Tampilkan postingan dengan label kisah Jomblo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah Jomblo. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Februari 2013

Laron-Laron

Rambut ekor kuda di kepala Atika menari-nari seirama ayunan kakinya. Tangan kanannya menenteng tempolong bekas susu bubuk. Segera kuminta benda itu, kuperiksa bagian dalamnya, tak ingin jemarinya yang selembut mentega itu terluka.

“Mamamu sembrono,” gerutuku, menemukan sedikit tonjolan tajam pada bibir kaleng, “biar Tante aja yang bawa ini. Kamu yang ngambil laron-laron itu,” ujarku, menuntun tangan keponakanku, mendekati tiang lampu jalan di dekat rumah Mbak Mimi, kakak sulungku.

Si bungsu lima tahun itu berseru kesenangan, menjumputi laron-laron yang kelojotan di atas jalan konblok. Hujan turun cukup lebat sesorean, laron-laron itu berlomba meninggalkan liang, beterbangan menuju lelampu, mencari pasangan, lalu berjatuhan dengan sayap patah.

“Vivi, ya?” suara lelaki menyapaku. Aku menoleh. Selain keluarga kakakku tak ada orang lain mengenalku di tempat ini.

“Bayu?” Dalam remang petang kukenali sosok yang menggandeng anak perempuan seusia Atika itu. Ia mengangguk.

“Lupa, ya?” selengkung senyum terpampang. “Apa kabar?” Sepasang matanya berkilau oleh sinar lampu jalan.

“Baik. Sehat. Alhamdulillah. Apa kabarmu? Kamu tinggal di sini? Ini siapa? Anakmu?” Bayu salah satu mantan pacarku. Sudah sepuluh tahun, sejak putus cinta, kami tidak bertemu. Wajahnya masih sama. Namun tubuhnya sedikit gemuk.

“Ya. Ini Kana, anakku nomer dua. Itu anakmu? Mirip kamu.”

“Bukan. Anak bungsu Mbak Mimi.”

Matanya tertunduk sembari tertawa. Ia masih ingat Mbak Mimi, namun belum tahu kalau kakakku itu tinggal di perumahan ini. Baru dua bulan keluarganya ia boyong ke mari. Anaknya dua. Si sulung hampir 8 tahun, kelas 2 SD, sangat suka bermain sepak bola, seperti bapaknya. Dari ceritanya, kuperkirakan Bayu menikah hanya setahun setelah hubungan kami berakhir. Sambil mengawasi dua balita bermain laron, Bayu mengisahkan dirinya. Istrinya memilih jadi ibu rumah tangga. Masih Bayu yang dulu, yang gemar bicara dan mudah tertawa.

Selepas makan malam, di sela-sela mencuci piring, kuceritakan pertemuanku dengan Bayu pada Mbak Mimi. Kakakku juga belum tahu kalau mantan pacarku itu jadi tetangganya.

“Kalau dulu kamu mau dinikahi, pasti anakmu udah dua,” ujarnya, menaruh piring bersih ke dalam rak, rasa sesal terselip dalam suaranya.

“Maksudnya?”

“Aku cuma bercanda.”

“Bukan bercanda kalau sering ngomong kayak gitu. Udah berapa kali aku bilang kalau belum pingin nikah. Aku juga nggak pernah merasa sendirian. Kalau mau, ada dua orang yang siap melamarku. Kalau aku mau.” Kalimat terakhir kuucapkan pelan dan tegas.

“Vivi. Aku cuma bercanda,” bisiknya, mengusap punggungku.

Dengan kesal kulepas apron dan kulempar ke atas meja makan. Aku mengunjungi kakakku karena sedang cuti. Ingin santai, sekalian menemaninya selama suaminya tugas ke luar negeri. Namun sejak menjemputku di bandara, ibu tiga anak itu tak henti-henti bicara dan menyindir tentang kesendirianku. “Kapan, Vi? Masa subur perempuan itu terbatas. Usiamu udah 34.” Itu sambutannya sambil memelukku di bandara, dua hari lalu. Aku tak menanggapinya. Pembicaraan kualihkan ke soal cuaca. “Kalau dulu sehabis lulus S-2 kamu langsung nikah, pasti anakmu udah sebaya Dwipa,” ujarnya, menyebut nama anak keduanya, kemarin pagi, saat kami menyiapkan sarapan. “Aku kenalin sama teman Mas Yok mau?” Itu tawaran entah yang keberapa selama beberapa tahun ini.

