Tampilkan postingan dengan label cerita anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita anak. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 September 2013

Bogel dan Loreng


Sumber gambar
Gara-gara Bogel dan Loreng, orang-orang di kampung Asri tidak bisa tidur nyenyak. Sudah beberapa hari, siang dan malam, dua ekor binatang itu bertengkar. Mereka berebut kandang.

“Hei! Loreng! Pergi sana! Ini bukan kandangmu!” teriak Bogel ketika ia melihat Loreng kembali mengendap-endap di dekat kandang.

“Enak saja! Memangnya ini punyamu?” balas Loreng tak mau kalah. Walaupun tubuh dan taringnya lebih kecil, Loreng berani menantang Bogel. “Percuma jadi kucing liar kalau tak berani unjuk taring melawan anjing kurapan tak bertuan.” Loreng menepuk dadanya yang penu panu.

“Dasar kucing liar tak tahu diri. Pergi sana! Kamu dekil dan bau!” Bogel menyalak dengan garang. Keempat kakinya mengangkangi pintu kandang. Taring-taringnya dipamerkan.

Loreng tak gentar. Ia menggerung-gerung tanda menantang. Bulu-bulunya tegak mengembang. Cakar-cakarnya siap disabetkan.

"Bogeeeel…! Loreeeeng…!” Tiba-tiba dari belakang Loreng muncul Prengil, anjing betina si pemilik kandang. “Kenapa bertengkar melulu?” Dengan manis Prengil mencoba menenangkan.

“Jangan coba-coba kamu, ya!” Loreng membentak Prengil. “Pergi sana. Ini urusan para pejantan!” Lanjut Loreng dengan mata melotot dan kumis meregang.

“Aduuuhh… ada apa siiihhh…? Kalian ini pada ngeributin apa? Nggak kasihan sama bayi Bu Minah yang sedang sakit? Dia nggak bisa tidur gara-gara kalian ribut melulu siang malam.” Prengil yang baik hati mendekati Loreng pelan-pelan.

“Pergi kamu! Betina bisa apa!” ejek Loreng.

“Lho, ini kan kandangku, yang dibuat tuanku untuk aku.” Prengil tidak terima diusir.

Melihat sahabatnya diserang tanpa alasan, Bogel semakin panas. Ditubruknya Loreng dengan ganas. Loreng yang liar berkelit dan mengeong hingar bingar. Bogel menyalak dengan galak. Dua binatang itu kembali berperang. Seisi kampung terganggu suara gaduh dan debu beterbangan.

“Sudah! Sudah! Sudaaaaahhhh…!!!” Prengil mencoba melerai. “Kalian boleh tinggal di kandangkuuuuuuuuuu…!!!” Prengil hilang kesabaran dan melolong kuat-kuat.

Ajaib. Lolongan Prengil yang panjang mampu menghentikan perkelahian. Mereka bertiga saling berpandangan. Nafas Bogel dan Loreng masih terengah-engah dan mata mereka masih merah.

“Kalian berdua boleh tinggal di kandangku.” Prengil menatap Bogel dan Loreng bergantian. “Kalau Loreng mau, nanti aku kenalkan pada tuanku. Dia baik hati, mungkin kamu boleh tidur di garasi.” Prengil sebenarnya tidak tahu pasti apakah tuannya mau menerima Loreng yang tak jelas asal-usulnya.

“Kamu janji?” Suara Loreng berubah ramah.

“Iya, Loreng, aku janji. Tapi….” Prengil menoleh ke rumah tuannya.

“Tapi apa?” Suara Loreng kembali meninggi.

“Tuanku tidak suka kucing dekil kayak kamu.” Prengil memandangi sekujur tubuh Loreng yang kotor penuh debu.

Loreng sebenarnya merindukan kedamaian dan elusan tangan seorang tuan. Ia segera menjilati sekujur tubuhnya agar semua debu dan kotorannya hilang. Dulu Loreng pernah hidup tenang di rumah seorang tuan. Namun darah muda Loreng tak mau dikekang. Ia lari menerobos pagar lalu hidup di jalanan. Kini Loreng merasa lelah berkelana sebagai kucing liar. Sudah terlalu lama ia berpindah-pindah dari satu teritisan ke teritisan serta mengais-ngais tong sampah untuk makan.

Ketika sampai di kampung Asri dan melihat Prengil hidup nyaman di dalam kandang, hati Loreng menjadi panas karena dengki. Kemudian Loreng membuat ulah agar Prengil takut dan melarikan diri. Tapi ternyata Prengil punya teman, Bogel, anjing liar yang kerap datang mengunjungi.

“Aku tidak mau tinggal di kandangmu, Prengil.” Bogel memecah keheningan.

“Lho? Kenapa? Kandangku cukup besar untuk bertiga.”

“Aku lebih suka bebas.” Bogel memandangi tubuhnya sendiri yang kecil namun kokoh dan muda.

“Lalu kenapa kamu bertengkar sama Loreng rebutan kandang?” Prengil terheran-heran.

“Aku nggak suka caranya mengendap-endap tiap malam, mau merebut kandangmu.”

“Aku kedinginan!” Loreng kembali meradang.

“Sudah. Sudah.” Prengil mencegah kembalinya pertengkaran. “Sekarang maumu apa, Bogel?” tanya Prengil.

“Aku mau pergi. Aku tidak butuh tuan. Aku bisa cari makan sendiri.” Bogel memandangi Prengil dengan lembut. “Kalau aku kangen, aku akan main ke sini.” Bogel tersenyum, memperlihatkan ujung-ujung taringnya yang putih tajam. "Kamu sebaiknya baik-baik sama Prengil. Awas kalau kamu curang." Bogel menatap Loreng. Kemudian anjing tak bertuan itu membalikkan badannya dan melangkah pergi meninggalkan Prengil dan Loreng.

“Hati-hati ya, Bogel.” Prengil memandangi kepergian temannya. Prengil yakin, Bogel yang terlahir tanpa tuan itu bisa menjaga dirinya sendiri.

“Hei! Aku masih di sini lho….” Loreng mengibaskan ekornya pelan. “Maaf ya, Prengil, aku sudah bicara kasar dan menyakiti hatimu.”

“Nggak apa-apa. Aku tahu kamu cuma kesepian dan butuh perhatian. Kamu juga biasa main kasar karena kamu kucing liar.” Prengil penuh pengertian.

“Seperti kucing garong ya?” canda Loreng.

Prengil dan Loreng tertawa bersama. Mereka kemudian berteman.

***

Rabu, 31 Oktober 2012

Sang Penjaga

Dua adikku, Ima dan Lila, takut kucing. Aneh sekali. Aku sulit mengerti. Menurutku kucing itu binatang berbulu yang paling lucu. Kata Mama, ketakutan semacam itu disebut phobia. Suatu sore, Mama mengantar kue ke rumah tetangga baru. Kami bertiga diajak serta. Ternyata tetangga kami punya dua ekor kucing. Ima dan Lila tiba-tiba melompat ke atas meja.

“Kraaakkk…!” Meja kaca di ruang tamu itu pecah, kaki Ima dan Lila berdarah-darah. Tetangga kami tidak marah, mereka justru mengantar Mama membawa dua adikku ke rumah sakit terdekat.

“Mbak Hanna janji, nggak akan membiarkan kucing melukai kalian lagi,” kataku, sambil menunggui Ima dan Lila dirawat kakinya oleh dokter. Sejak kejadian itu, sebagai anak sulung, aku selalu berhati-hati. Walaupun aku suka kucing dan pernah ingin memelihara satu ekor di rumah, namun aku mengalah. Aku tidak mau dua adikku terluka lagi gara-gara kucing.

Di sebuah pagi, saat menunggu Papa mengeluarkan mobil dari garasi untuk mengantar kami ke sekolah, aku melihat seekor bayi kucing berbulu hitam tertidur di depan pagar rumah. Ia terlindung oleh perdu mawar yang ditanam Mama untuk menghiasi pagar depan. Tubuhnya yang mungil tampak kedinginan. Diam-diam, aku keluarkan sedikit kue dari kotak makan siang, pelan-pelan kutaruh di samping si kucing hitam.

“Hanna. Ayo! Nanti kesiangan,” suara Papa bernada tinggi. Si hitam mungil jadi terbangun. Dengan susah payah ia mencoba bangkit, namun tak jadi berlari ketika dilihatnya ada sepotong roti di dekatnya. Matanya bergantian memandangiku dan roti itu. Kemudian potongan roti itu dijilatinya.

“Mbak Hannaaa…!” Dari dalam mobil Ima berteriak. “Mbak Hanna kok ngasih makan kucing, sih? Ntar dia jadi sering dateng ke rumah,” protes Ima.

“Iya, tuh, Pa….” Si bungsu Lila cemberut, mengadu ke Papa.

“Tidak apa-apa. Kalau pintu selalu ditutup, kucing tidak akan bisa masuk ke rumah. Mbak Hanna pasti juga akan menjaga kalian. Selalu begitu, kan? Tidak apa-apa.” Dengan suaranya yang merdu Papa menenangkan adik-adikku.

