Selasa, 05 November 2013

Captain Phillips: Menangisi Perompak

Najee, Muse, Bilal, Elmi
"Bagi banyak anak muda, remaja, dan keluarga, menjadi perompak adalah jalan keluar. Mereka adalah korban perang saudara selama 20 tahun. Sulit mendapat pendidikan dan pekerjaan yang layak," demikian komentar Faysal Ahmed, pemeran Najee dalam film Captain Phillips, tentang para perompak Somalia yang umumnya berusia muda itu.

Bagi saya Captain Phillips bukan sekedar film thriller. Ia adalah potret koyak generasi muda produk sebuah bangsa yang gagal. Di akhir film, mata saya pedas karena membendung air mata. Saya ingin menangis bukan untuk Captain Phillips yang dengan dahsyat diperankan oleh Tom Hanks. Saya menangis untuk Muse Si Kapten Perompak yang bijak, untuk Najee yang beringas, Emil yang penurut, dan terutama untuk si remaja Bilal yang lembut hati dan telapak kaki telanjangnya berlumur darah terobek pecahan kaca.

Somalia, negara yang terletak di bagian 'tanduk' Afrika dengan wilayah menyerupai huruf J memanjang dari Samudera Hindia hingga Teluk Aden, tak henti dirundung petaka. Perang saudara tak berkesudahan yang diperparah dengan kekeringan, telah membunuh ratusan ribu jiwa, juga mendorong penduduknya menempuh cara apapun untuk sekedar bertahan hidup. Salah satunya adalah perompakan, yang jadi pilihan para nelayan yang tak hanya terdesak perang, juga pencurian ikan oleh kapal-kapal asing di perairan mereka.

Di antara mereka adalah Abdul Wali Muse, yang diperankan oleh aktor baru asal Somalia, Barkhad Abdi. Lelaki kurus berdahi lebar bergigi tonggos itu nekad merompak kapal barang Maersk Alabama. Kapal Amerika. Ia ditemani oleh Najee, Elmi, dan Bilal yang masih ingusan. Menyandang AK 47, tubuh-tubuh kurus bertampang garang itu berhasil naik ke kapal raksasa yang dipimpin oleh Captain Phillips.

Captain Phillips mencoba membujuk para perompak dengan menawari mereka uang tunai US$ 30.000. Mereka menolak, merasa dilecehkan, dianggap pengemis. Sebab target mereka merompak jutaan dolar. Para perompak marah, gelisah, sekaligus takut gagal. Kejadian demi kejadian mencekam diperlihatkan di dalam kapal yang mengangkut bantuan pangan dan barang kebutuhan pengungsi ke Mombasa, Kenya, itu. Ujung-ujungnya, Captain Phillips dibawa ke dalam sekoci oleh Muse dan kawanannya, sebagai tawanan yang harus ditebus - oleh pihak asuransi - sebesar US$ 10 juta.

Captain Phillips - yang paham betul tentang sikap pemerintah Amerika terhadap tindak kriminal semacam itu pada warganya di wilayah internasional - berusaha meyakinkan Muse dan anak buahnya agar melepasnya dan pergi membawa uang yang telah ia berikan. Namun Muse, yang terus-terusan dirongrong oleh Najee, pantang mundur.

"Aku pantang menyerah. Aku sudah bertindak sejauh ini," rutuknya, menantang kapal perang Amerika dan tak gentar dikepung oleh tim Navy Seal yang tersohor itu.

Di dalam sekoci kecil warna oranye berbentuk seperti jerigen itu, selain sumpah serapah, gertakan, dan ancaman, terjadi adegan dan dialog yang memilukan hati (saya). Bagaimana Bilal yang masih remaja hendak diobati lukanya oleh Captain Phillips. Bagaimana Bilal memberi air pada Si Kapten dan memohon agar ia menuruti saja perintah Muse dan Najee, sebab bila tidak mereka berdua bisa dibunuh. Juga bagaimana Muse mengisahkan mimpinya pindah ke Amerika, ke New York, dan membeli mobil.

Pemimpin perompak dekil-kurus-dan-terlihat-lapar yang tangannya tertusuk pisau itu juga sesumbar tentang keberhasilnnya merompak sebuah kapal Yunani yang memberinya uang US$ 6 juta.

"Kalau begitu, mengapa kamu ada di sini?" tanya Captain Phillips.

Muse membuang muka sambil bergumam bahwa ia punya atasan. Yang ia maksud adalah seorang warlord. Uang hasil merompak direbut oleh para warlords itu, menyisakan kemiskinan, tumpukan kemarahan, dan dendam.

"Kalau begitu, mengapa kamu melakukan hal ini? Bukannya ada pilihan pekerjaan lain?"

"Mungkin di Amerika.... Mungkin di Amerika...." cetus Muse pahit, dengan pandangan kosong ke bawah, sekosong harapannya untuk hidup tentram di negerinya.

Betapa getir hidup mereka. Karenanya saya ingin menangis.

Muse, Najee, Elmi, dan Bilal adalah contoh manusia yang tergencet, terdesak hingga ke bibir jurang; oleh pemerintah yang korup, lemah, dan tidak adil, juga oleh berbagai kekuatan keji yang mengiringinya. Saya tak memihak perompakan. Kejahatan semacam itu tak bisa diterima meskipun demi menghidupi keluarga. Tujuan mulia tidak membenarkan cara jahat untuk mencapainya.

Saya menangisi orang-orang seperti Muse, manusia yang hanya mengenal kekerasan sebagai cara bertahan hidup. Serupa binatang yang terpojok, satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri adalah menyerang, menerkam sepenuh kekuatan.

**

Sutradara: Paul Greengrass
Pemain: Tom Hanks sbg Captain Richard Phillips; Barkhad Abdi sbg Abdul Wali Muse; Faysal Ahmed sbg Najee; Barkhad Abdirahman sbg Bilal; Mahat M. Al sbg Elmi

2 komentar:

Hanna HM Zwan mengatakan...

aaaaaaa..penasaran sama filmnya,kayaknya seru ya mbk..aku suka film yg model beginian,makasih reviewnya....mupeng ^^

Endah Raharjo mengatakan...

Langsung nonton aja, Hanna. Bagus. Sejak awal sampai akhir bagusnya :D