Selasa, 12 Februari 2013

Empat Perempuan

Ilustrasi oleh Azam Raharjo
Episode 21: Bahagia Itu

Minggu, menjelang tengah hari. Runi kaget melihat anaknya melakukan posisi yoga di ruang tengah. Kepalanya di bawah, tubuhnya lurus ke atas, dua lengannya ditekuk pada siku di kanan-kiri kepala, menjaga keseimbangan tubuhnya.

Nalurinya ingin menyuruh Dea menghentikan tindakan gegabah itu. Posisi salamba sirsasana harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Namun otaknya cepat bekerja, anak gadisnya itu masih sangat muda, belulangnya masih lentur.

“Dea.” Runi akhirnya khawatir setelah beberapa menit anaknya tak bergerak.

“Hoooaaahhh….” Pelan-pelan si remaja menekuk lutut ke depan, menghentikan atraksinya. “Legaaa….” Ia menggeram pelan, mirip kucing kekenyangan.

“Tumben kamu yoga.”

“Ngilangin sebel, kesel, sepet, cupet, bete….” Mulutnya membulat, dua alisnya mendekat. “Minggu yang menyebalkan!”

“Lho? Ada apa? Kayak nyangga beban dunia.”

“Renshu.”

“Napa dengan Renshu?”

“Susah diajak senang!” gerutuan itu disertai bibir mencibir.

“Susah diajak senang gimana?”

“Mamaaa…”

“Ada apa, sih?” Runi berkernyit dahi. Jangan-jangan Dea butuh makan siang. Bila perutnya lapar anak tunggalnya itu sering kesal tanpa alasan gara-gara gula darahnya turun.

“Dari tadi tanyaaa mlulu… Ada apa kamu? Napa Renshu? Gimana?”

“Habis jawabanmu pendek-pendek begitu. Yang panjang cuma manyunmu.”

Meskipun kecut, akhirnya Dea tertawa mendengar gurauan mamanya. Cowok berwajah Oriental yang sudah beberapa bulan rajin menyambanginya itu ternyata tidak fun seperti harapannya. “Apa-apa pakai jadwal. Kalau nggak bikin jadwal jalan, pastiii… nolak kalau diajak. Kalau waktunya baca, diajak ngomong kayaknya nggak ndengerin.”

“Itu persis Jarkasi, Non. Persiiisss… plek… plek… makanya saya ogah dipacari!” Iroh menyerobot tanpa permisi. Di tangannya ada nampan. Tiga gelas es degan gula merah siap ia hidangkan. “Coba kalau Jarkasi itu semanis es degan ini…” Hati-hati Iroh meletakkan nampan di atas meja ruang tengah. “Monggo, Nya… Non….”

“Kamu ikut-ikutan aja! Mosok Renshu kamu samain Jarkasi. Yang bener aja…” Eyang muncul dari dapur. Ia baru selesai membantu Iroh membuat es degan. Ia tak rela sahabat cucunya dibandingkan dengan tukang kerupuk langganan mereka.

Semua orang se-RT tahu kalau Jarkasi suka sama Iroh sejak lama. Namun Iroh tak menanggapi. Bu RT pernah diminta membantu membujuk perawan yang bersumpah tak akan menikah sebelum dua adiknya lulus SMA itu. “Buat saya bahagia itu kalau bisa mbiayai dua adik saya sampai lulus SMA,” begitu Iroh beralasan ketika Bu RT mengatakan Iroh pasti akan bahagia bila mau diperistri Jarkasi.

“Kok jadi pada diem semua. Malah mikirin Jarkasi!” Protes Dea, mengubek-ubek gelasnya, mencari potongan kelapa muda yang besar-besar. Iroh terkekeh, berjalan ke dapur menenteng nampan.

“Kenapa Renshu?” Eyang meletakkan gelasnya ke atas meja. Penuh perhatian menatap cucunya.

