Tampilkan postingan dengan label romansa tengah baya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label romansa tengah baya. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Juni 2015

Menua Bersama dengan Mesra

Itulah kesan pertama selepas nonton film '5 Flights Up' yang menjejerkan 2 bintang favorit saya sebagai lakon: Morgan Freeman (Alex) dan Diane Keaton (Ruth). Beberapa reviewer film menganggap film ini ringan, serupa cerita pendek di majalah perempuan, tanpa kejutan sedikitpun dan tawar. Bagi saya film ini menjadi jeda yang nyaman sehabis disuguhi adu cacat-cela di media sosial.

Pasangan Alex dan Ruth bersama seekor anjing bernama Dorothy tinggal di sebuah apartemen berlantai 5 di Brooklyn. Ruth adalah pensiunan guru dan berkulit putih. Alex adalah pelukis berkulit hitam yang karyanya cukup laku dan masih produktif hingga tua. Mereka berniat menjual apartemen berkamar 2 yang telah mereka huni selama 40 tahun.

Rencana itu dipengaruhi oleh keponakan mereka, Lilly, seorang broker rumah, dengan alasan bahwa Alex dan Ruth menua hingga perlu pindah ke apartemen yang dilengkapi dengan lift supaya mereka tidak kesulitan naik-turun tangga.

Kisah berkutat pada proses menjual apartemen lama dan membeli yang baru (yang dilengkapi lift). Diselingi sakitnya si Dorothy dan reportase langsung di TV tentang adanya ancaman bom oleh teroris yang akan meledakkan truk tangki minyak di dekat jembatan Brooklyn. Benar bahwa film ini plotnya sederhana, namun akting Freeman dan Keaton memesona hingga saya menikmati tiap kata dan kedip mata mereka. Bahkan sesekali membayangkan diri saya bersama suami akan tetap semesra mereka 20 tahun lagi.

Cara mereka membahas suatu persoalan, bercanda dan saling mengejek mencerminkan perkawinan mereka yang bahagia meskipun jalan yang mereka tempuh terjal. Dalam salah satu adegan Ruth mengatakan bahwa saat mereka menikah 30 negara bagian di Amerika Serikat masih menganggap pernikahan campur sebagai tindakan ilegal. Dan 20 tahun berikutnya orang masih memandang mereka dengan penuh prasangka. Keluarga Ruth sendiri tidak mendukung pernikahan itu. Namun mereka melaluinya dengan baik.

Riak-riak kecil sehari-hari dalam perjalanan pernikahan - dengan sedikit flashback - berhasil ditampilkan wajar dan memikat. Ada beberapa sentilan dan humor dalam dialognya. Misalnya ketika teman mereka, keluarga pemilik galeri yang sudah lama menjual lukisan-lukisan Alex, meminta Alex mengubah gaya lukisannya. Terjadi dialog yang menegaskan bahwa galeri adalah bisnis, jadi keuntungan adalah tujuan utama. Sementara bagi Ruth dan Alex beda lagi; seniman melukis bukan untuk memuaskan pasar, seniman melukis untuk memuaskan dirinya sendiri. Juga ketika Alex harus minum obat dan ia gagal membuka botolnya. Di dekatnya ada gadis kecil yang menolongnya. “Mengapa mereka membuat botol sulit dibuka seperti ini?” tanya Alex pada si gadis kecil. “Untuk mencegah agar tidak dibuka anak-anak,” jawab si gadis kecil, menyerahkan botol yang berhasil ia buka tutupnya. Dan saya tergelak.

Sebuah film yang nyaman ditonton sambil menunggu buka puasa, atau sejenak rehat dari keruwetan sehari-hari. Saya paling suka dengan citra yang tersurat dalam kisahnya: pasangan yang menua bersama dan tetap mesra.

