Tampilkan postingan dengan label kisah hantu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah hantu. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 September 2012

Allambee, Anak Lelaki Wurundjeri

Sumber Foto
Kamis pagi di pertengahan bulan Mei. Cuaca dingin sudah beberapa minggu menyelimuti Melbourne. Namun dingin cuaca dan terpaan angin tak menghalangiku mengeluarkan sepeda. Sejak kedatanganku seminggu lalu, hampir setiap pagi aku bersepeda menyusuri sungai Yarra. Kasihan sekali sepeda suamiku itu. Jarang dipakai pemiliknya akibat seluruh waktunya tersedot habis di kampus. Sepeda yang dibeli bekas itu masih kuat, cat merahnya mulus, nyaris bebas goresan, jerujinya juga mengkilat.

Sambil bersenandung kuisi ransel dengan sebuah novel lama karya NH Dini, sebuah topi, kacamata hitam, beberapa bungkus tisu, sebotol air mineral dan sebungkus mixed nuts favoritku. Kupakai sweater tebal merah mawar bersama jeans biru. Kulingkarkan syal motif papan catur ke leherku. Ujung bawah celana kumasukkan ke dalam sepatu basket merah agar kaki-kakiku lebih hangat. Aku puas dengan penampilanku, siap mengawali hariku.

Sebelum keluar halaman kukirim sms ke suamiku. Sudah kebiasaan, setiap akan pergi kami saling mengabari. Kubayangkan selengkung senyum segera menghias wajahnya bila ia membaca sms-ku. Kubilang kalau aku jatuh cinta pada sepedanya sampai-sampai tiap hari ingin berlama-lama di sampingnya.

“Selamat pagi, Tika. Apa kabar hari ini?” sapa tetangga di rumah sebelah, seorang lelaki asal Vietnam.

Kata suamiku, sejak pensiun ia menghabiskan waktunya duduk di teras depan, membaca buku, sesekali bertanam bunga, atau sekedar mengamati suasana sekitar. Dia dikenal baik hati dan senang berteman dengan mahasiswa asing yang tinggal di sekitar North Coburg, kawasan suburb di bagian utara Melbourne. Sebagai mantan supir bis ia hapal semua jalan. Mahasiswa internasional yang baru datang tak jarang mengunjunginya untuk sekedar bertanya arah tujuan.

Selesai berbasa-basi secukupnya, sepeda kukayuh ke arah Sidney Road. Jalannya menanjak, membuatku terengah meskipun baru lima menit keluar rumah. Pada perempatan pertama, setelah menunggu tram lewat dan lampu hijau menyala, aku menyeberang jalan ke arah kanan, menuju Stasiun Batman. Aku akan pergi ke pusat kota dengan kereta.

 **

Let me help you.” Seorang lelaki tinggi langsing berwajah India membantuku menurunkan sepeda ketika sampai Stasiun Flinders. Senyumnya mengintip di balik kumis dan berewok panjang hitam yang hampir menutup separuh wajahnya.

Segera kunaiki sepeda sesampainya di luar stasiun, berbelok ke kiri untuk menyusuri trek sepeda di tepian sungai Yarra. Pelan-pelan kugenjot pedal ke arah Princess Bridge. Di seberang sungai kulihat serombongan wisatawan Korea berkumpul menunggu perahu yang akan membawa mereka mengarungi sungai Yarra menuju Williamstown.

Kali ini aku ingin duduk di atas bangku kayu di bawah pohon Elm. Bangku yang kuincar itu kini sedang kosong. Kusandarkan sepeda pada batang Elm lalu kujatuhkan tubuhku di atas bangku kayu bercat hijau itu. Bawaanku satu-satu kukeluarkan dari ransel. Kueratkan lilitan syal di leherku.

Kupikir setiap orang memerlukan ketenangan semacam ini. Memerdekakan diri dari urusan sehari-hari. Seperti kata ibuku, bila ingin awet muda secara berkala kita harus memanjakan diri. Bila sedang memanjakan diri, katanya, sangat penting untuk mementingkan hal tidak penting, selama itu membawa kebahagiaan hati. Hari ini aku sedang melakukan sarannya itu.

“Hello.”

