Jumat, 21 Juni 2013

Pohon Kiara Payung

Sulit kuterima pesan terakhir Ibu padaku. Terdengar sepele: memintaku segera menebang pohon kiara payung di halaman depan rumahku. Sejak dulu Ibu memang tidak suka pohon itu. Katanya selain banyak ulatnya, yang berbulu riwug-riwug coklat gemuk itu, rontokan daunnya bikin boyok ngethok tiap kali menyapu halaman.

Permintaan sederhana itu terasa rumit untuk kululuskan.

“Udahlah, Lin. Ditebang aja. Apa susahnya. Tinggal nyuruh orang,” ujar Mbak Ratih, cengengesan. Meski geli, kakak sulungku itu berusaha meyakinkanku.

“Sekarang gampang kalau butuh pohon peneduh. Bisa beli yang udah besar. Agak mahal, tapi langsung rimbun,” tambah Mbak Risti, kakakku nomer dua, susah payah membancang tawa melihat wajah cemberutku.

“Atau gini aja, tanam dulu pohon lain, yang besar seperti dibilang Mbak Risti itu, setelah tumbuh, baru kiara payungmu ditebang,” Mbak Ratri, si nomer tiga, memberi solusi lebih lengkap.

“Hhhh…!” gerutuku. “Kenapa Ibu tidak berpesan hal lain, yang lebih penting, seperti pesan beliau ke kalian,” sungutku. Sebagai bungsu aku memang sering diperlakukan beda. Namaku saja Lintang, tidak berawal huruf R seperti tiga kakakku.

Senin sore, sehari selepas mengadakan selamatan 40 hari untuk Ibu, aku pulang awal dari kantor. Badanku meriang, mungkin kecapekan. Kaki kananku baru saja menapak lantai garasi dan kaki kiri masih di dalam mobil saat kudengar hardikan lelaki dari arah belakang.

“Cepat suruh pembantumu nyapu sampah daun itu dari halaman saya.” Aku menoleh, terkesima oleh kilatan amarah pada mata lelaki itu. Tetangga baruku. Kakinya mengangkang di ambang pintu garasi.

“Oh. Pak Hilman. Ada apa, ya?”

“Itu! Lihat! Lihat! Rontokan daun kiara payung awut-awutan di halaman rumah saya. Bikin sepet mata saja!” Dadanya mengkap-mengkap di balik kaus oblong putih, semacam ada sesuatu yang hendak memberontak keluar.

“Oh. Maaf, Pak. Saya akan suruh Mbak Kar nyapu lagi. Sebentar….” Kupacu langkahku ke belakang. Mencari Mbak Kar. Tak kunyana, tetangga yang baru dua minggu menghuni rumah di seberang jalan itu galak. Ia melabrakku gara-gara guguran daun kiara payung yang mengotori halamannya.

“Yang bersih, Mbak Kar. Jangan ada satu daun tertinggal,” pesanku pada pembantuku.

“Sudah saya bilangi tiap hari, bersihkan sampah daun itu dari halaman rumah saya. Masih ngeyel!” rutuk Pak Hilman. Biji matanya hendak mencelat menyergap punggung Mbak Kar yang tergopoh-gopoh ke rumahnya sembari menenteng sapu lidi dan pengki.

Aku tergegau melihat ulah pensiunan pejabat dari Surabaya itu. Kukira selain berwibawa, ia juga halus budi dan baik hati. Kalaupun aku atau keluargaku keliru, ia akan menegur baik-baik, bukan menghardik. Seingatku penghuni lama tak sekalipun mengeluhkan perkara ini karena Mbak Kar selalu menyapu halaman hingga ke jalan, dua kali sehari. Aku minta maaf pada Mbak Kar yang harus menyapu berulang-ulang.

“Ndak apa-apa, Bu. Mungkin dia memang tukang marah. Saya sering dengar dia teriak-teriak ke istrinya,” kata perempuan yang telah membantuku bertahun-tahun itu.

Malamnya, sehabis makan, kami membahas kejadian itu. Kami tak ingin mengawali pertetanggaan dengan permusuhan.

“Segera ditebang aja, Lin. Kita ganti pohon lain yang daunnya nggak gampang rontok,” bujuk suamiku.

Aku jadi ingat lagi pesan terakhir Ibu.

“Iya, Ma. Ini udah aku cariin alternatif pohon pengganti. Nih.... ada banyak banget,” kata Binar, mengasongkan laptopnya. Anak sulungku itu selalu sigap mencari informasi apa saja dari internet.

“Okeee... okeee… besok Mama cari tukang buat nebang pohon,” kataku.

“Aku bisa minta tolong tukang kebun kantor. Gampang itu. Nanti Sabtu atau Minggu kita tebang,” kata suamiku, mengelus-elus punggungku.

Dengan ekor mata kulihat ayah dua anakku itu mengukir senyum. Pasti sebentar lagi dia akan BBM-an dengan kakak-kakakku. Mereka akan bersorak. Mengolok-olok, rupanya butuh seorang tetangga galak untuk membuatku menunaikan permintaan Ibu.

Sehari berikutnya.

Aku baru saja selesai rapat. Ponselku berdering. Di layar kulihat nomor telepon rumah.

“Ada apa, Mbak Kar?” tanyaku. Bila siang di rumah kami tak ada sesiapa selain dirinya.

“Anu, Bu. Ada yang aneh,” bisiknya, seperti takut terdengar orang lain.

“Kenapa bisik-bisik, Mbak?”

Mbak Kar tertawa. “Itu. Tetangga baru. Bu Hilman. Aneh. Ngambilin uwuh dari tong sampah kita, terus disebar-sebar di halaman rumahnya sendiri,” Mbak Kar tetap berbisik-bisik.

“Haaah? Beneran? Maunya apa?”

Aku dan Mbak Kar berbicara cukup lama, menebak-nebak maksud perempuan bercucu enam itu. Kubilang Mbak Kar kalau Bu Hilman mungkin sudah pikun.

“Belum pikun, kok. Kalau belanja masih pinter milih sayur dan nawar segala,” tukasnya.

“Mungkin belum bener-bener pikun.” Kuminta dia mengawasi dari jendela. “Nanti kalau Bu Hilman udah masuk rumah, halamannya cepet-cepet disapu. Sebelum suaminya ngamuk. Ya?” pesanku.

“Baik, Bu. Saya juga mikir gitu.” Mbak Kar tak lagi berbisik, terdengar lega.

Dua hari berikutnya kejadian serupa terulang. Bu Hilman mengendap-endap tengah hari, mengambil rontokan dedaun kiara payung yang dikumpulkan Mbak Kar di dalam tong sampah kami, menyebarkannya di halamannya sendiri. Namun Mbak Kar sigap. Tanpa menunggu Pak Hilman melihat hasil perbuatan istrinya, halaman tetangga kami itu segera ia sapu.

Meskipun terheran-heran, kami serumah sepakat tidak menanyakan tingkah Bu Hilman itu. Pasangan itu sudah tua. Tiga anak mereka katanya di luar Jawa, tak satupun muncul waktu mereka boyongan dari Surabaya ke Jogja. Cepat atau lambat, pikirku, Bu Hilman akan sepenuhnya pikun. Bisa-bisa dia makin sering melakukan tindakan menggelikan itu. Aku tak sabar menunggu Minggu saat pegawai suamiku memotong habis pohon kiara payungku.

Jumat siang itu badan Mbak Kar lemas dan perutnya kram, seperti biasa bila ia menstruasi. Perempuan yang belum berhasrat menikah itu jatuh tertidur selepas masak dan membersihkan dapur. Ia terbangun oleh keributan di halaman.

Pak Hilman memekik-mekik lantang sambil membacok-bacok pokok kiara payung dengan parang. Ia murka mendapati halamannya kembali dikotori daunan kiara payung. Para tetangga – semuanya ibu-ibu dan pembantu rumah tangga – berdatangan. Mereka membantu Mbak Kar menenangkan lelaki tua itu.

Kali ini Mbak Kar menelepon suamiku, memintanya segera pulang. Ia panik melihat Pak Hilman pingsan di bawah pohon, masih memegang parang.

“Lin. Aku udah di rumah. Gawat! Gawat!” seru suamiku lewat ponsel. “Ternyata Pak Hilman sakit jantung. Habis marah-marah lalu sesak napas. Udah dibawa ke IGD. Kamu harus pulang sekarang.”

Malamnya kondisi lelaki 73 tahun itu membaik. Ia diperbolehkan pulang. Istrinya terlihat tenang. Bahkan ia justru tersenyum-senyum mengiringi suaminya digandeng masuk ke rumah oleh suamiku dan seorang tetangga lain. Sebelum pamit, aku dan suamiku meminta maaf pada Bu Hilman. Perempuan yang tetap langsing dan segar di usia tua itu meremas tanganku saat bersalaman. Aku ingin sekali menanyakan perilakunya yang aneh itu: menyebar sampah daun di halamannya sendiri. Namun hasratku berhasil kubantut. Kupikir tak ada gunanya memanjangkan perkara. Siapa tahu dia memang pikun.

Hari Minggu yang kutunggu tiba juga. Pagi-pagi tukang kebun dari kantor suamiku datang dengan seorang temannya, membawa alat lengkap untuk menebang pohonku itu. Dua anakku dan suamiku bergantian menyium pipiku, mencoba menghiburku. Mereka tahu aku sangat menyayangi pohon kiara payung itu. Pohon pertama yang kutanam di hari pertama kami memasuki rumah ini.

Aku tak tega menyaksikan pohonku ditebang. Kuputuskan untuk jalan-jalan ditemani Pijar, adik Binar, sekalian belanja mingguan. Suamiku di rumah menunggu tukang. Mbak Kar kuminta menyiapkan minuman dan nyamikan.

Aku dan Pijar sedang bercanda sembari menyantap makan siang di sebuah mal ketika suamiku menelepon. Aku tersedak.

Katanya sepagian Pak Hilman marah-marah tak karuan. Ia tak sabar menunggu tukang kami membersihkan serpihan cabang dan rontokan daun yang tersapu angin, yang bertebaran memenuhi jalan dan halaman rumahnya. Jantungnya kambuh, lalu meninggal di rumah sakit.

Saking terkejutnya sekujur tubuhku gemetaran, perlu beberapa menit menenangkan diri sebelum pulang. Sepanjang jalan Pijar menghiburku. Katanya itu bukan kesalahanku. Aku jadi ingat Ibu. Seandainya kiara payung itu kutebang lebih awal, mungkin Pak Hilman masih hidup. Aku menyesal.

Namun penyesalanku menjelma keheranan, atau tepatnya ketakutan. Minggu malam itu kami membantu Bu Hilman mengurus jenazah suaminya dan menyiapkan pemakaman. Perempuan tua itu mendekatiku, menuntunku menjauhi para pelayat, menggenggam tanganku, matanya lembut menatapku. “Terima kasih. Pohon Jeng Lintang sudah membebaskan saya dari lelaki pemarah itu,” bisiknya.

***


Keterangan:
Riwug-riwug: berbulu lebat
Boyok ngethok: sakit pinggang
Awut-awutan: berserakan
Mengkap-mengkap: kembang-kempis
Uwuh: sampah
Nyamikan: makanan kecil.