Jumat, 16 Desember 2011

Malaikat Penjaga

Kalian di rumah punya pembantu? Aku punya. Sepanjang hidupku yang bisa kuingat, di rumahku selalu ada pembantu. Bahkan waktu aku kecil, kami punya lebih dari satu.
'Mbok Mangun' oleh Azam Raharjo

Ada yang tugasnya khusus memasak dan mencuci, namanya Mbok Mangun. Kok Mbok, sih? Ya, karena di mataku, saat itu, ia tua sekali. Setiap hari ia pakai kain dan kebaya. Badannya, seingatku, besar dan kokoh. Rambutnya selalu digulung cepol seperti umumnya perempuan desa di Jawa. Oh, ya, dia juga suka nginang. Itu lho, mengunyah daun sirih dicampur injet. Selepas makan siang, setelah pekerjaannya beres, Mbok Mangun akan duduk di amben besar, di dapur, mengunyah sirih sampai keluar cairan merah sewarna darah. Hiii…, ngeri! Terus, cairan merah itu ia ludahkan ke dalam kaleng bekas susu bubuk, “Cuiihhhh…,” lalu dia usapkan segenggam tembakau ke mulut dan giginya. Bibirnya merah menyala seperti drakula. Kalau sudah begitu, Mbok Mangun betah duduk berlama-lama, sampai terdengar adzan ashar dari masjid.

“Luluuuu…! Mimiiii…! Ririii…! Mandiii…!!!” Begitu cara Mbok Mangun memanggil-manggil nama kami kalau kami masih asyik bermain selepas pukul 4 sore. Lulu itu namaku, Riri adikku yang nomer dua dan Mimi adik bungsuku.

Anak semata wayang Mbok Mangun juga tinggal di rumah kami. Namanya Boiman, panggilannya Kebo. Waktu aku kecil, ibuku punya usaha batik, orang-orang menyebutnya juragan batik. Kebo ini salah satu asisten Ibu. Pekerjaannya menyeterika kain-kain batik dan melipatnya dengan rapi sebelum dikirim ke toko-toko di Malioboro. Seterika berisi arang itu besar sekali, melihatnya saja ngeri. Kalau berdiri di dekat seterika itu rasanya seperti berada di depan kompor. Panas sekali. Mungkin itulah sebabnya, Kebo jarang memakai baju. Tubuhnya yang besar – ya, memang seperti kebo – dan kulitnya yang gelap itu hanya ditutupi selembar singlet. Kopiah yang kekecilan selalu nangkring di kepalanya. Ia sering disuruh Ibu menjemputku dan Riri di sekolah dengan sepeda. Kami akan dibonceng berdua. Wah. Bau keringatnya menyengat. Tapi kami tidak berani protes, sebab dia akan menyuruh kami turun lalu pulang berjalan kaki. Tentunya waktu itu Kebo hanya bercanda, meskipun saat itu kami anggap ia sungguh-sungguh dengan ancamannya.
'Kebo' oleh Azam Raharjo

Nah. Yang ketiga bernama Mugirah. Kami memanggilnya Yu Mugir. Pembantu yang satu ini, sungguh, di mata kami cantik sekali. Kulitnya langsat. Alisnya tebal hitam dan senyumnya manis. Tidak seperti Mbok Mangun, suara Yu Mugir lembut.

“Kalau Lulu mandi dulu, Riri dan Mimi pasti juga mau mandi,” begitu caranya membujuk kami untuk mandi sore.

Kalau habis keramas, rambutnya yang panjang dan hitam mengkilat itu ia biarkan terurai. Hmmm…, wangi sekali. Yu Mugir, seperti Mbok Mangun, sehari-hari juga memakai kain dan kebaya. Tapi tubuh Yu Mugir langsing dan kebayanya lebih warna-warni. Mungkin karena ia masih muda. Kata Ibu, Yu Mugir itu kembang desa. Ia semacam baby sitter Mimi.

