Tampilkan postingan dengan label tips nulis novel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tips nulis novel. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Maret 2013

Mia Terseret Arus Cerita

Sumber: film dokumenter tentang pengungsi Burma
Cerita panjang – cerber atau novel atau apapun namanya – yang saya juduli ‘Tembak Di Tempat’ ibarat telur yang nggak juga menetas meskipun sudah dikerami selama 2 tahun. Wuih! Kalau menetas jangan-jangan nanti menjelma dinosaurus….

Tembak Di Tempat (TDT) ini hasil kegiatan J50K tahun 2011. Dulu, saya pingin banget menulis cerita tentang ‘pengalaman lapangan’ berdekatan dengan pengungsi di perbatasan barat-utara Thailand-Burma. Bayangan saya bakal asyik menulisnya. Memang asyik, sebab saya jadi membaca-baca laporan proyek, artikel, dan buku (fiksi dan non-fiksi) yang berkaitan dengan konflik di kawasan itu; juga mewawancarai teman-teman kerja dan memelototi foto-foto yang kualitasnya kurang mantap karena diambil dengan tergesa di sela-sela urusan pekerjaan.

Oh, ya… ketika mulai menulis TDT ini, saya sering mencuri-curi waktu kerja, sampai Bos saya tahu kalau saya punya ‘proyek sampingan’. Untungnya dia malah suka, bahkan membelikan beberapa buku untuk memperkaya wawasan saya.

Jadi proses menulis TDT ini saya awali dengan semangat 45. Selain itu, waktu itu saya sedang sangat ingin belajar menulis banyak tokoh dalam sebuah cerita, terilhami oleh novel-novel ‘besar’ yang saya baca.

Ternyata… amboi… ternyata. Menulis cerita dengan banyak tokoh – yang peranannya sama-sama penting – sulitnya berlipat-lipat. Tiap-tiap tokoh sudah saya rinci: tanggal/tahun/tempat lahir, pekerjaan, nama orang tua/saudara kandung, hobi, pendidikan, ciri-ciri fisik, kebiasaan, dan segala macam atribut yang bisa memperkaya karakter mereka. Tetapi semua rincian itu sering timbul-tenggelam terseret arus perkembangan cerita.

Mia, misalnya, si Aku yang menuturkan kisahnya. Dia adalah perempuan dewasa yang cenderung dingin, cuek, menahan diri (tertutup) terhadap lelaki, tidak suka dandan, punya hobi merajut (yang agak aneh untuk anak muda), membaca komik, dan mendengarkan musik klasik. Namun dalam cerita sepanjang 20 bagian itu (yang sudah rampung saya tulis dan masih ada beberapa bagian lagi hingga tamat) saya sama sekali belum pernah menyebutkan hobi merajutnya! Pun tak ada secuil kalimat yang menceritakan si lajang dari Jogja itu membaca komik. Konyol, bukan? Karakternya yang dingin itu juga baru terjelaskan dalam bagian 14, saat ia bertemu dengan Ronn. Namun, menurut saya, penjelasan itu dangkal dan ‘numpang lewat’, kurang mantap. Itulah yang saya maksud dengan ‘timbul tenggelam’.

Bukan hanya Mia saja. Setelah saya baca ulang, sebelum meneruskan menulis bagian 21, tokoh-tokoh lain seperti Tim, Rudi, Tong Rang, Naing Naing, dan Ronn seolah terbenam dalam plotnya. Tim, Mia, Tong Rang, dan Ronn punya sejarah hidup yang maunya… mau saya… akan jadi sub-plot. Namun, masih menurut saya, mereka justru hilang di antara tumpukan sub-sub-plot itu. Hadeeeh…!

Karena sudah mencapai 20 bagian (masing-masing bagian sepanjang kurang-lebih 1.500 kata), beberapa hal tentang tokoh-tokoh itu terpaksa tidak saya ungkapkan dalam cerita. Sudah terlambat! Artinya karakter mereka jadi berbeda dengan keinginan awal saya. Tentu saja saya kecewa. Paling tidak rencana saya untuk menceritakan mengapa Mia memilih merajut untuk mengisi waktu luangnya tidak kesampaian.

Mengapa sampai begitu? Entahlah…. Mungkin jawaban yang paling masuk akal adalah saya masih harus banyak belajar menulis, terutama menguasai teknik-teknik pengembangan karakter para tokohnya agar mereka tidak tertutup oleh jalan ceritanya. Sebab salah satu elemen terpenting cerita adalah karakter para tokohnya.

Meskipun begitu, cerita yang saya nilai bantat itu rupanya disukai beberapa pembaca. Tidak banyak, jumlah mereka bisa dihitung dengan jari tangan kanan. Dan yang membuat saya sukaaa… salah satu pembaca ‘setia’ bisa menangkap premis atau sesuatu yang mendasari kisah TDT ini: drama yang dilakoni orang-orang yang membantu para pengungsi, bukan kisah konflik di perbatasan Thailand-Burma.

Untuk para pembaca itu, saya berhutang terima kasih. Karena mereka, saya tetap bersemangat meneruskannya. Meskipun tidak banyak, bagi saya, pembaca – yang menikmati cerita saya – adalah ratu dan saya senang melayani mereka.

***

Rabu, 02 Januari 2013

Belajar Menulis Novel: Mengembangkan Karakter - 1


Tulisan ini semacam rekam jejak bagaimana saya mengembangkan dua karakter utama dalam novel perdana saya: Senja di Chao Phraya. Beberapa komentar pembaca novel itu saya petik untuk melengkapi tulisan ini. Ada juga sebenarnya sebuah tulisan pendek berisi kesan mendalam tentang dua karakter dalam cerita itu, namun sudah dihapus, jadi tidak bisa saya rujuk lagi.

Novel tersebut merupakan prasasti penanda berawalnya karir – waduuuhhh – saya di dunia menulis fiksi. Cikal bakal novel itu berupa kisah perjalanan sepanjang 5 ribu kata, berjudul Di Balik Belitan Razor Wire. Setelah tulisan itu jadi, saya terpicu untuk menaruh kisah cinta di dalamnya. Pikir saya, waktu itu, akan asyik.

Lalu saya ciptakan 2 tokoh utama, perempuan Jogja bernama Larasati dan lelaki bule bernama Osken O’Shea. Di pertengahan tahun 2010, lahirlah sebuah cerita bersambung 4 episode, saya juduli ‘Senja Di Chao Phraya’. Dua tahun kemudian, tanpa terasa kisah cinta itu berkembang menjadi naskah setebal 210 halaman A-4, sejumlah 55 ribu kata.

Pada bagian pertama ini akan saya bagikan pengalaman saya mengembangkan karakter Larasati.

Alkisah, hiduplah perempuan Jogja bernama Jeng Larasati, dipanggil Laras, janda beranak dua, antropolog yang bekerja sebagai peneliti di sebuah lembaga penelitian internasional berkantor di Bangkok, Thailand.

Di benak saya, waktu itu, Laras saya ‘ciptakan’ sebagai perempuan bekerja, cerdas, mandiri, keras kepala, dan angkuh. Suaminya seorang lelaki sabar, mengerti karirnya, dan memberinya keleluasaan untuk menjadi diri sendiri. Suami idaman, pokoknya! Hidup Laras, awalnya, nyaris sempurna. Namun usia sang suami pendek.