***

Kamis, 14 Maret 2013

Lili Ingin Menikah Lagi

Sumber Gambar
Setengah abad lebih dua tahun usianya, Lili masih tampak segar dan cantik. Kerut-merut halus di seputar mata justru menambah karakter wajah janda itu. Salah satu sahabat baikku itu juga langsing. Dengan tinggi 160 cm dan berat 55 kg sosoknya terlihat menarik. Semua model baju bisa ia kenakan.

Dua anaknya sudah tidak lagi memerlukan perhatian. Yang sulung sudah bekerja dan yang bungsu baru mulai menulis skripsi. Sebelum suaminya meninggal, lebih 13 tahun lalu, ketika usianya belum genap 39, Lili hidup teramat nyaman dan serba berkecukupan. Suaminya, dulu, konsultan hukum terpandang. Lelaki tampan dengan tubuh sangat prima. Hampir semua cabang olah raga ia kuasai. Namun nasib punya cara yang mustahil ditebak untuk menambahkan atau mengurangkan sesuatu pada kehidupan seseorang. Sebuah kecelakaan tragis di jalan bebas hambatan merenggut nyawa suami Lili. Semua orang tercengang, lelaki segar-bugar yang doyan olah raga itu tak berumur panjang.

Sejak itu grafik kehidupan Lili, terutama kondisi keuangannya, menukik sempurna. Satu persatu barang-barang berharga ia lego. Tabungan tiap hari berkurang.

Semasa lajangnya perempuan berkulit halus warna sawo matang itu bekerja sebagai manajer humas di sebuah hotel berbintang. Pekerjaan yang cukup bagus itu ia lepas demi mengurus keluarga. Ia berniat meneruskan karirnya yang terputus di tengah jalan, namun jalurnya tak lagi selurus dulu. Usia, pengalaman dan pengetahuannya sudah tertinggal jauh oleh pesaingnya yang lebih muda dan lebih tinggi pendidikannya.

Masih untung, setahun selepas menjanda, Lili bisa mendapat pekerjaan sebagai kasir di sebuah toko buku diskon. Pekerjaan klerikal bergaji minimal itu ia tekuni hingga kini. Sambil membanting tulang, dengan penuh keteguhan, dalam kesempitan dan kesunyian, Lili membesarkan dua anaknya sendirian. Mereka, akhirnya, tumbuh nyaris sempurna meskipun segalanya serba pasa-pasan.

** 

“Sebenarnya ada beberapa laki-laki yang tertarik berhubungan denganku, Tia,” katanya di suatu siang.

Kami tengah menikmati hari Minggu berdua saja. Duduk berhadapan di sebuah sudut café, menikmati jus mangga. Kami pesan pula sepuluh biji kroket ayam, tersaji apik di atas piring putih bertabur parutan keju berhias irisan wortel dan lettuce di sana-sini.

“Kamu sudah mengatakan itu berkali-kali. Lelakinya juga ganti-ganti,” ujarku tak bisa menahan tawa, mengamati penampilannya.

Dalam balutan celana jeans dan T-shirt putih yang pas di badan, Lili tampak manis. Sepasang anting emas putih mungil tergantung menggoda di kedua telinganya, membuatnya tampak segar dan muda.

“Kenapa tidak kamu pilih salah satu dan menjalin hubungan pelan-pelan?” lanjutku, “siapa tahu, kan?”

“Tidak mudah melupakan Mas Hasto.” Alasan itu juga sudah kudengar belasan kali.

Kuakui memang, lelaki sekualitas Hasto sebaya Lili pasti langka. Jika ada tentu sudah beristri. Kalaupun menduda ia akan segera menikah lagi.

“Aku tahu. Tapi Mas Hastomu itu sudah tidak di sini. Sudah tidak bersamamu lagi. Sudah pergi. Sudah tiga belas tahun, Lili,” sahutku tanpa pertimbangan. “Kalau memang niat menikah, segera saja. Jangan tunggu-tunggu. Jangan kebanyakan mikir ini-itu.”

Lili menatapku dengan wajah kurang senang. Kata maaf buru-buru kulontarkan sambil memegang tangan kanannya. Di jari manisnya masih tersemat cincin perkawinan. Mudah saja bagiku bicara demikian karena aku masih bersuami.

“Bukan itu saja.” Matanya beralih ke piring kroket. “Rasanya tidak pantas. Dua anakku perempuan. Ivada sudah dua puluh enam, dia belum pingin menikah. Katanya mau bantu aku membiayai kuliah adiknya dulu.” Lili menyebut anak sulungnya yang sudah bekerja di Surabaya, yang tiap bulan mengiriminya uang. “Apa kata orang-orang nanti?” Mata Lili yang sipit menerawang, menembus dinding kaca, menerobos keramaian di luar café.

“Jangan pikirkan kata orang.”

“Enak kamu bicara begitu, Tia.”

“Lalu aku harus bilang apa? Dari dulu-dulu itu saja alasannya. Waktu anak-anakmu kecil, kamu kuatir dibilang egois, nggak mikirin anak. Waktu mereka remaja kamu bilang anakmu sedang sangat butuh perhatian, kamu tak punya waktu untuk dirimu sendiri, apalagi mencari suami. Sekarang mereka sudah dewasa, sudah mendiri. Tapi kamu kuatir dibilang tidak tahu diri. Anak gadisnya belum nikah emaknya udah mau dua kali…” aku berusaha mengekang tawa, namun gagal.

“Hhh…!” Lili mendengus. Seringainya menunjukan perasaannya, antara geli dan nelongso.

Kami beberapa saat terdiam. Menyesap segarnya jus mangga dan menikmati gurihnya kroket.

“Aku heran. Kenapa ya, duda-duda itu gampang ngambil keputusan untuk nikah lagi?” gumamnya.

Aku diam saja.

“Tia!” Lili menarik ujung lengan kaus merahku, minta perhatianku.

“Kamu mikir dirimu sendiri aja. Nggak usah mikir duda-duda, kecuali kalau mereka mau dan cinta sama kamu,” selorohku.

Kami terbahak bersama. Tanpa sadar kami sama-sama mengedarkan pandang mencermati satu persatu lelaki yang ada di café itu. Jangan-jangan di antara mereka ada lelaki yang tengah mencari calon istri.

Aneh memang. Para duda umumnya lebih mudah menentukan pilihan dibandingkan rival mereka, para janda. Sering kubaca di berbagai artikel, buah pena para amatir maupun professional, yang mengatakan bahwa laki-laki tidak bisa menahan hasrat seksual terlalu lama; mereka juga rentan terhadap godaan. Ada juga yang mengulas bahwa laki-laki selalu butuh perempuan untuk mengurus kebutuhan domestiknya sementara mereka lebih fokus pada urusan publik. Selebihnya adalah adanya kecenderungan duda lebih memilih perempuan lajang daripada janda.

Sebaliknya si janda akan menerima cerca-cela bila berani menikahi jejaka. Terlebih bila si perjaka lebih muda. Sudah banyak contoh di sekitar kita.

Aku tak setuju dengan pendapat semacam itu. Perempuan juga sarat hasrat dan mempan godaan. Mereka pun banyak yang senang bila bersuamikan lelaki lebih muda dan perkasa. Namun perempuan umumnya – memang – sulit untuk tidak membandingkan lelaki lain dengan suaminya. Bila suaminya dulu berbudi baik, apalagi memenuhi syarat trilogi lelaki – cerdas, kaya, dan tampan – seorang janda akan kesulitan memilih suami kedua. Beda lagi kisahnya kalau suaminya itu dulu pecundang. Pasti merasa senang bila ditinggal mati duluan.

“Tia. Udahlah....” Kaki Lili yang terbungkus sepatu sendal hitam, sewarna ikat pinggangnya, menendang kakiku yang kusembunyikan di dalam sneakers merah dengan tiga strip putih. “Kayak mikir negara aja!” candanya.

