Tampilkan postingan dengan label janda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label janda. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Maret 2013

Lili Ingin Menikah Lagi

Sumber Gambar
Setengah abad lebih dua tahun usianya, Lili masih tampak segar dan cantik. Kerut-merut halus di seputar mata justru menambah karakter wajah janda itu. Salah satu sahabat baikku itu juga langsing. Dengan tinggi 160 cm dan berat 55 kg sosoknya terlihat menarik. Semua model baju bisa ia kenakan.

Dua anaknya sudah tidak lagi memerlukan perhatian. Yang sulung sudah bekerja dan yang bungsu baru mulai menulis skripsi. Sebelum suaminya meninggal, lebih 13 tahun lalu, ketika usianya belum genap 39, Lili hidup teramat nyaman dan serba berkecukupan. Suaminya, dulu, konsultan hukum terpandang. Lelaki tampan dengan tubuh sangat prima. Hampir semua cabang olah raga ia kuasai. Namun nasib punya cara yang mustahil ditebak untuk menambahkan atau mengurangkan sesuatu pada kehidupan seseorang. Sebuah kecelakaan tragis di jalan bebas hambatan merenggut nyawa suami Lili. Semua orang tercengang, lelaki segar-bugar yang doyan olah raga itu tak berumur panjang.

Sejak itu grafik kehidupan Lili, terutama kondisi keuangannya, menukik sempurna. Satu persatu barang-barang berharga ia lego. Tabungan tiap hari berkurang.

Semasa lajangnya perempuan berkulit halus warna sawo matang itu bekerja sebagai manajer humas di sebuah hotel berbintang. Pekerjaan yang cukup bagus itu ia lepas demi mengurus keluarga. Ia berniat meneruskan karirnya yang terputus di tengah jalan, namun jalurnya tak lagi selurus dulu. Usia, pengalaman dan pengetahuannya sudah tertinggal jauh oleh pesaingnya yang lebih muda dan lebih tinggi pendidikannya.

Masih untung, setahun selepas menjanda, Lili bisa mendapat pekerjaan sebagai kasir di sebuah toko buku diskon. Pekerjaan klerikal bergaji minimal itu ia tekuni hingga kini. Sambil membanting tulang, dengan penuh keteguhan, dalam kesempitan dan kesunyian, Lili membesarkan dua anaknya sendirian. Mereka, akhirnya, tumbuh nyaris sempurna meskipun segalanya serba pasa-pasan.

** 

“Sebenarnya ada beberapa laki-laki yang tertarik berhubungan denganku, Tia,” katanya di suatu siang.

Kami tengah menikmati hari Minggu berdua saja. Duduk berhadapan di sebuah sudut café, menikmati jus mangga. Kami pesan pula sepuluh biji kroket ayam, tersaji apik di atas piring putih bertabur parutan keju berhias irisan wortel dan lettuce di sana-sini.

“Kamu sudah mengatakan itu berkali-kali. Lelakinya juga ganti-ganti,” ujarku tak bisa menahan tawa, mengamati penampilannya.

Dalam balutan celana jeans dan T-shirt putih yang pas di badan, Lili tampak manis. Sepasang anting emas putih mungil tergantung menggoda di kedua telinganya, membuatnya tampak segar dan muda.

“Kenapa tidak kamu pilih salah satu dan menjalin hubungan pelan-pelan?” lanjutku, “siapa tahu, kan?”

“Tidak mudah melupakan Mas Hasto.” Alasan itu juga sudah kudengar belasan kali.

Kuakui memang, lelaki sekualitas Hasto sebaya Lili pasti langka. Jika ada tentu sudah beristri. Kalaupun menduda ia akan segera menikah lagi.

“Aku tahu. Tapi Mas Hastomu itu sudah tidak di sini. Sudah tidak bersamamu lagi. Sudah pergi. Sudah tiga belas tahun, Lili,” sahutku tanpa pertimbangan. “Kalau memang niat menikah, segera saja. Jangan tunggu-tunggu. Jangan kebanyakan mikir ini-itu.”

Lili menatapku dengan wajah kurang senang. Kata maaf buru-buru kulontarkan sambil memegang tangan kanannya. Di jari manisnya masih tersemat cincin perkawinan. Mudah saja bagiku bicara demikian karena aku masih bersuami.

“Bukan itu saja.” Matanya beralih ke piring kroket. “Rasanya tidak pantas. Dua anakku perempuan. Ivada sudah dua puluh enam, dia belum pingin menikah. Katanya mau bantu aku membiayai kuliah adiknya dulu.” Lili menyebut anak sulungnya yang sudah bekerja di Surabaya, yang tiap bulan mengiriminya uang. “Apa kata orang-orang nanti?” Mata Lili yang sipit menerawang, menembus dinding kaca, menerobos keramaian di luar café.

“Jangan pikirkan kata orang.”

“Enak kamu bicara begitu, Tia.”

“Lalu aku harus bilang apa? Dari dulu-dulu itu saja alasannya. Waktu anak-anakmu kecil, kamu kuatir dibilang egois, nggak mikirin anak. Waktu mereka remaja kamu bilang anakmu sedang sangat butuh perhatian, kamu tak punya waktu untuk dirimu sendiri, apalagi mencari suami. Sekarang mereka sudah dewasa, sudah mendiri. Tapi kamu kuatir dibilang tidak tahu diri. Anak gadisnya belum nikah emaknya udah mau dua kali…” aku berusaha mengekang tawa, namun gagal.

“Hhh…!” Lili mendengus. Seringainya menunjukan perasaannya, antara geli dan nelongso.

Kami beberapa saat terdiam. Menyesap segarnya jus mangga dan menikmati gurihnya kroket.

“Aku heran. Kenapa ya, duda-duda itu gampang ngambil keputusan untuk nikah lagi?” gumamnya.

Aku diam saja.

“Tia!” Lili menarik ujung lengan kaus merahku, minta perhatianku.

“Kamu mikir dirimu sendiri aja. Nggak usah mikir duda-duda, kecuali kalau mereka mau dan cinta sama kamu,” selorohku.

Kami terbahak bersama. Tanpa sadar kami sama-sama mengedarkan pandang mencermati satu persatu lelaki yang ada di café itu. Jangan-jangan di antara mereka ada lelaki yang tengah mencari calon istri.

Aneh memang. Para duda umumnya lebih mudah menentukan pilihan dibandingkan rival mereka, para janda. Sering kubaca di berbagai artikel, buah pena para amatir maupun professional, yang mengatakan bahwa laki-laki tidak bisa menahan hasrat seksual terlalu lama; mereka juga rentan terhadap godaan. Ada juga yang mengulas bahwa laki-laki selalu butuh perempuan untuk mengurus kebutuhan domestiknya sementara mereka lebih fokus pada urusan publik. Selebihnya adalah adanya kecenderungan duda lebih memilih perempuan lajang daripada janda.

Sebaliknya si janda akan menerima cerca-cela bila berani menikahi jejaka. Terlebih bila si perjaka lebih muda. Sudah banyak contoh di sekitar kita.

Aku tak setuju dengan pendapat semacam itu. Perempuan juga sarat hasrat dan mempan godaan. Mereka pun banyak yang senang bila bersuamikan lelaki lebih muda dan perkasa. Namun perempuan umumnya – memang – sulit untuk tidak membandingkan lelaki lain dengan suaminya. Bila suaminya dulu berbudi baik, apalagi memenuhi syarat trilogi lelaki – cerdas, kaya, dan tampan – seorang janda akan kesulitan memilih suami kedua. Beda lagi kisahnya kalau suaminya itu dulu pecundang. Pasti merasa senang bila ditinggal mati duluan.

“Tia. Udahlah....” Kaki Lili yang terbungkus sepatu sendal hitam, sewarna ikat pinggangnya, menendang kakiku yang kusembunyikan di dalam sneakers merah dengan tiga strip putih. “Kayak mikir negara aja!” candanya.

“Jadi?” tanyaku sambil menyeruput sisa jus mangga. “Kita perlu order minuman lagi buat nemani sesi kedua diskusi?”

Lili mengibaskan tangan kanannya. “Yah, kapan-kapan aja kita bicara lagi. Aku capek setiap mikirin rencana kawin lagi.” Lili menuntaskan sebutir kroket sekaligus menghabiskan irisan wortelnya.

“Rencana kawin lagi?” Kukernyitkan dahi. “Punya pacar juga belum!”

Lili menyeringai. “Coba aku bisa kayak duda-duda itu, ya. Nggak usah pacaran. Tinggal pilih terus ngelamar. Beres kan?” Lili menertawai diri sendiri.

“Kenapa tidak begitu aja? Bukannya tinggal dicoba?” sergahku.

“Kalau nggak cocok malah jadi repot,” gerutunya, mengelap bibir dengan tisu, meminta bill pada pelayan.

Kami sama-sama membuka dompet, menarik selembar uang, meletakkan di nampan kecil.

“Pulang? Atau masih mau jalan?” tanyaku.

“Aku pusing. Langsung pulang aja.”

Kami keluar café beriringan. Aku yakin, beberapa minggu lagi, kalau kami duduk berdua menikmati kebersamaan seperti ini, Lili pasti akan membahas soal keinginannya kawin lagi, yang tidak jadi-jadi. Apakah nasib janda memang seperti ini? Kebanyakan memikirkan omongan orang sampai lupa kepentingan sendiri.

*** 

Senin, 06 Juni 2011

Mereka Pilih Menjanda

Ilustrasi oleh Azam Raharjo

Menjadi janda, di Indonesia, saat usia masih relatif muda katanya ibarat memakai sepatu sebelah saja. Aneh. Tidak nyaman. Serasa pincang. Diperhatikan orang. Sudah pasti, perempuan yang belum mengalaminya akan sangat sulit membayangkan bagaimana rasanya.

Ada empat janda yang menjadi teman saya, sebut saja Lili, Lala, Lolo dan Lulu. Mereka masih tampak muda, dari penampilan dan semangat hidupnya. Tulisan ini adalah sekelumit cerita mereka.

Lili belum lama merayakan ulang tahunnya yang ke 38 ketika suaminya tiba-tiba meninggal dunia. Hidupnya yang indah dan nyaris sempurna itu tiba-tiba berubah menjadi malapetaka. Dua anaknya masih sangat belia. Sejak menikah, Lili meninggalkan pekerjaannya karena suaminya tidak menginginkan ia bekerja. Kematian suaminya yang mendadak itu berarti pula terhentinya sumber penghasilan keluarga.

Dengan semangat menyambung hidup dan membesarkan kedua buah hati warisan tak ternilai dari suaminya, Lili rela bekerja mengelola sebuah rumah makan kecil milik temannya. Tentu saja uang bulanannya tidak dapat mencukupi bahkan untuk kebutuhan dasar. Satu persatu harta yang ada dilepaskan. Walau berat dan menyakitkan dengan cepat Lili mampu menyesuaikan diri terhadap himpitan situasi. Namun Tuhan senantiaa beserta mereka dan karena kegigihannya, Lili mampu bertahan hingga kini, kira-kia 13 tahun setelah suaminya meninggal.

Dalam usianya yang menginjak 51 di tahun 2011 ini, Lili masih tampak segar. Tubuhnya semampai. Wajah mungilnya senantiasa berhias senyuman. Tak heran bila ada beberapa lelaki yang tertarik untuk mengisi hatinya yang kosong sejak lama.

Suami Lili dulu, menurut saya, adalah lelaki sempurna. Perawakannya tinggi dan atletis karena semua jenis olah raga ia kuasai. Sikapnya juga santun, rendah hati dan penuh perhatian pada tetangga. Siapa saja yang membutuhkan pertolongan pasti ia bantu tanpa pandang bulu.

“Sulit bagiku mencari pengganti suamiku. Berkali-kali aku berusaha menerima lelaki yang mencoba mendekatiku. Tapi ternyata tidak mudah. Selalu saja aku membanding-bandingkan mereka dengan suamiku dulu. Dan aku juga tidak mau memaksakan diri.” Begitu cerita Lili.

Wajar saja bila Lili kesulitan mencari pengganti suaminya itu karena lelaki dengan karakter dan penampilan fisik yang mampu ‘menandingi’ almarhum suaminya, kemungkinan besar sudah berkeluarga. Baginya menjalani hidup dengan lelaki yang tidak mengena di jiwa dan hasratnya, sama saja dengan mempertaruhkan kebahagiannya. Itulah salah satu sebab utama hingga kini Lili memilih menjalani hidupnya dalam indahnya kenangan bersama almarhum suaminya.

