Jumat, 15 November 2013

Snow Country: Geisha, Salju dan Haiku

"The windows were still screened from the summer. A moth so still that it might have been glued there clung to one of the screens. Its feelers stood out like delicate wool, the color of cedar bark, and its wings, the length of a woman's finger, were a pale, almost diaphanous green."

Salah satu paragraf yang menggambarkan seekor rama-rama dalam novel Kawabata 'Snow Country' itu selembut dan seelok puisi. Novel ini, yang oleh beberapa kritikus dinilai sebagai karya terbaik Yasunari Kawabata, memang serupa 'mega' haiku.

Seperti judulnya, kisahnya bertempat di sebuah desa pegunungan di Jepang yang selalu berselimutkan salju di musim dingin. Di desa itu terdapat sumber air panas yang kerap dikunjungi oleh para lelaki, baik sendirian maupun berkelompok. Mereka menginap di losmen-losmen dan dihibur serta ditemani oleh geisha desa.

Shimamura, seorang lelaki Tokyo kelas menengah yang beristri (tidak diceritakan adanya anak) berkunjung ke desa itu sendirian. Selama di sana ia ditemani seorang geisha bernama Komako. Si geisha, berumur awal 20-an, jatuh cinta pada Shimamura. Cinta mereka khas Jepang, sepemahaman saya akan cinta gaya Jepang: malu-malu, hati-hati, lembut, sekaligus fatal.

Mereka selalu bertemu setiap kali Shimamura berkunjung ke desa itu. Setelah lebih setahun, hubungan mereka yang terkesan sembunyi-sembunyi itu diketahui oleh warga desa. Bahkan supir taksi menahan laju kendaraannya saat mengantar Shimamura dan melihat Komako sedang berdiri di depan sebuah losmen, memberi kesempatan pada Shimamura bila ia ingin menyapa kekasihnya.

Meskipun Komako mencintai Shimamura, ia tetap melayani dan menghibur tetamu lain, baik di losmen tempat Shimamura menginap maupun di losmen lain. Dalam setahun si geisha menghadiri puluhan pesta dan melayani banyak tetamu. Tak jarang ia mendadak muncul di kamar Shimamura dalam keadaan mabuk.

Di awal cerita, dalam perjalanan dengan kereta api ke desa di pegunungan itu Shimamura melihat seorang gadis muda duduk tak jauh di hadapannya. Gadis yang kelak ia ketahui bernama Yoko itu sempat menambat hatinya. Setiap orang di desa yang damai dan indah itu mengenal satu sama lain. Begitu pula Komako dan Yoko.

Kisah antara Shimamora, Komako, dan Yoko diletakkan oleh Kawabata di atas latar desa pegunungan yang memesona. Tiap paragraf dihiasi oleh deskripsi keindahan desa yang dingin, damai, dan tradisional. Pucuk-pucuk cemara udang (cedar) yang membingkai langit, bunga krisan, peoni, dan aneka bunga musim gugur yang terhampar bagai sutera keperakan menyelimuti punggung gunung, dipadu dengan salju yang beku, angin musim gugur dan musim dingin yang mengiris kulit, menghadirkan kesan magis selama membaca kisah cinta malu-malu-penuh-keraguan-ditahan-tahan ini. Kawabata piawai memotret pesona alam dengan kata-kata.

Seperti salah satu paragraf yang menggambarkan pemandangan dari kaca jendela kereta api ini: [...] A mountain, cut at the top in curious notches and spires, fell off in a graceful sweep to the far skirts. Over it the moon was rising. The solid, integral shape of the mountain, taking up the whole of the evening landscape there at the end of the plain, was set off in a deep purple against the pale light of the sky. The moon was no longer an afternoon white, but, faintly colored, it had not yet taken on the clear coldness of the winter night [...]

Betapa eloknya sepotong wajah bulan yang muncul di balik gunung keunguan itu.

Mudah merasakan udara beku dan cabikan angin musim dingin, sebab saya pernah mengalami 2 kali musim dingin di Kanada dan sekali di Amerika. Namun saya kesulitan membayangkan jalinan sosial masyarakat Jepang di desa pegunungan itu. Apalagi saya belum pernah berkunjung ke Jepang, sekedar menginjak bandaranya 4-5 kali saja.

Saking banyaknya pesona alam dipamerkan dalam novel ini, sambil membaca kerap terbayang haiku karya Shiro, Santoka, dan tentu saja Basho. Saya jadi lebih fokus pada suasana alamnya daripada kisahnya.

Di bagian awal, saya kesulitan menangkap hubungan romantis antara Shimamora dan Komako, baru di bagian kedua semuanya menjadi lebih jelas. Emosinya - yang malu-malu-tapi-mau-dan-rindu - lebih terasa. Lamat-lamat. Serupa gerimis sore hari di awal musim penghujan.

Di desa itu, banyak gadis muda bekerja sebagai geisha. Di musim ramai, dalam semalam mereka biasa melayani tetamu di beberapa pesta, minum sake hingga mabuk. Keahlian utama mereka adalah menari, menyanyi sambil memainkan shamisen, menulis kaligrafi, dan bermain aneka games. Mereka pun sering harus menjadi pendengar yang baik dan selalu tersenyum.

Saya tidak paham bagaimana posisi geisha ini dalam masyarakat Jepang. Konon, mereka adalah pekerja seni, seperti namanya yang terdiri dari dua kata 'gei' yang berarti seni dan 'sha' yang berarti orang atau pelaku/pekerja. Meskipun demikian, saya pribadi sulit melepaskan profesi mereka dengan para penghibur di kelab-kelab malam. Para perempuan yang - karena banyak alasan - dibayar untuk menghibur para lelaki yang meninggalkan anak-istri demi mencari kesenangan sendiri. Oleh karenanya profesi ini - buat saya - cenderung inferior. Terlebih dalam banyak cerita digambarkan bagaimana setelah sekian tahun bekerja mereka ingin berhenti untuk memulai usaha sendiri dengan tabungannya; ada pula yang berharap menjadi gundik atau disunting oleh pelanggannya.

Dalam Snow Country, Shimamura tidak berkeinginan untuk menjadikan Komako sebagai gundiknya, meskipun Komako - terkesan - berharap demikian.

Lalu bagaimana jadinya? Apakah harapan Komako jadi nyata? Kisah yang dituturkan sehalus salju dan seanggun gunung ini berakhir pilu. Serasa sedang duduk di teras menikmati sepoi angin selepas hujan di senja bulan November, tiba-tiba ada truk pasir nyelonong masuk...

***

2 komentar:

Hanna HM Zwan mengatakan...

penasaran mbk,pingin bacaaa... ^^

Endah Raharjo mengatakan...

Hanna, katanya udh ada versi bahasa Indonesia, penerjemahnya AS Laksana, puitis dan bagus :) tapi kalau mau ebook versi bahasa Inggris malah gratis