Tampilkan postingan dengan label friendship. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label friendship. Tampilkan semua postingan

Rabu, 31 Oktober 2012

Sang Penjaga

Dua adikku, Ima dan Lila, takut kucing. Aneh sekali. Aku sulit mengerti. Menurutku kucing itu binatang berbulu yang paling lucu. Kata Mama, ketakutan semacam itu disebut phobia. Suatu sore, Mama mengantar kue ke rumah tetangga baru. Kami bertiga diajak serta. Ternyata tetangga kami punya dua ekor kucing. Ima dan Lila tiba-tiba melompat ke atas meja.

“Kraaakkk…!” Meja kaca di ruang tamu itu pecah, kaki Ima dan Lila berdarah-darah. Tetangga kami tidak marah, mereka justru mengantar Mama membawa dua adikku ke rumah sakit terdekat.

“Mbak Hanna janji, nggak akan membiarkan kucing melukai kalian lagi,” kataku, sambil menunggui Ima dan Lila dirawat kakinya oleh dokter. Sejak kejadian itu, sebagai anak sulung, aku selalu berhati-hati. Walaupun aku suka kucing dan pernah ingin memelihara satu ekor di rumah, namun aku mengalah. Aku tidak mau dua adikku terluka lagi gara-gara kucing.

Di sebuah pagi, saat menunggu Papa mengeluarkan mobil dari garasi untuk mengantar kami ke sekolah, aku melihat seekor bayi kucing berbulu hitam tertidur di depan pagar rumah. Ia terlindung oleh perdu mawar yang ditanam Mama untuk menghiasi pagar depan. Tubuhnya yang mungil tampak kedinginan. Diam-diam, aku keluarkan sedikit kue dari kotak makan siang, pelan-pelan kutaruh di samping si kucing hitam.

“Hanna. Ayo! Nanti kesiangan,” suara Papa bernada tinggi. Si hitam mungil jadi terbangun. Dengan susah payah ia mencoba bangkit, namun tak jadi berlari ketika dilihatnya ada sepotong roti di dekatnya. Matanya bergantian memandangiku dan roti itu. Kemudian potongan roti itu dijilatinya.

“Mbak Hannaaa…!” Dari dalam mobil Ima berteriak. “Mbak Hanna kok ngasih makan kucing, sih? Ntar dia jadi sering dateng ke rumah,” protes Ima.

“Iya, tuh, Pa….” Si bungsu Lila cemberut, mengadu ke Papa.

“Tidak apa-apa. Kalau pintu selalu ditutup, kucing tidak akan bisa masuk ke rumah. Mbak Hanna pasti juga akan menjaga kalian. Selalu begitu, kan? Tidak apa-apa.” Dengan suaranya yang merdu Papa menenangkan adik-adikku.

Sejak itu aku selalu memberi makan kucing kecil hitam itu. Ia kucing kampung yang tidak bertuan dan tidak berteman. Aku tak ingin memberinya nama, cukup kupanggil Si Hitam. Tiap pagi sebelum aku berangkat sekolah, ia selalu menungguku di tempat yang sama, di luar pagar, di bawah kerimbunan perdu mawar. Kini di tempat itu kutaruh piring dan mangkuk kecil, untuk tempat makanan dan susu. Aku berpesan pada Bi Darmi, perempuan yang membantu Mama mengurus rumah, agar barang-barang itu jangan disingkirkan dan sesekali dibersihkan.

Setelah tiga bulan, Si Hitam mulai tumbuh cukup besar. Bulu hitamnya makin cantik dan berkilat. Matanya tampak kuning cemerlang. Dari Bi Darmi aku tahu kalau kucing hitam itu betina. Ia tambah sering datang ke rumah. Menungguku di depan pagar, tiduran di bawah perdu mawar. Kini seisi rumah tahu kalau aku berteman dengan seekor kucing hitam.

“Dia penjagaku,” aku sesumbar pada teman-teman sekelasku. “Dia hapal jadwal pulang sekolahku,” tambahku. “Dia juga bisa membaui tubuhku. Kalau bukan aku yang memberi makan, dia tidak mau datang.” Teman-temanku kagum akan ceritaku.

