Rabu, 20 Juni 2012

Reuni Keluarga: Sebuah Renungan

Sumber Foto
Pernahkah Anda merasa kurang nyaman ketika menghadiri sebuah reuni keluarga besar? Saya kadang-kadang merasakannya dan saya yakin saya tidak sendiri.

Bagi saya yang berasal dari sebuah keluarga besar, pertemuan keluarga bisa terjadi beberapa kali dalam setahun, bukan hanya pada saat Lebaran saja. Pertemuan keluarga di ‘lingkar pertama’ atau keluarga kakak dan adik-adik kandung dari pihak saya, bisa terjadi hampir tiap bulan karena kami berdekatan, hanya Jogja – Solo saja. Khusus untuk pertemuan keluarga lingkar pertama ini suasana selalu meriah penuh canda tawa karena pada dasarnya kami semua suka makan, gemar bercanda, hobi ngomong saru, dan kalau sudah ketawa dijamin pekak telinga. Namun yang paling penting adalah kondisi, karakter atau latar belakang sosial-ekonomi keluarga kakak dan adik-adik saya relatif sama sehingga chemistry berpadu serasi.

Lain halnya bila menghadiri reuni keluarga besar di tingkat kakek-nenek, buyut atau lebih ke atas lagi. Karena begitu besarnya pohon keluarga di tingkat ini dan banyaknya lapisan-lapisan lingkar batangnya dan cabang-cabangnya, karakter keluarga juga semakin heterogen. Perbedaan latar belakang sosial-ekonomi, termasuk pendidikan dan gaya hidup, begitu kentara. Bisa jadi bagai pinang dipecah seribu. Kerap terasa seperti ada jurang pemisah antara satu keluarga dengan keluarga lainnya.

Perbedaan antarkeluarga yang bisa sangat menyolok mata dan menusuk hati itulah yang sering menjadi penyebab seorang anggota keluarga malas hadir dalam reuni. Perbedaan yang ekstrim selain membawa berkah bisa juga menjadi sumber bencana. Bagi mereka yang sukses lahir-batin, atau secara sosial-ekonomi mapan, reuni keluarga adalah ajang untuk berbagi rasa bangga dan bahagia. Suatu perhelatan untuk mensyukuri nikmat dunia yang, insya Allah, bisa mengantar hingga ke surgaNya. Namun bagi anggota keluarga yang hidup serba kekurangan, bahkan sampai terlunta-lunta, reuni keluarga mungkin dirasa sebagai acara persidangan dimana sanak-saudara siap mengadili perilaku dan nasibnya.

Perbedaan kondisi sosial-ekonomi juga bisa membawa berkah bila masing-masing anggota keluarga mampu menyikapi dengan bijaksana. Si adik atau bibi yang kaya bisa membantu si kakak atau paman yang kurang sejahtera. Bila kita semua dapat menyikapi perbedaan dan perubahan dengan lebih arif maka sebuah reuni keluarga tidak perlu menyisakan duka.

Keluarga tak ubahnya sebuah komunitas yang disatukan terutama oleh darah yang sama. Masing-masing anggota awalnya berasal dari benih yang sama. Namun ketika dewasa, berkeluarga kemudian beranak-pinak pula, pelan-pelan kekentalan darah berkurang dan benih semakin bersilangan dengan keluarga lainnya. Sementara hubungan kasih sayang tak cukup hanya diikat oleh darah yang kental-encernya tak bisa diduga. Apalagi bila masing-masing anggota keluarga - yang awal-awalnya tinggal dalam rumah yang sama - berpencar ke lain kampung, lain kota, lain pulau hingga ke lain negara.

Beberapa dekade yang lalu, ketika mobilitas manusia Indonesia belum setinggi saat ini, kentalnya kekerabatan masih mudah dijaga dan dipertahankan. Namun dengan semakin tingginya mobilitas manusia, dengan beragam alasan dan sebabnya, perpindahan antartempat menjadi hal yang lumrah. Kadang sebuah keluarga terpisah di tiga tempat atau lebih, si bapak bekerja di luar kota, sang ibu belajar di luar negeri dan anak-anak tinggal di rumah ditemani kakek-nenek atau paman-bibi. Dengan kondisi semacam ini, wajar saja bila perpecahan keluarga lebih mudah terjadi. Perpecahan bukan dalam arti yang negatif, tetapi perpecahan sebagai akibat dari perjuangan dalam rangka bertahan hidup dan mencari peluang yang lebih baik.

Perubahan merupakan konsekuensi perjalanan hidup setiap orang yang dituntut untuk selalu beradaptasi dengan lingkungan. Selain itu, perjalanan hidup tiap-tiap orang tidak ada yang persis sama walaupun berasal dari satu keluarga. Ada keluarga yang kaya raya namun kerjanya hanya bertengkar berebut harta warisan orang tua. Ada keluarga yang anaknya terkena kasus narkoba atau terjerat kasus hukum. Ada keluarga yang sederhana namun hidupnya tenteram dan bahagia. Ada yang semuanya sukses secara profesional namun orang tua justru bercerai di usia senja. Tentu, ada pula yang sukses lahir-batin serta jasmani-rohani sejahtera.

Saya jadi teringat pada sebuah film produksi BBC karya Stephen Poliakoff, Perfect Strangers, yang menggambarkan dengan penuh detil dan cermat tentang sebuah reuni akbar di keluarga Inggris kelas atas. Saya beberapa kali menonton film ini bersama anak saya dan mendiskusikannya. Kami mengulas bagaimana ‘hal-hal aneh’ sering terjadi di setiap keluarga besar. Yang disebut hal-hal aneh itu bisa apa saja, perselingkuhan yang disembunyikan, pertengakaran antara saudara kandung, percintaan antarsepupu dan sebagainya. Yang paling menohok adalah ada kalanya orang-orang yang kita sebut sebagai keluarga ternyata dengan berlalunya waktu dan berubahnya jaman, sebenarnya hanyalah orang-orang asing yang terikat oleh pertalian darah atau perkawinan saja. Pas dengan judulnya: Perfect Strangers.

Siapa yang bisa menduga, ketika kecil sama-sama ditimang oleh sepasang tangan bunda dan bernaung atap yang sama, apa jadinya setelah dewasa? Siapa pula yang bisa disalahkan bila malapetaka menimpa salah satunya? Siapa lagi yang akan dipuji kalau kesuksesan tidak merengkuh semuanya? Apakah ayah-bunda? Atau Tuhan Sang Maha Penentu atas nasib manusia? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang sering berlarian menggelitik hati dan menggoda pikiran saya ketika menghadiri reuni keluarga.

***

4 komentar:

-Indah- mengatakan...

Hmm.. emang kadang menyedihkan, 'keluarga' karena ikatan darah tapi hubungan yang terjalin di dalamnya ngga ada bedanya dengan 'strangers' :)

Thanks for sharing, Mbak Endah :D

Endah Raharjo mengatakan...

Hai, Indah... memang begitu kenyataannya :-(
Makasih juga Indah udh membaca. Itu filmnya bagus lho yg 'perfect strangers'

Abebah Adi mengatakan...

Harta dan tahta kerap mampu merobek tatanan hubungan darah dalam ikatan keluarga besar, apalagi jika turut hadirnya hembusan budaya hedonenisme yang menenggelamkan budaya silih asih asah dan asuh yang biasa terjalin dalam ikatan kekeluargaan. Terlalu kental dengan kejumawaan diri kerap dirasakan mengiris rasa strata paling bawah, walaupun bagi mereka yang jumawa barangkali tidak ada masalah, sudah hal yang biasa ketika memamerkan kelebihan di depan mata mereka. Tidak seperti jaman yang sudah lewat, dalam tiap generasi selalu Hadir peran tokoh keluarga yang sangat disegani dan dihormati oleh berbagai kalangan dalam keluarga besar, biasanya mereka yang menjembatani hubungan harmonis antar strata ini, kini peran tokoh dalam keluarga besar tersebut sudah susah dijumpai kalau tidak dapat dikatakan langka. Nice post.

Endah Raharjo mengatakan...

Terima kasih banyak komentarnya Pak Adi. Semoga Lebaran kali ini pertemuan keluarga Pak Adi lancar dan berkah. Salam.