“Jadi?” tanyaku sambil menyeruput sisa jus mangga. “Kita perlu order minuman lagi buat nemani sesi kedua diskusi?”

Lili mengibaskan tangan kanannya. “Yah, kapan-kapan aja kita bicara lagi. Aku capek setiap mikirin rencana kawin lagi.” Lili menuntaskan sebutir kroket sekaligus menghabiskan irisan wortelnya.

“Rencana kawin lagi?” Kukernyitkan dahi. “Punya pacar juga belum!”

Lili menyeringai. “Coba aku bisa kayak duda-duda itu, ya. Nggak usah pacaran. Tinggal pilih terus ngelamar. Beres kan?” Lili menertawai diri sendiri.

“Kenapa tidak begitu aja? Bukannya tinggal dicoba?” sergahku.

“Kalau nggak cocok malah jadi repot,” gerutunya, mengelap bibir dengan tisu, meminta bill pada pelayan.

Kami sama-sama membuka dompet, menarik selembar uang, meletakkan di nampan kecil.

“Pulang? Atau masih mau jalan?” tanyaku.

“Aku pusing. Langsung pulang aja.”

Kami keluar café beriringan. Aku yakin, beberapa minggu lagi, kalau kami duduk berdua menikmati kebersamaan seperti ini, Lili pasti akan membahas soal keinginannya kawin lagi, yang tidak jadi-jadi. Apakah nasib janda memang seperti ini? Kebanyakan memikirkan omongan orang sampai lupa kepentingan sendiri.

*** 

Senin, 04 Juni 2012

Selamat Datang Bayiku

Desain oleh Azam Raharjo
Saya sering merasa sangat beruntung, sangat terberkahi, karena berbagai alasan. Dan saat ini, hari ini, Senin, 4 Juni 2012, merupakan salah satunya.

Sudah lama sekali... saking lamanya sampai lupa... saya ingin bisa menulis cerita – fiksi – dan ingin sekali ada yang mau membacanya. Baru sekitar 3 tahun ini, sejak 2009, saya benar-benar berkesempatan menulis cerita – mengarang – yang hasilnya tidak hanya saya tlesepkan di bawah kasur atau sumpelkan laci, tapi saya tayangkan di tempat umum agar dibaca orang. Senang bukan kepalang saat tahu ada yang membaca, apalagi ketika ada yang mengapresiasinya; memuji atau sekedar berkomentar pendek sama-sama bernilai. Cerpen pertama yang – berani – saya publikasikan ada di sini; judulnya Darsinem. Di laman itu tertanggal 1 Februari 2009, lebih 3 tahun lalu.

Sejak itu, keberanian saya tumbuh pelan-pelan. Saya jadi lebih sering menjelajah negeri fiksi, mempelajari topografinya, pepohonnya, cuacanya... agar cerita yang saya hasilkan lebih bervariasi dan – maunya – meningkat kualitasnya.

Dalam perjalanan di negeri fiksi ini, saya bertemu banyak orang dengan minat sama. Tujuh di antara mereka akhirnya menjadi semacam ‘belahan jiwa’ yang tak henti-henti memompa semangat, menyuplai inspirasi, memicu keberanian, bahkan meledakkan kenekatan. Mereka ini punya nama: Winda Krisnadefa, Sari Novita, Ria Tumimomor, Meliana Indie, Indah Wd, Gratcia Siahaya dan Deasy Maria. Kami lalu membuat blog bersama, menyelenggarakan berbagai acara, dan melahirkan 3 kumpulan cerita. Mau tahu apa aja? Coba melirik sedikit ke kanan... naaah... ketiganya siap dibeli, tinggal klak-klik aja...

Di antara ketujuh sahabat itu, Winda Krisnadefa sampai saat ini menjadi jawaranya. Ia rajin sekali mengirimkan karyanya ke berbagai lomba, cerpen-cerpennya juga telah dibukukan dalam beberapa antologi keroyokan, entah sudah berapa jumlahnya. Novel pertamanya yang bertajuk Blackbook, yang awalnya dijual online, kabarnya kini telah nangkring di toko-toko buku di beberapa kota. Kemudian menyusul Ria Tumimomor, yang dengan gagah perkasa melahirkan – untuk melahirkan itu butuh keberanian, lho – sebuah buku juga; judulnya Cuplikan Kisah Si Jomblo. Sedikit ulasan tentang buku karya Ria itu ada di sini.

Kini, tiba giliran saya. Dengan susah payah, setelah sempat ditayangkan sebagai cerita bersambung sebanyak 22 episode di blog ini, kisah Laras dan Osken itu akhirnya selesai juga saya rangkum menjadi novel.

Tulisan ini dbuat sebagai semacam ucapan terima kasih, atau bisa juga dibilang pelukan maya, untuk 7 sahabat saya itu. Tanpa mereka, hari ini, saya sebutkan lagi: Senin, 4 Juni 2012, mungkin saya tidak akan merasa seberuntung ini.

Selamat datang Senja di Chao Phraya, bayi mungilku setebal 330 halaman.

***

Sabtu, 24 Maret 2012

Puasa Sepuluh Minggu

Foto oleh Wing Raharjo
Mas Yoyok menunduk, menyembunyikan perasaannya. Warna suram tergurat jelas di wajahnya. Bibirnya terkatup rapat. Aku segera merengkuh bahu Bu Trina, tetanggaku yang menangis tersedu-sedu.

“Nggak usah kuatir, Bu. Akan kami antar. Kita harus cepat.” Kubuka pintu kiri belakang sambil mempersilakan Bu Trina masuk ke mobil. Tubuh langsing terbalut daster itu menyelusup ke dalam. Sebelum aku masuk dan duduk di kursi depan kiri, sempat kulirik Mas Yoyok. Matanya memutar ke atas tanda kecewa luar biasa.

**

Kekecewaan itu bukan hanya miliknya. Sudah delapan minggu kami puasa. Bukan. Bukan puasa Ramadhan. Mana ada puasa wajib sampai delapan minggu berturut-turut. Ini puasa yang lain. Yang mungkin lebih berat. Puasa hubungan suami-istri. Nah. Pasti kalian bertanya-tanya, bukan? Kok bisa sampai begitu lama?

Beginilah awalnya. Rumah kami yang asri itu sedang kami renovasi. Kamar tidur utama kami perbesar, agar kami bisa meletakkan loveseat; sofa mungil yang hanya pas untuk dua orang duduk berdempetan. Dua buah kamar mandi yang sudah tua kami bongkar lalu kami lengkapi dengan shower, wastafel dan berbagai pernak-pernik lain supaya lebih trendy. Garasi sedikit diperlebar agar tahun depan kalau Zakky, anak sulung kami, punya sepeda motor tidak perlu kerepotan.

Supaya kami tidak terlalu terganggu oleh kegiatan konstruksi, renovasi kamar mandi satu persatu kami selesaikan dulu. Kemudian baru garasi dan yang terakhir kamar tidur kami. Perombakan kamar mandi dan garasi perlu waktu delapan minggu. Rencananya, renovasi kamar tidur bisa selesai dalam empat minggu saja.

Inilah persoalannya. Mas Yoyok maunya pakai plafon kayu mahoni yang sudah tua. Papan-papan mahoni itu sudah dipesan jauh-jauh hari sebelum kami mulai renovasi. Kayu-kayu itu sementara kami titipkan di rumah teman yang punya gudang besar. Rupanya ada orang yang nekat membeli kayu-kayu itu dengan harga berlipat. Mas Yoyok tentu senang, lalu dilepaslah papan-papan impiannya itu.