Sepeninggal suaminya, Laras terguncang, karakternya berubah menjadi peragu, gamang, kikuk, terlalu keras menjaga citranya sebagai ‘janda baik-baik’. Galau, gitulah! Segala persoalan hidupnya bersumber pada dirinya sendiri. Dalam pikiran saya, perubahan karakter itu merupakan mekanisme pertahanan diri – defense mechanism – seorang janda yang hidup dalam lingkungan yang masih didominasi lelaki; dan dikelilingi perempuan yang – sadar atau tak sadar – menganggap lelaki adalah pelindung mereka. Saya merujuk pada salah satu teori psikoanalisis Freud (tidak akan saya jabarkan di sini, sebab pemahaman saya mungkin tidak tepat, bisa bahaya, apalagi saya bukan ahlinya). Saya membaca buku tentang teori-teori Freud yang ditulis oleh orang lain.

Untuk memperkuat karakter Laras, di sana-sini saya munculkan pikiran-pikirannya tentang berbagai hal, khususnya pendapatnya tentang janda dan keputusan-keputusan yang harus dibuat perempuan dalam menapaki hidupnya. Bisa jadi ungkapan-ungkapan pikiran pribadi Laras itu terlalu kuat, atau porsinya kebanyakan, sehingga banyak pembaca punya kesan bahwa Laras adalah perempuan yang sangat keras dan super galau.

Karakter tokoh dibangun lewat tiga elemen utama cerita: dialog, narasi, dan deskripsi. Kira-kira penerapannya seperti di bawah ini:

Dialog. Penulis bisa memakai dialog untuk menggambarkan karakter tokohnya. Misalnya ia ingin membuat tokoh yang suka mengumpat, bisa lewat dialog semacam ini:

“Anjing!” seru Rini. 
“Rin, sabar, ini malam tahun baru, di mana-mana lalu lintas macet.” 
“Kamu nggak usah banyak bacot! Yang nyupir siapa,” salaknya, menengok ke arahku. “Brengsek! Babi!” matanya melotot mengikuti mobil silver itu. 

Narasi. Untuk tokoh Rini di atas, bisa digambarkan dengan narasi seperti ini:

“… Wajah manisnya bertolakbelakang dengan kebiasaannya mengumpat. Bila sedang kesal, mulut Rini enteng saja menyebut aneka binatang berkaki empat semacam anjing dan babi. Telingaku sampai perih…” 

Deskripsi. Masih tetap memakai tokoh Rini sebagai contoh:

“… Mulut Rini monyong satu inci, menyumpahi pengendara mobil yang menyalip dari kiri, nyaris membentur kaca spion mobil kami. Matanya tak berhenti melotot mengikuti mobil silver itu. Umpatannya keras dan keji, membuatku membayangkan seekor anjing kurus kurapan yang liurnya penuh virus rabies…” 

Agar kesan pembaca terhadap karakter si tokoh tidak meleset jauh dari keinginan penulis, diperlukan latihan terus menerus.

Penulis juga harus ingat bahwa manusia umumnya tidak berkarakter tunggal: baik atau buruk, hitam atau putih. Kebanyakan orang – atau mungkin malah semua – berkarater campuran: rendah hati, pintar, dan pelit; cantik, sombong, miskin, dan licik; sopan, tampan, curang, dan pemalas.

Kembali pada salah satu tokoh utama dalam novel saya, Larasati. Seorang pembaca punya kesan Laras ini penampilannya cantik namun hatinya bulukan. Beberapa pembaca perempuan begitu geram pada Laras. Ia dianggap semena-mena terhadap lelaki yang di/mencintainya. Ia dinilai kelewat galau, peragu, sekaligus super jaim.

Sungguh saya tidak berencana membuat tokoh utama saya sekelam itu. Bahwa Laras angkuh, jaim, dan galau, itu sudah saya rancang sejak awal. Namun ia juga baik hati, suka mengalah, siap berkorban apapun untuk keluarganya, dan sangat menghormati orang tua.

Rupanya saya terlalu bersemangat menonjolkan kegalauan dan keangkuhannya, baik lewat dialog, narasi, maupun deskripsi. Sifat-sifat baiknya kurang mendapat perhatian, jadi tak bisa ditangkap pembaca. Ini semua terjadi salah satunya karena saya belum piawai memadukan elemen-elemen dialog, narasi, dan deskripsi tersebut dalam kerangka kisah yang hendak saya bangun.

