”

Kami tidak banyak berbicara satu sama lain. Langkah-langkah kami teratur di atas daun-daun dan patahan ranting kering. Suara gemeresak diselingi nafas terengah memecah keheningan hutan. Terdengar seperti musik alam. Ritmis. Magis. Di belakang kami, suara itu meninggalkan gema.

“Seratus meter lagi akan ada checkpoint.” Kho menjelaskan.

Sayup-sayup terdengar suara berisik dari radio yang gelombangnya putus-putus, sebuah lagu Thai yang mendayu-dayu, bercampur celoteh para lelaki. Semakin dekat dengan pos penjagaan, hidungku mencium aroma aneh.

“Rokok opium,” bisik Tong Rang.

“Mungkin aku harus minta sebatang,” Rudi bercanda. Hanya Tong Rang yang tertawa.

“Ayyeeeeeee!!! Kapten!!!” Theo mengangkat dua tangannya tinggi-tinggi begitu kami memasuki ruang terbuka.

Checkpoint itu serupa gubuk. Berdinding kayu hutan dan beratap seng. Ada lima orang tentara, semuanya langsung berdiri. Dua di antaranya memegang AK-47. Orang yang paling tinggi dan badannya agak berisi, yang disebut Kapten oleh Theo, melangkah mendekat.

“Helloooooo…! Tamu Kolonel C telah datang!” Serunya, sama sekali tidak terdengar mengancam. Bibirnya menjepit rokok, membentuk senyuman. “Lihat dokumen mereka,” tanpa menarik rokoknya ia memerintah salah satu anak buahnya.

Tim melepas topi dan mengangguk. Ia sodorkan map berisi dokumen. Kapten bisa berbahasa Inggris sedikit, tapi minta Theo untuk menerjemahkan. Tim menjawab pertanyaan Kapten dengan bantuan Theo, penjaga lainnya mengawasi kami. Kembali kulantunkan doa di dalam hati, cukup bagiku Tuhan, Penolong kami dan sebaik-baik Pelindung kami. Berulang-ulang. Kuusahakan tersenyum wajar saat menatap mata Kapten yang mengarah padaku.

“Okay! Selamat datang di istana kami!” Dengan rokok masih terselip di bibir, Kapten mempersilakan kami lewat.

“Khap kun krap,” ucap Tim sambil memakai kembali topinya.

“Krap.” Balas sang Kapten cengengesan.

Lima menit melewati pos penjagaan, telingaku mulai menangkap suara-suara aktivitas manusia. Tawa anak-anak diselang-seling rengekan bayi. Suara palu diketuk-ketukkan kayu ditingkah kotek ayam betina dan suara orang berbicara. Hidungku pun mencium bau masakan dan sesuatu yang terbakar. Kulihat asap mengepul menerobos atap-atap rumbia, menandakan di kampung itu ada kehidupan.

Beberapa menit kemudian, kami berada di tanah landai, pepohonan mulai jarang, di depan kami terlihat sebuah perkampungan. Rasa ngeri tiba-tiba mencengkeram ulu hatiku. Perkampungan itu dari kejauhan terlihat seperti desa jadi-jadian. Seakan aku tidak sedang berada di bumi. Hidup macam apa yang mereka jalani di negeri sendiri, pikirku, hingga mereka bertaruh nyawa, berlari menembus hutan belantara, bersembunyi dan bermukim di negeri orang, di atas pegunungan yang jauh dari peradaban.

Jarak kami kurang dari 20 meter saat dua orang lelaki keluar dari pos penjagaan di depan gerbang. Salah satunya memakai longyi kotak-kotak kecil hijau tua, dililitkan kuat di pinggangnya; dadanya hanya tertutup rompi kulit mentah dijahit tangan. Kulitnya sawo matang. Dadanya tegap dan bidang. Sosok dan wajahnya menunjukkan ia berdarah campuran. Yang seorang lagi memakai seragam tentara, masih remaja.

“Selamat datang di kamp pengungsi Ban Mae,” sapa si lelaki berlongyi. Bahasa Inggrisnya beraksen Australia. Sorot mata dan wajahnya menandakan ia berpendidikan. Si remaja berbaju tentara memandang kami tanpa ekspresi.

“Saya Mike,” lelaki berlongyi itu memperkenalkan diri, menawarkan tangan pada Tim. Mereka berjabat tangan dengan hangat. Tim memperkenalkan kami. Kho dan Theo sudah mengenal Mike cukup lama. Mereka saling berpelukan.