Aku terkejut setengah mati mendengar suara anak-anak menyapaku. Kacamata hitamku yang hendak kupakai terjatuh ke pangkuan. Aku tak mendengar atau melihat apa-apa, tahu-tahu ia sudah berdiri tepat di ujung bangku.

“Hai! Hai!” sapaku setelah hilang rasa terkejutku.

“Sorry,” katanya dengan senyum lebar. Ia tahu sudah mengagetkanku.

Dari kulit gelapnya, rambut keritingnya, serta mata bulat-hitam-tajamnya kutebak ia keturunan Aborigin.

I’am a Wurundjeri boy,” katanya dengan logat aneh, seakan bisa menerka isi kepalaku. Senyumnya lebar memamerkan sederet gigi yang kurang rapih namun bersih. Manisnya anak lelaki ini, pikirku.

“Siapa namamu?” tanyaku.

“Allambee,” jawab anak itu sambil membetulkan jaket tebalnya yang terbuat dari kulit mentah. Rambutnya yang legam dan berkilau tertiup angin, menutupi dahinya. Dari saku jaketnya ia keluarkan topi, semacam rajutan dari serat kayu yang dipilin menjadi benang besar-besar. Ada sesuatu yang membuatnya menyerupai seorang anak dari masa lalu. Pasti pakaiannya itu, batinku.

“Hey! Siapa namamu?” serunya, duduk di ujung bangku. Tangan kurusnya terjulur mengajak berkenalan. Senyumnya kembali terkembang. Anak kecil yang sangat bersahabat, pujiku dalam hati.

“Kartika.” Kujabat ringan tangannya. “Panggil saja Tika. Lebih mudah.”

“Kamu dari mana?” tanyanya sambil memandangi novel NH Dini yang tergeletak di bangku.

“Indonesia. Kamu tahu negeri itu?”

“Aku anak lelaki Wurundjeri,” ucapnya, tidak menjawab pertanyaanku. “Namaku Allambee.” Berkata begitu matanya lurus menatapku, ada rasa bangga menghiasi senyumnya. “Allambee artinya sebuah tempat yang damai untuk beristirahat. Seperti tempat ini. Di bangku ini. Di bawah pohon Elm ini.”

Kuamati matanya yang hitam bagai langit malam tanpa bintang. Ia terus saja tersenyum memperhatikanku. Kubuka bungkusan kacang, dia menolak ketika kutawari. Seorang perempuan kulit putih ditemani seekor anjing pudel berjalan ke arah kami. Matanya menatapku dengan sorot tidak biasa. Si pudel berjingkatan dan mengonggong pelan, seperti merintih. Saat melewati kami, ekornya terlipat di bawah tubuhnya, rintihannya berubah menjadi lolong panjang yang tertelan di tenggorokan. Aku heran melihat cara perempuan itu memandangku, ia sama sekali tidak memperhatian Allambee. Mungkin ia rasis, pikirku. Pudelnya juga bertingkah janggal, kakinya terseok, berusaha sembunyi di sela dua kaki majikannya. Allambee cuek saja. Ia terus bercerita tentang adik perempuannya yang bernama Binda.

“Binda artinya air yang dalam. Sedalam sungai Yarra ini,” ujarnya sambil bangkit dari bangku, melangkah ke tepian sungai, menatap riak-riak air yang menari-nari mengikuti hembusan angin di penghujung musim gugur. “Aku ingin di sini, menunggu Binda. Boleh, ya?” ujarnya, menoleh ke arahku, sorot matanya mencoba menembus lensa hitam yang menabiri mataku.

Aku mengangguk lalu mulai membaca. Novel tipis Sebuah Lorong di Kotaku ini pasti bisa kuselesaikan dalam satu setengah jam saja kalau Allambee tidak mengajakku bercerita lagi. Sesekali kulirik anak lelaki keturunan Wurundjeri itu. Ia duduk diam serupa patung kayu penghias taman. Matanya melekat di permukaan air sungai. Ia seperti sedang mencari sesuatu di dalam air yang mengalir tenang itu.

“Hey!” Tiba-tiba ia berteriak. “Tika!”

“Ya?” Kuangkat mataku dari halaman 39. Kulepas kacamata dan kukaitkan ke kepala. “Ada apa, Allambee?”

“Aku melihat Binda. Ia muncul juga akhirnya.”