Mbak Mimi, sarjana sospol hubungan internasional itu, selalu resah dengan pilihan hidupku. Terutama sepeninggal Ibu, ia makin gencar menuntutku segera menikah.

“Maaf, Vi. Aku nggak niat ngerusak liburanmu. Aku cuma ingin kamu nggak nyia-nyiakan hidupmu,” ujarnya, dari dapur menyusulku ke kamar.

“Siapa bilang aku menyia-nyiakan hidupku? Aku udah membantu banyak orang. Ribuan korban konflik bisa terlindungi, ribuan anak-anak bisa sekolah lagi, karena program-programku. Bukan cuma di Indonesia. Di banyak negara!” jeritku. “Aku nggak mau kayak laron-laron itu. Keluar liang cuma buat cari pasangan, terpesona oleh gemerlap cinta, lalu mati lemas dengan sayap lepas. Sekolah tinggi-tinggi cuma untuk cari suami. Setelah nikah, ilmunya mati,” kata-kataku kuniatkan untuk membalas Mbak Mimi.

Kakakku menyelingar di ambang pintu. Selama ini tak sekalipun aku menyinggung pilihannya jadi ibu rumah tangga. Aku juga belum pernah berteriak sekeras itu padanya. Sepasang mata bulat-besarnya mengerjap-ngerjap. Kepala berambut ikal lebat itu tertunduk bagai bunga layu. Hati-hati pintu kamar ia rapatkan.

Esoknya, sehabis mengantar anak-anak sekolah Mbak Mimi mengajakku duduk di teras. Ia minta maaf atas tindakannya selama ini.

“Kamu sungguh-sungguh menganggapku seperti laron-laron itu, Vi?” tanyanya, memandang gelas berisi jus jambu yang masih penuh.

Di kala kecil kami suka sekali mengumpulkan laron. Di awal musim hujan, mereka selalu berebut keluar liang begitu hujan reda, mengerumuni sumber cahaya, mencari pasangan. Yang berhasil akan membentuk koloni baru dan sang betina jadi ratu. Yang gagal akan mati berbarengan munculnya mentari.

“Mungkin kita kayak laron. Mbak Mimi berhasil menemukan pasangan, lalu jadi ratu di rumah ini. Suatu saat Arya, Dwipa, dan Atika akan keluar dari sini, membentuk koloni mereka sendiri. Mungkin aku laron mutan, sayapku nggak rontok, aku nggak mati meskipun nggak dapat pasangan. Entahlah. Aku semalam cuma marah aja.”

“Aku ingin kamu bisa seperti Cici,” ia menyebut kakakku nomer dua, notaris sukses sekaligus istri dan ibu dua anak yang tampak berbahagia.

“Kalau Mbak Mimi tidak bisa seperti Mbak Cici, kenapa berpikir aku bisa seperti dia?”

“Sebagai mbakyumu aku berharap kamu bisa hidup lebih senang.”

“Aku senang dengan hidupku. Bisa keliling dunia, ketemu banyak orang, belajar hal-hal baru. Aku tidak mau mengikatkan diri pada laki-laki seperti Bayu atau Rangga.”

“Atau Danar dan Koko,” sahut Mbak Mimi menyebut dua nama lagi, mantan-mantan pacarku.

“Mereka nggak bisa nerima pekerjaanku, padahal aku sangat mencintainya. Ya udah…. Selain itu, kenapa Mbak Mimi sulit nerima kalau aku nggak ingin punya anak?” Kutatap kakakku. “Ada perempuan yang ingin jadi ibu dan istri saja, ada yang bisa seperti Mbak Cici, mungkin itu yang ideal. Ada yang mati-matian pingin punya anak tapi nggak bisa lalu adopsi atau malah beli bayi. Ada yang seperti aku. Apa itu sulit dimengerti?”

“Ya. Aku masih sulit mengerti,” bisiknya, “tapi aku akan berusaha menerima.”

Aku mendengus. “Nggak apa-apa, asal jangan nggerecokin. Kalau aku ketemu laki-laki yang cocok, aku pasti akan cerita.” Ingin kuakhiri obrolan kami perkara ini. “Sudah saatnya njemput Atika,” kataku.

“Ya. Tolong urus dapur, ya. Semua udah aku racik, tinggal ditumis aja.”

Siang ini kami ingin makan nasi hainan.

“Jangan lupa cuciannya, ya,” ujar Mbak Mimi, memakai sepatunya, melihat ke langit.

Kupandangi mobil kakakku keluar halaman. Kulihat di angkasa beringsut-ingsut awan gelap mendekat, menjulurkan lidah-lidahnya, pertanda hujan segera tiba. Pasti sore nanti Atika akan kembali mengajakku mencari laron, mengumpulkannya ke dalam kaleng bekas susu, mengamati mereka sampai bosan lalu memberikannya ke tetangga sebagai pakan ikan-ikan di kolam belakang.

*** 

Kamis, 26 Januari 2012

One Little Monkey

Sumber Gambar
Aku ingin tahu, apa ada orang di dunia ini yang cintanya belum pernah ditolak. Kalau ada, aku ingin berguru padanya supaya lebih pintar dan mendapatkan cinta yang sudah lama kuidam-idamkan namun belum juga kudapatkan.

Usiaku sudah 29 tahun. Sebentar lagi, hanya beberapa bulan lagi, usiaku berkepala tiga. Menyedihkan, ya. Usia sudah hampir kepala tiga tapi belum pernah mendapatkan cinta. Oh, ya, aku seorang perempuan. Pasti kalian langsung menebak bahwa aku tidak cantik. Tunggu dulu. Menurut kakak dan ibuku, aku cukup cantik, tentunya itu pendapat yang sangat subyektif, jadi belum tentu disetujui oleh orang banyak.

Tubuhku kurus, dengan tinggi cuma 152 cm dan berat 40 kg aku seperti anak SD kelas enam saja. Apalagi payudaraku hanya sebesar tutup gelas. Tutupnya saja, ya, tidak sama gelasnya. Pinggulku juga tidak begitu bulat. Kata ‘tidak begitu’ hanya untuk memperhalus saja karena boleh dikatakan aku tidak punya pinggul. Bayangkan… wah, untuk apa membayangkan perempuan yang tidak punya pinggul, ya? Aku ulangi, bayangkan, celana jeans yang kubeli selalu ukuran 26, kalau merk-nya lokal biasanya ukurannya tidak standar sehingga harus sedikit dikecilkan agar pas badan, mauku bila diberi ikat pinggang tidak berkerut sana-sini. Kalau mau membeli T-shirt, gaun dan semua pernak-pernik untuk menutup tubuh, aku lebih sering mencari di bagian anak-anak atau konter remaja. Tahu PW? Bukan, itu bukan singkatan dari Posisi Wuenak, tapi Pinkie Winkie, salah satu merk terkenal pakaian anak-anak. Nah, T-shirt yang nomer 10 bisa muat di tubuhku, padahal sesuai nomernya, ukuran itu dirancang untuk anak usia 10 tahun. Memalukan!

Namun kisah pendekku ini bukan soal tubuh dan pakaianku. Ini tentang cintaku yang berakhir bahkan sebelum dimulai. Memang, ini bukan yang pertama karena cintaku selalu saja bertepuk sebelah tangan, kandas di tengah jalan, layu sebelum berkembang... ya… ya… itu sebuah judul lagu jaman dulu.

Sebulan lalu di sebuah cafĂ© tempat aku dan teman-temanku sering nongkrong – FYI, teman-temanku semua sudah punya pacar dan ada pula yang sudah menikah – aku melihat seorang laki-laki cakep dengan tubuh pendek kecil. Wah. Ini kesempatan, pikirku. Lelaki kecil mungkin akan memilih perempuan mungil.

