<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136808397578530804</id><updated>2012-02-29T22:12:00.038+07:00</updated><category term='the bluest eye'/><category term='Ceritaku'/><category term='ipoh malaysia'/><category term='kuala lumpur'/><category term='rasa rindu'/><category term='klong suan market'/><category term='tahun baru china'/><category term='endah raharjo'/><category term='tukang'/><category term='fantasi perempuan'/><category term='jeans for ladies'/><category term='kekerasan pada anak'/><category term='kunti'/><category term='kampung fiksi'/><category term='Perjalananku'/><category term='es krim magnum'/><category term='Jomblo'/><category term='haiku'/><category term='t-shelter'/><category term='single mother'/><category term='empat perempuan'/><category term='gempa jogja'/><category term='tolstoy'/><category term='the american'/><category term='dark tourism'/><category term='J50K'/><category term='extra large jeans'/><category term='romansa tengah baya'/><category term='100-year market'/><category term='Catatanku'/><category term='pasar tradisional'/><category term='janda'/><category term='Ria Tumimomor'/><category term='concubine lane'/><title type='text'>archiTEXT</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://endahraharjo.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136808397578530804/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endahraharjo.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Endah Raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03645756585023929576</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_z5dbjErpZVE/TPx8pBgqdyI/AAAAAAAAADE/nZS418JdwyI/S220/En-Sketch-Kecil.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>32</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136808397578530804.post-7540103181567464855</id><published>2012-02-29T12:49:00.001+07:00</published><updated>2012-02-29T12:58:25.280+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rasa rindu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ceritaku'/><title type='text'>Hal-Hal Kecil Itu</title><content type='html'>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-JQrYkaoUcSA/T028GTxyDII/AAAAAAAAAOw/eef7USmzfnc/s1600/father-daughter1.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="291" src="http://2.bp.blogspot.com/-JQrYkaoUcSA/T028GTxyDII/AAAAAAAAAOw/eef7USmzfnc/s320/father-daughter1.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://alizah-deathtolife.blogspot.com/2010/11/daddys-little-girl-tuesday-november-9.html"&gt;Sumber Gambar&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Perih rasanya melihat Nana dijemput ayahnya. Rasa perih berkembang menjadi iri saat kulihat sahabatku itu berlari-lari menemui ayahnya, kuncirnya sampai ikut menari-nari di belakang kepala mungilnya. Sambil tertawa-tawa Nana menyambut pelukan sang ayah. Kubayangkan pasti rasanya lega sekali bisa membaui aroma tubuh lelaki yang telah menimangnya selama 20 tahun itu. Pasti rasa hangat yang mengalir dari tubuh ayahnya merembet masuk ke pori-pori kulit Nana dan secara ajaib memberikan rasa tenteram di hatinya. Membuatnya merasa terlindungi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ririiii…! Siniiii…!” Nana menoleh ke arahku, mengajakku mendekat, setelah ia melepaskan diri dari pelukan ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menahan rasa sakit di ulu hati aku melangkah ke arah mereka. Menyalami tangan lelaki yang mestinya tak beda jauh usianya dengan Bapak saat beliau dipanggil Tuhan.  Kami berbasa-basi secukupnya, kemudian aku masuk ke dalam mobil, meringkuk di jok belakang, mepet ke pintu sebelah kiri. Nana duduk di depan di samping ayahnya. Mereka bercengkerama sepanjang jalan pulang dari lokasi KKN kami. Aku sengaja memilih duduk di sebelah kiri agar bisa leluasa memandangi kepala ayah Nana. Sudah empat tahun lebih beberapa bulan aku tidak melihat lelaki dengan kepala yang dihiasi rambut perak di sana-sini mengantarku, atau menjemputku, atau mengajakku jalan-jalan dengan mobilnya. Sudah lama sekali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa iri itu kini menggerogoti hatiku, membuatku menggigil, terlebih karena AC disetel terlalu dingin. Kukancingkan jaketku dan kupejamkan mataku mencoba mengenang bapakku. Kulekatkan tangan ke dada, tepat dimana jantungku berada. Kurasakan detak jantungku, memompa darah yang menghubungkanku dengan Bapak. Pelan-pelan rasa hangat menjalari tubuhku bertepatan dengan lelehan air mata yang gagal kubendung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Riri, kok diam aja sih?” Nana menengok ke jok belakang. Aku pura-pura tidur. Mukaku kututupi dengan kerah jaket agar ia tak melihat airmataku. “Riri, aku mau muter CD favorit kita…” Nana menjulurkan tangannya, menyentuh lututku, berusaha membangunkanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin Riri lelah sekali, Sayang. Biarkan dia tidur.” Suara ayah Nana makin menenggelamkanku dalam rasa rindu. Bapak selalu mengatakan hal yang sama bila aku sangat lelah sedangkan Mbak Dana, kakakku, ingin mengajakku bermain. Suara CD yang diputar pelan menyelamatkanku. Nana dan ayahnya jadi tidak mendengar isakku. &lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Setibaku di rumah, Ibu menyambutku dengan senyum indah. Sambil melambai pada Nana dan ayahnya, Ibu memelukku, meraih ransel besar dari tanganku. Ia tidak peduli meskipun bauku apek karena memakai baju yang dua hari belum dicuci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;i&gt;Welcome home, Sweetie&lt;/i&gt;…. Mbak Dana bikin puding leci lhooo….” Ibu menutup pintu depan. “Danaaa…! Riri udah pulaaang…!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbak Dana nongol dari dapur mengenakan apron merah. Senyumnya cerah. Rambut panjangnya diikat jadi satu ke atas, membuatnya seperti remaja. Tangannya yang masih bau wangi leci mengusap-usap rambutku. Mbak Dana mewarisi kepandaian memasak dari Ibu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Capek ya?” Dicubitnya sayang pipi kiriku. Sudah kuduga, Ibu dan Mbak Dana mengira wajah cemberutku merupakan akibat dari rasa capekku. Padahal bukan itu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mandi dulu?” Ibu meletakkan ransel di atas meja, tempat Bapak dulu bekerja atau membaca buku sehabis makan malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada buku terserak di atas meja itu. Rumah juga tampak bersih-rapih seperti biasa. Semuanya terletak indah-manis pada tempatnya. Spic-and-span, begitu dulu Bapak suka bercanda kalau melihat rumah serapih ini setelah ditata dan dibersihkan oleh Ibu. Namun suasana serba lapang-lega seperti itu justru menambah rasa sesak yang sudah mendesak rongga dadaku sejak tadi, sejak aku melihat Nana