“Terus kita gimana?” Tanyaku jengkel. Kamar tidur sudah terlanjur sebagian dibongkar, semua isinya dipindah ke ruang baca dan ruang TV. Tempat tidur besar kami jadi memenuhi ruang baca yang berada persis di antara kamar Zakky dan kamar adiknya, Zahra, yang kami panggil Rara.

“Ya, beli lagi.” Jawab Mas Yoyok enteng.

Ternyata membeli lagi tidak seenteng itu. Kami harus menunggu selama sekitar enam minggu. Jadilah kami tidak punya kamar tidur selama empat minggu tambah enam minggu, total jadi sepuluh minggu. Kami berdua tidur di ruang baca.

“Sialan!” Gerutu Mas Yoyok suatu malam. Kami sedang pengin menuntaskan hasrat suami-istri tapi Zakky masih sibuk dengan tugas hingga lewat tengah malam.

“Sudahlah.” Kuelus punggung Mas Yoyok agar sabar.

Entah kenapa, selama empat minggu pertama selalu ada saja peristiwa yang membatalkan hasrat kami yang rasanya sudah tak tertahankan lagi.

“Kita ke hotel aja.” Usul Mas Yoyok, suatu hari, sebelum kami berangkat kerja. Aku tertawa geli. Kedengarannya aneh sekali walaupun bisa asyik juga. Jadilah kami membeli voucher hotel di agen perjalanan langganan kami.

Ternyata kami memang belum boleh berbuka.

“Mamaaaa…!” Teriak Rara dengan suara girang setelah kami makan malam. “Kita mau nginap di hotel, ya. Rara nemu ini di dalam tas Mama.” Rara, si kecil sepuluh tahun itu mengacung-acungkan amplop berisi voucher hotel yang akan kami pakai Sabtu pagi. Dua hari lagi. Rara memang suka mengobok-obok tas kerjaku. Di situ sering ia temukan coklat atau snack sisa meeting yang lupa kukeluarkan.

Aku dan Mas Yoyok gelagepan. Rara paham betul dengan hal-hal semacam itu. Setiap tahun kami berwisata keluar kota dan menginap di hotel dengan memakai voucher. Kebetulan hotel itu merupakan salah satu favorit kami sekeluarga.

Akhirnya… ya, akhirnya kami bertiga boyongan menginap semalam di hotel itu. Dalam satu kamar. Zakky yang sudah SMA ada acara di sekolah, dia tidak bisa ikut. Kalau saja ada Zakky, Rara bisa sekamar dengannya, jadi kami tetap punya privacy. Duh. Malang nian nasibku dan Mas Yoyok.

Saking peningnya, aku dengan penuh malu minta bantuan kakakku yang tinggal di satu kota. Kami rencana akan berakhir pekan berdua saja.

“Nitip Zakky dan Rara, Mbak.”

“Beres! Jangan kebablasan. Nanti Rara punya adik lho!” Goda kakakku.

**

Namun Tuhan memang menghendaki kami puasa lebih lama. Baru saja kami hendak berangkat, tetangga kami, Bu Trina, yang suaminya bekerja di kilang minyak lepas pantai, berlari-lari keluar rumah sambil menangis, masih mengenakan daster, tanpa BH, dengan sandal jepit yang kiri-kanan beda.

“Bu Yoyok. Pak Yoyok. Tolong saya…! Tolong, yaaa… Tino kecelakaan….” Lalu meluncurlah cerita dari bibirnya yang gemetar. Karena bingungnya, dia tidak berani menyetir sendiri. Bukan cuma itu saja, dia meminta Mas Yoyok menyelesaikan semua urusan di kantor polisi dan tetek-bengek lainnya yang pasti butuh waktu lebih dari sehari sambil menunggu suami Bu Trina pulang.

Yah. Begitulah. Dalam diam, diiringi isak sesenggukan dari jok belakang, kami bertiga meluncur menuju rumah sakit tempat Tino dirawat di instalasi rawat darurat. Pelan-pelan kuulurkan lengan kananku, menyentuh lembut lengan kiri Mas Yoyok yang mencengkeram setir dengan kaku.