“Selamat datang, Madam,” ucap Mike padaku. Senyum lelaki itu bersahabat. Ia ulurkan tangannya yang kusambut segera. “Saya sangat menghargai kehadiran Madam di sini.” Tubuh tingginya ia bungkukkan.

HT yang terselip di pinggang Mike sedari tadi berisik, memperdengarkan gurauan dan sapaan antarpenjaga yang mengelilingi kamp. Mike meraih HT itu, mengabarkan pada Kolonel bahwa rombongan telah datang.

“Antar mereka kemari,” perintah Sang Kolonel pada Mike. Dalam bahasa Inggris Mike meminta kami mengikuti. Dalam bahasa Thai ia menyuruh si remaja berbaju tentara kembali ke pos jaga.

Tim dan Mike paling depan. Mereka saling bertukar cerita seperlunya. Aku dan Kho berjalan agak di belakang.

“Ayah Mike orang Australia,” ujar Kho.

“Sudah saya duga kalau ayah atau ibunya pasti Kaukasia,” kataku.

“Orang tuanya tinggal di Sydney. Mike keluar dari pekerjaannya di London dan jadi relawan di sini. Ia seorang fotografer. Punya restoran kecil di Chiang Mai. Sebulan sekali ia ke Chiang Mai untuk mengurus restorannya itu. Lelaki yang sangat baik.”

“Ya.” Aku tak tahu harus bilang apa. Semakin dalam kuselami pekerjaanku, semakin kutemukan karakter manusia yang tidak biasa. Mike hanyalah salah satunya.

** 

Gadis kecil itu sedang bermain lumpur bersama teman-temannya. Rambutnya yang sebahu basah oleh keringat. Goresan lumpur mengotori pipi kiri dan jidatnya. Tangan kanannya penuh lumpur. Pasti dia menyentuh atau menggaruk pipi dan jidatnya dengan tangan yang kotor itu. Kurogoh saku ransel, kukeluarkan sebungkus tisu basah lalu kulangkahkan kaki mendekati si kecil. Aku berjongkok. Mata sipit gadis usia 6 tahun itu menatapku tanpa berkedip. Ia membiarkanku membersihkan pipi dan dahinya.

“Hai,” bisikku. Wajah kami saling berdekatan hingga nafasnya terasa membelai keningku.

“Hai,” si kecil ikut berbisik. Di mulut kecilnya terukir senyuman. Mata sipitnya makin menyempit. Ia menikmati usapan tanganku. Aku tidak dapat menahan diri untuk mengelus rambutnya. Terasa sekali di tanganku, rambut lurus halus itu sudah lama tidak dicuci. Tubuhnya terbalut rok katun merah bermotif bunga sakura. Dari kualitasnya, rok itu pasti pemberian seseorang dari luar kamp. Sekujur tubuh gadis kecil itu menguarkan bau matahari bercampur keringat. Bau amis anak-anak sebayanya, hanya lebih menyengat. Kami saling menyapa melalui pandangan mata dan senyuman. Agak lama kami hanya saling memandang tanpa bertukar kata kecuali seruan ‘hai’ yang tadi kami bisikkan.

“Jennie,” terdengar suara perempuan dewasa dari belakang punggungku. Aku menoleh. Seorang perempuan kulit putih usia akhir duapuluhan berjalan mendekat. Rambutnya yang berwarna chestnut dipangkas pendek seperti lelaki. Matanya yang sewarna langit siang itu tersembunyi di balik kacamata minus. Bibir tipisnya kering namun tidak mengurangi keramahan senyumannya.

“Namanya Jennie,” perempuan itu ikut berjongkok di sampingku. “Nama yang sama dengan dokter Kanada yang menemukanya enam tahun lalu. Orang tuanya ditembak patroli militer Burma di perbatasan. Karena keajaiban, si bayi masih bernafas saat rombongan relawan menyisir wilayah itu untuk memandu pengungsi menerobos perbatasan. Dokter Jennie ingin mengadopsi bayi itu, namun paman si bayi tidak merelakan. Ia minta agar keluarganya mengijinkan dokter Jennie menamai anak itu seperti namanya.” Perempuan muda berambut cepak itu menjelaskan tanpa kuminta. Matanya lembut menatap Jennie. “Saya Cynthia. Salah satu relawan yang mengajar di sekolah itu.” Cynthia menunjuk bangunan bambu di sudut jalan.