dijemput ayahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mataku tertumbuk pada senyum Bapak yang fotonya tergantung di salah satu dinding ruang tengah. Senyum itu seperti menggodaku, sama seperti dulu, bila Bapak melihatku merengut sepulang dari sekolah karena cowokku merayu cewek lain di belakang punggungku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa bisa kutahan, rasa marah menyerbuku. Sudah lama sekali aku tidak melihat rumah dipenuhi barang-barang Bapak yang bertebaran. Amarah itu lalu menggerakkan dua kaki dan dua tanganku. Sneakers kulepas dan kutaruh sembarangan. Kaus kaki kulemparkan dan jatuh di samping rak buku. Arloji kuletakkan di atas kursi tamu. Jaket kubuka lalu kusampirkan di sandaran kursi yang sering dipakai Ibu untuk membaca. Ikat pinggang kugeletakkan begitu saja di atas lampit yang tergelar di depan TV. Kuraih apa saja yang dekat denganku dan barang-barang itu kupindah-pindahkan, semau-mauku. Seketika suasana rumah jadi tampak seperti saat-saat Bapak masih bersama kami dulu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu dan Mbak Dana terbengong melihat ulahku. Sungguh, tidak biasanya aku berlaku aneh semacam itu. Aku adalah anak Ibu yang punya kebiasaan menata ini-itu sampai nenekku menjulukiku Nona Titi Teliti, seperti salah satu karakter dalam cerita anak-anak bergambar di majalah Bobo yang sangat populer itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa rinduku pada Bapak membuatku ingin merasakan kehadirannya di rumah ini. Aku ingin melihat rumah berantakan lagi. Aku ingin menata barang-barang Bapak lagi. Aku ingin merasa kesal karena kebiasaan Bapak yang tak mau rapi. Aku ingin semuanya kembali. Aku inginkan Bapak dan barang-barangnya yang berantakan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Riri, kamu mencari apa?” Ibu mengikutiku ke dapur dan berdiri di belakangku yang membuka-buka dan merogohi lemari-lemari kecil yang menempel di dinding. Barang yang kumau tidak ketemu. Aku mencari mug besar merah marun yang selalu dipakai Bapak untuk minum air es. Aku haus. Aku ingin minum dengan mug itu. Aku ingin melihat mug itu ada di atas meja makan, namun barang itu sudah tidak ada lagi. Mungkin Ibu telah membuangnya atau memberikan pada pembantu kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan langkah lebar karena frustrasi aku hendak masuk ke kamar. Kulihat Mbak Dana sedang mengembalikan barang-barang yang tadi kuaca-acak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Biarkan begitu! Mbak Dana! Biarkan begitu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Riri…?” Mbak Dana dan Ibu menatap heran ke arahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Biarkan semua berantakan. Mana sepatuku…?” Aku berlari ke garasi tempat rak-rak sepatu kami. Aku kembali ke ruang tengah dengan sneakers bau yang tadi kupakai. “Biar aja ini di sini!” Seruku jengkel sekali sambil membanting sneakers malang itu. “Biar berantakan begini!” Suaraku meninggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Riri…?” Ibu terdengar prihatin sekali. Tanpa bicara ia lalu mendekapku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari caraku mengobrak-abrik barang seperti itu, Ibu tahu penyebab kemarahanku. Ibu tahu aku rindu Bapak. Aku rindu pada hal-hal kecil yang selalu dilakukan Bapak. Hal-hal kecil yang tidak disukai Ibu tapi menandai kehadiran Bapak di rumah ini. Sepatu yang diletakkan di ruang tamu sepulang kerja. Gelas yang ada dimana-mana, di meja kerja, di meja TV, di rak-rak buku. Kacamata baca yang sering tertinggal di kamar mandi, yang lalu menyuruhku atau Mbak Dana ikut mencari kesana-kemari. Kaus kaki yang terselip di bawah kursi. Dasinya yang dipasang kepanjangan. Koran yang selalu lupa dilipat kembali. Gunting-gunting kecil yang tergeletak dimana-mana bersama lembaran-lembaran koran atau majalah yang habis dibaca dan dipotong-potong untuk mengkliping beberapa berita yang penting baginya. Caranya menggandeng tanganku kalau menyeberang jalan. Cara kami rebutan kacang rebus karena kami berdua suka memilih yang biji-bijinya gemuk-besar. Cubitan sayang di tengkukku saat aku sedang asyik belajar. Aku rindu hal-hal kecil itu. Aku rindu bapakku. Aku ingin bapakku hadir kembali, bersama barang-barangnya yang berserakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dana… pudingnya, Sayang…” sambil masih memelukku yang menangis tersedu-sedu, Ibu meminta Mbak Dana mengambil sepotong puding leci untukku. Mbak Dana cepat-cepat ke dapur dan kembali dengan beberapa potong puding di atas piring kecil. Puding itu kegemaran Bapak. Mungkin Ibu sudah punya firasat kalau aku akan pulang membawa rasa rindu. &lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136808397578530804-7540103181567464855?l=endahraharjo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endahraharjo.blogspot.com/feeds/7540103181567464855/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2136808397578530804&amp;postID=7540103181567464855' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136808397578530804/posts/default/7540103181567464855'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136808397578530804/posts/default/7540103181567464855'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endahraharjo.blogspot.com/2012/02/hal-hal-kecil-itu.html' title='Hal-Hal Kecil Itu'/><author><name>Endah Raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03645756585023929576</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_z5dbjErpZVE/TPx8pBgqdyI/AAAAAAAAADE/nZS418JdwyI/S220/En-Sketch-Kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-JQrYkaoUcSA/T028GTxyDII/AAAAAAAAAOw/eef7USmzfnc/s72-c/father-daughter1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136808397578530804.post-8552573141740919341</id><published>2012-02-19T20:29:00.002+07:00</published><updated>2012-02-19T21:28:16.965+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatanku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tukang'/><title type='text'>Di Balik Sukses Arsitek</title><content type='html'>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-1CjM-P2LiDY/T0D3mMwWnTI/AAAAAAAAAOY/aCMiyCvlvYc/s1600/Sudar-Tukang.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://4.bp.blogspot.com/-1CjM-P2LiDY/T0D3mMwWnTI/AAAAAAAAAOY/aCMiyCvlvYc/s320/Sudar-Tukang.