***

Jumat, 09 Desember 2011

Semanis Carrot Cake

Sumber ilustrasi
Kaki-kaki Wulan dengan lincah menapaki eskalator agar lebih cepat sampai ke atas. Dari bawah cuaca pagi itu tampak cerah. Beberapa meter lagi Wulan akan sampai di mulut gerbang Stasiun Metro Dupont Circle. 

“Huffff…! Dingin juga.” Bisik Wulan pada diri sendiri begitu sampai di luar stasiun. Sambil merapatkan scarf ke lehernya, Wulan melirik arloji di pergelangan tangannya. Wulan tahu kalau ia telah terlambat 5 menit. Perempuan 40 tahun itu melangkah lebar-lebar ke arah kanan. Kaki-kakinya seolah tahu kemana pemiliknya hendak menuju.

Setelah menyeberang dan beberapa meter berjalan ke arah kanan dari persimpangan, sampailah Wulan ke toko buku itu. Kramerbooks. Salah satu toko buku favoritnya yang terletak di Connecticut Avenue.

“Saya akan menunggu di coffee shop di Kramerbooks. Meja sudut kiri dekat jendela menghadap Q Street,” begitu pesan yang diterima Wulan lewat email dua hari lalu.

Di ambang pintu Wulan menengok ke kiri, ke arah coffee shop. Di salah satu sudutnya di dekat jendela dilihatnya lelaki itu sedang duduk sambil membaca. Rambut peraknya tampak indah terkena bias-bias sinar matahari musim gugur yang terpantul dari kaca jendela.

Tiba-tiba saja Wulan teringat pada pertemuan dan perbincangan pertama mereka.
“Wulan. Satu kata. Saya kira tadinya dua kata. Terdengar seperti nama perempuan China. Empat puluh tahun. Menikah dengan dua anak. Aaaahhh….” Dan laki-laki itu, mentor Wulan, mengembangkan senyum lewat matanya, bukan bibirnya. Indah. Terasa lunak. Bersahabat. Wulan suka.

“Ya, banyak teman-teman saya di sini mengira itu nama China.” Jawab Wulan dengan sopan. “Wulan itu nama Jawa. Bulan. Moon,” jelasnya.
“Ahhh… moon?” serunya pelan, “Empat puluh tahun? Apakah tidak salah?” Mata si mentor masih tersenyum.
I’ll take that as a compliment,” jawab Wulan waktu itu. Bercanda.

Dan mereka segera akrab. Tidak butuh waktu.

Andrew Reynolds, demikian nama mentor Wulan itu. Duda dengan dua anak perempuan. Dalam usianya yang 61 tahun itu, Andy, demikian orang-orang menyapanya, termasuk para mahasiswanya, masih tampak keren. Selain tubuhnya tegap, gagah dan sehat, wajahnya mengingatkan Wulan pada Richard Gere. Bila sang bintang itu memotong cepak rambut peraknya dan memakai kaca mata, Andy jadi tampak seperti kembarannya.

Entah karena tampangnya itu atau karena hanya kesepian saja akibat jauh dari suami dan dua anaknya, Wulan merasa hangat saat pertama Andy ada di dekatnya. Padahal waktu itu mereka bertemu untuk berbincang tentang rencana kegiatan dan kuliah Wulan. Bukan untuk kencan.

Sebelumnya Wulan selalu berusaha keras untuk membentengi hatinya dari terobosan cinta selain yang berasal dari suaminya. Namun kali itu, ketika melihat Andy dengan mata teduhnya yang tersenyum hangat padanya, Wulan seperti tak ingin menutup gerbang bentengnya. Wulan justru membiarkannya sedikit terbuka. Sambil mengintip dan berharap.