“Saya Mia. Kebetulan sekali. Saya ditugaskan mewawancara guru dan relawan di sekolah itu,” jelasku. “Termasuk mencatat semua kebutuhan,” tambahku.

“Ah. Kebetulan hari ini hanya ada saya. Kalau begitu kita akan banyak diskusi,” ujar Cynthia. Kami bersalaman, masih dalam posisi berjongkok. Dari belakang Jennie menarik-narik tanganku. Memintaku berdiri.

“Rupanya Jennie ingin mengajak Anda jalan-jalan. Silakan. Saya tunggu di ruang kelas,” berkata begitu Cythia berdiri. “Jennie, ajak teman barumu jalan-jalan. Yang manis, ya.” Dengan sayang Cynthia mengusap rambut Jennie. “Sampai ketemu. Tidak perlu tergesa-gesa, saya tidak akan kemana-mana.” Cynthia melambaikan tangan lalu berbalik menuju bangunan sekolah.

Tangan mungil Jennie berada di genggaman tanganku. Lima orang gadis kecil lainnya terus bermain lumpur. Mereka menatap kepergian kami sambil tertawa-tawa. Jennie ikut tertawa namun tidak berkata-kata. Tubuh mungilnya melompat-lompat di sampingku.

Di kanan kiri kami dipadati rumah-rumah bambu, mengingatkanku pada gubuk-gubuk di sawah, tempat para petani sembunyi dari sengatan matahari. Dindingnya di sana-sini ditambal dengan plastik, karton, atau dus-dus bekas bungkus barang elektronik. Dedaun kering yang menjadi atap meriap-riap terhembus angin. Pada musim hujan, air merembes ke dalam gubug dari atap itu, dari dinding yang berlubang. Genangan air ada dimana-mana. Nyamuk-nyamuk pembawa malaria bersuka-ria, beranak-pinak. Mereka pesta pora, menghisap darah manusia yang tubuhnya tak bergizi. Menyebarkan petaka, menyabut nyawa.

Rumah-rumah itu terbagi dalam blok-blok. Tanahnya merah dan berlempung. Bila basah, permukannya menjadi sangat licin dan liat, bisa menjebolkan sol sepatu yang tidak dirancang untuk medan berat.

Jennie kecil sudah enam tahun tinggal di tempat ini. Kakinya jarang teralasi. Perutnya tidak selalu terisi nasi. Namun Jennie tampak bahagia. Di sekolah ia bernyanyi dan bermain bersama teman-temannya. Belajar menulis dan membaca. Bila malam tiba, Jennie tidur di atas tikar bersama paman, bibi, dan tiga sepupunya.

Maung Si, kakak lelakinya yang kini telah berusia 16 tahun, ditolong Mike, dibawa ke Chiang Mai dan bekerja di restorannya.

Kami melalui sebuah rumah yang ada warung kecilnya. Jennie menarik-narik tanganku. Kepalanya menengadah, mencari mataku. Aku tahu keinginannya. Permen.

“Candies?” tanyaku dalam bahasa Inggris, aku tak bisa berbahasa Thai. Kugerakkan dua tanganku, seperti sedang membuka bungkusan permen dan memasukkan ke mulutku. Jennie berjingkrak-jingkrak. Diulangnya kata ‘candies’ dengan ucapan yang nyaris sempurna.

“Yes, Jennie. Candies.” Aku berjongkok, mencubit pipinya.

Dengan uang Baht 20, Jennie mendapat sekantung kecil permen warna-warni. Tak sabar tangan-tangan kotornya membuka satu, lalu sebutir permen rasa strawberry itu masuk ke mulutnya. Beberapa pasang mata memandang kami. Ada salah satu yang menyapaku dengan bahasa lokal, ia mengira aku salah satu relawan yang membantu Cynthia.

“No Thai. No Burma,” kutundukkan kepala sedikit dan kulempar senyum, “School. Cynthia,” tambahku.

Para pengungsi tahu kalau wisatawan hampir tidak mau menginjakkan kaki ke kamp itu. Lokasinya di atas pegunungan, terpencil dan sulit dijangkau. Saat hujan jalan lempungnya licin, membahayakan kendaraan apapun yang nekat merangkak naik. Belum lagi ancaman nyamuk mutan pembawa malaria dan demam berdarah yang sudah resistan terhadap obat-obatan. Sungguh, bukan tempat untuk mencari hiburan.