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Mas Sudar&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Apakah yang terbayang di benak sebagian besar orang ketika melihat rumah cantik atau bangunan yang berdiri kokoh megah-mewah? Salah satunya pastilah sang arsitek yang merancang bangunan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah terpikir bahwa semua rancangan yang terpampang indah di atas kertas kalkir atau layar komputer itu belum bisa dinikmati dan berfungsi bila tidak tersentuh oleh tangan-tangan berlepotan semen milik para tukang bangunan? Mungkin jawabannya adalah: jarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah. Kiprah para tukang itu seolah tak kasat mata. Bahkan mereka tak pernah diundang ketika sebuah bangunan diresmikan melalui pengguntingan pita yang upacaranya saja bisa menelan biaya puluhan juta. Tampaknya tak ada yang ingat bahwa pita itu tak dapat dibentangkan bila tak ada keringat para tukang menetes di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: right; margin-left: 1em; text-align: right;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-5wubybstyLw/T0D3wn9pLeI/AAAAAAAAAOg/cxfXLHOXw_c/s1600/Pakdhe-Tukang.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-5wubybstyLw/T0D3wn9pLeI/AAAAAAAAAOg/cxfXLHOXw_c/s320/Pakdhe-Tukang.jpg" width="307" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Pak Dhe&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Di antara ratusan arsitek yang telah menghiasi wajah Indonesia dengan karya-karya yang elok-mempesona, ada beberapa yang dikenal sangat menghargai sumbangsih para tukang. Dua di antara mereka adalah (almarhum) YB Mangunwijaya, atau lebih dikenal sebagai Romo Mangun, dan Eko Prawoto, si murid yang begitu tekun mengikuti jejak gurunya itu. Dalam setiap karya-karya mereka, terlihat jelas jejak kaki-tangan para tukang. Keduanya cenderung menghindari bahan-bahan bangunan fabrikan dan memilih menggunakan yang serba lokal yang dirakit, ditata, disentuh langsung oleh tangan-tangan kasar para tukang. Tak heran bila bangunan-bangunan itu selain menampilkan keahlian sang arsitek dalam merancang juga menonjolkan keahlian seni kriya para tukangnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya melihat tukang sebagai mitra dalam berkarya. Karena lewat tangan dan semangat kecintaan mereka, karya itu terwujud dan hadir secara nyata,” jelas Eko Prawoto, sang arsitek Jogja yang rancangannya amat digemari oleh para seniman itu. Arsitek muda Jogja yang ahli mendaur-ulang bahan bangunan, Yoshi Fajar Kresna Murti, termasuk di antara yang sedikit itu, yang memposisikan tukang sebagai mitra kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah para tukang yang sosoknya terpajang di sini. Merekalah sebenarnya yang dengan sabar mewujudkan rancangan yang digoreskan para arsitek di atas kertas sehingga menjadi bangunan yang dapat dihuni. Di bawah terik sinar matahari, bersimbah debu dan bermandi hujan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menata pasangan bata yang sesuai dengan keinginan si pemilik rumah, seorang tukang harus merajut benang terlebih dulu agar si bata bisa berjajar rapi. Pun memotong kayu agar presisi memerlukan skill dan ketelitian yang tinggi. Sayangnya, gaji mereka tak seberapa dibandingkan dengan keahlian yang mereka miliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-4mgnZBUMozI/T0D3-mnYAsI/AAAAAAAAAOo/BWPDYiBtif4/s1600/Tri2-Tukang.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/-4mgnZBUMozI/T0D3-mnYAsI/AAAAAAAAAOo/BWPDYiBtif4/s1600/Tri2-Tukang.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Bila musim sepi proyek tiba, mereka harus mencari cara agar keluarga tidak merana. Biasanya para tukang bangunan punya sawah atau ladang di desa asal mereka. “Saya nyewa tanah 3.000 m2 untuk ditanami cabe, supaya bisa mbayar hutang kalau ndak ada kerjaan.” Papar Pak Pranoto, yang lebih akrab disapa Pak Dhe, tukang serba bisa yang tetap berkarya di usianya yang memasuki enampuluhan itu. Ia telah lebih dari 40 tahun bekerja dan merakit ratusan tulangan besi untuk puluhan bangunan yang bertebaran di Jogja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak pula di antara mereka yang istrinya punya usaha. Mas Sudar, misalnya, ayah seorang putri itu membiarkan istrinya menjahit untuk menambah penghasilan. “Saya biarkan istri bekerja, biar senang dapat penghasilan sendiri, biar ndak tergantung sama suami,” demikian jelasnya dengan semangat “suami-suami sayang istri’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Dhe dan Mas Sudar, hanyalah dua dari puluhan ribu tukang yang tak tersebutkan di hingar-bingarnya pembangunan negeri ini. Mereka tak pernah protes walaupun tersembunyi di balik punggung kesuksesan para arsitek yang bangga dengan karya-karya kokoh dan megah. ***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136808397578530804-8552573141740919341?l=endahraharjo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endahraharjo.blogspot.com/feeds/8552573141740919341/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2136808397578530804&amp;postID=8552573141740919341' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136808397578530804/posts/default/8552573141740919341'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136808397578530804/posts/default/8552573141740919341'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endahraharjo.blogspot.com/2012/02/di-balik-sukses-arsitek.html' title='Di Balik Sukses Arsitek'/><author><name>Endah Raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03645756585023929576</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_z5dbjErpZVE/TPx8pBgqdyI/AAAAAAAAADE/nZS418JdwyI/S220/En-Sketch-Kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-1CjM-P2LiDY/T0D3mMwWnTI/AAAAAAAAAOY/aCMiyCvlvYc/s72-c/Sudar-Tukang.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136808397578530804.post-1915705141809757045</id><published>2012-02-16T19:29:00.000+07:00</published><updated>2012-02-16T19:29:21.436+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kunti'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ceritaku'/><title type='text'>Bagai Kisah Kunti</title><content type='html'>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-gUJ7TBp4dwQ/Tzz2SRiel4I/AAAAAAAAAOI/Dm-90WW15zM/s1600/mawar.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-gUJ7TBp4dwQ/Tzz2SRiel4I/AAAAAAAAAOI/Dm-90WW15zM/s320/mawar.jpg" width="163" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Mawar oleh Azam Raharjo&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Ungu namanya. Sebagai anak Kepala Desa ia dikenal banyak orang bukan hanya karena paras ayunya saja. Ia pintar, gandhes-luwes dan perilakunya andap asor. Hampir semua warga desa menyukainya. Karena kecantikannya, banyak pemuda jadi tergila-gila pada gadis yang belum lama melepaskan masa remajanya itu. Dengan sopan Ungu selalu menolak bujuk-rayu mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari datanglah seorang pemuda bernama Surya. Gagah dan tampan luar biasa. Awalnya, Ungu hanya menanggapi sedikit-sedikit rayuan sang pemuda. Sekedar bersikap sopan. Tapi lama-lama Ungu terpikat juga. Ia jadi ingin tahu seperti apa rasanya bila sesekali ia menerima ajakan Surya untuk pergi berdua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syahdan jadilah Surya menggandeng Ungu. Pergi entah kemana. Berdua saja. Dan sialnya, sebulan kemudian Ungu mendapati dirinya hamil padahal Surya sudah menghilang tak tentu rimbanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Duh, Gusti….” Ibunya meratapi aib yang menimpa si putri rupawan. Bapak, ibu dan anak menangis bertiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh keluarga merasa sedih karena si bunga desa telah kehilangan putik-madunya. Dengan seluruh daya upaya, selama 9 bulan penuh Ungu mereka ungsikan di sebuah kota yang warganya tak saling kenal satu sama lain. Gadis itu tinggal bersama saudara sang ibu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ungu sekolah di kota,” jawab bapak dan ibunya setiap ada tetangga bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Genap sembilan bulan kemudian, Ungu kembali ke desanya. Tampak langsing dan cantik jelita. Bayi lelakinya diasuh oleh salah satu kerabatnya. Ungu mendapatkan kembali mahkotanya sebagai bunga desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian, datanglah seorang lelaki kaya, tuan tanah dari desa tetangga. Ia mempersunting Ungu menjadi istrinya. Tak ada cerita apakah sang tuan tanah tahu kalau Ungu pernah melahirkan bayi lelaki. Tak ada pula yang tahu bahwa sebenarnya tuan tanah itu punya kekurangan yang membuatnya tak mampu menjadi suami sejati. Ketika remaja, ia terjatuh dari pohon kelapa dan kehilangan kejantanannya. Lingganya tak bisa lagi tegak sempurna. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Duh, Gusti. Inikah hukumanMu pada hambaMu yang dosa,” begitu rintih Ungu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari berganti minggu. Seminggu berlalu datanglah bulan. Tahun menyusul tak ingin ketinggalan. Ungu dan suaminya tampak selalu mesra, walau mereka tak pernah benar-benar menikmati sari madu asmara. Pasangan ini begitu pandainya menutupi luka yang mengoyak bilik cinta mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi menyembunyikan kelemahannya, suami Ungu membiarkan istrinya berhubungan dengan kolega-koleganya. Sementara dirinya sibuk menghitung uang, Ungu menaburkan keelokan paras-fisiknya dari satu pesta ke pesta lainnya. Para lelaki silih berganti singgah si sangkar madu Ungu. Satu. Kemudian dua. Lalu hinggaplah yang ketiga. Dan lahirlah tiga anak dari tiga lelaki yang berbeda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aduhai…. Hanya Ungu dan suaminya yang tahu apa sebenarnya yang telah terjadi. Bahkan para lelaki yang membuahi rahim Ungu tidak tahu kalau mereka telah membantu si tuan tanah menjadi lelaki sempurna. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa hendak dikata. Sejarah sering berulang walau alasannya berbeda. Kisah Ungu si bunga desa ini bagai kisah Kunti. Istri Sang Pandu itu dianugerahi empat putra perkasa oleh empat dewa yang berbeda. Hingga lahirlah Karna, Yudistira, Bima dan Arjuna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136808397578530804-1915705141809757045?l=endahraharjo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endahraharjo.blogspot.com/feeds/1915705141809757045/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2136808397578530804&amp;postID=1915705141809757045' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136808397578530804/posts/default/1915705141809757045'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136808397578530804/posts/default/1915705141809757045'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endahraharjo.blogspot.com/2012/02/bagai-kisah-kunti.html' title='Bagai Kisah Kunti'/><author><name>Endah Raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03645756585023929576</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_z5dbjErpZVE/TPx8pBgqdyI/AAAAAAAAADE/nZS418JdwyI/S220/En-Sketch-Kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-gUJ7TBp4dwQ/Tzz2SRiel4I/AAAAAAAAAOI/Dm-90WW15zM/s72-c/mawar.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136808397578530804.post-2163663120161940829</id><published>2012-02-12T21:07:00.005+07:00</published><updated>2012-02-12T21:37:04.981+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='empat perempuan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ceritaku'/><title type='text'>Empat Perempuan</title><content type='html'>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-CpLy9qT3r6w/TzfHM8aESjI/AAAAAAAAAOA/lgsyH0gv-r4/s1600/EP-Baru.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-CpLy9qT3r6w/TzfHM8aESjI/AAAAAAAAAOA/lgsyH0gv-r4/s320/EP-Baru.jpg" width="276" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Ilustrasi oleh Azam Raharjo&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;b&gt;Episode 19: Reminisce&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu pagi rumah bernaung pohon sawo itu bagai tak berpenghuni. Jendela kamar Eyang masih tertutup meski jam dinding di ruang makan telah menunjuk angka delapan. Biasanya satu sisinya sudah dibuka pada pukul lima. Runi pasti lupa membukanya. Si empunya kamar tengah berada di Bandung bersama Dea dan Iroh. Mereka bertiga mengungsi di rumah adik Runi, tak ingin sakit akibat menghirup abu Merapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa kamu ndak ikut sekalian? Bisa cuti, to? Seminggu saja?” Bujuk Eyang lagi pada Runi, beberapa jam sebelum mereka meninggalkan rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Runi harus bekerja. Ia juga yakin awan panas Merapi tak akan mencapai kota. Kalau itu terjadi, artinya si gunungapi itu meletus sempurna, mungkin seluruh pulau Jawa akan terkena.  Namun Runi tetap berjaga-jaga, sambil mendengarkan alunan suara Michael Buble, ia mengeluarkan koper kecil milik suaminya. Koper itu sudah lama tidak dipakai, terbungkus plastik rapi sekali. Aliran darah seakan terhenti berbarengan tangannya menarik keluar koper itu. Tiba-tiba saja hidungnya kembali membaui aroma parfum favorit Mas Iwan. Detak jantungnya mengencang. Ingatan perempuan yang sudah menjanda lima tahun itu mengawang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mau oleh-oleh apa, Cinta?" tanya Iwan lewat telpon, dua hari sebelum pulang dari tugasnya di Kuala Lumpur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa aja yang gampang. Yang penting jangan lupa pesenan Dea."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hari kemudian Iwan pulang. Begitu masuk kamar, ia merogoh kantung tas kerjanya, sebuah kotak mungil terbungkus kertas ungu lavender ia letakkan di atas bantal. Tak perlu menebak, Runi tahu isinya, sebuah cincin. Suaminya tahu benda yang paling disukainya bila ia sedang tak menginginkan oleh-oleh apapun. Sebuah cincin baru selalu mampu menyentuh hatinya. Malamnya, para pengantin baru pasti cemburu bila melihat cara sepasang suami-istri itu memadu asmara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, Tuhan..." desah Runi dalam hati. Muncul rasa hangat yang lama tak ia alami, pelan-pelan merayapi kemaluannya, menyebar menelusuri aliran darahnya. Koper ia letakkan di atas kursi. Tubuhnya ia rebahkan di tempat tidur, di sisi kiri, sisi yang dingin, yang sudah bertahun-tahun tak ada yang menempati. Matanya terpejam, tangan kanannya meraih bantal lalu mendekapnya erat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mau makan dimana?" kembali terdengar suara suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau di Sari Laut bosen nggak?" Baru beberapa hari sebelumnya mereka makan di sana bersama adik-adik Iwan. Keluarga Runi dan Iwan sama-sama menyukai makanan laut. Iwan tidak begitu suka ikan air tawar, katanya rasanya hambar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mana bisa bosen kalau sama kamu..." bisik Iwan, merayu, sambil merapatkan tubuhnya ke tubuh istrinya. Kalau sudah begitu, mereka akan berusaha keras menidurkan Dea. Bila buah hati mereka itu tak juga memejamkan mata saat gairah sudah sulit ditahan, Iwan akan mencari apa saja yang berasa manis di kulkas. Runi tak bisa berhenti tertawa bila hal itu terjadi. Akibatnya Dea semakin sulit tidur saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kapan kita mau kasih Dea adik?" Iwan membantu Runi mengeringkan rambut, suatu pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Secepatnya. Ntar aku keburu tua." Saat itu usia Runi 33 tahun dan Dea 8 tahun. Namun usaha mereka memberikan Dea seorang adik belum berhasil hingga 3 tahun kemudian, saat Iwan tiba-tiba dipanggil Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih memeluk bantal Runi mengerang, tidak sadar kalau Michael Buble sudah berhenti bernyanyi sejak tadi. Ia tak ingin beranjak dari tempat tidurnya. Ia ingin berdiam diri di sana, di sisi yang dulu tempat berbaring suaminya. Dering telpon tak ia hiraukan. Mungkin ia bahkan tidak mendengar. Baru setelah telpon itu berdering lagi, dengan malas ia bangkit berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Assalamualaikuuum..." Suara ibunya. "Sibuk, ya? HP mati, ya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Runi baru ingat kalau ponselnya habis batere dan belum sempat di-charge. "Lagi mbersihin kamar mandi, Bu," bohong Runi, malu pada diri sendiri. Ibu dan anak saling berkabar. Runi bercerita ia ingin masak cumi goreng mayonais dan ca kangkung. Ia tahu kalau ia tak punya persediaan cumi-cumi dan kangkung di kulkas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kangen Mas Iwan?" tebak ibunya. Sekar tahu kalau Runi sedang kangen suami pasti minta Iroh memasak makanan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya, Bu. Sepagian ini saya ingat Mas Iwan. Apa saya ke makamnya, ya? Udah lama saya nggak nengok..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Didoakan saja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Runi tidak berkomentar. Pikirannya masih tersangkut ke masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu ke sini aja." Sekar kembali membujuk anak sulungnya. Pikirnya suasana kota dalam siaga bencana, semua orang cemas, bahkan sebagian ketakutan, tak baik sendirian di rumah. "Runi?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya baik-baik saja, Bu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekar lalu bercerita tentang Dea dan Iroh yang sejak habis subuh sudah keluar rumah mencari bubur ayam. Ia juga mengeluhkan berita TV yang terus-terusan mengabarkan memburuknya kondisi Merapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan percaya TV, Bu. Jogja baik-baik aja. Salam untuk semua," pesan Runi mengakhiri pembicaraan. Perempuan itu tidak mau kehilangan waktu berharga bersama kenangan suaminya. Tidak setiap saat Runi merasakan kehadiran almarhum suaminya seperti pagi ini. Sebegitu dekat hingga ia merasakan kembali belaiannya, ciumannya, dekapannya, desah nafasnya. Kalau tak ada dering telpon, mungkin perempuan itu akan orgasme dalam lamunannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada baiknya aku belanja. Mungkin masak cumi mayonais bisa nolong," batin Runi. Sudah hampir waktu makan siang. Artinya, sebelum telpon berdering, perempuan itu melamun di tempat tidur lebih dari 4 jam. Pantas saja kepalanya pening.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas mencuci muka Runi membuka kulkas. Dilihatnya botol tabasco terselip di antara botol-botol lainnya. Tangannya menjangkau botol yang mungkin sudah beberapa tahun tidak disentuh. Ia tak ingat kapan terakhir membeli tabasco. Selain Mas Iwan, di rumah itu tak ada yang suka. Mungkinkah botol itu sudah berada di situ lebih dari lima tahun? Digenggamnya benda berisi saus kemerahan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan-jangan ini dulu dibeli Mas Iwan," alis Runi berkerut. Di rumah itu sesekali ia masih menemukan benda-benda suaminya, selain beberapa barang yang telah ia pilih dan simpan di dalam peti kayu jati, suvenir dari Lombok yang mereka beli saat berbulanmadu dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Niiih... Mau nggak? Mau nggak? Pasti enak!" goda Iwan, meleletkan lidah penuh tabasco, mencoba membuat istrinya mencicipi saus pedas itu, langsung dari lidahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Heeey! Ini di tempat umum!" tegur bapak Runi, menggeleng-gelengkan kepala. Saat itu mereka masih pengantin baru, masih tinggal serumah dengan orang tua Runi, masih sering keluar makan bersama. &lt;br /&gt;Runi tersenyum menimang-nimang botol tabasco. Dulu dia begitu mudah tertawa. Iwan suka sekali menggoda istrinya. Dimana saja ia tak malu merayu perempuan itu. Suara tawa mereka hanya berhenti bila sedang berjauhan, atau tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tertawa terbahak, ya, itu salah satu yang dirindukan Runi. Terbahak-bahak sampai keluar air mata. Tertawa bahagia. Tertawa geli hingga ke hati. Kini rasa hangat menjalari matanya. Runi menangis sambil mendekap botol tabasco.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah. Aku bisa gila kalau begini." Dengan punggung tangan ia hapus air matanya. Botol tabasco tetap ia genggam. Keinginannya masak cumi goreng mayonais akan ia turuti. Ia akan belanja, memenuhi kulkasnya dengan sayuran dan bahan makanan favorit suaminya. Runi tak ingin hari itu berlalu tanpa benar-benar merasakan sesuatu yang disukai suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku harus menengok makamnya," pikir Runi, membuka pintu garasi. Abu Merapi samar-samar memenuhi udara, terhembus angin, terhirup hidungnya. Runi bersin-bersin, lalu cepat-cepat memasang masker. "Ada baiknya aku membeli bunga dulu." Seulas senyum menghiasi wajahnya. "Mas Iwan pasti menertawaiku kalau ia bisa melihat ulahku hari ini. Ia pasti akan terbahak kalau tahu aku bicara sendiri." Senyum Runi melebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah mobil pelan-pelan keluar halaman, pengemudinya tertawa sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Episode sebelumnya ada di &lt;a href="http://www.kampungfiksi.com/2011/10/empat-perempuan.html"&gt;Kampung Fiksi&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;i&gt;Keterangan:&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;i&gt;Reminisce (bhs Inggris): mengenang (sambil menikmati/meresapi) masa lalu. &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136808397578530804-2163663120161940829?l=endahraharjo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endahraharjo.blogspot.com/feeds/2163663120161940829/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2136808397578530804&amp;postID=2163663120161940829' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136808397578530804/posts/default/2163663120161940829'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136808397578530804/posts/default/2163663120161940829'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endahraharjo.blogspot.com/2012/02/empat-perempuan.html' title='Empat Perempuan'/><author><name>Endah Raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03645756585023929576</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_z5dbjErpZVE/TPx8pBgqdyI/AAAAAAAAADE/nZS418JdwyI/S220/En-Sketch-Kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-CpLy9qT3r6w/TzfHM8aESjI/AAAAAAAAAOA/lgsyH0gv-r4/s72-c/EP-Baru.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136808397578530804.post-7425443868229618095</id><published>2012-02-10T22:15:00.001+07:00</published><updated>2012-02-11T10:03:37.302+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatanku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tolstoy'/><title type='text'>Cinta Suami Berganti Cinta Keluarga</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-CFx-h7PZM4o/TzU0NwIQy5I/AAAAAAAAAN4/xCP-WYVLP5I/s1600/Tolstoy.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://4.bp.blogspot.com/-CFx-h7PZM4o/TzU0NwIQy5I/AAAAAAAAAN4/xCP-WYVLP5I/s320/Tolstoy.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Sebagaimana penulis besar lainnya, selain menghasilkan adikarya, Tolstoy juga membuahkan karya-karya sederhana. Selain Perang dan Damai serta Anna Karenina yang menjadi semacam buku wajib-baca bagi para penikmat karya sastra di seluruh dunia, ada puluhan karya lainnya yang ringan untuk dibaca. Salah satunya  adalah novela yang dijuduli &lt;i&gt;Семейное счастье (Semeynoe schast`e)&lt;/i&gt;, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi &lt;i&gt;Family Happiness &lt;/i&gt;dan terjemahannya dalam Bahasa Indonesia menjadi Rumah Tangga yang Bahagia. Banyak yang menganggap penerjamahan judul itu tidak kena, namun tulisan ini tidak membahas hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan &lt;i&gt;setting&lt;/i&gt; keluarga papan atas di pedesaan Rusia, dengan rumah besar dan para pelayannya, Marya Alexandrovna, yang dipanggil Masha, adalah salah satu tokoh sentral yang menuturkan kisah cintanya dengan Sergei Mikhailich. Mereka bertemu pada musim dingin ketika Masha dan Sonya, adiknya, masih berkabung atas meninggalnya sang ibu di musim gugur. Sergei adalah sahabat karib ayah Masha sekaligus ditugaskan menjadi wali mereka. Ya, perbedaan usia mereka sangat jauh. Di awal cerita Sergei berusia 36 tahun dan Masha masih remaja, 17 tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benih-benih cinta itu muncul pelan-pelan, bagai ditanam dan disemai oleh alam pedesaan yang digambarkan sangat tenteram dan damai. Waktu seolah terdiam, sementara musim berganti tanpa sedikitpun mengganggu keseimbangan lingkungan. Jalinan tali cinta antara dua insan yang usianya jauh berbeda itu segera diikat oleh tali pernikahan. Dari sinilah kekuatan sang cinta mulai diuji. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan desa yang serba teratur membosankan Masha yang masih belia dan rindu akan petualangan. Kemudian mereka memutuskan pindah ke kota, ke St. Petersburg. Di kota ini pelan-pelan konflik muncul di antara Masha dan Sergei seiring dengan semakin luasnya pergaulan Masha dengan orang-orang kalangan atas yang gemar pesta dansa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertengkaran kecil mulai sering terjadi dan Sergei yang tutur katanya lembut mulai berbicara keras pada Masha. Salah satu penyebabnya adalah perbedaan usia. Sergei yang usianya mulai memasuki tengah baya dan kenyang oleh pengalaman hidup dan Masha yang masih sangat muda dan mendamba gemerlap dunia. Banyak hal yang telah dialami Sergei dan bahkan sudah ditinggalkannya masih menjadi mimpi bagi Masha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau menunjukkan kecemburuannya lewat kata-kata dan sikapnya, Sergei tidak secara tegas melarang Masha. Ia sepenuhnya memberi Masha kebebasan memilih yang disukainya. Ketika situasi ini terjadi, hubungan mereka jadi renggang. Mereka tidak hanya berjarak secara emosi, tetapi secara fisik juga sering berjauhan. Sergei yang cenderung membatasi pergaulan hura-hura dan sibuk mengurus pekerjaannya membiarkan istrinya pergi kesana-kemari, bersuka-ria bersama kerabat dan sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masha mengalami puncak konflik dengan dirinya sendiri ketika sedang berlibur bersama teman-temannya tanpa Sergei. Ketika sedang tetirah itu Masha hampir saja berselingkuh dengan salah seorang bangsawan. Namun justru peristiwa itu menyadarkan Masha untuk kembali pada suaminya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa aku kau beri kebebasan yang aku sendiri tak tahu bagaimana harus mempergunakannya? Mengapa kau berhenti mengajariku?” Demikian cuplikan jerit hati Masha yang diutarakan pada suaminya ketika mereka berkumpul kembali dan mencoba melihat ke belakang. Menyesali apa yang telah terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita ini samar-samar mengajak para pembaca belajar dari pengalaman, bahwa penyesalan di belakang itu tak ada artinya. Lebih baik mengambil hikmahnya dan melanjutkan hidup dengan apa yang masih dimiliki. Selain itu, kisah ini juga secara halus ingin menyampaikan bahwa umumnya orang muda tidak akan percaya pada kata-kata orang yang lebih tua. Untuk membuktikannya, mereka harus mengalami jatuh-bangun sendiri. Seperti kata Sergei pada Masha yang intinya bahwa kita harus hidup melalui kedangkalan kehidupan sedemikian rupa agar dapat menemukan kehidupan yang sebenarnya dan tak seorang pun dari kita dapat memetik manfaat dari pengalaman orang lain bila tidak atau belum mengalaminya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah ini ditutup dengan perenungan Masha tentang berakhirnya petualangan cintanya dengan suaminya dan bahwa perwujudan cinta bisa berbeda atau berubah dalam perjalanan hidup manusia. Sebagai gantinya ia menemukan cinta baru pada ‘anak-anak dan bapaknya’. Sebuah cinta yang tidak egois, tidak menggebu-gebu, tidak membara. Cinta untuk keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika membaca, saya teringat pada masa-masa muda saat mulai mengenal cinta (monyet). Karena masih belia, saya sering bermimpi bahwa saya akan ‘mengakhiri cinta’ ketika menikahi lelaki pilihan saya. Kenyataannya, perjalanan cinta suami-istri yang sebenar-benarnya justru baru berawal ketika si lelaki mengucapkan ijab-kabul. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita cinta Masha ini menurut saya dialami oleh sebagian besar perempuan berkeluarga. Cinta birahi yang menggelora pada lelaki yang kemudian menjadi suami yang lambat laun berevolusi menjadi cinta pada keluarga yang lebih menentramkan dan tahan lama. Novel ini tampaknya cocok untuk dibaca oleh pasangan muda, terlebih pada saat ini, ketika gemerlap pergaulan sering menyilaukan mata siapa saja, tak pandang jenis kelamin, strata sosial, pendidikan dan usia. Kalau istri atau suami yang ‘sudah tua’ bagaimana? Saya menikmatinya juga, karena saya masih muda….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*** &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136808397578530804-7425443868229618095?l=endahraharjo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endahraharjo.blogspot.com/feeds/7425443868229618095/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2136808397578530804&amp;postID=7425443868229618095' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136808397578530804/posts/default/7425443868229618095'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136808397578530804/posts/default/7425443868229618095'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endahraharjo.blogspot.com/2012/02/cinta-suami-berganti-cinta-keluarga.html' title='Cinta Suami Berganti Cinta Keluarga'/><author><name>Endah Raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03645756585023929576</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_z5dbjErpZVE/TPx8pBgqdyI/AAAAAAAAADE/nZS418JdwyI/S220/En-Sketch-Kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-CFx-h7PZM4o/TzU0NwIQy5I/AAAAAAAAAN4/xCP-WYVLP5I/s72-c/Tolstoy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136808397578530804.post-585975105000635973</id><published>2012-02-09T21:41:00.002+07:00</published><updated>2012-02-09T21:49:04.195+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatanku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='the bluest eye'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kekerasan pada anak'/><title type='text'>The Bluest Eye: Duka Pecola</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-TOfBE2u0h-w/TzPY5Rm2U-I/AAAAAAAAANw/7Ikg9V-5D2I/s1600/the+bluest+eye.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="279" src="http://1.bp.blogspot.com/-TOfBE2u0h-w/TzPY5Rm2U-I/AAAAAAAAANw/7Ikg9V-5D2I/s320/the+bluest+eye.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Novel pertama karya &lt;a href="http://www.distinguishedwomen.com/biographies/morrison.html"&gt;Toni Morrison&lt;/a&gt;, perempuan Amerika kulit hitam pemenang Pulitzer 1988 dan Nobel Sastra 1993, &lt;a href="http://www.shmoop.com/bluest-eye/summary.html"&gt;&lt;i&gt;The Bluest Eye,&lt;/i&gt;&lt;/a&gt; menurut saya tak lekang dimakan waktu. Pesan-pesan yang diembannya aktual hingga kini dan mungkin bertahun-tahun lagi. Dalam tulisan pendek ini saya tidak akan menuliskan review ceritanya, namun sedikit mengulas satu saja dari sekian banyak permasalahan yang dipaparkan oleh Toni Morrison melalui salah satu karyanya ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel yang diterbitkan pertama kali pada 1970 ini sudah saya baca beberapa kali dan sering saya tenteng bila bepergian sendiri. Setiap kali membaca ulang, selalu saya temukan sesuatu yang baru di dalamnya. Salah satu permasalahan yang dipotret, yang hinggi kini masih aktual, adalah kekerasan pada anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai dari awal, dengan bahasa yang amat puitis, Morrison menggambarkan perasaan anak-anak terhadap orang dewasa melalui Claudia Mcteer, salah satu karakter anak-anak yang menuturkan hampir seluruh cerita. Berikut ini salah satu cuplikan pikiran Claudia tentang orang dewasa ketika ia menggambarkan keluarga dan suasana rumah kecilnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;i&gt;… Adults do not talk to us – they give us directions. They issue orders without providing information. When we trip and fall down they glance at us; if we cut or bruise ourselves, they ask us are we crazy….&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ketika membaca novel ini untuk pertama kalinya, kalimat itu tidak saya perhatikan. Namun setelah beberapa kali mengulang, pesan yang disampaikannya begitu tajam, mengiris ulu hati. Bukankah memang demikian? Orang tua sering menganggap anak sebagai obyek belaka? Manusia kecil miskin pengalaman, kurang pengetahuan, tanpa kearifan yang ‘seharusnya’ hanya mendengarkan orang tua saja? Orang tua sering lupa bahwa dulu kala mereka pernah jadi anak-anak juga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isi pikiran Claudia Mcteer di atas, bukan apa-apa dibandingkan dengan rasa tertekan dan penderitaan yang dialami oleh Pecola Breedlove.  Gadis 11 tahun berkulit hitam ini merupakan karakter protagonis yang merasa dirinya anak paling jelek di lingkungannya. Seluruh kisah ini adalah tentang pergulatan Pecola dalam menggapai mimpi satu-satunya: mempunyai sepasang mata biru cantik seperti yang dimiliki oleh gadis-gadis kulit putih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pecola kecil lahir dari dan dibesarkan oleh orang tua yang tidak harmonis. Ayahnya, Cholly Breedlove, adalah lelaki pemabuk dan kasar yang masa kecilnya suram karena tidak diakui oleh ayahnya dan dibuang oleh ibunya. Sedangkan ibunya, Pauline Breedlove, yang bekerja sebagai pembantu pada keluarga kulit putih, memilih hidup dalam mimpinya sendiri untuk melupakan penderitaanya. Ia lebih menyayangi gadis kulit putih yang diasuhnya daripada Pecola, anak kandungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cholly dan Pauline hampir tiap saat bertengkar. Bukan hanya adu mulut saja, tapi adu fisik juga. Rumah kecil mereka sering terguncang berantakan akibat aneka alat-alat dapur beterbangan. Suatu pagi Pecola terbangun oleh pertengakaran sengit orang tuanya. Morrison menggambarkan perasaan Pecola yang begitu tertekan melalui kalimat