Semoga tulisan ini berguna bagi teman-teman yang sama-sama sedang menulis fiksi. Cermatlah memadukan dialog, narasi, dan deskripsi agar karakter si tokoh sesuai dengan keinginan kita. Namun perlu diingat juga, imajinasi dan pengalaman hidup para pembaca juga berperan penting dalam membangun karakter tokoh kita di dalam benak mereka.

Bagaimana dengan tokoh satunya lagi? Osken O’Shea? Akan saya bagi dalam tulisan berikutnya. Sabar, ya.

***

Selasa, 02 Oktober 2012

Dari Draft Naskah Menuju Novel

Januari 50.000 Kata atau J50K adalah kegiatan menulis novel sebanyak 50 ribu kata selama 31 hari di bulan Januari. Kegiatan ini terbuka untuk semua orang yang berminat dan berambisi untuk menulis novel selama sebulan penuh.

Kampung Fiksi sudah dua kali menyelenggarakan acara ini, di 2011 dan 2012. Pertama kali, peminatnya hanya duapuluhan. Kedua kalinya mencapai duaratusan. Tidak semua peminat yang benar-benar menulis dan menjejak tumpuan ‘start’ mampu mencapai garis ‘finish’. Itu hal biasa. Dalam acara apapun, pada awalnya peserta selalu bersemangat, namun tak semua berhasil mempertahankan semangat mereka sampai akhir. Termasuk diri saya, for sure!

Yang luar biasa adalah, beberapa peserta (yang mencapai 50 kata maupun yang tidak) berhasil meneruskan dan mengedit cerita mereka, lalu menerbitkannya jadi novel.

Elly Suryani, peserta J50K tahun 2011, berhasil merampungkan tulisannya. Sejumlah 23 prosa dan 2 puisi berjudul Ilalang Menarilah! ia terbitkan lewat Kampung Fiksi bekerja sama dengan Nulisbuku.com.

Pada tahun 2012, Adeliany Azfar berhasil menerbitkan novel berjudul ‘Kamu’ selepas hajatan ini. Seorang peserta lain, Winda Krisnadefa, lewat novelnya yang berjudul ‘Magali Chronicle’ mampu menembus 10 besar dalam lomba menulis novel Qanita Romance 2012 yang diselenggarakan penerbit Mizan.

Sebenarnya mengarang itu gampang. Memang. Dari awal tahun 80-an Arswendo Atmowiloto sudah bilang begitu, lewat tulisannya di majalah remaja Hai berjudul ‘Mengarang Itu Gampang’ yang kemudian dibukukan dengan judul sama. Saya akan mengutip sebagian isi buku yang disajikan dengan gaya tanya-jawab ini, khusus dari halaman pertama, yang menurut saya merupakan inti-sarinya.

1. Mengarang itu gampang. Apakah ini tidak salah judul? Tidak. Dan tentunya kamu tidak salah baca. Mengarang itu gampang. Sekurangnya lebih gampang dari yang kamu duga. Memang tak ada yang sukar, kalau kita mempunyai minat dan ambisi terus menerus.

2. Selain minat dan ambisi yang terus menerus, apa ada syarat lain? Ada syarat lain. Yaitu bisa membaca dan bisa menulis. Gampang kan? Kalau kamu sudah mengangguk berarti harus diperhatikan benar bahwa membaca dan menulis yang baik dan benar itu perlu latihan, perlu disiplin, perlu minat yang tak kunjung habis.

3. Minat lagi. Apa sebenarnya minat dan ambisi yang tak kunjung habis? Minat dan ambisi seperti juga rasa cinta. Terus mengalir. Ini didasarkan pada kepercayaan diri, bahwa dengan mengarang kita melakukan sesuatu yang kita cintai, dan kita percaya ada sesuatu yang baik yang bakal kita lakukan dengan itu.