Kucing hitamku, ya… aku menganggapnya milikku, tidak sama dengan kucing kampung lainnya. Dia sopan. Kalau sore, kami sering ngobrol berdua saja. Dia tetap di luar pagar dan aku di halaman, di dalam pagar. “Mbak Hanna tidak akan mengijinkan kucing itu masuk ke halaman,” janjiku pada Ima dan Lila.

Kucingku seperti tahu kalau adik-adikku takut padanya. “Jangan masuk ke halaman, ya. Ima dan Lila takut padamu. Mereka tidak nakal, hanya takut saja,” selalu bisikku, sambil memberinya kue-kue dan susu.

Supaya aku mudah membelai-belai kucingku, yang setia menjaga di luar pagar, Mama memotong beberapa batang mawar. Tanganku bisa leluasa mengelusnya lewat lubang-lubang pagar. Dia akan bergulingan bila kuelus lehernya yang langsing. Mungkin karena ia liar, tubuhnya tidak gemuk walau setiap hari kuberi makan.

Kini kucingku usianya sudah sekitar 6 bulan. Kaki-kakinya makin kokoh dan ekornya tambah panjang. Aku paling suka dengan warna matanya, kuning jernih dengan manik mata hitam dan tajam. Seperti mata macan.

Sore itu, aku keluar rumah membeli beberapa barang di warung tak jauh dari rumah. Kebetulan Mama dan Papa sedang menghadiri kondangan. Bi Darmi pulang kampung menengok keluarganya yang sakit. “Mbak Hanna ke warung sebentar,” kataku pada Ima dan Lila. “Jangan buka pagar kalau ada orang datang, walaupun dia ngaku sebagai teman atau saudara. Ya?” Aku menirukan pesan Mama dan Papa setiap kali kami di rumah tanpa orang dewasa.

“Ima beliin es krim ya, Mbak,” pinta Ima.

“Lila juga, yaaa!” si bungsu mengikuti.

“Mbak Hanna akan nutup pintu pagar. Nggak usah kuatir. Si Hitam nggak akan masuk ke halaman.” Kedua adikku mengangguk bersamaan. Mereka tahu kalau kucing hitamku itu tidak pernah melanggar aturan.

“Jaga adik-adikku, ya,” bisikku pada kucingku yang tengah terkantuk-kantuk di depan pagar. Aku hanya pergi sebentar.

Ketika pulang dan hendak membuka pagar kulihat kucingku sudah berada di halaman. Persis di depan teras. Empat kakinya kokoh mengangkang, ekornya tegak menegang, punggungnya melengkung seolah siap menerkam. Dari dalam rumah kudengar Ima dan Lila menjerit-jerit ketakutan. Kudorong pintu pagar. Ya, Tuhan. Kulihat seekor ular kecil di depan teras. Si Hitam menghadangnya. Dua binatang itu berhadap-hadapan. Aku ketakutan.

“Imaaa… Lilaaa… jangan keluaaar! Mbak Hanna cari bantuaaan…!” aku berlari minta tolong Om Haryo, tetangga sebelah rumah.

Cepat dan sigap, dengan galah Om Haryo memukul-mukul ular kecil yang panjangnya sekitar setengah meter itu.

“Sudah mati ularnya, Hanna. Segera masuk ke rumah, Nak. Tutup pintu. Jangan takut. Om Haryo harus membuang ular ini. Nanti Om Haryo kembali ke sini.” Om Haryo mengait ular mati itu dengan ujung galah, membawanya ke luar.

Rupanya kucing hitamku telah membantuku menjaga adik-adikku. Sambil mendekap Ima dan Lila, lewat jendela kupandangi kucingku yang masih berdiri di depan teras. Mata kami beradu. Air mata haru menggenang di mataku. Pelan-pelan, Si Hitam berjalan keluar dan hilang di balik pintu pagar. Walau mataku tak bisa lagi melihatnya, aku tahu, dia pasti menungguku, di depan pagar, di bawah perdu mawar.