Lain lagi cerita Lala. Perempuan cerdas dan mandiri ini harus berpisah dari suaminya karena lelaki yang telah memberinya tiga dara itu berselingkuh dan hampir saja membunuh Lala ketika perbuatannya terungkap. Sejak awal pernikahannya, Lala lebih sukses secara professional dan finansial. Namun situasi itu mestinya tidak bisa dijadikan alasan, karena seharusnya suami Lala bersyukur memiliki istri yang bisa mencukupi kebutuhan keluarga.

Salah satu hal yang saya kagumi dari Lala adalah konsistensinya terhadap prinsip-prinsip hidupnya. Walaupun tidak sedikit tetangga yang menggunjingkannya ketika konflik rumah tangganya terbuka, ia tidak mengubah pendiriannya. Ketika suaminya memukulinya sedemikian hebatnya hingga Lala harus dirawat di rumah sakit selama seminggu, ia memutuskan untuk berpisah darinya.

Kini Lala hidup tenteram dan bahagia bersama tiga anak gadisnya yang sudah dewasa. Lala beberapa kali pernah dilamar namun ia memilih sekedar berteman. Dalam kesendirian Lala menemukan kebebasan dan Lala tidak ingin terpenjara kembali atas nama cinta yang dulu pernah menyengsarakan. Terlebih karena ketiga anaknya semua perempuan. Tak bisa disalahkan bila kini Lala memilih sendiri karena pengalaman telah mengajarkan padanya untuk tidak percaya pada lelaki.

Yang satu ini, Lulu yang jelita dan bertubuh aduhai, memang luar biasa. Perceraiannya dengan suaminya dulu tak jelas karena apa. Ia sengaja memilih tetap menjanda karena ingin ‘menyimpan lelaki’ sebanyak-banyaknya. Sungguh, prinsipnya itu ia pegang teguh tak peduli apa yang didengar dari tetangga, teman dan keluarganya. Lulu pernah berpacaran dengan lebih dari selusin pria. Ada yang masih mahasiswa, perjaka tua, duda dan tentu saja lelaki berkeluarga. Kini ia hidup mewah dan memiliki sebuah rumah megah karena menjadi simpanan lelaki kaya yang memberinya apa saja yang Lulu suka. Sebuah butik pun ia buka sebagai kedok untuk sumber hartanya.

Cerita Lolo beda lagi. Kebalikan dengan Lala, Lolo dikaruniai tiga arjuna dari perkawainannya yang bahagia. Namun semua itu harus berakhir ketika kanker menggerogoti tubuh suaminya dan akhirnya merenggut nyawanya.
Lolo tentu saja berduka. Tidak seperti Lili, Lolo punya pekerjaan yang mapan di sebuah perusahaan besar. Kabarnya, ketika suaminya masih ada, Lolo pula yang menjadi tulang punggung keluarga.

Sama juga dengan Lili dan Lala, penampilan Lolo tetap terjaga dan prima walaupun usianya sudah berkepala lima. Bahkan di mata saya, Lolo tampak sexy. Mungkin karena kedewasaan pikiran dan kemandirian batinnya yang terpancar halus dari sorot matanya yang lembut.

Pergaulannya yang luas membuat Lolo tidak sepi dari lelaki. Namun ia juga memilih sendiri. Katanya suatu ketika, ia hanya mau dinikahi oleh duda pensiunan jenderal atau yang setara, yang anak-anaknya sudah mentas semua. Mengapa?

“Ah, legan golek momongan.” Begitu kilahnya dalam bahasa Jawa. Maksudnya, kini dirinya tidak lagi butuh apa-apa karena sudah punya semuanya. Ketiga anaknya sudah mandiri dan Lolo menikmati hidupnya yang kini bagai jomblo lagi. Ia tidak ingin mengurus lelaki yang bukan ayah anak-anaknya yang nantinya hanya akan merepotkannya saja.

Tulisan ini hanya sekelumit cerita dari empat perempuan yang memilih menjalani hidupnya sebagai janda. Semoga saja bisa membuat kita sedikit lebih mengenal siapa mereka dan tidak menilai secara sepihak atas pilihan mereka.



***