Sejak itu aku selalu memberi makan kucing kecil hitam itu. Ia kucing kampung yang tidak bertuan dan tidak berteman. Aku tak ingin memberinya nama, cukup kupanggil Si Hitam. Tiap pagi sebelum aku berangkat sekolah, ia selalu menungguku di tempat yang sama, di luar pagar, di bawah kerimbunan perdu mawar. Kini di tempat itu kutaruh piring dan mangkuk kecil, untuk tempat makanan dan susu. Aku berpesan pada Bi Darmi, perempuan yang membantu Mama mengurus rumah, agar barang-barang itu jangan disingkirkan dan sesekali dibersihkan.

Setelah tiga bulan, Si Hitam mulai tumbuh cukup besar. Bulu hitamnya makin cantik dan berkilat. Matanya tampak kuning cemerlang. Dari Bi Darmi aku tahu kalau kucing hitam itu betina. Ia tambah sering datang ke rumah. Menungguku di depan pagar, tiduran di bawah perdu mawar. Kini seisi rumah tahu kalau aku berteman dengan seekor kucing hitam.

“Dia penjagaku,” aku sesumbar pada teman-teman sekelasku. “Dia hapal jadwal pulang sekolahku,” tambahku. “Dia juga bisa membaui tubuhku. Kalau bukan aku yang memberi makan, dia tidak mau datang.” Teman-temanku kagum akan ceritaku.

Kucing hitamku, ya… aku menganggapnya milikku, tidak sama dengan kucing kampung lainnya. Dia sopan. Kalau sore, kami sering ngobrol berdua saja. Dia tetap di luar pagar dan aku di halaman, di dalam pagar. “Mbak Hanna tidak akan mengijinkan kucing itu masuk ke halaman,” janjiku pada Ima dan Lila.

Kucingku seperti tahu kalau adik-adikku takut padanya. “Jangan masuk ke halaman, ya. Ima dan Lila takut padamu. Mereka tidak nakal, hanya takut saja,” selalu bisikku, sambil memberinya kue-kue dan susu.

Supaya aku mudah membelai-belai kucingku, yang setia menjaga di luar pagar, Mama memotong beberapa batang mawar. Tanganku bisa leluasa mengelusnya lewat lubang-lubang pagar. Dia akan bergulingan bila kuelus lehernya yang langsing. Mungkin karena ia liar, tubuhnya tidak gemuk walau setiap hari kuberi makan.

Kini kucingku usianya sudah sekitar 6 bulan. Kaki-kakinya makin kokoh dan ekornya tambah panjang. Aku paling suka dengan warna matanya, kuning jernih dengan manik mata hitam dan tajam. Seperti mata macan.

Sore itu, aku keluar rumah membeli beberapa barang di warung tak jauh dari rumah. Kebetulan Mama dan Papa sedang menghadiri kondangan. Bi Darmi pulang kampung menengok keluarganya yang sakit. “Mbak Hanna ke warung sebentar,” kataku pada Ima dan Lila. “Jangan buka pagar kalau ada orang datang, walaupun dia ngaku sebagai teman atau saudara. Ya?” Aku menirukan pesan Mama dan Papa setiap kali kami di rumah tanpa orang dewasa.

“Ima beliin es krim ya, Mbak,” pinta Ima.

“Lila juga, yaaa!” si bungsu mengikuti.

“Mbak Hanna akan nutup pintu pagar. Nggak usah kuatir. Si Hitam nggak akan masuk ke halaman.” Kedua adikku mengangguk bersamaan. Mereka tahu kalau kucing hitamku itu tidak pernah melanggar aturan.

“Jaga adik-adikku, ya,” bisikku pada kucingku yang tengah terkantuk-kantuk di depan pagar. Aku hanya pergi sebentar.

Ketika pulang dan hendak membuka pagar kulihat kucingku sudah berada di halaman. Persis di depan teras. Empat kakinya kokoh mengangkang, ekornya tegak menegang, punggungnya melengkung seolah siap menerkam. Dari dalam rumah kudengar Ima dan Lila menjerit-jerit ketakutan. Kudorong pintu pagar. Ya, Tuhan. Kulihat seekor ular kecil di depan teras. Si Hitam menghadangnya. Dua binatang itu berhadap-hadapan. Aku ketakutan.

“Imaaa… Lilaaa… jangan keluaaar! Mbak Hanna cari bantuaaan…!” aku berlari minta tolong Om Haryo, tetangga sebelah rumah.

Cepat dan sigap, dengan galah Om Haryo memukul-mukul ular kecil yang panjangnya sekitar setengah meter itu.

“Sudah mati ularnya, Hanna. Segera masuk ke rumah, Nak. Tutup pintu. Jangan takut. Om Haryo harus membuang ular ini. Nanti Om Haryo kembali ke sini.” Om Haryo mengait ular mati itu dengan ujung galah, membawanya ke luar.