*** 

Rabu, 24 Oktober 2012

Tentang Persahabatan

Sumber Gambar
Saya belum pernah membaca satupun karya Oscar Wilde, penulis dan penyair kondang asal Irlandia itu. Dua karyanya yang banyak disebut-sebut orang adalah sebuah naskah pertunjukan berjudul The Importance of Being Earnest dan sebuah novel bertajuk The Picture of Dorian Gray. Dari dua karya itu saja, penggemarnya sudah bisa menyuplik cukup banyak quotes. Salah satu yang paling saya suka – dan cocok dengan isi pikiran saya kali ini – adalah yang ini: “True friends stab you in the front.”

Saya suka quote itu. Pas untuk kritik-diri. Menurut saya, siapapun yang mengaku sebagai sahabat selayaknya mau mengatakan hal buruk – diibaratkan dengan ‘to stab’ atau menikam – tentang sahabatnya langsung ke mukanya, dari depan. Bukan sebaliknya. Bermanis-manis di depan namun mengomel, menyindir, atau menohok, atau menertawakan di belakang. Sikap yang terakhir itu tak labut dilakukan oleh orang yang mengaku sahabat. Apalagi bila ia tahu apa yang ia omelkan cepat atau lambat akan hinggap ke telinga sang sahabat.

Ketika media social semacam Facebook, Twitter, atau Google+ menjadi penghubung banyak orang, mendedahkan isi pikiran pada khalayak, termasuk menyakiti orang dengan kata-kata bisa dilakukan dengan mudah. Dulu, orang harus bicara langsung pada seseorang bila ingin menyampaikan sesuatu, minimal lewat telpon atau surat. Kini, lewat media social seseorang bisa menyampaikan apa saja pada banyak orang cuma dengan mencet-mencet keyboard pakai ujung jari. Tinggal tulis yang mau disampaikan, lalu klik, dan… simsalabim… semua orang dalam jaringan pertemanannya bisa melihat/membaca isi kepala/hatinya.

Pengguna aktif media social pasti paham akan hal itu. Bila ia menuliskan sesuatu untuk menyindir, melukai, atau menohok seseorang, lazimnya ia tahu bahwa kemungkinannya amat besar si orang itu akan membaca/melihatnya. Aneh bila pengguna media social aktif - termasuk saya sendiri - tidak mengerti ihwal sepele begini. Artinya, sebenarnya ia telah sengaja berbuat seolah-olah tidak sengaja menohok, menyindir orang dimaksud. 

Kepada sahabat biasanya orang suka membagikan isi pikiran/hatinya, tentang apa saja, termasuk hal-hal yang tidak semestinya. Biasanya orang melakukan itu karena percaya sahabatnya bisa menjaga rahasia. Atau bila terlanjur lancung si sahabat itu akan menegur langsung. Namun yang terjadi tidak selalu begitu. Ada orang memilih menyindir sahabatnya di belakang. Bila demikian, apa pula artinya persahabatan itu?

Bila hanya sekali terjadi, itu biasa. Mungkin ia hanya jengkel saja. Mungkin saking pedarnya ulah orang itu sampai si sahabat butuh ngomel di depan orang. Saya kadang kala melakukan juga.

Kedua kali terjadi, masih oke juga. Itu mungkin memang gayanya. Sebagai sahabat harus maklum dan menerima. Selayaknya disampaikan padanya, bila ada hal yang ia tak setuju agar disampaikan langsung, jangan menyindir, jangan menohok dari belakang.

Namun bila terjadi untuk ketiga kali, nah… ini perlu berpikir keras, atau bertanya-tanya: “Mengapa ia tidak berteriak langsung di depan hidung? Mengapa enggan terus terang kalau sahabatnya telah berlaku/berkata lancang atau gombal atau ngawur atau ngelantur? Mengapa masih saja menohok dengan meminjam tangan media social?”

Keempat kali… dan kesekian kali lagi? Duhai!!! Mungkin itu bukan persahabatan. Atau jangan-jangan orang yang disindir itu hanya ke-GR-an merasa dijadikan sahabat. Perasaannya bisa jadi majal, sudah berkali-kali ditohok dan ditertawakan dari belakang tidak merasa, masih berpikir bahwa ia sahabatnya. Sesekali saya curiga kalau saya masuk kategori ini.