Agak aneh mendengar perkataannya. Melihat Binda? Di dalam sungai? Mungkin aku hanya salah dengar saja. Kembali kulanjutkan bacaanku.

“Hey! Tika!”

“Sekarang ada apa lagi?” tanyaku, sedikit mulai terganggu. Aku suka anak-anak tapi saat ini aku sedang ingin santai membaca, menikmati diri sendiri di tepi sungai Yarra.

“Lihatlah! Lihatlah! Ya. Benar. Itu Binda!” Kini ia berteriak.

Tangannya menunjuk-nunjuk ke sungai. Aku terjantur. Anak lelaki itu mengangkat salah satu kakinya, ancang-ancang terjun ke dalam sungai. Aku bangkit dari dudukku lalu melompat berusaha menjangkaunya. Ekor mataku menangkap lelaki dan perempuan berseragam mendekat dari arah Princess Bridge, tak jauh dari kami. Yang perempuan lalu berteriak sambil melambai-lambaikan dua tangannya. Yang lelaki berlari sekencang-kencangnya.

“Hey! Berhenti! Jangan!” mereka bersahutan.

Aku berusaha menjangkau tubuh Allambee ketika ia meloncat ke dalam sungai. Ujung jemariku sedikit mengenai lengan jaketnya. Namun terlambat. Lelaki berseragam itu telah berada di belakangku, merenggut tubuhku yang hampir tercebur ke dalam sungai. Aku berontak dan berteriak agar ia menolong Allambee. Namun ia justru berusaha keras menenangkanku. Petugas perempuan membantunya memapahku, mendudukanku di bangku kayu.

Beberapa saat kemudian, ketika aku sudah tenang, mereka bercerita tentang seorang anak lelaki Wurundjeri yang sesekali terlihat di tepi sungai Yarra, mencari adik perempuannya yang tenggelam di situ, lebih seratus tahun yang lalu.

*** 

Catatan: 
Kisah ini juga diunggah di Baltyra


Sabtu, 10 Maret 2012

Perempuan di Teras Belakang

Sumber Gambar
Niken dan Wicak seminggu lalu pindah dari rumah orang tua Niken ke rumah milik sendiri. Pasangan yang tengah menunggu kelahiran anak pertama itu lega dan bahagia. Anak mereka akan terlahir di rumah mungil yang asri. Rumah yang mereka beli itu tidak baru. Seminggu ini Niken dan Wicak sibuk bebenah. Menata perabot. Menanam rumput. Merapikan langit-langit. Memasang tirai. Agar hemat, semuanya mereka kerjakan sendiri. Suami istri itu mengambil cuti dua minggu dari tempat kerja masing-masing.

Siang itu ketika tengah bebenah di dapur Niken merasakan suasana rumahnya bertambah sepi. Ada hawa dingin terbawa masuk oleh angin pancaroba yang menggoyang-goyang tirai biru langit di jendela ruang makan. Jabang bayi enam bulan di rahimnya pun gamang bergerak. Untuk mengusir rasa sunyi Niken menghidupkan TV, meraih ponsel, menelpon Wicak yang tengah keluar membeli cat tembok.

“Mas, kok tiba-tiba aku ngrasa gak enak ya. Kamu baik-baik aja kan?” Tanya Niken. Wicak baik-baik saja. Katanya bisa jadi istrinya hanya kelelahan. Ia minta Niken beristirahat dulu. Lalu mereka berbincang sekali lagi tentang warna cat yang akan digunakan untuk mewarnai dinding luar.

Sembari menunggu Wicak pulang, Niken menjerang air. Tiba-tiba Niken mendengar suara di teras belakang. Dengan ceret masih di tangan Niken melangkah keluar.

“Maaf, nak, ibu numpang duduk sebentar ya. Capek habis jalan-jalan.” Seorang perempuan tua berkebaya kuning kenanga sudah duduk di kursi teras belakang. Wajah keriputnya yang tetap cantik dihiasi senyum yang menyejukkan."Orang kampung memanggil saya Bu Sumi." Ia memperkenalkan diri. Aroma lembut kembang setaman terhembus angin.

Niken sebenarnya sangat terkejut dengan kehadirannya. Namun perempuan itu selain cantik, bersih dan sopan, juga tampak berpendidikan. Niken menyambut perempuan itu dengan senang. “Lumayan, bisa tambah kenalan tetangga,” bisik hati Niken.