Dengan segala cara aku berusaha menarik perhatiannya. Ya, tentu saja aku bilang pada teman-temanku, saat itu ada lima orang, perempuan semua, untuk membantuku. Kami sengaja ketawa keras-keras agar dia menengok. Benar juga. Sekali. Dua kali. Ketiga kali, dia menoleh sambil tersenyum dan memandangi kami satu persatu. Saat itu aku berdiri agar perhatiannya terpusat padaku. Tepat sekali strategiku. Si lelaki bertubuh mungil itu lebih lama memandangku. Amboi, dia tersenyum. Singkat cerita, kami akhirnya berkenalan yang disusul dengan saling bertukar nomor HP.

Sorenya, iseng-iseng, lebih tepatnya dengan nekat, aku mengirim sms pada Johan, begitulah nama lelaki mungil itu.

Hi there! Lagi apa, Johan?”

“Hai, Ria. Lagi bengong aja.”

Wuih. Dia langsung membalas sms-ku. Lalu kami saling berbalas sms sampai ada kalau seratusan. Jemariku terasa pegal-pegal. Di kamar aku cekikikan bagai ABG yang sedang dirundung cinta monyet saja. Aku juga meloncat-loncat di atas tempat tidur, sambil bernyanyi, sampai menimbulkan suara tidak nyaman di telinga akibat decit pegas-pegas berbenturan dengan suaraku yang melengking.

                 One little monkey jumping on the bed,
                 She fell off and bumped her head.
                 Mama called the Doctor and the Doctor said,
                "No more monkey jumping on the bed!"

“Riaaaa…. Kamu ngapain? Loncat-loncat kayak anak kecil aja!” Tegur ibu dari ruang baca.

Begitulah, acara hebohku di kamar berlangsung beberapa lama sampai saat makan malam tiba.

Selanjutnya, ketika aku baru mau gosok gigi dan siap-siap tidur, Johan mengirim sms lagi. Isi sms itu menghentikan sorak-soraiku. Mau tahu apa isinya? Begini: “Ria, yang pakai baju hijau tadi namanya siapa? Cakep. Body-nya keren. Dadanya mantep. Kenalin ya. Pls….”

Yang dimaksud Johan adalah sahabatku bernama Intan, yang tubuhnya tinggi sintal, yang baru sebulan melahirkan dan masih menyusui.

Tentu saja sms itu tidak kubalas. Setelah mematikan HP aku melompat ke atas tempat tidur, lalu kutarik selimut menutupi tubuhku hingga ke ujung kepala. Tanpa gosok gigi, tanpa cuci muka, mataku yang basah kupejamkan kuat-kuat. Hingga pukul tiga pagi aku belum tidur juga.***

Sabtu, 21 Januari 2012

Membaca Curhatan Jomblo

“Tidak bisakah orang-orang itu mengurus dirinya sendiri dan menerima dirinya apa adanya?” Begitu ending dari The Beginning, salah satu tulisan dalam buku Cuplikan Kisah Si Jomblo (CKSJ), karya sahabat saya Ria Tumimomor. Sulit mau memutuskan tersenyum atau meringis kecut membacanya. Ya. Diakui atau disangkal, kita sering pengin mengurus orang lain, entah itu anak, suami/istri, pacar, teman, orang tua… tetangga… bahkan orang lalu-lalang di jalanan. Dan bila kita ketemu seorang jomblo, perempuan, berusia kepala 4… waaah… rasa ingin ngurus itu jadi makin tebal!

Buku CKSJ berisi 14 curhatan pendek. Sepuluh di antaranya memakai judul berbahasa Inggris. Curhatan Ria merangkum hampir semua ‘tuduhan’ yang sering ditudingkan pada para jomblo perempuan berusia matang – untuk tak menyebut usia di atas tiga-puluhan. Jomblo itu dosa (Ouch!!!). Jomblo itu pemilih. Jomblo perlu diobral biar cepet laku. Jomblo sering menjadi olok-olokan dalam pertemuan keluarga. Jomblo tidak punya rasa keibuan; atau sebaliknya, karena usianya (hadeeeh… bisa berhenti nulis usia nggak, nih?) jomblo sering disangka sudah punya anak! Benar-benar sebuah posisi tidak nyaman.

