Senin, 20 Juni 2011

Mengenal T-Shelter

Ingat bencana tsunami di penghujung tahun 2004 dan gempa bumi Jateng-Jogja pada Mei 2006? Aktivitas alam yang berdampak buruk pada manusia itu – sehingga disebut bencana – menghancurkan ratusan ribu rumah penduduk yang bermukim di lokasi kejadian dan sekitarnya.

Ketika terjadi bencana alam sedahsyat itu, bantuan belum tentu bisa sampai ke tujuan tepat waktu, termasuk bantuan untuk rekonstruksi dan rehabilitasi, khususnya rumah. Untuk membantu para korban selamat, banyak kalangan terutama LSM lokal, nasional dan internasional membangun rumah sementara atau temporary/transitional shelter yang biasa disingkat T-shelter, agar mereka bisa lebih terlindungi daripada tinggal di tenda-tenda.

T-shelter ini dimaknai sebagai sebuah konstruksi sederhana yang lebih baik dan aman dari tenda namun belum bisa disebut sebagai rumah. Yang pasti penghuninya bisa lebih ternaungi dan terlindungi dari angin, panas dan hujan. Pembangunan T-shelter harus memenuhi standar minimal yang diatur secara nasional dan internasional dalam pemberian bantuan kemanusiaan, murah, dapat didirikan dengan cepat dan mampu bertahan sekitar 2 tahun hingga penghuninya bisa membangun rumah layak huni.

Salah satu bahan dasar T-shelter yang dianggap mudah dan murah adalah bambu, baik untuk konstruksinya maupun dindingnya (yang disebut gedheg). Namun bila kebutuhannya sangat banyak, bisa jadi suplai bambu yang memenuhi syarat akan terganggu. Saat terjadi gempa Jogja-Jateng 2006, lembaga-lembaga pemberi bantuan membeli bambu dan gedheg hingga ke Jawa Barat karena tingginya permintaan. Harga batang bambu dan gedheg pada saat itu sempat melambung sampai 3 atau 6 kali lipat dari harga biasa. Selain itu kualitasnya kurang baik karena banyak penjual yang asal memotong saja, termasuk batang-batang bambu muda dan gedheg yang dianyam dengan tergesa-gesa. Situasi semacam ini tidak mudah dihindari meskipun sudah diantisipasi.

Untuk menghemat baiaya, lembaga-lembaga lokal yang dananya terbatas membangun T-shelter dengan melibatkan warga dalam proses konstruksinya. Warga yang mendapat bantuan T-shelter wajib berkontribusi dalam bentuk bahan bangunan bekas yang masih layak pakai dan tenaga kerja (pengerjaannya secara gotong royong untuk menghemat biaya tukang). Oleh karena itu, tak jarang konstruksinya dilaksanakan sore hari atau Sabtu dan Minggu agar para buruh harian bisa ikut gotong royong tanpa kehilangan penghasilan.

Berikut ini langkah-langkah yang diterapkan oleh salah satu lembaga lokal yang berhasil membangun lebih dari 1.000 unit T-shelter di beberapa lokasi di Kabupaten Bantul dalam jangka waktu sekitar 5 bulan:
  1. Permintaan dari kelompok warga diajukan ke lembaga.
  2. Lembaga mengirimkan tim ke lokasi untuk melakukan rapid assessment.
  3. Berdasarkan hasil rapid assessment Lembaga membentuk tim fasilitator untuk mengadakan pertemuan warga yang dihadiri oleh sebanyak mungkin wakil warga. Tujuan pertemuan adalah menyusun kriteria keluarga yang layak menerima bantuan diikuti dengan bersama-sama memilih keluarga. Pertemuan ini wajib dilakukan karena jumlah bantuan tidak mencukupi untuk diberikan pada semua korban. Salah satu kriterianya adalah mendahulukan janda tanpa keluarga, orang lanjut usia, dan keluarga dengan balita atau cacat badan.
  4. Segera setelah para penerima bantuan terpilih, pertemuan warga diadakan kembali dengan mendatangkan para calon penerima bantuan. Pertemuan lanjutan ini tujuannya memilih warga lokal (bisa penerima bantuan atau bukan penerima bantuan) sebagai team leader yang diikuti dengan penyusunan rencana pelaksanaan. Dalam pertemuan ini tim fasilitator berdiskusi tentang kebutuhan gotong royong, penyusunan jadwal atau giliran kerja dan pemilihan material bekas yang masih layak pakai.
  5. Setelah semua siap, konstruksi dilaksanakan dengan pengawasan dari tim fasilitator yang sekaligus memberikan bantuan teknik.
  6. Lembaga tidak menggunakan prototip. Keluwesan rancangan membuat para penerima bantuan dapat mengekspresikan karakter yang berbeda-beda dan merasa bebas menggunakan material bekas milik mereka sendiri. Lembaga tentu saja tetap menetapkan syarat-syarat dasar yang tidak bisa ditawar demi keamanan dan keselamatan penghuni. Di antara syarat-syarat itu adalah T-shelter terletak sedekat mungkin dengan rumah awal yang ambruk, ukuran minimal 24 m2 sehingga cukup untuk membuat 3 sekat ruang, konstruksinya mengacu pada standar minimal konstruksi bambu yang lebih aman gempa dan ada cukup pembukaan untuk pencahayaan dan penghawaan.

Kata kunci dari proses konstruksi semacam ini adalah peran serta warga dan bantuan teknis dari orang yang ahli/paham. Dengan cara ini warga didorong untuk menggali sumberdaya yang mereka miliki dan meningkatkan modal sosial. Hasilnya, selain pekerjaan berjalan lebih cepat, para penerima bantuan merasa bangga, bermartabat serta punya rasa kepemilikan yang lebih tinggi karena terlibat langsung dalam pembangunan T-shelter yang mereka tempati. ***


Peringatan:
Semua foto dalam tulisan ini merupakan copy right dari Yayasan Griya Mandiri, Yogyakarta dan para donor yang menjadi mitranya.

***

6 komentar:

Nathalia mengatakan...

rumahnya sederhana, tapi apik, kelihatan adem, lebih baik dibanding tidur di tenda berbulan-bulan :(

Endah Raharjo mengatakan...

Ya, memang itu tujuannya: supaya lebih nyaman + sehat + aman (khususnya untuk anak2 dan perempuan) daripada tinggal di tenda, meskipun belum senyaman, sesehat dan seaman rumah.

ggeldersma mengatakan...

seperti gubuk mimin di blitar :)
tenang , aman , damai, tenteram
walau harga kebutuhan selangit rasanya :(

Endah Raharjo mengatakan...

Bener, Jeng Mimin. Tapi untuk bermukim jangka panjang rumah ini belum sepenuhnya sehat :-) masih perlu perbaikan: lantai, langit-langit, dll. Kapan pulang kampung, nih?

Newsoul mengatakan...

Hm, pasti ramah lingkungan ya mbak...

Endah Raharjo mengatakan...

Iya, Mbak Elly, relatif lebih ramah lingkungan karena materialnya daur ulang (material bekas yg kondisinya masih bagus secara fisik dan teknis). Namun pengadaan bambunya kalau tidak hati2 (dalam memilih bambu yang cukup tua, memilih rumpunnya, teknik penebangan) bisa juga mengganggu pertumbuhan bambu dan mengancam keamanan tebing sungai (kalau asal nebang bambu di tebing sungai sampai habis).