4. Ambisi? Kalau kamu tidak mengenal putus asa. Mengarang memang tidak sekali jadi. Rasanya tak ada pengarang baik yang sekali jadi mengarang, dan langsung berhasil.

Dari 4 poin di atas, ada beberapa kata kunci yang oleh penulisnya sering diulang di dalam buku: minat, ambisi, membaca, latihan, disiplin, pantang putus asa, dan tidak sekali jadi. Nah!

Saat menulis ‘Magali Chronicle’, Winda Krisnadefa memenuhi semua syarat itu. Dan dia berhasil. Sebagai produk J50K, karangan Winda baru mencapai sekitar 15 ribu kata di akhir Januari 2012. Si Emak Gaoel ini kemudian memutuskan ngebut memperbaiki darft naskahnya selama 2 bulan penuh untuk mengejar deadline lomba Romance Qanita. Konon, bisa ia rampungkan sampai 47 ribu kata. Namun ia tidak berhenti pada jumlah saja. Karangan itu ia pangkas sana-sini, tambah ini-itu, sampai ia merasa siap melepasnya untuk lomba.

Untuk membuat karangannya hidup, Winda melakukan riset, juga membaca buku (novel lain dan buku-buku yang berkaitan dengan tema cerita). Ia kumpulkan setumpuk informasi seputar kuliner: tugas para chef restoran sampai chef di kapal pesiar, puluhan resep kue yang lagi nge-trend, dan berbagai hal tentang kehidupan seorang freelance writer di sebuah majalah. Semua informasi itu ia olah agar menyatu dengan plot yang sudah ia siapkan. Bukan pekerjaan sekali jadi, pasti. Butuh disiplin, fokus dan ambisi. Sebelum diterbitkan menjadi novel oleh Mizan, kemungkinan Magali Chronicle akan diedit lagi, agar makin bagus dan memuaskan pembacanya.

Produk J50K 2011 saya, berjudul 'Tembak Di Tempat', mencapai 42 ribu kata di akhir Januari. Delapan ribu kata di belakang garis finish. Cerita ini saya biarkan ngendon di folder selama setahun lebih. Baru saya tengok lagi awal April 2012.

Setelah saya baca ulang, ternyata dari 42 ribu kata itu separuhnya lebih hanya sampah. Sebagian kisahnya juga sudah saya comoti. Saya tulis ulang sebagai cerita pendek yang saya tayangkan di blog pribadi, milik teman, dan ada satu di Kompas.com berjudul 'Langit Merah Jambu'. Namun saya tetap punya ambisi untuk menyelesaikan karangan ini jadi sebuah cerita utuh.

Proses menyelesaikan, memperbaiki, dan mengedit itu butuh waktu dan tenaga yang tidak sedikit. Juga nyaris ‘tanpa ampun’: potong ratusan kata sana-sini. Seperti kata Arswendo, proses itu saya lakukan dengan penuh minat dan disiplin. Tiap hari saya baca dan tulis ulang, sebagian demi sebagian. Kalimat dan paragraf satu-satu saya bongkar. Beberapa bagian saya perdalam dengan riset. Sudah pasti saya membaca buku dan tulisan yang sesuai tema cerita, di antaranya konflik di Burma dan negara lain serta kisah-kisah korban kekerasan. Selain membaca, saya juga mencatat hal-hal penting (yang saya pikirkan, dengar, atau lihat) yang saya anggap akan mendukung jalan cerita.

Kadang kala sehari bisa selesai 2 ribu kata, namun tak jarang hanya beberapa paragraf. Pekerjaan mengarang-ulang ini, masih seperti kata Arswendo, saya lakukan dengan penuh cinta, saya resapi.