Dari Oscar Wilde pikiran saya berpindah ke George Washington, presiden pertama negara digdaya Amerika. Salah satu quotes beliau yang saya suka adalah ini: “Be courteous to all, but intimate with few, and let those few be well tried before you give them your confidence.” Saya sepakat dan suka sekali dengan pemikiran Sang Presiden yang tempat tinggalnya di Mount Vernon, Virginia, pernah saya kunjungi itu: “Hormatilah semua orang, akrabilah sebagian orang, dan biarkan dari sebagian orang itu teruji untuk mendapatkan kepercayaanmu.” Quote ini pagan. Layak dijadikan pegangan.

Seharusnya orang tidak terburu-buru bergirang hati ketika merasa – baru merasa saja - menemukan sahabat baru. Jangan buru-buru percaya orang itu mau mendengarkan isi pikirannya, apalagi sampai memercayakan hal-hal buruk padanya. Belum tentu ia bersedia berlaku sebagai sahabat sungguhan, yang akan berteriak di depan hidung bila sahabatnya keliru. Bisa jadi ia justru menohoknya dari belakang atau mengomel tak karuan di depan semua orang seolah si sahabat tak akan dengar.

Ah. Ada lagi satu quote yang saya suka, dari Socrates, kira-kira bunyinya begini: “Be slow to fall into friendship, but when you are in, continue firm and constant.” Quote itu membawa ingatan saya pada beberapa sahabat sejati yang telah bertahun-tahun teruji saling menyayangi, namun juga sering saling memarahi - tentu dari depan, bukan dari belakang.

***


Rabu, 10 Oktober 2012

Old Peter

Kampus Universitas Maryland, College Park, Amerika Serikat. Selasa, 1 Oktober 2002.

Udara mulai kurasakan menggerogoti otot-ototku. Tubuh tropisku hampir tak menyimpan cadangan lemak untuk melindungi tulang-tulang kecilku. Kupakai baju bertumpuk dan jaket yang lebih tebal daripada yang dipakai teman-temanku. Kemarin kuborong setengah lusin syal warna-warni, penghangat leher sekaligus pemanis jaket hitamku.

Matahari telah lama tenggelam saat kakiku yang terbalut boot kulit melangkah keluar gerbang utama kampus. Setengah berlari aku menyeberangi jalan raya, selepas lampu bergambar pejalan kaki berubah hijau. Delapan menit kemudian aku sampai di halaman depan apartemenku.

Kulihat lampu balkon apartemenku, di lantai 7, telah menyala. Pertanda temanku Vjera, mahasiswi dari Montenegro, sudah pulang lebih dulu. Tadi pagi ia berjanji akan masak pasta untuk makan malam berdua. Beruntung aku mendapat teman seperti Vjera. Selain pandai memasak, ia juga gemar bicara, persis seperti aku. Bukan soal masaknya, tapi urusan bicara itu. Sehabis makan malam biasanya kami akan duduk-duduk barang satu sampai dua jam, membicarakan apa saja, dari dosen keren sampai model sepatu yang sedang in.

Aku baru akan mengeluarkan kunci dari saku tas saat kudengar suara lelaki terbatuk-batuk dari arah taman. Aku kenal si pemilik suara. Old Peter. Demikian orang-orang memanggilnya. Imigran dari Pantai Gading itu telah belasan tahun bekerja membersihkan halaman, lobi, dan koridor gedung apartemenku. Old Peter selalu baik padaku dan Vjera.

Tubuhnya besar, hampir selebar batang Elm yang sebagian rantingnya menjuntai menyentuh kaca jendela kamarku. Sejak awal jumpa aku tidak takut padanya, malah menyukainya. Kalau kebetulan aku dan Vjera masak agak banyak, Old Peter pasti kebagian. Katanya kalau semua penghuni apartemen seperti kami, ia bisa menghemat gajinya.

“Edna. Is that you?” Suaranya serak akibat batuk. Dia tak pernah bisa mengucapkan namaku dengan benar. Tak mengapa. Toh tidak ada yang tahu arti namaku juga.