“Silakan, Bu. Silakan. Ibu dari mana saja? Sekalian saya seduhkan teh, ya." Niken mengacungkan ceret di tangan kirinya. Tersenyum lebar. "Tunggu sebentar. Saya sendirian. Tapi suami saya segera pulang." Niken kembali masuk ke dapur.

Tak lama kemudian keduanya asyik terlibat dalam percakapan. Menikmati teh dan sepiring tahu goreng. Perempuan berkebaya kuning kenanga dengan motif daunan kecil hijau segar itu tampak sangat mengenal lingkungan tempatnya tinggal. Semua tetangga ia hapal. Mulai nama, umur, pekerjaan bahkan asal-usul mereka. Ia juga berkisah tentang keluarga yang tinggal di depan rumah. Katanya mereka baik hati. Niken jadi merasa beruntung, bisa mulai belajar mengenali nama-nama tetangga di sekitar rumahnya. Juga sifat mereka.

“Itu suami saya datang, Bu Sumi. Sebentar ya. Ibu duduk saja di sini,” Niken permisi ketika didengarnya suara mobil masuk halaman.

“Ada tamu, Mas. Tetangga baru. Namanya Bu Sumi. Beliau duduk di teras belakang.” Sambil membopong dos berisi cat tembok Wicak mengikuti langkah Niken.

“Lho? Kemana Bu Sumi? Tadi duduk di sini.” Niken celingukan. Setengah berlari Niken mengitari rumahnya dan keluar lewat pintu samping yang terbuka. Di halaman depan tidak ada siapa-siapa. Hanya desir angin yang kering dan dingin.

Kebetulan tetangga depan rumah sedang duduk di teras sambil membaca majalah. Niken menghampiri dan bertanya pada tetangga yang baru dikenalnya seminggu itu.

“Mbak Rukmi, tadi melihat Bu Sumi? Beliau baru saja dari rumah saya.”

Tetangga yang dipanggil Mbak Rukmi oleh Niken itu bangkit dari kursi, melangkah mendekati Niken,  merengkuh pundaknya sambil berkata pelan, “Bu Sumi sudah meninggal sepuluh tahun lalu, Jeng Niken. Beliau memang suka menyapa setiap orang yang baru pindah ke kampung ini.”

Tubuh Niken lemas. Aliran darahnya selintas terhenti. Wajahnya lesi.

***

Selasa, 24 Januari 2012

Perempuan di Ambang Jendela

Sumber Gambar
Sebagai tukang kebun yang baru bekerja seminggu Marno rajin sekali. Ia selalu datang 30 menit lebih awal. Waktu setengah jam itu dipakai Marno untuk tiga hal. Selalu tiga hal. Menyeduh kopi pahit dengan mug besar merah bata, berbincang dengan Mak Darti, pembantu rumah tangga yang sudah puluhan tahun bekerja di rumah milik keluarga Rusman dan memandangi kebun yang tertata asri.

Marno senang karena Ibu Rusman, sang pemilik rumah besar sekaligus majikannya itu, puas akan hasil kerjanya. Perempuan kaya itu belum lama menjadi janda, di kampungnya ia dikenal murah hati. Walau usianya hampir 80 tahun, Ibu Rusman masih kuat berjalan kaki keliling kampung tiap pagi. Tangannya yang berkulit langsat dan berkeriput selalu menenteng tas plastik berisi aneka jajanan yang ia beli di toko kecil milik tetangganya, di ujung kampung. Di sepanjang jalan pulang jajanan itu ia bagikan pada anak-anak kecil yang ia temui. Kadang Marno kebagian tiga-empat kue yang tersisa, untuk oleh-oleh dua anaknya.

Selama seminggu bekerja, Marno pelan-pelan mengenali semua penghuni rumah. Pak Nardi, supir yang telah bekerja sejak cucu pertama Ibu Rusman lahir. Kemudian Suci, pembantu yang bertugas khusus menyapu dan mengepel lantai, serta membersihkan perabotan rumah. Lalu Mak Darti, orang pertama yang dikenalkan Ibu Rusman, yang mengurus dapur, memasak, mencuci dan menyeterika. Masih ada Johan yang datang dua hari sekali, bertugas merawat burung-burung, ayam-ayam kate dan kelinci di halaman belakang. Yang paling jarang ia lihat adalah Ricky, salah satu cucu Ibu Rusman yang masih kuliah dan memilih tinggal bersama neneknya daripada kos seperti sepupu-sepupunya.