Saya tidak tahu bakal seperti apa jadinya kisah 'Tembak Di Tempat' ini. Apalagi cerita ini tidak memenangkan lomba apapun, tidak dipuji siapapun, pembacanya juga tidak banyak, hanya berkisar puluhan orang. Namun saya yakin, pada akhirnya akan muncul sesuatu yang baik, minimal untuk saya pribadi. Juga menumbuhkan keyakinan bahwa karangan yang berkualitas (dalam arti baik secara teknis sekaligus disukai pembaca) bukan karya sekali jadi. Sebelum bisa dinikmati pembaca – atau memenangkan lomba - ada jalan panjang berliku yang harus ditempuh lebih dulu.

***

Sabtu, 22 September 2012

Setting Dalam Novel

Setting untuk epilog Senja di Chao Phraya: sungai Potomac (dok. pribadi)
Buku The Lord of the Rings edisi pertama yang terbit pada Juli 1954 disertai lembaran peta besar ~ dicetak dua warna merah dan hitam ~ yang dilipat-lipat dan dilampirkan di bagian belakang buku. Peta itu menunjukkan wilayah bagian barat Middle-earth, Rohan, Gondor, Mordor, dan sebagian wilayah Shire, tempat bermukim para Hobbits. Dalam edisi selanjutnya (milik saya edisi 1994, Three-volume Boxed Set dari Houghton Mifflin, New York) supaya lebih praktis peta-petanya dibuat selebar halaman buku, hanya dicetak hitam saja.

J.R.R Tolkien, pengarang kisah kolosal The Lord of the Rings, membuat peta berlangsungnya cerita untuk memandu pembaca memahami lokasi cerita. Ia juga membuat satuan masa tersendiri untuk kaum Hobbits, yang disebut dengan 'the Shire-reckoning', yang disingkat SR. Tolkien menuliskan tempat dan waktu petualangan Frodo, Bilbo, Gandalf, Aragon, dan Lady Arwen sedemikian rinci dan memukau hingga pembaca fanatiknya memberi masukan - dan ikut menyempurnakan - untuk edisi kedua dan seterusnya.

Dimensi ruang dan waktu berlangsungnya sebuah kisah, itulah setting. Setiap kisah, siapapun pelakunya, pasti terjadi di ruang (tempat atau lokasi) tertentu dalam kerangka waktu tertentu. Setting amat penting dalam cerita, tanpa itu para tokohnya sulit bisa hidup dalam imajinasi pembacanya.

Eudora Alice Welty, pengarang perempuan Amerika yang memenangi Anugerah Pulitzer pada 1973 lewat novelnya The Optimist’s Daughter, mengatakan bahwa tempat atau lokasi membuat fiksi menjadi nyata, karena dari tempat itulah akan muncul kebiasaan-keboasaan, perasaan, dan relasi-relasi antarkarakter yang merupakan inti dari sebuah cerita.

Ruang, tampat atau lokasi 
Dimensi ruang bisa sekedar sebuah ruang periksa dokter hingga seluas Middle-earth, atau alam raya, termasuk planet yang namanya belum pernah didengar orang karena dicipta oleh sang pengarang. Dimensi ruang bukan melulu wadah fisik (ruang periksa dokter atau kota Jogja, misalnya), ia meliputi suhu udara, vegetasi, binatang, aroma, suara, bila perlu tekstur dan semua hal yang mungkin ada di dalam tempat terjadinya cerita.

Misalnya ruang periksa dokter, bila pengarang ingin mengajak pembaca lebih menangkap suasananya, bisa dituliskan suhu ruangannya, apakah AC-nya terlalu dingin hingga menambah badan si tokoh makin menggigil. Atau ada bau alkohol menyengat yang membuat bulu kuduk tokohnya berdiri saat si dokter hendak menyuntiknya. Bisa juga digambarkan dindingnya yang dilapis porselin mengkilat sampai-sampai wajah pucat si tokoh terpantul di situ.

Contoh lain, bila kisah terjadi di sebuah kota, pengarang bisa merinci beberapa elemen kota: sungai, jalanan macet, air mancur, hiruk-pikuk lalu lintas, deretan pedagang kaki lima, selokan mampet, dan lain-lain. Bahkan hujan pun bisa menjadi 'ruang': kisah sepasang muda-mudi yang bercinta di bawah rinai hujan. Mengapa tidak?

Rincian dimensi ruang ini disesuaikan dengan jalan ceritanya, tidak ditulis semena-mena. Kepengin mengarang kisah cinta di Jogja yang dihiasi salju? Tak ada yang melarang. Tapi jangan serta merta salju itu turun serupa hujan, harus ada alasan yang masuk akal. Mungkin terjadi gempa hebat hingga wilayah pegunungan Gunung Kidul melesak, batuannya menggeser lempeng bumi, menyebabkan munculnya sebuah gunung tunggal setinggi hampir 10 ribu meter, begitu tinggi hingga puncaknya diselimuti salju. Bencana dahsyat itu hanya menyisakan belasan penyintas saja dan salah duanya saling jatuh cinta dalam upaya menyelematkan diri.  Contoh kisah nyata: Sidoarjo dulu sebuah persawahan subur, akibat kecelakan pengeboran tempat itu kini menjelma lautan lumpur. Apalagi dalam fiksi, semua hal bisa terjadi.

Kurun waktu, masa, atau periode 
Dimensi waktu bisa ditetapkan hanya beberapa menit hingga berabad-abad. Bila mampu pengarang pun berhak menentukan satuan waktu sendiri, sesuai kisahnya, sebagaimana Tolkien menetapkan satuan waktu Shire-reckoning (SR) itu.

Periode berlangsungnya cerita ini menentukan banyak hal, salah satunya perkembangan para tokohnya. Misalnya pengarang mematok waktu 30 tahun, para tokohnya harus ikut berkembang selama itu. Ketika awal cerita si tokoh masih bayi, mestinya di akhir cerita si tokoh sudah dewasa, atau sudah beranak-pinak. Bila hendak memilih satuan waktu yang berbeda dengan satuan waktu yang dikenal (detik, menit, jam, hari, minggu... dan seterusnya) sebaiknya harus diberi penjelasan yang rinci, seperti dalam The Lord of the Rings, agar pembaca tidak kebingungan.

Kurun waktu ini juga mempengaruhi karakter si tokoh, termasuk pakaian dan kelengkapan pendukung cerita. Perempuan Indonesia yang hidup di era 40-an mungkin belum banyak yang memakai jeans. Begitu pula dengan hal 'sesederhana' telpon seluler, harus tahu kapan ia mulai dipakai di Indonesia. Termasuk dalam dialog, penggunaan slank, dialek, aksen, dan istilah harus hati-hati. Seingat saya, jaman saya remaja dulu, belum banyak atau nyaris tidak ada, remaja asli Jogja yang memakai kata 'gue' ketika ngobrol dengan teman. Kalau sekarang lain lagi, meskipun kelahiran Jogja, banyak sekali remaja yang berbicara dengan aksen Jakarta lengkap dengan semua slank-nya.

Perlu riset 
Antara tempat dan waktu harus saling mendukung dan masuk akal. Tempat bisa ditentukan di negeri khayalan, begitu juga satuan waktunya. Namun keduanya tetap harus berkaitan. Untuk cerita yang terjadi di bumi, pada tahun 2012 ini, matahari mestinya tampak di siang hari. Kalau ingin memunculkan matahari di malam hari bisa saja namun harus ada alasannya; entah apa yang sesuai dengan cerita. Hari-hari menjelang kiamat, mungkin. Matahari tiba-tiba muncul tepat pukul 12 malam, bumi berputar makin cepat pada porosnya dan orbitnya mendekat ke matahari. Namun itupun sebaiknya dijelaskan lagi, mengapa bisa begitu? Mungkin ada planet dari tata surya tak dikenal yang terlontar ke dalam tata surya Bimasakti, lalu menyerempet bumi...

Novel pertama saya, Senja di Chao Phraya, settingnya meliputi beberapa lokasi dalam rentang waktu sekitar 5 tahun (September 2009 sampai April 2014). Saya membuat catatan cukup rinci agar para tokohnya berkembang sesuai dengan rentang waktu itu. Misalnya di awal kisah salah satu tokoh pendukungnya masih kuliah, di bagian akhir saya ceritakan ia sedang hamil anak pertama. Meskipun ia hanya tokoh pendukung, saya usahakan perkembangan hidupnya tertulis dalam cerita.

Kemunculan salah satu tokoh utama, Osken O'Shea, seorang lelaki warga negara Amerika keturunan Irlandia, juga saya ceritakan sebisa mungkin masuk akal. Jangan sampai 'keturunan Irlandia' itu cuma embel-embel doang. Di sini riset diperlukan. Saya harus mencari cara bagaimana awalnya keluarga Osken masuk ke Amerika. Setting - tempat dan waktu - menjadi vital. Saya melakukan riset sejarah Irlandia, dan saya temukan fakta banyak orang Irlandia Utara bermigrasi ke Amerika, salah satunya karena perang dengan Inggris. Kemudian saya ciptakan tokoh pendukung: kakek Osken. Ia menghindari perang dan bermigrasi ke Amerika; sesuatu yang dilakukan puluhan ribu orang di kala itu. Pun lokasi saat kakek Osken menginjak tanah Amerika, saya pilih New York, karena pada periode itu (sekitar tahun 1920), sebagian besar imigran memilih masuk Amerika lewat pelabuhan New York. Sama halnya dengan ibu Osken yang saya kisahkan keturunan Kazakhstan. Sekali lagi saya melakukan riset, butuh waktu dan harus fokus, persis seperti saat saya melakukan riset beneran (yaaahhh... ini memang riset betulan). Kembali saya temukan fakta saat Hitler menginvasi Polandia, disusul meletusnya perang di daratan Eropa dan keterlibatan Rusia dalam Perang Dunia II. Dampak perang itu sampai ke Kazakhstan, sehingga banyak warganya melarikan diri ke luar negeri, termasuk ke Amerika.

Bagian yang mengisahkan masuknya keluarga Osken ke Amerika itu memang hanya sekitar 5 halaman dari novel setebal 320 halaman, namun risetnya lama, mungkin sekitar 2 minggu. Meskipun tokoh rekaan, saya berusaha semaksimal mungkin agar sosok Osken ini nyata.

Urusan bulan purnama dan setengah purnama - yang saya pakai sebagai sub judul - juga harus benar. Saya tidak asal mencomot hari dan tanggal, namun didukung riset. Dalam novel saya itu ada satu periode yang berlangsung di Jogja, bertepatan dengan meletusnya Gunung Merapi. Karena saya mengalami sendiri persitiwa itu, banyak hal masih melekat di kepala, namun saya tetap cek dan ricek soal tanggal dan hari, itu juga lewat riset lagi.

Sebegitu pentingnya setting dalam menghidupkan kisah karangan kita, jadi harus cermat.

Mau mengarang tentang cewek ndugal bermobil keren di jalanan Jakarta tahun 20-an? Jangan kasih dia Ferrari, saat itu belum ada di Indonesia. Pun jalannya belum sebagus sekarang, meskipun mungkin lebih lega. Atau mau mengikuti jejak Tolkien, mengarang sebuah kisah kolosal? Siapkan saja setting heboh, planet berwarna ungu dengan lima bulan warna-warni, yang purnama bergantian. Di sana tak bakal ada hari sebab tak ada mentari, warna langitnya berganti-ganti sesuai warna bulan yg sedang purnama. Dilengkapi binatang serupa harimau seukuran bis kota yang bisa terbang sekaligus menyelam... Hmmm... kisah apa gerangan yang ber-setting demikian?

 *** 

Artikel ini juga diunggah di Kampung Fiksi.