Waktu aku kecil, Mbok Mangun, Kebo dan Yu Mugir adalah malaikat penjaga yang senantiasa melindungi kami meskipun kehadiran mereka tidak begitu aku sadari. Baru bertahun-tahun kemudian ketika mereka sudah pergi, dan aku beranjak dewasa, aku mengerti betapa berartinya peranan mereka dalam membesarkan aku dan adikku.

Masih teringat hingga kini, bagaimana adikku, Mimi, menjerit-jerit karena sehabis menikah Yu Mugir diboyong oleh suaminya keluar dari rumah kami.
'Yu Mugir' oleh Azam Raharjo

“Aku mau Yu Mugiiir…!!!” Begitu teriakan Mimi. Mukanya sampai jadi biru akibat menangis sepanjang hari.

“Yu Mugir pulang ke rumahnya, Sayang,” bujuk Ibu. Tapi Mimi tetap tak bisa menerima. Akhirnya, Yu Mugir kembali lagi ke rumah kami. Kalau malam, setelah Mimi tidur, suaminya menjemput. Pagi-pagi, sebelum Mimi bangun, Yu Mugir sudah datang lagi.

Yu Mugir baru benar-benar berhenti merawat Mimi tiga bulan sebelum melahirkan anaknya yang pertama. Aku lupa kapan tepatnya, Mbok Mangun juga harus pulang ke desa karena tak kuat lagi bekerja. Sesekali ia masih menengok kami. Akan halnya Kebo, ia keluar juga karena Ibu memutuskan berhenti jadi juragan batik. Kebo lalu jadi petani.

Sungguh sulit melupakan cinta mereka pada keluarga kami dan rasanya jasa mereka tak akan terbalaskan. Mbok Mangun meninggal saat aku sudah duduk di bangku kuliah. Yu Mugir masih hidup hingga kini, namun suaminya meninggal lima tahun lalu karena sakit paru-paru. Anak sulungnya menjadi pegawai bank swasta ternama di Surabaya. Bila Lebaran mereka tak pernah lupa berkunjung ke rumah Ibu, dengan mobil mengkilap, tak beda dengan mobil-mobil kami.

Sedangkan Kebo sudah bergelar haji dan kini dipanggil kyai. Kata Mimi, ia datang melayat dan membantu ini-itu ketika Bapak meninggal tujuh tahun lalu. Ia pun menengok Ibu saat rumah keluarga kami sebagian ambruk akibat gempa. Namun aku tidak sempat bertemu.

Siang tadi, kami merayakan ulang tahun Ibu. Kami tengah asyik menikmati kue ketika kudengar ketukan di pintu.

“Mbak Lulu ya?” Sapanya sewaktu pintu terbuka.

“Iya. Bapak siapa?”

“Kebo, Mbak. Boiman,” senyumnya lebar, memamerkan giginya yang ompong dua.

“Haaa? Kebo? Ya ampuuun…!” seruku beberapa detik kemudian. Tanpa sungkan, tubuhnya kupeluk dengan sayang. Ia sudah tua. Keringatnya tidak lagi bau. Yang pasti, tubuhnya tidak tampak sebesar dan sekokoh ingatanku. Ia datang untuk mengucapkan selamat ulang tahun pada Ibu.

“Waaah… kelapa muda!” teriakku menerima seikat kelapa muda dari tangannya.

“Ini kelapa kopyor, Mbak. Kesukaan Ibu…”

“Waaah…!!!” tanpa sadar aku bersorak seperti puluhan tahun lalu.

Mata Kebo berbinar. Beberapa butir kelapa kopyor di tangan kananku merayu-rayu minta segera dibelah sementara tangan kiriku menggandeng lengan Kebo; menuntunnya menemui Ibu.

Semenit kemudian, ruang keluarga pecah oleh hingar bingar sorak dua adikku.

***

Appetiser untuk suguhan Pesta J50K

Tidak ada komentar: