Rabu, 02 Mei 2012

Dilema Menulis Prosa

Foto oleh Endah Raharjo
Salah satu adik ipar saya - lulusan Sastra Indonesia yang sekarang bekerja di sebuah lembaga bahasa milik pemerintah - pernah bilang kalau ia tidak punya nyali menulis tulisan-tulisan kreatif, terutama prosa. Mengapa? Katanya, ia tidak berani menghadapi bila karyanya akan membuat orang menyimpulkan atau mempertanyakan karakternya, prinsipnya dan lebih jauh lagi standar moralnya.

Lalu apa hubungannya antara karya prosa dan karakter, prinsip hidup atau standar moral penulisnya?

Dalam tulisan ini saya ingin sedikit mengurai kata-kata adik ipar saya itu berdasarkan sedikit pengalaman saya menulis fiksi. Saya mulai belajar menulis prosa pada awal 2009. Kalau menulis puisi, sudah saya lakukan sejak lama. Ada beberapa puisi yang saya tulis ketika di SD yang dimuat di majalah anak-anak Kawanku – yang sekarang kalau tidak salah menjadi majalah remaja. Sesekali, biasanya kalau sedang jauh dari keluarga, saya juga menulis puisi sekedar untuk menumpahkan sesaknya sepi dan gemuruh rindu hati.

Saat mulai belajar menulis prosa, saya memang sedang mengurangi kegiatan ngantor dari lima hari seminggu menjadi dua-tiga hari, hanya bila teman-teman memerlukan kehadiran saya. Karena banyak waktu, mulailah saya mencoba mengisinya dengan hal-hal baru yang sudah lama sekali ingin saya lakukan: belajar menjadi ibu rumah tangga dan menulis.

Ketika sedang menulis prosa, sering kali saya terbelah antara prinsip hidup (sikap batin, standar moral, nilai dan norma yang saya yakini dan jalani) yang sudah terpateri sebagai bagian karakter diri dengan imajinasi liar yang terkunci rapat di otak. Tidak mudah untuk memutuskan apakah imajinasi kreatif yang tersembunyi akan saya umbar melalui tulisan atau perlu bungkusan. Setiap kali hendak menuliskan gagasan, saya harus berpikir dua-tiga kali, bila perlu bertanya pada anak dan suami, apakah isi otak saya akan saya biarkan menari-nari sebebasnya di ujung jari.

Prosa yang sudah saya baca cukup beragam, mulai dari karya pemula di blog-blog hingga pemenang Nobel. Juga beberapa karya feminis Mesir Nawal el Saadawi dan tentunya sebagian karya Pramoedya. Termasuk puluhan cerita-cerita kriminal khas Agatha Christie hingga cerita-cerita pendek Seno Gumira Ajidarma dan kisah-kisahnya NH Dini. Tidak seperti celana jeans, semua karya itu tidak ada yang persis sama. Misi moralnya bisa saja serupa namun alur cerita serta lokasi dan sejarah yang membingkainya saling beda. Luar biasa. Saya jadi bertanya-tanya, bagaimanakah pribadi-pribadi para penulis fiksi – prosa – yang telah mendunia itu? Apakah mereka tidak terlibat dengan para tokoh ciptaannya? Ataukah para tokoh itu merupakan alter ego, belahan jiwa, idola atau pecahan-diri para penulisnya? Ataukah justru sebaliknya, lambat laun si penulis akan berhuma di dalam raga maya ciptaannya? Mungkin pertanyaan semacam ini yang menghantui adik ipar saya hingga ia tak berani menuangkan imajinasinya ke dalam sebuah prosa.

Beberapa kisah yang sudah saya baca ada yang benar-benar melekat di hati, ada pula yang langsung lupa beberapa saat setelah selesai membaca. Di blog ini, ada beberapa fiksi. Kadang ada rasa khawatir juga setelah mem-publish sebuah prosa yang sedikit ‘berbeda’. Misalnya saja Pulang yang bercerita tentang seorang lesbian. Kisah itu saya tulis beberapa saat setelah bertemu dengan 7 perempuan lesbian; mereka adalah teman dari teman saya yang juga lesbian. Sebagai satu-satunya heteroseksual, kala itu saya salah tingkah. Beberapa saat kemudian, pengalaman itu menjadi ilham menulis cerita.

Dari komentar-komentar yang disampaikan, baik lewat link di Facebook maupun langsung di bawah tulisan, saya menyimpulkan kalau pembaca rata-rata berharap menemukan cerita yang baik, manis, indah dan bila perlu diselipi pesan moral. Padahal di benak saya sering muncul gagasan menulis sesuatu yang – mungkin – sama sekali tanpa pesan moral; sekedar memunculkan cerita yang bersembunyi di benak saya.

Di balik rasa senang karena prosa saya dibaca orang, muncul rasa khawatir. Jangan-jangan… ya… jangan-jangan ada yang mengira kalau prosa saya – dan tulisan-tulisan kreatif lainnya - adalah cerminan pilihan hidup saya, ungkapan karakter saya, perwujudan nilai-norma yang saya anut atau bisa-bisa refleksi orientasi seksual saya. Tentu saja kekhawatiran itu tidak sampai menghantui. Kalaupun pembaca mengaitkan isi tulisan dengan diri saya, itu juga hak mereka. Walau menjadi dilema, saya akan terus berkarya. Bila perlu semakin menyingkap imajinasi yang sebagian besar masih saya kerukupi rapat-rapat di otak saya. Selama tulisan saya dibaca orang, saya akan merayakannya.

***

7 komentar:

Nathalia mengatakan...

nah, jangan-jangan, suri disangka si copet yg kemarin duduk ditaman :D

BangRe Kemal mengatakan...

Bermanfaat mbakEndah, padahal ketika seorang menempatkan tulisannya adalah fiksi, berarti secara tidak langsung penulis hendak menegaskan, apresiasilah dgn keutamaan membaca tulisannya sbg. karya fiksi, apakah itu nyata atau kompilasinya, kombinasi, atau bukan. Memang benar, tergantung ke diri penulis, bagaimana menghadapi reaksi, dan konsisten memberi respon. Kalau ikut membantah keras, malah dikira benaran. Ternyata perlu jg. belajar banyak cara dlm. hal ini, bukan hanya sekedar menulis (termasuk saya). Salam sukses saja dan tetap konsisten. Mbak, aku ijin yah, add GC dan linknya, biar gak lupa dan sekedar sekaligus gak putus2 ingin terus belajar ini.. oke-oke? trims ya

matahari mengatakan...

senang bisa tersasar disini :)

Endah Raharjo mengatakan...

@Suri: bisa jadi dirimu dikira pernah 'nyoba' heheheheee...

@BangRe Kemal: begitulah, BangRe. Kadang pembaca mengaitkan tulisan secara personal dg penulisnya. Di sini saya jadi yakin bahwa penggunaan nama samaran itu penting, agar pembaca lbh obyektif menilai tulisan. Tapi ya pembaca punya hak untuk memaknai tulisan semau mereka, iya kan? sekali tulisan ditayangkan untuk umum, penulisnya harus siap dgn risikonya :-)

@Mbak Matahari: silakan duduk, Mbak. Mau minum apa? :-) salam kenal

-Indah- mengatakan...

Soal pesan moral sih kalo buat gua pribadi ngga terlalu penting karena "pesan" yang didapat itu sendiri bergantung dari mata yang baca, bukan melulu soal apa yang berusaha disampaikan yang nulis, hahahaha :))

Kadang dari hal remeh temeh sekalipun bisa aja pembacanya mendapatkan semacam "pencerahan" padahal penulisnya mungkin bolak balik baca ulang dan membatin, "Perasaan ngga ada isinya dhe nih tulisan yang gua buat!", wakakakakakak :p

Hadi Kurniawan mengatakan...

Saya juga kadang kalau nulis fiksi nggak ada pesan moralnya, Kak! hehe Salam kenal ya kakak *salim

Endah Raharjo mengatakan...

@Indah: saya serujuk :) bagi saya setiap cerita itu punya kisahnya sendiri. Kyk yang Indah bilang dulu itu :)

@Saya juga sering asal nulis, Hadi. Salam kenal kembali. Thanks, ya... :)