Kugandeng tangan mungil Jennie. Kami berbalik, melangkah ke tempatnya bermain tadi. Teman-temannya masih ada di sana. Jennie bernyanyi-nyanyi. Ia menikmati butiran merah lunak yang terasa manis di mulutnya. Tidak setiap minggu ia mendapat hadiah seperti itu.

** 

Beberapa bulan berlalu sejak tangan Jennie kugenggam sambil berkeliling kamp pengungsi Ban Mae. Hujan sejak subuh mengguyur Jogja, menghanyutkan ingatanku kembali pada gadis kecil itu. Seminggu lalu aku menerima telepon dari Cynthia, kini ia sedang bertugas di perbatasan Pakistan-India.

Siang tadi kuterima email dari Mike disertai foto-foto. Kulihat Jennie bersama orang tua angkatnya berpose begitu cantik, di latar belakang berdiri megah Sydney Opera House. Sambil memandang keluar jendela sepotong doa kukirimkan lewat udara. Semoga Tuhan menjadikan Jennie perempuan mulia, pembawa kebaikan bagi sesama.

*** 


Catatan:
Cerita pendek ini juga diunggah di Baltyra

Selasa, 31 Januari 2012

Oops! J50K

Pepatah Barat mengatakan bahwa sesekali orang perlu “bite off more than you can chew”. Begitu memutuskan melakukannya, menurut saya hanya ada satu hal yang layak dibawa sebagai bekal: niat.

Ingat saat bulan puasa: sebelum berpuasa, tiap hendak sahur orang mengikrarkan niatnya; hasilnya ia bisa tahan tidak makan/minum selama lebih dari 12 jam, meskipun ada rasa lapar, namun mampu mengabaikan rasa itu hingga saat berbuka tiba. Bandingkan dengan bulan-bulan lainnya. Saat waktu menunjukkan pukul 13.00, perut mulai menjerit-jerit, sementara pekerjaan numpuk nggak bisa ditinggal, orang akan cenderung berkeluh kesah akibat perut lapar; bila sudah tak tertahankan, pekerjaan ditinggal untuk menghentikan jeritan.

Bekal niat ini saya tinggalkan dalam menempuh perjalanan menulis sepanjang 50K alias 50 kilo alias 50.000 kata di bulan Januari ini. Ya. Kalau saya berkeras menulis sebanyak 50K di Januari ini, saya “bite off more than I can chew.” Sayangnya, sejak awal saya sudah niat untuk tidak niat. Tentu saya punya alasan. Pastinya menurut saya alasan itu juga bagus. Terlepas dari alasan, saya membandingkan kegiatan J50K yang saya ikuti tahun 2011 dengan J50K tahun ini. Saat itu separuh waktu di bulan Januari juga tersedot untuk urusan pekerjaan; bahkan saya sedang berada di pedalaman Thailand. Oh, ya, ngomong-ngomong, saya bukan pekerja kantoran, saya banyak jalan-jalan di ‘lapangan’. Namun karena saya mengantungi segepok niat, meskipun tidak tuntas hingga 50 kilo, tulisan saya bisa menembus angka 42K.

Bagaimana dengan J50K 2012? Dengan kecut saya akui, saya hanya mampu berjalan sejauh 8K. Apakah lalu saya akan mengkambinghitamkan Si Niat – hmmm Niat itu kakinya berapa, ya? Jelas tidak. Ia, Si Niat itu, adalah bagian dari diri saya. Ia menghuni entah di sebelah mana dari tubuh saya. Mungkin di otak, atau sesekali pindah ke hati, kadang-kadang sembunyi di rongga dada, membujuk jantung memompa darah makin cepat, supaya tumbuh semangat.

Beberapa jam lagi Januari akan pergi. Ia baru pulang 11 bulan kemudian. Saya punya cukup banyak waktu menimbang-nimbang: apakah tahun depan saya akan mengajak Si Niat menyusuri perjalanan 50.000 kata berikutnya? Jawabnya belum pasti, sebab saya harus berusaha agar bisa bertemu dulu dengan Januari...