Dan begitulah awalnya. Mereka pertama bertemu pada bulan Agustus, saat musim panas sedang terik-teriknya menyengat kota Washington DC. Sebulan berikutnya, Wulan mulai merasa kangen bila dua hari tidak berpapasan di kampus dengan Andy yang matanya senantiasa tersenyum padanya.

Tak butuh waktu lama, ketika Oktober tiba, bersama guguran dedaunan Andy muncul di lobby apartemen Wulan sambil membawa setangkai bunga. Untuk persahabatan katanya. Dan sejak itu, mereka membuka alamat email baru khusus untuk saling bertukar pesan-pesan mesra. Wulan dan Andy jatuh cinta.


“May I help you, Ma’am?” seorang lelaki muda bercelemek coklat muda dengan logo K besar di bagian dada mengagetkan Wulan dari lamunannya.
“Ah…. Saya harus menemui laki-laki itu,” Wulan terperangah dan menunjuk Andy yang masih asyik dengan bukunya. Perempuan bertubuh mungil itu melangkah melalui beberapa meja dan kursi diiringi pelayan yang tadi menyapanya. Scarf batik sutera menari-nari di pundak kanannya.

Ketika tinggal berjarak satu meja, Andy mendongak dan memandangnya. Ah. Matanya itu tersenyum dengan hangat. Rambut peraknya berkilauan mempesona.
“Maaf, terlambat,” Wulan malu, tersipu.
Lelaki itu membantu Wulan melepas jaket dan manyampirkannya ke sandaran kursi.

Mint tea? And carrot cake?” Wajah Andy yang bersih dengan kerutan di sana-sini tampak sedikit gundah.

Wulan mengangguk. Setelah memberi isyarat pada pelayan, tangan Andy yang kokoh dan buku-buku jarinya menonjol itu menggenggam dua tangan mungil Wulan yang tergolek tak berdaya di atas meja.

I don’t want to beat around the bush, Andy.” Nada bicara Wulan tegas namun suaranya bergetar. “Kita tidak boleh meneruskan hubungan ini. Saya bersuami.” Hanya itu yang keluar dari mulut Wulan karena ia merasa tak ada lagi yang perlu dikatakan. Semua sudah jelas. Andy juga sudah tahu, bahkan sebelum bertemu, ketika ia membaca CV Wulan, salah satu mahasiswa yang dibimbingnya.

“Saya mengerti, Wulan.” Andy mempererat genggaman tangannya. Mata teduhnya menatap lurus mata coklat Wulan.

Walau usianya telah memasuki masa senja, Andy masih merindukan manisnya cinta. Dan kedatangan Wulan dalam hidupnya yang tiba-tiba telah membuat hatinya merasa muda. Wulan bagaikan hujan yang menyegarkan tandusnya hati Andy yang telah tiga tahun menduda. Tubuhnya, walau mulai menua, masih mendambakan usapan cinta. Perbedaan usia dan budaya telah membuat hubungannya dengan Wulan, yang harus berakhir saat baru berawal, menjadi romantis dan eksotis. Bagai iklim katulistiwa yang menyimpan jutaan pesona di mata seorang Amerika. Namun Andy bisa mengerti. Bila pun tanpa kata-kata, Andy telah tahu apa yang dimaksud Wulan ketika perempuan Jawa itu ingin mengajaknya bicara tentang hubungan mereka.

“Saya mengerti, Wulan.” Andy mengulang kata-katanya. “Teh kita hampir dingin.” Andy melepaskan genggaman tangannya.

Pelan-pelan mereka menyeruput teh dari cangkir putih bulat yang bibirnya berlapis stainless steel itu. Dalam hening, Wulan dan Andy menikmati manisnya carrot cake, sementara sekelilingnya orang-orang berceloteh dengan ceria.

Dua keping jiwa dari belahan dunia berbeda yang tersesat dalam rimba cinta itu berusaha keras saling menguatkan lewat sorot mata. Mereka bertatapan lama.

***