“Ya. Ini aku. Ada apa? Kamu sakit?” Aku mendekatinya.

Ia duduk membungkuk di salah satu bangku kayu. Selimut tebal membalut tubuh besarnya. Sebuah topi usang menutup kepalanya. Kulit wajahnya legam, tampak mengkilat terkena sinar lampu. Dalam keremangan bisa kubaca garis-garis kesedihan menabiri sorot matanya. Aku belum pernah melihatnya gundah seperti itu.

“Aku dirampok,” keluhnya di sela-sela batuknya. “Hei. Jangan dekat-dekat. Nanti kamu ketularan.” Aku mundur selangkah, batal duduk di sampingnya.

“Dirampok? Di mana? Kapan?”

“Ya. Tadi siang. Di apartemenku sendiri.” Old Peter menghela nafas panjang. “Dia penjudi miskin. Tak pernah menang dan banyak hutang. Tak kapok meskipun pernah dipukuli orang sampai hampir mati. Dia pura-pura mabuk waktu datang ke kamarku. Setelah dia pergi baru aku tahu kalau amplop yang berisi cek gajiku minggu ini sudah hilang.”

“Aduh!” seruku, “apa sudah lapor polisi?”

“Tidak ada gunanya. Sudahlah. Tidak seberapa. Aku hanya sedih karena selain uangku habis aku juga tidak bisa mengirim uang untuk cucuku.” Old Peter punya tanggungan keluarga di negerinya. Setiap bulan ia mengirimkan sebagian gajinya untuk mereka.

“Kamu baik-baik saja?” Aku bertanya sambil mengeluarkan dompet. Beasiswaku memang tidak banyak. Tapi aku hemat, jadi setiap bulan selalu ada sisanya. Bahkan masih bisa kutabung untuk jalan-jalan dan sedikit hura-hura dengan teman-teman.

“Ini untuk membeli teh dan gula.” Kusodorkan dua lembar pecahan 20 dolar. Cuma itu yang ada di dompetku dan tiga lembar pecahan 1 dolar. Bukan kebiasaanku menyimpan uang tunai banyak-banyak di dalam dompet. Asal cukup untuk membayar taksi dan membeli makan malam bila terlambat pulang.

“Oh! Jangan! Jangan!” Old Peter mengangkat dua tangannya dan terbatuk-batuk lagi. “Kamu mahasiswa. Kamu membutuhkannya. Kamu bukan orang kaya.”

“Tidak apa-apa. Aku cukup kaya.” Aku bercanda sambil melambaikan cincin berlian di kelingking kiriku. “Old Peter… ambilah…”

Setelah berpikir sebentar, tangan kirinya yang hitam kokoh itu terjulur. Dia nyeletuk di antara batuknya, “teh dan gula?”

“Itu istilah yang dipakai di negeriku kalau orang memberikan uang yang jumlahnya tidak seberapa,” jelasku.

Kami tertawa bersama.

Sambil mengucapkan terima kasih berulang-ulang Old Peter beranjak dari duduknya, berjalan di depanku menuju pintu depan. Dengan gaya seorang doorman membukakan pintu untuk tamu hotel, Old Peter mempersilakan aku masuk duluan.

** 

Gedung Preinkert, Kampus Universitas Maryland. Senin, 7 Oktober 2002. 

Aku masuk ke ruang kelas dengan tergesa. Teman-temanku ramai memperbincangkan sniper yang berkeliaran dan menembaki orang secara acak di wilayah Washington D.C., Maryland dan Virginia. Dikabarkan selama dua hari, 2 dan 3 Oktober, penjahat brutal itu telah menembak 6 orang.

Teman-temanku tampak benar-benar ketakutan. Bagiku berita itu hanya mengingatkanku akan film-film laga.

“Endah, hati-hati, ya. Kamu sering nongkrong di perpustakaan sampai malam. Sebaiknya naik bis kalau pulang, jangan jalan kaki.” Mentorku mengkhawatirkanku. “Atau kamu telpon aku kalau mau pulang malam, siapa tahu aku masih di kantorku, bisa mengantarmu,” tambahnya, dua alisnya bertautan, membuat wajah gantengnya tampak serius.

Sorenya, berita tentang sniper jahanam itu semakin santer terdengar di tiap sudut kampus, kuputuskan untuk pulang awal. Mengerjakan tugas di apartemen saja. Kujejalkan empat buku ke dalam ransel.

Sebelum keluar kompleks kampus, kutelpon Vjera untuk memberitahu kalau aku pulang awal sambil menanyakan masakan untuk makan malam. Rupanya Vjera juga sedang di perjalanan.

Ketika langkahku hampir sampai di gerbang utama kampus, kulihat dari kejauhan Old Peter sedang menyeberang jalan. Selimut tebal membalut tubuh besarnya. Kepalanya terlindungi topi yang itu-itu juga.

“Hello, Edna,” sapanya ramah ketika kami sudah saling berdekatan. Batuknya telah sembuh. Wajahnya tampak cerah.

“Mau kemana?” Sebenarnya pertanyaan itu tidak pada tempatnya, tapi terlontar begitu saja. Old Peter pernah bercerita kalau selama belasan tahun bekerja di apartemen yang kutinggali itu, dia baru dua kali masuk kampus. Yang pertama karena diajak oleh seorang mahasiswa dari Pantai Gading yang akan diwisuda. Yang kedua karena ingin melihat-lihat setiap bangunannya yang katanya semua megah dan indah.

“Aku menjemputmu, Edna.” Old Peter membungkukkan badan.

“Apa? Menjemputku?”

“Ya. Kamu tahu kan, ada sniper gila gentayangan. Aku kira kamu akan pulang malam. Aku tadinya ingin menunggumu di luar gedung perpustakaan, supaya kamu punya teman kalau pulang.” Senyumnya mengembang. Kerut-merut di seputar mata dan pipinya semakin kelihatan. Kulit hitamnya, seperti biasa, tampak berkilat karena keringat. Matanya yang abu-abu itu menatap mataku dengan lembut. Mata seorang bapak yang ingin melindungi anaknya.

“Ya, Tuhan, Old Peter. Kamu baik sekali.”

Kubiarkan ia memeluk pundakku sejenak. Sambil tertawa-tawa kami berjalan pulang beriringan.

*** 


Catatan: 
Cerita ini berdasarkan kisah, lokasi dan peristiwa nyata yang dialami penulis. Tentunya direka-reka juga. Menurut berita, sepuluh orang terbunuh dan tiga lainnya luka parah di berbagai wilayah di Metropolitan Washington dan kawasan jalan raya Interstate 95 di Virginia, Amerika. Pada September 2003 dua pelaku penembakan itu salah satunya dijatuhi hukuman mati dan satunya lagi dihukum enam kali seumur hidup tanpa peluang bebas bersyarat. Hukuman mati, melalui suntikan, dilaksanakan pada 10 November 2009. 

Sumber gambar: 
http://www.weedenhousemuseum.com/maria_howard_weeden.htm (link ini tidak ditemukan).

Jumat, 16 Maret 2012

Berteman (bukan) Ala Kebatinan

Saya dan anak  - salah satu teman terhebat-terdekat
Tidak mudah saat harus menerima kenyataan bahwa teman saya marah karena hal-hal yang tidak jelas. Ya, tidak jelas, sebab saya benar-benar tidak tahu penyebab kemarahannya itu. Saya hanya bisa menebak-nebak. Jangan-jangan karena sesuatu yang saya ucapkan. Mungkin karena guyonan saya keterlaluan. Jangan-jangan karena saya terlalu perhatian sampai membuat dia seperti digerecoki. Mungkin... hadeeehhh... ada puluhan kemungkinan.

Saya terlalu sering menduga-duga sebab-musabab suatu persoalan yang tidak jelas ujung pangkalnya. Saya yakin tidak sendirian. Banyak orang melakukannya. Dalam suatu hubungan, termasuk pertemanan, menduga-duga bukan pilihan bijaksana. Anak saya beberapa tahun lalu pernah bilang sesuatu, entah dia dapat dari mana, kayaknya dari film.