Kata Mak Darti, Ricky sangat sayang pada neneknya dan tidak tega melihatnya tinggal sendiri di rumah besar dengan para pembantu dan binatang-binatang peliharaannya saja.

“Mas Ricky itu cucu dari anak nomer berapa?” tanya Marno pada Mak Darti suatu hari.

“Anak nomer dua yang tinggal di Afrika. Jadi diplomat atau apa, gitu.” Mak Darti mulai cerita tentang tujuh anak-anak keluarga Rusman yang semuanya menjadi orang sukses. Bila mereka berkumpul, rumah akan ramai sekali dan Ibu Rusman akan memasak berbagai makanan kegemaran anak-menantu-cucu yang jumlahnya lebih dari 30 orang itu.

Marno selalu takjub akan kisah-kisah keluarga kaya pada siapa ia sering bekerja. Kalau bukan kantor besar atau orang kaya, siapa yang akan memerlukan jasa tukang kebun seperti dirinya. Ia berharap akan kerasan bekerja pada majikan barunya ini.

Pagi itu, Marno memotong ranting-ranting mawar dan beberapa tangkai bunganya yang masih belum sepenuhnya mekar. Ia ingin menaruh bungaan itu ke dalam vas setinggi bocah dua-tahunan yang kemarin ia ambil dari gudang. Sehabis ia bersihkan, vas dari tembikar itu ia letakkan di teras samping. Marno berjongkok, meletakkan serumpun mawar di bibir vas ketika dilihatnya seorang perempuan muda, cantik, berambut lurus melewati bahu, tengah mengamatinya dari ambang jendela ruang tidur samping. Ah, pasti salah satu cucu Ibu Rusman baru datang dari belahan bumi bagian mana lagi, pikir Marno.

Perempuan itu tersenyum padanya. Marno membungkukkan badan tanda hormat. Ia berdiri saja di ambang jendela sambil mengawasi Marno bekerja. Ia mengagumi kecekatan tangan Marno memotong tangkai-tangkai mawar. Ada yang pendek, ada yang panjang, sebagian dedaunnya dihilangkan, sebagian dibiarkan.

Tak lama vas itu dipenuhi warna-warni mawar. Sambil mengangkat vas yang bertambah berat itu, Marno menoleh ke arah jendela, namun perempuan muda itu sudah tidak dilihatnya. Vas itu kini menghiasi meja di sudut ruang tamu, Marno bangga akan hasilnya. Tersenyum lebar tukang kebun itu keluar, mengitari rumah sambil memeriksa hasil kerjanya. Semoga Ibu Rusman dan cucu cantiknya itu senang menikmati kebun ini, doanya dalam hati.

“Mak, tadi aku lihat ada nona muda, cantik, rambutnya lurus segini.” Marno menjangkau punggungnya sendiri. “Cucu dari anak nomer berapa? Baru datang ya?” Sambil menikmati makan siang, Marno berharap bisa mendengar cerita dari Mak Darti tentang gadis cantik itu.

“Nona muda? Rambut lurus sepunggung? Di ambang jendela salah satu kamar samping?” Mak Darti balik bertanya.

“Iya. Cantik. Aku diajak senyum.” Marno menyeringai gembira, ada perempuan cantik, muda dan kaya yang melempar senyum padanya.

“Ahhh….” Mak Darti menghela nafas. Menunduk. Terdiam.

“Kenapa, Mak? Siapa gadis itu?” Marno jadi penasaran.

Mak Darti memegang erat tangan kanan Marno yang terjulur meraih mangkuk sayur. “Itu tandanya kamu akan lama bekerja di rumah ini, Marno. Nona muda itu namanya Shovia. Anak bungsu. Ia hanya menunjukkan diri sesekali saja, kalau ada orang baru yang disukainya. Ia meninggal karena sakit jantung, dua puluh lima tahun lalu.”

Marno tersedak. Matanya terbelalak.***