Tapi benarkah para jomblo tidak nyaman? Menurut curhat-curhat yang ditulis Ria, ternyata tidak benar. Sebaliknya, justru orang lain – termasuk keluarga dan sahabat – yang merasa tidak nyaman. Sebabnya… ya… itu tadi… orang cenderung ingin mengatur hidup orang lain. Orang cenderung merasa ingin membuat orang lain seperti dirinya. 

Being Picky Picky adalah salah satu curhatan yang saya suka. Sang Wanita - begitu Ria menyebut tokoh dalam semua tulisannya – dituduh sangat pemilih hingga berat jodoh dan menjomblo sampai tua (Alamaaak!!!). Namun ternyata ibu Sang Wanita tak kalah pemilihnya: ia tak suka kalau anak jomblonya menikah dengan lelaki lebih muda, atau beda agama, atau pengagguran… atau… Di sini Ria ingin menekankan bahwa setiap perempuan lajang, tak peduli usianya, berhak memilih calon suami, sebab bila ia menikah, ia yang akan menjalani. Demikian pula bila ia menjomblo, itu merupakan pilihan karena ia punya alasan. Jadi, jangan dibalik, bahwa perempuan jomblo itu akibat terlalu pilih-pilih calon suami.

Namun, ada juga jomblo yang setelah menikah bisa tiba-tiba lupa bagaimana rasanya menjomblo. “Kesimpulannya, kalau wanita yang sudah lama melajang akhirnya menikah, ia bagai kacang lupa akan kulitnya.” Demikian cuplikan dialog antarjomblo dalam curhatan berjudul Short Memory Syndrome. Tulisan yang satu ini membuat saya terbahak-bahak, sebab sadar atau tak sadar Ria mengakui bahwa ada perempuan yang terbebani oleh kejombloannya, dan beban itu otomatis terangkat bila ia mengakhiri masa jomblonya… alias menikah!

Bagi saya yang menikah di usia 26 ini, tidak mudah membayangkan perasaan para jomblo usia matang (Stop wiriting ‘usia’, please!). Kalau saya mengatakan bahwa saya bisa mengerti, saya pasti bohong, atau basa-basi. Jadi harus ada toleransi. Nah… salah satu curhatan Ria dijuduli ‘Toleransi’. Selesai membaca tulisan yang satu itu, saya langsung berpikir bahwa jomblo pun tidak memahami sulitnya menjadi ibu atau istri. Ada saatnya seorang perempuan beranak-bersuami berharap kembali menjadi jomblo. Saya kebetulan bersuamikan lelaki sabar penuh pengertian. Ia rela melepas saya pergi keliling dunia, sendiri! Anak semata wayang saya juga, menurut emaknya, cukup mandiri. Ia hampir tak pernah menahan langkah ibunya yang kerap keluar rumah berhari-hari. Meskipun begitu, sesekali saya berharap menjomblo, supaya ‘rasa bersalah’ akibat sering meninggalkan anak dan suami bisa terkurangi… bukan karena pengin punya pacar lagi!

Saya lega bisa menyelesaikan membaca ebook setebal 63 halaman ini. Paling tidak, saya jadi tahu diri, tidak lagi asal nyelonong bertanya soal pernikahan atau anak pada perempuan yang baru saya kenal. Sebuah kesalahan yang selalu dianggap wajar, padahal harus dihindari.

Buku ini dijual dalam format ebook. Para pemilik iPad bisa membelinya lewat Evolitera.

Melalui tulisan cethek ini, saya ucapkan salut pada Ria Tumimomor yang sudah menuliskan curhatnya dengan segar dan ceria. Selera humornya yang tinggi tergambar dalam buku ini. Mungkin karena itu ia mampu menikmati kejombloannya. Para istri, termasuk saya pastinya, perlu belajar dari Ria agar bisa nyaman menjalani hidup bersuami…

***

Cethek (bahasa Jawa): dangkal, tidak bernas.