“Nggak asyik orangnya. Nggak kayak penampilannya. Bikin kecewa!”

“Nggak asyiknya gimana? Kelihatannya sopan, fun, sense of humor tinggi, pinter itu udah pasti. Nurut Mama baik-baik aja.”

“Mau Dea ituuu… kalau diajak jalan, nonton film, konser, teater, seneng-seneng, kapan aja mau. Gituuu…”

“Mungkin banyak tugas kuliah,” tukas Eyang.

“Tugas mahasiswa kan lebih enteng dari anak SMA.” Keluhan Dea masih belum berhenti. “Mereka juga nggak kuliah tiap hari.”

“Mungkin dia punya cara seneng-seneng sendiri,” ujar Runi, mencoba membuat anaknya berhenti menggerutu. Menurutnya Renshu cocok sebagai teman jangka panjang. Penampilannya keren, wajahnya ia nilai 8, pembawaannya tenang dan sopan. Bila akan mengajak keluar selalu menelpon dulu, minta ijinnya. Tiap pulang terlambat, ia juga memberi kabar. Semua ibu pasti lega bila anak gadisnya berteman dengan lelaki muda seperti dirinya. “Banyak orang merasa bahagia meskipun tanpa senang-senang,” tambah Runi.

“Maksudnya?”

“Tadi Dea bilang, dia susah diajak seneng-seneng. Nonton film, nonton konser… apalah…” Runi mulai bicara serius. “Ada orang yang merasa bahagia hanya dengan duduk-duduk di teras sambil baca majalah apa novel, masak, nonton film TV favorit, berkebun… tidak harus bareng teman, atau keluar rumah, atau mengeluarkan uang.”

Dea mendengarkan mamanya sambil terus mengaduk-aduk gelas.

“Dulu papamu juga lebih senang di rumah. Eyang juga,” ujar Eyang, mengangsurkan gelasnya yang masih dipenuhi potongan kelapa muda karena gelas cucunya sudah kering tandas. “Kebahagian itu tidak ditentukan oleh kejadian-kejadian indah atau hura-hura namun bagaimana kita menata sikap batin untuk menghadapi semua kejadian, yang buruk maupun yang indah, bagaimana kita bisa menikmati diri sendiri apapun yang terjadi.” Eyang mulai memberi wejangan. Saat-saat seperti ini menurutnya tepat untuk bicara dengan cucunya.

Dea menggoyang-goyangkan dua kakinya yang telanjang. Kausnya yang tadi basah oleh keringat sudah kering dan ia lepas. “Sebenarnya Dea cuma kecewa aja…” Gadis itu menunduk. “Udah hampir seminggu dia nggak nongol. Katanya lagi banyak kerjaan.”

“Jadi ceritanya kamu kangen?” tanya Runi.

Sambil menggigit sendok Dea mengangguk. “Dea pikir kalau diajak jalan dia mau datang.”

Runi dan Eyang saling memandang. Menurut ceritanya sendiri, Renshu hampir menyelesaikan semester 6. Terlalu jauh jaraknya untuk menjadi pacar Dea. Kalau pemuda itu tidak sesopan dan sebaik itu, pasti Runi tidak mengijinkannya mengajak Dea pergi berduaan.

“Usia Renshu berapa? Kira-kira 20 atau malah 21?” Tebak Runi. “Kamu masih 16.”

“Hampir 17!” protes Dea.

“Masih lama, September, 7 bulan lagi. Jadi selisih kalian sekitar 4 tahun. Nggak apa-apa kalau kamu udah di atas 18. Tapi bisa jadi masalah karena kamu belum 17. Mungkin dia tahu batasan,” tambah Runi.

“Maksudnya?” kejar Dea.

“Yaaa… dia tahu kalau kamu masih terlalu muda untuk sering-sering pergi berdua aja. Laki-laki yang baik, nurut Mama, akan tahu batas. Mereka akan cenderung melindungi perempuan yang dia sukai, bukannya malah memanfaatkan. Apalagi kalau perempuan itu masih di bawah umur, kayak kamu. Itu nurut Mama yang sering kamu bilang jadul.”

“Ndak jadul-jadul banget, kok, Nya. Coba usia Nyonya berapa? Baru 41 tahun. Masih muda… tampilan Nyonya aja lebih trendy dari tetangga sebelah yang masih pengantin baru….” Iroh muncul dengan jug penuh es degan. “Niiih… habisin, Non….” Kerlingnya ke Dea.

“Kamu ini maunya ikut-ikutan,” tukas Eyang.

“Laaah… kalo soal cowok, saya masih lebih pengalaman dibanding Non Dea. Ndak ada salahnya berbagi. Ya, Nya?” Iroh minta dukungan majikannya. “Lagian, jangan sampai kita nyari seneng dari orang lain, apalagi dari laki-laki.” Iroh memandang Eyang dan Runi berganti-ganti.

“Belagu, kamu…!” sergah Dea.

“Sejak punya akun Facebook dan Twitter Iroh jadi tambah ahli berbagi….” Runi tertawa. Eyang sudah lebih dulu terpingkal-pingkal.

“Saya aja tahu… mosok Non Dea ndak ngerti.” Iroh menjadi-jadi.

“Memang bener kata Iroh,” ucap Runi. “Menikmati diri sendiri itu perlu. Jadi kalau teman kita lagi nggak mau diajak jalan atau ketemuan, kita nggak sewot,” lanjutnya, “kamu bisa baca, nonton DVD, ndengerin musik, nonton TV, apa jalan-jalan sendiri. Bukannya kamu sering jalan sendiri?”

“Jangan sampai karena suka sama Renshu lalu tergantung sama dia. Kalau dia nggak muncul kamu jadi nggak bahagia,” tambah Eyang.

“Nah! Itu yang bahaya….” susul Runi.

“Semua pada konspirasi nyerang aku!” sewot Dea.

“Wadoh! Kayak anggota partai aja, pakai konspirasi segala,” gelak Eyang, “kami ingin kamu makin dewasa makin mandiri. Jangan salah….” Eyang melepas kacamatanya, mengawasi cucunya.

 “Kalau gitu, bulan depan aku harus dapetin SIM A,” ujar Dea, melepas kaus kakinya, menciumnya, lalu tersedak.

“Woh? Kok terus melompat ke SIM A?” seru Runi.

“Kalau aku punya SIM A jadi bisa bawa mobil Mama. Kalau jalan sendiri bisa lebih bahagia, lebih gaya….”

Gadis SMA itu menggulung-gulung kauskakinya jadi serupa bola, melempar dan menangkapnya dengan dua tangan, sambil berjalan ke belakang.

*** 




4 komentar:

Idea mengatakan...

“Kalau gitu, bulan depan aku harus dapetin SIM A,” ujar Dea, melepas kaus kakinya, menciumnya, lalu tersedak.>>>> Lha kok mirip aku nih? wkwkwkwkwkw...

Duh, baca ini kok geli sendiri, ceritanya lincah mengalir.. kangen sama tulisan ini Mbak.. huhuuuyyy

Endah Raharjo mengatakan...

Wueheheheheee... ada Jeng Idea yg identik dgn Dea. Mungkin sama2 bandelnya wkt remaja :-)
Thanks, ya... udh baca...

Edi Kusumawati mengatakan...

woii...mana nih lanjutannya mba...kira2 dimunculkan lg gak si mas priyo itu...halahhh malah kangen mas priyo aq :D

Endah Raharjo mengatakan...

Mbak Edi, bentar yaaa... waaah... masih ingat aja sama Priyo :-) jadi mikir gimana caranya, ya ndatangin Priyo yg lg di Jerman :-)
Sekarang sedang tayang ulang di Kompas.com