Tulisan pendek ini saya persembahkan untuk semua sahabat tercinta di Kampung Fiksi, saya sebut sesuai abjad: Deasy, Ge, Indah, Meli, Ria, Sari dan Winda; juga semua Nekaders yang meramaikan J50K. BTW, tulisan ini pun dibuat dengan niat bulat, makanya meskipun saya benar-benar sedang tergesa-gesa, bisa selesai juga akhirnya. Olala…

***

Rabu, 28 Desember 2011

Bapakku, Bapakmu, Bapak Kita

Lulu oleh Azam Raharjo
 “Siapa coba yang nggak kenal bapakku di kampung ini?” Wajah Lulu bagai siap perang saat teman mainnya, Herman, mengejek nama sang ayah. Dua tangan kurusnya berkecak pinggang. Kaki-kakinya mengangkang. “Bapakku orang penting, tahu!” Kini mata Lulu melotot. Rambut ekor kudanya seolah ikut menegang.

“Salah sendiri… punya nama kayak gitu…”

“Beraninya cuma sama anak perempuan!” sungutnya, memandang anak lelaki berkaus sewarna bunga sepatu itu. “Lihat kausmu itu. Kemayu!” Lulu menekan kata ‘kemayu’ kuat-kuat. Anak lelaki pasti marah kalau dibilang kemayu.

“Lulu…” Dari jendela di belakang punggung Lulu terdengar suara perempuan dewasa yang menyiram sejuk tengkuknya. Suara Yu Mugir.

“Salah sendiri! Dari tadi ngeledekin Bapak. Jauhari… jauhari… jauh di mata dekat di hari…!” Gadis 10 tahun itu mencibirkan bibir menirukan ejekan Herman.

“Aku kan udah minta maaf!” protes Herman.

“Halah! Kemarin juga udah minta maaf. Nyatanya diulangi lagi! Semprul!”

“Lulu…” Yu Mugir kini tidak hanya mengeluarkan suara, kepalanya ikut menyembul dari jendela. Perempuan itu meletakkan selembar seprei biru langit yang hendak ia pasang di kasur Mimi, adik Lulu. “Jangan begitu. Ndak baik misuh-misuh, Nanti didukani Ibu…”

Meskipun wajah Lulu berkerut, ia menurut. Hatinya meleleh oleh kata-kata Yu Mugir yang tak pernah bosan mengingatkan bila momongannya itu berucap sembarangan. Berangsur-angsur cemberut di wajah Lulu menghilang, digantikan senyum tertahan.

“Maaf, ya, Lu…” Herman mengangsurkan tangan kanannya, jempol dan tiga jarinya tergenggam menyisakan kelingkingnya. Pertanda ia ingin berbaikan dengan sahabatnya. “Kamu boleh kok ganti ngenyek bapakku,” ujar anak lelaki 11 tahun itu malu-malu. Nama ayah Herman lebih sering dipakai sebagai bahan olok-olok oleh teman-temannya karena tak sebagus nama bapak Lulu …


Ikuti lanjutan ceritanya di bulan Januari…

Sabtu, 17 Desember 2011

Kumpulan Kisah Masa Kecil

Ini dia yang akan menjadi sasaran tembak J50K saya. Sudah lama saya pengin banget nulis kisah petualangan masa kecil saya. Cuma, yaaa… keinginan suka temangsang di awang-awang. Maunya cerita ini saya juduli “Merangkai Kisah Masa Kecil”. Namun bisa jadi – seperti biasa - saya berubah pikiran.

Kisah ini akan menampilkan tiga gadis cilik, yang pasti semua imut dan cerdas dan ceria. Nama mereka Lulu, Mimi dan Riri. Jaman saya kecil dulu, seabad lalu, yang namanya anak cewek harus gemi-setiti-ati-ati dan manut-miturut-andap-asor…. Padahal si Lulu itu bandel setengah mati; suka ngejar lori apa gerobak pengangkut tebu cuma untuk nyuri sebatang tebu. Si tebu yang malang itu lalu ia potong-potong kecil dengan pisau kethul, terus disesap airnya sampai tinggal ampasnya.

Trio Lulu-Mimi-Riri. Ilustrasi oleh Azam Raharjo

Mereka bertiga tumbuh di sebuah kampung di Jogja yang tergolong ‘elit’ di masa itu. Namun di dalam kampung itu ada juga keluarga yang tidak berpunya dan mereka suka bermain dengan anak-anak mereka. Di rumah mereka ada beberapa pembantu. Para pembantu ini akan menjadi semacam ‘malaikat penjaga’ bagi si trio imut itu.

Kisah akan dibangun sekitar petualangan mereka bertiga. Para malaikat penjaga dan anak-anak kampung akan menjadi tokoh-tokoh yang terlibat dalam kisah mereka.

Salah satu hal yang sulit dalam merangkai kisah ini adalah risetnya. Mengapa? Yaa… karena peristiwa-peristiwanya sudah begitu lama dan banyak hal tidak saya ingat lagi. Misalnya kelereng; saya sungguh lupa harganya sebutir. Atau harga segelas es dawet… ini pasti akan bikin mumet!

Meskipun begitu saya tetap berharap kisah ini akan jadi asyik; nulisnya dan terutama bacanya. Kalau tidak… yaaa… anggap saja saya sedang berusaha nyengget mimpi yang temangsang itu tadi.

***

Jumat, 16 Desember 2011

Malaikat Penjaga

Kalian di rumah punya pembantu? Aku punya. Sepanjang hidupku yang bisa kuingat, di rumahku selalu ada pembantu. Bahkan waktu aku kecil, kami punya lebih dari satu.
'Mbok Mangun' oleh Azam Raharjo

Ada yang tugasnya khusus memasak dan mencuci, namanya Mbok Mangun. Kok Mbok, sih? Ya, karena di mataku, saat itu, ia tua sekali. Setiap hari ia pakai kain dan kebaya. Badannya, seingatku, besar dan kokoh. Rambutnya selalu digulung cepol seperti umumnya perempuan desa di Jawa. Oh, ya, dia juga suka nginang. Itu lho, mengunyah daun sirih dicampur injet. Selepas makan siang, setelah pekerjaannya beres, Mbok Mangun akan duduk di amben besar, di dapur, mengunyah sirih sampai keluar cairan merah sewarna darah. Hiii…, ngeri! Terus, cairan merah itu ia ludahkan ke dalam kaleng bekas susu bubuk, “Cuiihhhh…,” lalu dia usapkan segenggam tembakau ke mulut dan giginya. Bibirnya merah menyala seperti drakula. Kalau sudah begitu, Mbok Mangun betah duduk berlama-lama, sampai terdengar adzan ashar dari masjid.

“Luluuuu…! Mimiiii…! Ririii…! Mandiii…!!!” Begitu cara Mbok Mangun memanggil-manggil nama kami kalau kami masih asyik bermain selepas pukul 4 sore. Lulu itu namaku, Riri adikku yang nomer dua dan Mimi adik bungsuku.

Anak semata wayang Mbok Mangun juga tinggal di rumah kami. Namanya Boiman, panggilannya Kebo. Waktu aku kecil, ibuku punya usaha batik, orang-orang menyebutnya juragan batik. Kebo ini salah satu asisten Ibu. Pekerjaannya menyeterika kain-kain batik dan melipatnya dengan rapi sebelum dikirim ke toko-toko di Malioboro. Seterika berisi arang itu besar sekali, melihatnya saja ngeri. Kalau berdiri di dekat seterika itu rasanya seperti berada di depan kompor. Panas sekali. Mungkin itulah sebabnya, Kebo jarang memakai baju. Tubuhnya yang besar – ya, memang seperti kebo – dan kulitnya yang gelap itu hanya ditutupi selembar singlet. Kopiah yang kekecilan selalu nangkring di kepalanya. Ia sering disuruh Ibu menjemputku dan Riri di sekolah dengan sepeda. Kami akan dibonceng berdua. Wah. Bau keringatnya menyengat. Tapi kami tidak berani protes, sebab dia akan menyuruh kami turun lalu pulang berjalan kaki. Tentunya waktu itu Kebo hanya bercanda, meskipun saat itu kami anggap ia sungguh-sungguh dengan ancamannya.
'Kebo' oleh Azam Raharjo

Nah. Yang ketiga bernama Mugirah. Kami memanggilnya Yu Mugir. Pembantu yang satu ini, sungguh, di mata kami cantik sekali. Kulitnya langsat. Alisnya tebal hitam dan senyumnya manis. Tidak seperti Mbok Mangun, suara Yu Mugir lembut.

“Kalau Lulu mandi dulu, Riri dan Mimi pasti juga mau mandi,” begitu caranya membujuk kami untuk mandi sore.

Kalau habis keramas, rambutnya yang panjang dan hitam mengkilat itu ia biarkan terurai. Hmmm…, wangi sekali. Yu Mugir, seperti Mbok Mangun, sehari-hari juga memakai kain dan kebaya. Tapi tubuh Yu Mugir langsing dan kebayanya lebih warna-warni. Mungkin karena ia masih muda. Kata Ibu, Yu Mugir itu kembang desa. Ia semacam baby sitter Mimi.

Waktu aku kecil, Mbok Mangun, Kebo dan Yu Mugir adalah malaikat penjaga yang senantiasa melindungi kami meskipun kehadiran mereka tidak begitu aku sadari. Baru bertahun-tahun kemudian ketika mereka sudah pergi, dan aku beranjak dewasa, aku mengerti betapa berartinya peranan mereka dalam membesarkan aku dan adikku.

Masih teringat hingga kini, bagaimana adikku, Mimi, menjerit-jerit karena sehabis menikah Yu Mugir diboyong oleh suaminya keluar dari rumah kami.
'Yu Mugir' oleh Azam Raharjo

“Aku mau Yu Mugiiir…!!!” Begitu teriakan Mimi. Mukanya sampai jadi biru akibat menangis sepanjang hari.

“Yu Mugir pulang ke rumahnya, Sayang,” bujuk Ibu. Tapi Mimi tetap tak bisa menerima. Akhirnya, Yu Mugir kembali lagi ke rumah kami. Kalau malam, setelah Mimi tidur, suaminya menjemput. Pagi-pagi, sebelum Mimi bangun, Yu Mugir sudah datang lagi.

Yu Mugir baru benar-benar berhenti merawat Mimi tiga bulan sebelum melahirkan anaknya yang pertama. Aku lupa kapan tepatnya, Mbok Mangun juga harus pulang ke desa karena tak kuat lagi bekerja. Sesekali ia masih menengok kami. Akan halnya Kebo, ia keluar juga karena Ibu memutuskan berhenti jadi juragan batik. Kebo lalu jadi petani.

Sungguh sulit melupakan cinta mereka pada keluarga kami dan rasanya jasa mereka tak akan terbalaskan. Mbok Mangun meninggal saat aku sudah duduk di bangku kuliah. Yu Mugir masih hidup hingga kini, namun suaminya meninggal lima tahun lalu karena sakit paru-paru. Anak sulungnya menjadi pegawai bank swasta ternama di Surabaya. Bila Lebaran mereka tak pernah lupa berkunjung ke rumah Ibu, dengan mobil mengkilap, tak beda dengan mobil-mobil kami.

Sedangkan Kebo sudah bergelar haji dan kini dipanggil kyai. Kata Mimi, ia datang melayat dan membantu ini-itu ketika Bapak meninggal tujuh tahun lalu. Ia pun menengok Ibu saat rumah keluarga kami sebagian ambruk akibat gempa. Namun aku tidak sempat bertemu.

Siang tadi, kami merayakan ulang tahun Ibu. Kami tengah asyik menikmati kue ketika kudengar ketukan di pintu.

“Mbak Lulu ya?” Sapanya sewaktu pintu terbuka.

“Iya. Bapak siapa?”

“Kebo, Mbak. Boiman,” senyumnya lebar, memamerkan giginya yang ompong dua.

“Haaa? Kebo? Ya ampuuun…!” seruku beberapa detik kemudian. Tanpa sungkan, tubuhnya kupeluk dengan sayang. Ia sudah tua. Keringatnya tidak lagi bau. Yang pasti, tubuhnya tidak tampak sebesar dan sekokoh ingatanku. Ia datang untuk mengucapkan selamat ulang tahun pada Ibu.

“Waaah… kelapa muda!” teriakku menerima seikat kelapa muda dari tangannya.

“Ini kelapa kopyor, Mbak. Kesukaan Ibu…”

“Waaah…!!!” tanpa sadar aku bersorak seperti puluhan tahun lalu.

Mata Kebo berbinar. Beberapa butir kelapa kopyor di tangan kananku merayu-rayu minta segera dibelah sementara tangan kiriku menggandeng lengan Kebo; menuntunnya menemui Ibu.

Semenit kemudian, ruang keluarga pecah oleh hingar bingar sorak dua adikku.

***

Appetiser untuk suguhan Pesta J50K