Kamis, 26 Januari 2012

One Little Monkey

Sumber Gambar
Aku ingin tahu, apa ada orang di dunia ini yang cintanya belum pernah ditolak. Kalau ada, aku ingin berguru padanya supaya lebih pintar dan mendapatkan cinta yang sudah lama kuidam-idamkan namun belum juga kudapatkan.

Usiaku sudah 29 tahun. Sebentar lagi, hanya beberapa bulan lagi, usiaku berkepala tiga. Menyedihkan, ya. Usia sudah hampir kepala tiga tapi belum pernah mendapatkan cinta. Oh, ya, aku seorang perempuan. Pasti kalian langsung menebak bahwa aku tidak cantik. Tunggu dulu. Menurut kakak dan ibuku, aku cukup cantik, tentunya itu pendapat yang sangat subyektif, jadi belum tentu disetujui oleh orang banyak.

Tubuhku kurus, dengan tinggi cuma 152 cm dan berat 40 kg aku seperti anak SD kelas enam saja. Apalagi payudaraku hanya sebesar tutup gelas. Tutupnya saja, ya, tidak sama gelasnya. Pinggulku juga tidak begitu bulat. Kata ‘tidak begitu’ hanya untuk memperhalus saja karena boleh dikatakan aku tidak punya pinggul. Bayangkan… wah, untuk apa membayangkan perempuan yang tidak punya pinggul, ya? Aku ulangi, bayangkan, celana jeans yang kubeli selalu ukuran 26, kalau merk-nya lokal biasanya ukurannya tidak standar sehingga harus sedikit dikecilkan agar pas badan, mauku bila diberi ikat pinggang tidak berkerut sana-sini. Kalau mau membeli T-shirt, gaun dan semua pernak-pernik untuk menutup tubuh, aku lebih sering mencari di bagian anak-anak atau konter remaja. Tahu PW? Bukan, itu bukan singkatan dari Posisi Wuenak, tapi Pinkie Winkie, salah satu merk terkenal pakaian anak-anak. Nah, T-shirt yang nomer 10 bisa muat di tubuhku, padahal sesuai nomernya, ukuran itu dirancang untuk anak usia 10 tahun. Memalukan!

Namun kisah pendekku ini bukan soal tubuh dan pakaianku. Ini tentang cintaku yang berakhir bahkan sebelum dimulai. Memang, ini bukan yang pertama karena cintaku selalu saja bertepuk sebelah tangan, kandas di tengah jalan, layu sebelum berkembang... ya… ya… itu sebuah judul lagu jaman dulu.

Sebulan lalu di sebuah cafĂ© tempat aku dan teman-temanku sering nongkrong – FYI, teman-temanku semua sudah punya pacar dan ada pula yang sudah menikah – aku melihat seorang laki-laki cakep dengan tubuh pendek kecil. Wah. Ini kesempatan, pikirku. Lelaki kecil mungkin akan memilih perempuan mungil.

Dengan segala cara aku berusaha menarik perhatiannya. Ya, tentu saja aku bilang pada teman-temanku, saat itu ada lima orang, perempuan semua, untuk membantuku. Kami sengaja ketawa keras-keras agar dia menengok. Benar juga. Sekali. Dua kali. Ketiga kali, dia menoleh sambil tersenyum dan memandangi kami satu persatu. Saat itu aku berdiri agar perhatiannya terpusat padaku. Tepat sekali strategiku. Si lelaki bertubuh mungil itu lebih lama memandangku. Amboi, dia tersenyum. Singkat cerita, kami akhirnya berkenalan yang disusul dengan saling bertukar nomor HP.

Sorenya, iseng-iseng, lebih tepatnya dengan nekat, aku mengirim sms pada Johan, begitulah nama lelaki mungil itu.

Hi there! Lagi apa, Johan?”

“Hai, Ria. Lagi bengong aja.”

Wuih. Dia langsung membalas sms-ku. Lalu kami saling berbalas sms sampai ada kalau seratusan. Jemariku terasa pegal-pegal. Di kamar aku cekikikan bagai ABG yang sedang dirundung cinta monyet saja. Aku juga meloncat-loncat di atas tempat tidur, sambil bernyanyi, sampai menimbulkan suara tidak nyaman di telinga akibat decit pegas-pegas berbenturan dengan suaraku yang melengking.

                 One little monkey jumping on the bed,
                 She fell off and bumped her head.
                 Mama called the Doctor and the Doctor said,
                "No more monkey jumping on the bed!"

“Riaaaa…. Kamu ngapain? Loncat-loncat kayak anak kecil aja!” Tegur ibu dari ruang baca.

Begitulah, acara hebohku di kamar berlangsung beberapa lama sampai saat makan malam tiba.

Selanjutnya, ketika aku baru mau gosok gigi dan siap-siap tidur, Johan mengirim sms lagi. Isi sms itu menghentikan sorak-soraiku. Mau tahu apa isinya? Begini: “Ria, yang pakai baju hijau tadi namanya siapa? Cakep. Body-nya keren. Dadanya mantep. Kenalin ya. Pls….”

Yang dimaksud Johan adalah sahabatku bernama Intan, yang tubuhnya tinggi sintal, yang baru sebulan melahirkan dan masih menyusui.

Tentu saja sms itu tidak kubalas. Setelah mematikan HP aku melompat ke atas tempat tidur, lalu kutarik selimut menutupi tubuhku hingga ke ujung kepala. Tanpa gosok gigi, tanpa cuci muka, mataku yang basah kupejamkan kuat-kuat. Hingga pukul tiga pagi aku belum tidur juga.***

3 komentar:

Ria Tumimomor mengatakan...

patah hati dong gue :))))))

Gratcia Siahaya mengatakan...

Ngahahaha! Saya masih inget ini, wkwkwkwk....

Endah Raharjo mengatakan...

@Ria: wuahahahahaaa... ini namanya dari dulu emang Ria...
@Gratcia: kasihan si cewek ya, kok tega2nya saya nulis cerita kyk gini :))))