Kamis, 24 Mei 2012

Tentang Cinta


Beberapa saat lalu saya menonton film the Deep Blue Sea yang dibintangi Rachel Weisz, Tom Hiddleston dan Simon Russell Beale. Ini kisah seorang perempuan cantik yang mencoba bunuh diri gara-gara cinta. Perempuan bernama Hester ini bersuamikan seorang jaksa terhormat yang mapan segala-galanya. Sayangnya, Pak Jaksa itu usianya jauh lebih tua. Pernikahan mereka dipenuhi kasih sayang namun minim hasrat seksual. Hester kemudian bertemu dengan mantan pilot Royal Air Force yang muda dan ganteng meskipun jiwanya labil. Cinta antara Sang Pilot dengan Hester panas membara, penuh hasrat ragawi. Cinta semacam inilah yang diimpikan Hester.

Singkat cerita, Hester tak kuasa memilih antara Pak Jaksa atau Sang Pilot; kemudian ia memutuskan bunuh diri. Namun ia gagal mati!

** 

Dalam perjalanan hidupnya, manusia dilingkupi beragam cinta: cinta pada anak, pada pasangan, pada teman, pada orang tua, pada saudara kandung, pada pekerjaan, pada harta, pada kekuasaan, pada diri sendiri… Begitu melimpahnya cinta di sekitar manusia hingga ia sering bingung memilah yang hendak ia utamakan. Apakah pekerjaan? Apakah pasangan? Apakah anak? Apakah orang tua? Ada sebagian yang beruntung, berhasil mencari titik seimbang di antara sekian banyak buhul2 cinta itu, lalu mengikatnya jadi satu. Namun tak jarang yang gagal, terpaksa melepas salah satu atau salah dua: mungkin pekerjaan ia tinggalkan, mungkin pasangan ia lupakan, mungkin anak ia limpahi harta kekayaan sebagai pengganti cinta yang gagal ia berikan … dan masih ada puluhan kemungkinan.

Akan halnya cinta pada pasangan, sebongkah cinta yang satu ini saya anggap sebagai salah satu anugerah Tuhan yang terindah, yang mengilhami demikian banyak kisah, puisi, lagu, tarian hingga bangunan. Bangunan? Ya… Taj Mahal yang terletak di Agra, India, itu berdiri karena cinta Shah Jehan pada istri ketiganya, Mumtaz Mahal.

Namun cinta manusia pada pasangannya juga diliputi misteri. Hester hanyalah salah satu contoh saja. Ia melepas suaminya demi sepotong cinta membara yang akhirnya hanya meninggalkannya.

“Apa yang terjadi padamu, Hester?” tanya Pak Jaksa, bernama William alias Bill. Wajahnya gundah, tak bisa memahami perasaan istri cantiknya nan muda.

“Cinta, Bill. Itu saja…” jawab Hester, lupa bahwa Pak Jaksa yang baik hati itupun melimpahinya dengan cinta.

“Dan itu membuatmu ingin bunuh diri?” tukas Pak Jaksa makin tak mengerti.

Lalu ada dialog antara Hester dengan pengelola apartemen tempat Sang Pilot tinggal, seorang perempuan tua yang suaminya sudah sakit-sakitan dan tak bisa bangkit dari tempat tidur.

“Membicarakan cinta itu taik kucing. Kamu tahu apa itu cinta sejati: membersihkan pantat seseorang; mengganti seprei yang basah karena ompolnya…”

Namun Hester tak mendengarkan kata-kata suami maupun Si Pengelola Apartemen. Ia tetap berpegang teguh pada cinta sejatinya: lelaki muda tampan yang tak mau membawanya serta ke negara tempatnya bekerja.

Begitulah. Setiap orang punya definisi cinta yang berbeda satu sama lain. Perbedaan definisi itu membenihkan perbedaan harapan yang akhirnya berbuah perbedaan perlakuan atau tindakan. Bagi saya, cinta adalah lelaki berambut keperakan berkacamata tebal dengan senyum lebar yang ikhlas. Mungkin bagi perempuan lain, cinta bisa berupa lelaki berharta yang melimpahinya dengan permata. Bagi yang lain lagi bisa jadi lelaki muda penuh stamina yang mampu mengguncang dipan setiap malam. Kita tak akan tahu sebelum benar-benar merasakannya; sebelum hidup seatap dalam jangka waktu tertentu; sebelum menerima atau mengalami sesuatu yang di luar harapan; sebelum melihat kekurangan; sebelum kekecewaan datang.

Kenyataan ini membuat saya merenungkan salah satu quote Mother Teresa, “Do not think that love in order to be genuine has to be extraordinary. What we need is to love without getting tired. Be faithful in small things because it is in them that your strength lies." Serta sebait puisi karya Sapardi Djoko Damono (SDD) yang banyak dirujuk orang: “Aku ingin mencintaimu dengan sederhana.”

Mudahkah mencintai seseorang dengan sederhana? Masih merujuk puisi SDD: “Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu; dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.” Ah… sederhana macam apakah itu? Bagaimana mungkin sepotong kayu bisa berucap pada api? Isyarat apa gerangan yang bisa disampaikan awan pada hujan?

Antara Hester, Mother Teresa dan Sapardi Djoko Damono, saya lebih cenderung memilih Mother Teresa. Untuk mewujudkan ketulusan cinta, cukup dengan mencintai tanpa lelah dan setia pada hal-hal kecil.

Namun hal-hal kecil pun tak sama untuk tiap orang. Bagi saya ‘hal-hal kecil’ bisa berupa sebuah sms merajuk dari mahasiswi suami saya yang meminta jadwal ulang konsultasi; namun bagi perempuan lain itu bisa memicu cemburu sampai marah berminggu-minggu. Bagi suami saya masak sarapan sendiri setiap pagi itu hal-hal kecil; bagi lelaki lain hal semacam itu bisa membawa petaka, hingga ia tega mencap istrinya sebagai perempuan durhaka.

Jadi, bila pembaca bingung mencari intisari tulisan ini, jangan repot-repot mencobanya. Cukuplah memejamkan mata, bayangkan wajah pasangan-kekasih, anak-anak, sahabat-kerabat, ayah-bunda, kakak-adik Anda; kemudian ingatlah hal-hal kecil yang mereka lakukan yang menghadirkan senyum di wajah Anda… Itulah cinta!

***

Tertayangkan juga di sini

Tidak ada komentar: