Tampilkan postingan dengan label empat perempuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label empat perempuan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 September 2013

Empat Perempuan

Ilustrasi oleh Azam Raharjo

Episode 30: Si Hitam Dijual

Hujan masih sesekali mengguyur tanah Jogja di minggu terakhir April 2011. Iroh berlari-lari dari minimarket ke rumah, dilihatnya mendung datang mendadak. Tas kresek berisi sabun cuci piring di tangannya melonjak-lonjak. Ia tak ingin jemurannya – yang hampir kering – kembali basah.

Meski di rumah, Eyang pasti lupa kanan-kiri, sedang asyik dengan jarum rendanya, membuat ini-itu untuk teman-temannya.

“Kok gedebukan ada apa?” tegur Eyang, terganggu derap kaki Iroh yang memasuki rumah lewat garasi.

“Gerimis, Eyaaang. Jemuraaan.” Iroh tak memperlambat langkahnya. Eyang hanya sekejap mengangkat matanya dari benang dan jarum renda.

Beberapa saat kemudian Iroh muncul ke ruang tengah dengan rambut diikat tinggi-tinggi. Kulit wajahnya memerah sehabis berlari. “Eyang, tadi saya ketemu Pak Heru di toko. Tanya-tanya mobil hitam. Apa bener mau dijual.”

Sekonyong-konyong Eyang meletakkan pekerjaannya ke sofa. “Kok dia tahu?”

“Katanya ada iklannya di koran. Ada nama Nyonya. Tapi Pak Heru nggak yakin kalau itu mobil Eyang. Memang mau dijual, Yang?”

Eyang membuang napas hati-hati. “Iya. Memang mau dijual.” Suara Eyang seperti gaung yang berasal dari lubang dalam.

Iroh tak berani lagi bertanya. “Saya hanya diminta menyampaikan.” Ia berbalik, meninggalkan Eyang, ke dapur, menyiapkan makan siang.

Terdengar suara gemeretak dari atap yang tertimpa deras curah hujan.

** 

“Iklannya udah jadi kamu pasang, ya?” tanya Eyang, mengekor Runi masuk ke kamar, tangannya menjangkau handel pintu, menutupnya.

“Sudah dari kemarin. Dimuat hari ini. Itu kan maunya Ibu.” Runi melepas baju kerjanya, menggantinya dengan daster katun biru tosca polos bertali seperti spageti di bagian pundak.

Eyang mengawasi tubuh anaknya yang masih langsing dan indah walaupun pada bagian-bagian tertentu sedikit menyimpan lemak. “Kok rasanya berat, ya,” keluh Eyang, nyaris berupa bisikan.

“Lho? Gimana? Kalau berat ya batal aja. Tadi udah ada yang nelpon. Tiga orang. Baru tanya-tanya harga dan kondisinya, belum nawar.” Di iklan itu dicantumkan nama dan nomor ponsel Runi untuk dihubungi.

“Kata Iroh, Pak Heru, tetangga kita, juga nanyain. Harganya itu, lho. Nggak sebanding dengan mobilnya. Masih bagus, mulus, tokcer….” Eyang nyaris menangis.

“Ya gitu kalau mobil tua dilepas di pasar. Makanya, sebenarnya aku mau cari kolektor, orang yang bisa menghargai mobil bukan dari umurnya, tapi dari kondisinya. Gimana?” Sehabis mengikat rambut, Runi meraup bajunya untuk dibawa ke belakang.

“Kamu udah bayar untuk iklan berapa kali?”

“Tiga kali, persis pesen Ibu. Hari ini dan selanjutnya selang dua hari. Gimana? Mau dibatalkan? Asal kita nggak minta balik uangnya, pasti bisa.”

Si Ibu mengikuti anaknya ke belakang. “Harganya itu lho. Rendah banget.”

Runi menahan tawa. Sudah berkali-kali dia menjelaskan pada ibunya kalau mobil tahun 80-an itu tanggung umurnya – apalagi cukup besar cc-nya – pasti ditaksir sangat rendah oleh pembeli biasa.

“Kalau Ibu belum rela melepas, sebaiknya jangan dijual. Dirawat aja. Toh Mas Kuncung masih sanggup mbawa jalan-jalan seminggu sekali dan ngrawat tiap bulan. Dana juga… nggak ada masalah kan?” Runi duduk di kursi makan, meletakkan secangkir kopi yang ia seduh sendiri. “Duduk, Bu. Mau aku buatin apa? Coklat panas apa teh?” Runi bangkit dari kursi, memandang ibunya yang hanya berdiri di ambang pintu antara ruang makan dan ruang belakang.

“Air putih aja,” jawabnya, menarik kursi dan mendudukinya. “Maksud Ibu, kalau mobil itu dijual, ongkos perawatannya bisa ditabung. Bisa untuk macam-macam. Bisa untuk Dea.”

“Waaah… kok Dea. Ibu lupa, ya. Dea itu kaya. Deposito dari uang asuransi kecelakaan Mas Iwan nggak pernah disentuh. Bunganya aja sekarang udah ngumpul lumayan banyak.”

“Ibu nggak butuh apa-apa. Makan ngikut kamu aja udah kekenyangen.” Eyang tertawa. “Uang dari adik-adikmu juga cuma buat Iroh, arisan, beli buku, dan sekarang beli benang.”

“Apa buat Iroh, aja. Buat bantu adiknya beli mesin jahit.” Runi ingat kalau Iroh berniat membelikan mesin jahit untuk Karti yang mengambil jurusan busana.

“Buat Yarti juga. Dia butuh oven dan mixer katanya,” tambah Eyang. “Tapi… kalau nanti Yarti jadi nikah setelah lulus? Gimana?”

“Udahlah, Bu. Yang penting Ibu mantep dulu. Mau dijual atau mau dirawat. Soal ngasih modal ke adik-adiknya Iroh itu urusan beda lagi. Kalau kita udah niat bantu orang, pasti jalannya akan dimudahkan.” Runi menghabiskan kopinya. “Aku harus nyiapin materi buat pelatihan besok, Bu. Kita bicarakan nanti lagi, ya. Tapi tolong Ibu putuskan, kalau mau dibatalkan aku bisa telpon korannya. Ya?”

Eyang mengangguk, mempermainkan gelas di depannya yang masih penuh. Meskipun suaminya tidak punya pensiun, Sekar tidak pernah kekurangan. Sepeninggal Mas Aji, semua setuju menjual rumah keluarga. Anak-anaknya tahu itu rumah warisan; bila dijual hasilnya seharusnya dibagi berempat, mau sesuai agama atau berdasar kesepakatan. Ternyata tiga anaknya memberikan seluruh uang hasil penjualan pada sang bunda. Uang itu didepositokan, bunganya untuk membayar premi asuransi kesehatannya. Ia lalu tinggal bersama Runi, saling menemani, sekalian membantu menjaga Dea.

Cara hidup Eyang sederhana, juga hemat. Namun akhir-akhir ini – karena harga-harga kebutuhan harian membubung tinggi – Eyang ingin mengurangi pengeluaran yang tidak penting; yang menurutnya cenderung sebagai pemborosan. Salah satunya biaya pemeliharaan Si Hitam.

** 

 “Runi, barusan Pak Heru ke sini. Nanyain mobil.” Eyang menelepon anaknya.

“Oh? Ibu kasih lihat mobilnya? Ibu bilang apa?” Runi berbisik, menyingkir ke dekat pintu keluar. Salah satu narasumber sedang presentasi di depan peserta pelatihan.

“Ibu bilang kalau kita masih ragu-ragu. Ibu nggak nyebut harga. Tapi dia udah nawar.” Eyang menyebutkan harga yang diajukan tetangganya itu.

“Walah, Bu. Itu kan sama dengan harga laptopku.” Untung Runi bisa menahan tawa dan menjaga suaranya tetap rendah. “Terus gimana?”

“Cuma gitu aja. Dia minta kita cepet-cepet ngabari. Setuju atau nggak.”

Runi meminta ibunya bersabar, menunggunya pulang. Ia akan berusaha mencari pembeli yang sepadan dengan kualitas Si Hitam.

** 

Runi menutup pintu belakang mobil dengan pantatnya. Tangan kanannya menenteng tas kerja dan tangan kirinya mendekap sebendel dokumen lekat ke dada. Detak sepatunya terdengar lebih cepat dari biasa. Perempuan itu jelas-jelas ingin segera masuk ke dalam rumah.

“Ada kabar baik. Pak Handito mau membeli mobil Ibu,” lapor Runi pada ibunya.

Iroh buru-buru mengambil alih barang-barang majikannya, meletakkannya di atas meja kerja.

“Harganya dua kali lipat dari harga pasar.”

“Nak Handito? Bapaknya Priyo?” seru Eyang, matanya membeliak.

“Siapa lagi?” Senyum Runi lebar.

“Kamu telpon Nak Handito?”

“Ya. Memang kenapa? Orang mau jualan. Dulu, waktu Priyo nyupiri Ibu, dia bilang kalau bapaknya ngincer mobil itu. Mau dibangun buat dikoleksi. Untung aku ingat.”

“Waaah… kamu telpon dia? Kapan?” Eyang terkesan tidak peduli pada mobilnya yang ditawar dengan harga tinggi, justru lebih tertarik pada anaknya yang menelepon si pembeli.

“Tadi siang. Pas istirahat makan. Dia malah cerita koleksinya. Ada Impala tahun 50-an, Holden dan Fiat tahun 60-an. Ada satu lagi yang aku nggak ingat.”

“Ibu mau telpon Nak Handito. Biar mobilnya diambil aja. Sekarang. Bayarnya besok-besok nggak apa-apa.”

“Bu. Jangan telpon dulu. Sabar.”

Serupa elang yang melihat anak kelinci sendirian di tengah padang rumput, Eyang tak bisa ditahan. Tangan kirinya cekatan meraih gagang telepon. “Tolong, nomer Nak Handito,” pinta Eyang pada Runi yang terkelu dan terkesima menatap ibunya.

***

Episode 1-30 pernah dimuat di Oase-Kompas.com dan sebagian juga ada di Kampung Fiksi

Selasa, 12 Februari 2013

Empat Perempuan

Ilustrasi oleh Azam Raharjo
Episode 21: Bahagia Itu

Minggu, menjelang tengah hari. Runi kaget melihat anaknya melakukan posisi yoga di ruang tengah. Kepalanya di bawah, tubuhnya lurus ke atas, dua lengannya ditekuk pada siku di kanan-kiri kepala, menjaga keseimbangan tubuhnya.

Nalurinya ingin menyuruh Dea menghentikan tindakan gegabah itu. Posisi salamba sirsasana harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Namun otaknya cepat bekerja, anak gadisnya itu masih sangat muda, belulangnya masih lentur.

“Dea.” Runi akhirnya khawatir setelah beberapa menit anaknya tak bergerak.

“Hoooaaahhh….” Pelan-pelan si remaja menekuk lutut ke depan, menghentikan atraksinya. “Legaaa….” Ia menggeram pelan, mirip kucing kekenyangan.

“Tumben kamu yoga.”

“Ngilangin sebel, kesel, sepet, cupet, bete….” Mulutnya membulat, dua alisnya mendekat. “Minggu yang menyebalkan!”

“Lho? Ada apa? Kayak nyangga beban dunia.”

“Renshu.”

“Napa dengan Renshu?”

“Susah diajak senang!” gerutuan itu disertai bibir mencibir.

“Susah diajak senang gimana?”

“Mamaaa…”

“Ada apa, sih?” Runi berkernyit dahi. Jangan-jangan Dea butuh makan siang. Bila perutnya lapar anak tunggalnya itu sering kesal tanpa alasan gara-gara gula darahnya turun.

“Dari tadi tanyaaa mlulu… Ada apa kamu? Napa Renshu? Gimana?”

“Habis jawabanmu pendek-pendek begitu. Yang panjang cuma manyunmu.”

Meskipun kecut, akhirnya Dea tertawa mendengar gurauan mamanya. Cowok berwajah Oriental yang sudah beberapa bulan rajin menyambanginya itu ternyata tidak fun seperti harapannya. “Apa-apa pakai jadwal. Kalau nggak bikin jadwal jalan, pastiii… nolak kalau diajak. Kalau waktunya baca, diajak ngomong kayaknya nggak ndengerin.”

“Itu persis Jarkasi, Non. Persiiisss… plek… plek… makanya saya ogah dipacari!” Iroh menyerobot tanpa permisi. Di tangannya ada nampan. Tiga gelas es degan gula merah siap ia hidangkan. “Coba kalau Jarkasi itu semanis es degan ini…” Hati-hati Iroh meletakkan nampan di atas meja ruang tengah. “Monggo, Nya… Non….”

“Kamu ikut-ikutan aja! Mosok Renshu kamu samain Jarkasi. Yang bener aja…” Eyang muncul dari dapur. Ia baru selesai membantu Iroh membuat es degan. Ia tak rela sahabat cucunya dibandingkan dengan tukang kerupuk langganan mereka.

Semua orang se-RT tahu kalau Jarkasi suka sama Iroh sejak lama. Namun Iroh tak menanggapi. Bu RT pernah diminta membantu membujuk perawan yang bersumpah tak akan menikah sebelum dua adiknya lulus SMA itu. “Buat saya bahagia itu kalau bisa mbiayai dua adik saya sampai lulus SMA,” begitu Iroh beralasan ketika Bu RT mengatakan Iroh pasti akan bahagia bila mau diperistri Jarkasi.

“Kok jadi pada diem semua. Malah mikirin Jarkasi!” Protes Dea, mengubek-ubek gelasnya, mencari potongan kelapa muda yang besar-besar. Iroh terkekeh, berjalan ke dapur menenteng nampan.

“Kenapa Renshu?” Eyang meletakkan gelasnya ke atas meja. Penuh perhatian menatap cucunya.

“Nggak asyik orangnya. Nggak kayak penampilannya. Bikin kecewa!”

“Nggak asyiknya gimana? Kelihatannya sopan, fun, sense of humor tinggi, pinter itu udah pasti. Nurut Mama baik-baik aja.”

“Mau Dea ituuu… kalau diajak jalan, nonton film, konser, teater, seneng-seneng, kapan aja mau. Gituuu…”

“Mungkin banyak tugas kuliah,” tukas Eyang.

“Tugas mahasiswa kan lebih enteng dari anak SMA.” Keluhan Dea masih belum berhenti. “Mereka juga nggak kuliah tiap hari.”

“Mungkin dia punya cara seneng-seneng sendiri,” ujar Runi, mencoba membuat anaknya berhenti menggerutu. Menurutnya Renshu cocok sebagai teman jangka panjang. Penampilannya keren, wajahnya ia nilai 8, pembawaannya tenang dan sopan. Bila akan mengajak keluar selalu menelpon dulu, minta ijinnya. Tiap pulang terlambat, ia juga memberi kabar. Semua ibu pasti lega bila anak gadisnya berteman dengan lelaki muda seperti dirinya. “Banyak orang merasa bahagia meskipun tanpa senang-senang,” tambah Runi.

“Maksudnya?”

“Tadi Dea bilang, dia susah diajak seneng-seneng. Nonton film, nonton konser… apalah…” Runi mulai bicara serius. “Ada orang yang merasa bahagia hanya dengan duduk-duduk di teras sambil baca majalah apa novel, masak, nonton film TV favorit, berkebun… tidak harus bareng teman, atau keluar rumah, atau mengeluarkan uang.”

Dea mendengarkan mamanya sambil terus mengaduk-aduk gelas.

“Dulu papamu juga lebih senang di rumah. Eyang juga,” ujar Eyang, mengangsurkan gelasnya yang masih dipenuhi potongan kelapa muda karena gelas cucunya sudah kering tandas. “Kebahagian itu tidak ditentukan oleh kejadian-kejadian indah atau hura-hura namun bagaimana kita menata sikap batin untuk menghadapi semua kejadian, yang buruk maupun yang indah, bagaimana kita bisa menikmati diri sendiri apapun yang terjadi.” Eyang mulai memberi wejangan. Saat-saat seperti ini menurutnya tepat untuk bicara dengan cucunya.

Dea menggoyang-goyangkan dua kakinya yang telanjang. Kausnya yang tadi basah oleh keringat sudah kering dan ia lepas. “Sebenarnya Dea cuma kecewa aja…” Gadis itu menunduk. “Udah hampir seminggu dia nggak nongol. Katanya lagi banyak kerjaan.”

“Jadi ceritanya kamu kangen?” tanya Runi.

Sambil menggigit sendok Dea mengangguk. “Dea pikir kalau diajak jalan dia mau datang.”

Runi dan Eyang saling memandang. Menurut ceritanya sendiri, Renshu hampir menyelesaikan semester 6. Terlalu jauh jaraknya untuk menjadi pacar Dea. Kalau pemuda itu tidak sesopan dan sebaik itu, pasti Runi tidak mengijinkannya mengajak Dea pergi berduaan.

“Usia Renshu berapa? Kira-kira 20 atau malah 21?” Tebak Runi. “Kamu masih 16.”

“Hampir 17!” protes Dea.

“Masih lama, September, 7 bulan lagi. Jadi selisih kalian sekitar 4 tahun. Nggak apa-apa kalau kamu udah di atas 18. Tapi bisa jadi masalah karena kamu belum 17. Mungkin dia tahu batasan,” tambah Runi.

“Maksudnya?” kejar Dea.

“Yaaa… dia tahu kalau kamu masih terlalu muda untuk sering-sering pergi berdua aja. Laki-laki yang baik, nurut Mama, akan tahu batas. Mereka akan cenderung melindungi perempuan yang dia sukai, bukannya malah memanfaatkan. Apalagi kalau perempuan itu masih di bawah umur, kayak kamu. Itu nurut Mama yang sering kamu bilang jadul.”

“Ndak jadul-jadul banget, kok, Nya. Coba usia Nyonya berapa? Baru 41 tahun. Masih muda… tampilan Nyonya aja lebih trendy dari tetangga sebelah yang masih pengantin baru….” Iroh muncul dengan jug penuh es degan. “Niiih… habisin, Non….” Kerlingnya ke Dea.

“Kamu ini maunya ikut-ikutan,” tukas Eyang.

“Laaah… kalo soal cowok, saya masih lebih pengalaman dibanding Non Dea. Ndak ada salahnya berbagi. Ya, Nya?” Iroh minta dukungan majikannya. “Lagian, jangan sampai kita nyari seneng dari orang lain, apalagi dari laki-laki.” Iroh memandang Eyang dan Runi berganti-ganti.

“Belagu, kamu…!” sergah Dea.

“Sejak punya akun Facebook dan Twitter Iroh jadi tambah ahli berbagi….” Runi tertawa. Eyang sudah lebih dulu terpingkal-pingkal.

“Saya aja tahu… mosok Non Dea ndak ngerti.” Iroh menjadi-jadi.

“Memang bener kata Iroh,” ucap Runi. “Menikmati diri sendiri itu perlu. Jadi kalau teman kita lagi nggak mau diajak jalan atau ketemuan, kita nggak sewot,” lanjutnya, “kamu bisa baca, nonton DVD, ndengerin musik, nonton TV, apa jalan-jalan sendiri. Bukannya kamu sering jalan sendiri?”

“Jangan sampai karena suka sama Renshu lalu tergantung sama dia. Kalau dia nggak muncul kamu jadi nggak bahagia,” tambah Eyang.

“Nah! Itu yang bahaya….” susul Runi.

“Semua pada konspirasi nyerang aku!” sewot Dea.

“Wadoh! Kayak anggota partai aja, pakai konspirasi segala,” gelak Eyang, “kami ingin kamu makin dewasa makin mandiri. Jangan salah….” Eyang melepas kacamatanya, mengawasi cucunya.

 “Kalau gitu, bulan depan aku harus dapetin SIM A,” ujar Dea, melepas kaus kakinya, menciumnya, lalu tersedak.

“Woh? Kok terus melompat ke SIM A?” seru Runi.

“Kalau aku punya SIM A jadi bisa bawa mobil Mama. Kalau jalan sendiri bisa lebih bahagia, lebih gaya….”

Gadis SMA itu menggulung-gulung kauskakinya jadi serupa bola, melempar dan menangkapnya dengan dua tangan, sambil berjalan ke belakang.

*** 




Senin, 26 Maret 2012

Empat Perempuan

Ilustrasi oleh Azam Raharjo
Episode 20: R e u n i 

Indri masih seperti dulu, sepuluh tahun lalu. Gemar memakai baju berpotongan leher rendah dan lebar. Mempertontonkan sepertiga dadanya. Triana tampak lebih langsing sekarang, juga makin manis, dengan blus warna lembayung kulit sawo matangnya jadi eksotis. Dulu ia malu dengan warna kulitnya itu. Di sudut ruang, terlihat Hani anggun sekaligus sexy dengan kerudungnya itu. Atikah melambai-lambai begitu memasuki ruangan. Ia melemparkan kecupan dengan tangan ke arah Runi. Atikah satu-satunya sahabat SMA yang masih sering bertemu Runi. Sesekali mereka jalan bersama, sekedar makan siang atau membeli keperluan harian.

Dari tempat Runi duduk, tak banyak yang bisa ia lihat. Seharusnya ia memilih kursi yang diduduki Indri, bisa melihat dan dilihat siapa saja. Ah... Mungkin itu memang ia sengaja, supaya dadanya itu bisa dinikmati sebanyak mungkin mata. Di sudut lain terlihat Arletta. Kalau matanya tidak terbuka, orang pasti mengira perempuan itu tertidur, wajahnya datar, terlihat bosan. Bola matanya bergerak kesana-kemari mengikuti suara yang bersahutan di ruangan itu. Ini reuni SMA pertama yang ia hadiri. Entah siapa yang mengatur reuni kali ini, menurut Runi ruangannnya kekecilan. Kurang nyaman. Ia tahu di restoran ini ada beberapa ruang meeting yang cukup luas menampung 30 orang. Ya. Ada sekitar 30 orang yang konfirmasi menghadiri reuni kali ini.

Mata Runi bertemu mata Arletta. Runi mengangkat tangannya, senyumnya terpancar lebar, memberi isyarat agar perempuan lajang itu pindah duduk di sampingnya. Mata yang tadi terlihat suwung itu tiba-tiba bercahaya. Meskipun tidak akrab, dari dulu ia selalu baik pada Runi. Selepas SMA ia kuliah di Jakarta, mengikuti kepindahan orang tuanya.

"Apa kabar Letta...?" Mereka berpelukan.

"Kamu kelihatan seger!" Seru Letta mengamati temannya.

"Kamu makin keren aja. Cocok jadi perempuan Jakarta! Rambutmu cantik sekali" Runi menyentuh rambut Letta yang ditata di salon, tergerai di dada dengan ikal besar-besar seperti para selebriti di TV.

Selepas SMA, sebelum reuni kali ini, mereka baru bertemu sekali. Sudah lama. Di pernikahan salah satu teman mereka.

"Kamu dari tadi diam aja."

"Kayak kamu yang nggak tahu aja. Itu lihat yang di kanan-kiriku tadi siapa." Mata Letta berputar ke atas. Tanda tidak suka. Ya. Runi paham maksudnya. Tadi Letta duduk diapit Pita dan Tiwik. Sejak SMA dua orang itu bersahabat dan sama-sama gemar sesumbar tentang kekayaan keluarga. Ternyata memang benar, kebiasaan buruk susah hilang, atau mungkin justru dibawa mati. Runi pun heran, ketika bertemu di reuni pertama 15 tahun lalu, mereka masih saja bicara soal harta. Saat itu Tiwik sudah menikah dan Pita baru diwisuda namun tanggal pernikahannya telah ditetapkan. Sambil membagi undangan, Pita membanggakan kekayaan calon suaminya yang pengusaha ternama itu.

"Mau cerita apa? Hidupku tidak banyak berubah sejak wisuda." Suara Letta memotong ingatan Runi.

"Tidak berubah?" Runi terbelalak. "Lihat dirimu..." Runi memandang teman SMA-nya dari ujung
kepala hingga ke kaki. "You look fabulous!" canda Runi menirukan gaya seorang host talk show ternama. Mereka tertawa. "Kerjaanmu itu menarik. Bayangkan, sarjana akuntansi bisa banting stir jualan buku-buku langka! Laris pula..."

Pekerjaan Letta memang unik. Ia punya toko buku khusus buku-buku langka yang sudah tidak dicetak lagi. Tak jarang ia ke luar negeri, keliling dunia, mencari buku langsung dari toko-toko buku loakan. Ia pernah diundang cucu mantan pegawai tinggi di jaman VOC, orang Belanda tentunya. Diminta menjualkan buku-buku koleksi kakeknya itu. Dan itu hanya salah satu yang menarik dari profesi Letta. Dengan tekun Runi mendengarkan ceritanya. Sesekali ia bertanya.

"Letta... Kapan nih kamu ketemu calonmu..." suara melengking memutus obrolan Runi dan Letta. Suara Tiwik. Ah. Perempuan itu memang cerewet, pikir Runi. "Aku udah hampir mantu lhooo...! Jangan keduluan anakku..." tambahnya, disambut tawa meriah dari sana-sini. Mata Letta yang tadi berbinar jadi mati. Bibirnya merapat. Sesaat ia kebingungan, tak tahu mau menjawab bagaimana.

"Itu nggak pentiiing!" sahut Runi dengan nada bercanda, menyelamatkan temannya. "Kami lagi ngobrolin bisnis bukunya. Bulan depan Letta mau keliling Amerika Selatan. Sudah ada sponsornya dan calon pembeli. Bulan depannya lagi sebagian koleksinya mau dilelang di New York."

Suara tawa mereda. Wajah-wajah yang tak lagi remaja itu sebagian tampak menyesal. Sebagian lagi tak peduli, memulai perbincangan baru dengan orang yang duduk di sebelahnya, seolah tak terjadi apa-apa. Runi merasakan ada hawa panas menyelimuti perempuan 41 tahun yang duduk di sampingnya. Inilah salah satu hal yang sering dihindari Runi dalam acara reuni. Olok-olok keji yang sudah tak pantas lagi dilontarkan tanpa pertimbangan. Usia mereka tak lagi belasan.

Setiap orang punya jalur kehidupan sendiri. Ada yang panjang berkelok-kelok, ada yang lurus berlubang-lubang, ada yang harus menuruni jurang, sebagian mendaki bukit terjal. Ada yang naik-turun sekaligus berkelok dan penuh lubang. Ada yang lurus mulus tapi pendek... Runi menghela nafas panjang, terkenang almarhum Mas Iwan. Ya. Dirinya juga menjadi janda di usia muda. Itu bukan kesalahannya. Dalam reuni seperti ini, Runi sesekali melihat tatapan penuh iba, seakan menganggap dirinya sengsara setelah menjadi janda. Namun Runi tak pernah membela diri. Dia tahu, banyak temannya yang hidup dalam kebohongan. Bermain peran di depan orang. Ia percaya kata-kata ibunya, hidup itu wang sinawang, orang cenderung menyoroti kekurangan diri dan melihat kelebihan orang lain. Runi tak ingin fokus pada apa yang tak ia punya karena membuatnya tidak mensyukuri kelebihannya dan melalaikan semua yang telah ia miliki.

Letta meraih tas yang ia taruh di bawah kursi.

"Letta...?" Runi tahu temannya itu mau keluar. "Jangan pergi."

"Lama-lama gerah di sini." Jemari yang kukunya dicat salem itu menyibakkan rambut panjangnya ke belakang punggung. Runi tahu Letta tak bisa ditahan.

"Aku temani..." Runi beranjak dari kursi. Mereka berdua melangkah keluar tanpa menimbulkan suara. Teman-teman yang duduk berdekatan sebagian ikut keluar. Ada yang ingin merokok. Ada yang sekedar membebaskan diri dari obrolan yang lama-lama terkesan dipaksakan.

"Kalau mau, kita bisa jalan-jalan. Aku bawa mobil. Atau mau belanja buku?" Runi menawarkan diri. Letta berseru senang. Sudah lama ia tidak jalan-jalan di Jogja belanja buku bekas.

"Apa kabar anakmu? Dea namanya?"

“Ya. Dahlia.” Mereka keluar restoran sambil tertawa-tawa. Si Lajang senang mendengar kisah Si Janda tentang anaknya yang mengingatkan mereka saat SMA. Masa lalu perlu dikenang sesekali, bukan untuk disesali. Hidup adalah semua yang mereka alami hari ini. Harus dirayakan dan dinikmati.


keterangan:
suwung = kosong sekaligus senyap, tanpa penghuni.
wang sinawang: harfiah = saling memandang; makna istilah = pada dasarnya orang saling menilai satu sama lain dan cenderung melihat kekurangan diri - kurang bersyukur - dan melihat kelebihan orang lain.

Minggu, 12 Februari 2012

Empat Perempuan

Ilustrasi oleh Azam Raharjo
Episode 19: Reminisce

Minggu pagi rumah bernaung pohon sawo itu bagai tak berpenghuni. Jendela kamar Eyang masih tertutup meski jam dinding di ruang makan telah menunjuk angka delapan. Biasanya satu sisinya sudah dibuka pada pukul lima. Runi pasti lupa membukanya. Si empunya kamar tengah berada di Bandung bersama Dea dan Iroh. Mereka bertiga mengungsi di rumah adik Runi, tak ingin sakit akibat menghirup abu Merapi.

“Kenapa kamu ndak ikut sekalian? Bisa cuti, to? Seminggu saja?” Bujuk Eyang lagi pada Runi, beberapa jam sebelum mereka meninggalkan rumah.

Runi harus bekerja. Ia juga yakin awan panas Merapi tak akan mencapai kota. Kalau itu terjadi, artinya si gunungapi itu meletus sempurna, mungkin seluruh pulau Jawa akan terkena. Namun Runi tetap berjaga-jaga, sambil mendengarkan alunan suara Michael Buble, ia mengeluarkan koper kecil milik suaminya. Koper itu sudah lama tidak dipakai, terbungkus plastik rapi sekali. Aliran darah seakan terhenti berbarengan tangannya menarik keluar koper itu. Tiba-tiba saja hidungnya kembali membaui aroma parfum favorit Mas Iwan. Detak jantungnya mengencang. Ingatan perempuan yang sudah menjanda lima tahun itu mengawang.

"Mau oleh-oleh apa, Cinta?" tanya Iwan lewat telpon, dua hari sebelum pulang dari tugasnya di Kuala Lumpur.

"Apa aja yang gampang. Yang penting jangan lupa pesenan Dea."

Dua hari kemudian Iwan pulang. Begitu masuk kamar, ia merogoh kantung tas kerjanya, sebuah kotak mungil terbungkus kertas ungu lavender ia letakkan di atas bantal. Tak perlu menebak, Runi tahu isinya, sebuah cincin. Suaminya tahu benda yang paling disukainya bila ia sedang tak menginginkan oleh-oleh apapun. Sebuah cincin baru selalu mampu menyentuh hatinya. Malamnya, para pengantin baru pasti cemburu bila melihat cara sepasang suami-istri itu memadu asmara.

"Ya, Tuhan..." desah Runi dalam hati. Muncul rasa hangat yang lama tak ia alami, pelan-pelan merayapi kemaluannya, menyebar menelusuri aliran darahnya. Koper ia letakkan di atas kursi. Tubuhnya ia rebahkan di tempat tidur, di sisi kiri, sisi yang dingin, yang sudah bertahun-tahun tak ada yang menempati. Matanya terpejam, tangan kanannya meraih bantal lalu mendekapnya erat.

"Mau makan dimana?" kembali terdengar suara suaminya.

"Kalau di Sari Laut bosen nggak?" Baru beberapa hari sebelumnya mereka makan di sana bersama adik-adik Iwan. Keluarga Runi dan Iwan sama-sama menyukai makanan laut. Iwan tidak begitu suka ikan air tawar, katanya rasanya hambar.

"Mana bisa bosen kalau sama kamu..." bisik Iwan, merayu, sambil merapatkan tubuhnya ke tubuh istrinya. Kalau sudah begitu, mereka akan berusaha keras menidurkan Dea. Bila buah hati mereka itu tak juga memejamkan mata saat gairah sudah sulit ditahan, Iwan akan mencari apa saja yang berasa manis di kulkas. Runi tak bisa berhenti tertawa bila hal itu terjadi. Akibatnya Dea semakin sulit tidur saja.

"Kapan kita mau kasih Dea adik?" Iwan membantu Runi mengeringkan rambut, suatu pagi.

"Secepatnya. Ntar aku keburu tua." Saat itu usia Runi 33 tahun dan Dea 8 tahun. Namun usaha mereka memberikan Dea seorang adik belum berhasil hingga 3 tahun kemudian, saat Iwan tiba-tiba dipanggil Tuhan.

Masih memeluk bantal Runi mengerang, tidak sadar kalau Michael Buble sudah berhenti bernyanyi sejak tadi. Ia tak ingin beranjak dari tempat tidurnya. Ia ingin berdiam diri di sana, di sisi yang dulu tempat berbaring suaminya. Dering telpon tak ia hiraukan. Mungkin ia bahkan tidak mendengar. Baru setelah telpon itu berdering lagi, dengan malas ia bangkit berdiri.

"Assalamualaikuuum..." Suara ibunya. "Sibuk, ya? HP mati, ya?"

Runi baru ingat kalau ponselnya habis batere dan belum sempat di-charge. "Lagi mbersihin kamar mandi, Bu," bohong Runi, malu pada diri sendiri. Ibu dan anak saling berkabar. Runi bercerita ia ingin masak cumi goreng mayonais dan ca kangkung. Ia tahu kalau ia tak punya persediaan cumi-cumi dan kangkung di kulkas.

"Kangen Mas Iwan?" tebak ibunya. Sekar tahu kalau Runi sedang kangen suami pasti minta Iroh memasak makanan itu.

"Iya, Bu. Sepagian ini saya ingat Mas Iwan. Apa saya ke makamnya, ya? Udah lama saya nggak nengok..."

"Didoakan saja."

Runi tidak berkomentar. Pikirannya masih tersangkut ke masa lalu.

"Kamu ke sini aja." Sekar kembali membujuk anak sulungnya. Pikirnya suasana kota dalam siaga bencana, semua orang cemas, bahkan sebagian ketakutan, tak baik sendirian di rumah. "Runi?"

"Saya baik-baik saja, Bu."

Sekar lalu bercerita tentang Dea dan Iroh yang sejak habis subuh sudah keluar rumah mencari bubur ayam. Ia juga mengeluhkan berita TV yang terus-terusan mengabarkan memburuknya kondisi Merapi.

"Jangan percaya TV, Bu. Jogja baik-baik aja. Salam untuk semua," pesan Runi mengakhiri pembicaraan. Perempuan itu tidak mau kehilangan waktu berharga bersama kenangan suaminya. Tidak setiap saat Runi merasakan kehadiran almarhum suaminya seperti pagi ini. Sebegitu dekat hingga ia merasakan kembali belaiannya, ciumannya, dekapannya, desah nafasnya. Kalau tak ada dering telpon, mungkin perempuan itu akan orgasme dalam lamunannya.

"Ada baiknya aku belanja. Mungkin masak cumi mayonais bisa nolong," batin Runi. Sudah hampir waktu makan siang. Artinya, sebelum telpon berdering, perempuan itu melamun di tempat tidur lebih dari 4 jam. Pantas saja kepalanya pening.

Selepas mencuci muka Runi membuka kulkas. Dilihatnya botol tabasco terselip di antara botol-botol lainnya. Tangannya menjangkau botol yang mungkin sudah beberapa tahun tidak disentuh. Ia tak ingat kapan terakhir membeli tabasco. Selain Mas Iwan, di rumah itu tak ada yang suka. Mungkinkah botol itu sudah berada di situ lebih dari lima tahun? Digenggamnya benda berisi saus kemerahan itu.

"Jangan-jangan ini dulu dibeli Mas Iwan," alis Runi berkerut. Di rumah itu sesekali ia masih menemukan benda-benda suaminya, selain beberapa barang yang telah ia pilih dan simpan di dalam peti kayu jati, suvenir dari Lombok yang mereka beli saat berbulanmadu dulu.

"Niiih... Mau nggak? Mau nggak? Pasti enak!" goda Iwan, meleletkan lidah penuh tabasco, mencoba membuat istrinya mencicipi saus pedas itu, langsung dari lidahnya.

"Heeey! Ini di tempat umum!" tegur bapak Runi, menggeleng-gelengkan kepala. Saat itu mereka masih pengantin baru, masih tinggal serumah dengan orang tua Runi, masih sering keluar makan bersama.
Runi tersenyum menimang-nimang botol tabasco. Dulu dia begitu mudah tertawa. Iwan suka sekali menggoda istrinya. Dimana saja ia tak malu merayu perempuan itu. Suara tawa mereka hanya berhenti bila sedang berjauhan, atau tidur.

Tertawa terbahak, ya, itu salah satu yang dirindukan Runi. Terbahak-bahak sampai keluar air mata. Tertawa bahagia. Tertawa geli hingga ke hati. Kini rasa hangat menjalari matanya. Runi menangis sambil mendekap botol tabasco.

"Ah. Aku bisa gila kalau begini." Dengan punggung tangan ia hapus air matanya. Botol tabasco tetap ia genggam. Keinginannya masak cumi goreng mayonais akan ia turuti. Ia akan belanja, memenuhi kulkasnya dengan sayuran dan bahan makanan favorit suaminya. Runi tak ingin hari itu berlalu tanpa benar-benar merasakan sesuatu yang disukai suaminya.

"Aku harus menengok makamnya," pikir Runi, membuka pintu garasi. Abu Merapi samar-samar memenuhi udara, terhembus angin, terhirup hidungnya. Runi bersin-bersin, lalu cepat-cepat memasang masker. "Ada baiknya aku membeli bunga dulu." Seulas senyum menghiasi wajahnya. "Mas Iwan pasti menertawaiku kalau ia bisa melihat ulahku hari ini. Ia pasti akan terbahak kalau tahu aku bicara sendiri." Senyum Runi melebar.

Sebuah mobil pelan-pelan keluar halaman, pengemudinya tertawa sendirian.

***

Episode sebelumnya ada di Kampung Fiksi

Keterangan:
Reminisce (bhs Inggris): mengenang (sambil menikmati/meresapi) masa lalu.