Katanya, "Assumption is the source of all fucked-up." Kemudian dia melanjutkan, "Assume is making an 'ASS' out of 'U' and 'ME'..."

Wah! Genius juga anak saya itu, pikir saya. Ya, dia salah satu teman terbaik saya.

Terlalu sering kita (maksudnya 'saya', cuma malu kalau ngaku-aku) berasumsi atas perasaan atau pikiran atau penilaian orang lain. Mungkin kalau benar-benar "orang lain" tidak apa-apa, tidak akan ada dampaknya, apalagi kalau cuma orang yang berseliweran di jalanan. Namun bila dugaan itu kita bidikkan pada teman, akibatnya justru bisa menambah ruwet saat sedang ada persoalan. Kita... waaahhh... maksudnya 'saya'... Diulangi aja. Saya sering mengalami, teman (dekat) saya tiba-tiba melakukan sesuatu yang saya rasakan tidak nyaman. Dia sepertinya marah. Tapi saya tidak tahu alasannya. Saya lalu merasa atis, nelongso, nggrantes... duuuh... itu semua istilah Jawa. Artinya kira-kira 'feeling down', gitu. Supaya rasa sedih itu tidak berlarut-larut, saya putuskan saja langsung bertanya ke teman itu. Ada apa kok tiba-tiba you send me to the dog house. Kenapa kok I am left alone in a stinky dungeon. Apa salahku hingga kau membuang mukamu... duuuh... muka kok dibuang-buang, kalau disambar kucing gimana, coba?

Kalau teman saya itu memang seorang teman, bukan sekedar kenalan, pasti dia akan menjawab, cepat atau lambat... lama atau kilat. Kalau masih marah mungkin jawabannya agak lama, nunggu sampai rasa yang terasa nyesek di dada (ada nggak, ya, rasa marah yang nyeseknya di pinggul?) itu hilang atau berkurang.

Ini tulisan judulnya nyebut-nyebut kebatinan, tapi kok sama sekali nggak ada kata-kata 'batin', ya? Padahal udah panjang... Sabar... sabar... Udah berasumsi aja, saya disangka asal bikin judul...

Sumber Ilustrasi
Masih sejalan dengan 'ass out of u and me' tadi, saya sering juga membatin, berdialog dengan diri sendiri - jadinya monolog, dunk! Halaaaah...! Yah, semua orang melakukan itu. Membatin sesuatu yang kita mau orang tahu alias berharap orang lain bisa membaca isi hati dan pikiran kita. Berasumsi bahwa laku tubuh kita, body language, isyarat, gesture... apa lagi yaaa... bisa sepenuhnya dimengerti oleh orang lain - terutama teman atau istri atau suami atau anak atau adik-kakak. Termasuk juga sindiran halus, kata-kata bersayap, omelan tidak jelas. Teknik 'kebatinan' ini juga kurang bijak diterapkan dalam membangun pertemanan yang kokoh. Sebab bangunan pertemanan yang kuat, indah dan tahan lama itu butuh alat-alat nyata, yang tidak hanya bisa dirasa, tapi harus bisa diraba, dilihat mata dan didengar telinga; bila perlu terendus hidung.

Kalau ada yang marah sama saya, bilang saja, "Endah, kamu cerewet banget, ngomong melulu! Diem 'napa... bau' kamu..." Misalnya begitu. Saya - mungkin - akan tutup mulut, terus gosok gigi, terus... ngomong lagi...

Intinya, sudah lama saya memutuskan mengurangi teknik berasumsi dan cara-cara ala kebatinan dalam berteman. Tentunya juga bersuami, bersaudara dan beranak (kayaknya kalau dipakai untuk kata 'anak' maknanya jadi beda...???). Kalau saya merasa tidak enak hati pada teman, saya usahakan langsung menyampaikan. Kalau ada yang salah, saya insya allah akan minta maaf... Terkecuali kalau saya memang ingin putus hubungan... Itu lain soal.


**

Ditulis untuk diri sendiri dan seorang teman yang tengah gundah.