Rupanya kucing hitamku telah membantuku menjaga adik-adikku. Sambil mendekap Ima dan Lila, lewat jendela kupandangi kucingku yang masih berdiri di depan teras. Mata kami beradu. Air mata haru menggenang di mataku. Pelan-pelan, Si Hitam berjalan keluar dan hilang di balik pintu pagar. Walau mataku tak bisa lagi melihatnya, aku tahu, dia pasti menungguku, di depan pagar, di bawah perdu mawar.

*** 

Sabtu, 27 Oktober 2012

Sepotong Kisah Hujan

Cahaya beringsut meninggalkan ruangan. Di luar, gelap mendung tergesa-gesa datang mengantar hujan. Rerintiknya berlarian di atas atap, berjatuhan di pohonan, membasahi daunan, menyegarkan rumputan. Seekor anak ayam berlari-lari kebingungan. Dua kaki kurusnya menapaki genangan, membuat riak-riak tambahan. Dengan lincah ia menyelinap di antara lubang-lubang pagar, berlindung di bawah teritisan. Ia tampak kedinginan.

Angin bertiup kencang, suaranya serupa lolongan serigala menyambut malam. Dahan-ranting meliuk, menggelinjang, menikmati persetubuhan dengan sang hujan. Satu-satu daun-daun kering berguguran, diterbangkan angin lalu jatuh ke dalam genangan. Seekor lipan menggeliat pelan, meninggalkan liang yang terbanjiri air hujan. Susah payah ia merambati pagar, mencari ruang di sela-sela batuan. Sementara di ubin teras berbaris ribuan semut hitam, terlindung dari hujan, masing-masing memanggul makanan.

“Apa yang kau pandangi, Rima?” tanyaku.

“Ah… hanya hujan, Ma,” jawabnya, tanpa mengalihkan matanya dari rinai hujan yang mengalir turun dari teritisan. Tampiasnya memercikkan butiran-butiran air ke wajah Rima, sebagian masuk ke ruang depan lewat jendela.

“Apa eloknya hujan?” tanyaku, kembali melihat keluar dari jendela satunya. Tidak ada jawaban, hanya suara hujan berjatuhan di atap rumah kami diselingi salak halilintar dan desau angin.

“Anak ayamnya kasihan, Ma. Aku kasih makan, boleh?” Rima mengalihkan matanya dari hujan ke diriku.

“Yuk, kita kasih makan.” Berkata begitu aku beranjak dari kursi. Rima meninggalkan jendela, mengikutiku.

Anak ayam itu berlindung di depan garasi, di bawah teritisan.

“Mama ambil nasi dulu, supaya dia tidak lari kalau pintunya kita buka.” Aku ke dapur mengambil sesendok nasi dan kembali ke garasi. Salah satu daun pintu kubuka sedikit. Pelan-pelan, sendok nasi kuselipkan keluar dan nasi kusebar. Rima mengendap-endap dari balik pintu, memandangi anak ayam itu melalui kisi-kisi di bagian bawah daun pintu.

“Anak ayamnya celingukan….” Rima berbisik-bisik, berjongkok, kepalanya menempel pada kisi-kisi agar matanya bisa mengawasi. “Sekarang dia udah mulai makan,” suara Rima terdengar lega.

“Kita tambah nasinya?”

“Iya, Ma. Tambah nasinya. Kayaknya dia kelaparan.” Sebentar aku ke dapur dan segera kembali ke garasi lagi sambil membawa semangkuk kecil nasi.

Kali ini pintu kubuka agak lebar. Si anak ayam tidak ketakutan. Kepalanya diangkat, dua matanya yang kecil-bulat memandangku dan mangkuk di tanganku. Kepala Rima menelusup di samping kakiku. Mata Rima dan mata kecil ayam itu beradu. Anak ayam itu melangkah mendekat. Kubuka pintu lebih lebar agar Rima bisa keluar.

Kusodorkan mangkuk berisi nasi ke tangan Rima yang langsung meletakkannya di depan si anak ayam. Sementara anak ayam itu mematuki butiran-butiran nasi, tangan Rima mengelus bulu-bulunya yang basah terguyur hujan. Cepat sekali mereka berteman.

Kutinggalkan mereka berdua. Sesekali terdengar tawa renyah berseling dengan kotek lembut anak ayam. Hujan berangsur-angsur reda. Sinar matahari malu-malu muncul kembali, memamerkan kilaunya pada bumi.

Kudengar pintu garasi tertutup pelan disusul langkah-langkah kecil menaiki undak-undak yang menghubungkan garasi dengan ruang tengah. Sesosok tubuh mungil berjalan menuju ruang depan. Sebentuk senyum senang terukir di wajah kekanak-kanakan. Kubuka dua lenganku lebar dan Rima masuk dalam dekapan.

“Anak ayamnya sudah pergi, Ma. Mungkin pulang,” bisik Rima senang.

***