berikut ini: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;… She struggled between an overwhelming desire that one would kill the other, and a profound wish that she herself could die…&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu dahsyatnya dampak pertengkaran itu pada jiwa Pecola kecil hingga ia ingin agar salah satu dari orang tuanya terbunuh atau dirinya mati saja. Sementara itu, Sammy Breedlove, kakak lelaki Pecola, memilih untuk pergi dari rumah tiap kali jiwanya luka. Anak sulung Cholly dan Pauline itu sudah minggat dari rumah tak kurang dari 27 kali pada usia 14 tahun. Namun ia selalu kembali ke rumah walau dengan wajah penuh amarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekerasan orang tua pada anak itu mencapai puncaknya ketika Cholly, karena mabuk berat, memperkosa Pecola yang menyebabkannya hamil. Dalam cerita, bayi Pecola akhirnya meninggal. Kekerasan itu semakin menghancurkan hati justru karena novel ini ditulis dengan gaya yang indah bagai puisi. Di akhir cerita, ketika menggambarkan jiwa Pecola yang terguncang dan menjadi gila, Morrison menggunakan dialog pendek-pendek antara Pecola dan ‘teman imajinernya’. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti banyak adikarya sastra, tema-tema yang disoroti oleh &lt;i&gt;The Bluest Eye&lt;/i&gt; bagai abadi. Kekerasan pada anak-anak terus terjadi hingga kini, 40 tahun kemudian, sejak pertama diterbitkan. Hampir tiap hari kita melihat, mendengar dan membaca, ada begitu banyak, bahkan mungkin semakin banyak, anak-anak seperti Pecola yang terlunta-lunta di seluruh penjuru dunia. Seharusnya ada sesuatu yang bisa kita lakukan bersama-sama untuk mencegahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*** &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136808397578530804-585975105000635973?l=endahraharjo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endahraharjo.blogspot.com/feeds/585975105000635973/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2136808397578530804&amp;postID=585975105000635973' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136808397578530804/posts/default/585975105000635973'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136808397578530804/posts/default/585975105000635973'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endahraharjo.blogspot.com/2012/02/bluest-eye-duka-pecola.html' title='The Bluest Eye: Duka Pecola'/><author><name>Endah Raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03645756585023929576</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_z5dbjErpZVE/TPx8pBgqdyI/AAAAAAAAADE/nZS418JdwyI/S220/En-Sketch-Kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-TOfBE2u0h-w/TzPY5Rm2U-I/AAAAAAAAANw/7Ikg9V-5D2I/s72-c/the+bluest+eye.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136808397578530804.post-9148388944230843879</id><published>2012-02-08T17:09:00.002+07:00</published><updated>2012-02-08T17:33:48.640+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatanku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='haiku'/><title type='text'>Haiku: An Airport Ode</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-DfShlWWnMsM/TzJJeD1wqSI/AAAAAAAAANo/aKsoGWP9P5U/s1600/airport.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://1.bp.blogspot.com/-DfShlWWnMsM/TzJJeD1wqSI/AAAAAAAAANo/aKsoGWP9P5U/s320/airport.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;One gloomy restless dawn&lt;br /&gt;Shiny tear drops&lt;br /&gt;Painting forced smile &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serene  dimmed lobby &lt;br /&gt;A black suitcase dragged&lt;br /&gt;Full of drying hopes&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Golden full moon hanging low&lt;br /&gt;Twinkling street lights&lt;br /&gt;Subdue eyes gently closed&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Noisy chilling airport&lt;br /&gt;Memories quietly left behind&lt;br /&gt;Hidden in a satin pouch&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engines strongly roar&lt;br /&gt;Rushing long steps&lt;br /&gt;Two lonely souls softly shout&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pale white clouds&lt;br /&gt;Empty purple chairs&lt;br /&gt;A pair of frozen hearts&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Strong arms reaching out&lt;br /&gt;Behind closed doors&lt;br /&gt;Embracing unspoken vows&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136808397578530804-9148388944230843879?l=endahraharjo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endahraharjo.blogspot.com/feeds/9148388944230843879/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2136808397578530804&amp;postID=9148388944230843879' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136808397578530804/posts/default/9148388944230843879'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136808397578530804/posts/default/9148388944230843879'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endahraharjo.blogspot.com/2012/02/one-gloomy-restless-dawn-shiny-tear.html' title='Haiku: An Airport Ode'/><author><name>Endah Raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03645756585023929576</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_z5dbjErpZVE/TPx8pBgqdyI/AAAAAAAAADE/nZS418JdwyI/S220/En-Sketch-Kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-DfShlWWnMsM/TzJJeD1wqSI/AAAAAAAAANo/aKsoGWP9P5U/s72-c/airport.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136808397578530804.post-8054110562757555528</id><published>2012-01-31T14:23:00.002+07:00</published><updated>2012-01-31T14:32:50.169+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kampung fiksi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatanku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='J50K'/><title type='text'>Oops! J50K</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-MVXgAkm9VqE/TyeWkF4J_5I/AAAAAAAAANg/U_7WyerX1-Q/s1600/oops2.gif" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-MVXgAkm9VqE/TyeWkF4J_5I/AAAAAAAAANg/U_7WyerX1-Q/s320/oops2.gif" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Pepatah Barat mengatakan bahwa sesekali orang perlu “bite off more than you can chew”. Begitu memutuskan melakukannya, menurut saya hanya ada satu hal yang layak dibawa sebagai bekal: niat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingat saat bulan puasa: sebelum berpuasa, tiap hendak sahur orang mengikrarkan niatnya; hasilnya ia bisa tahan tidak makan/minum selama lebih dari 12 jam, meskipun ada rasa lapar, namun mampu mengabaikan rasa itu hingga saat berbuka tiba. Bandingkan dengan bulan-bulan lainnya. Saat waktu menunjukkan pukul 13.00, perut mulai menjerit-jerit, sementara pekerjaan numpuk nggak bisa ditinggal, orang akan cenderung berkeluh kesah akibat perut lapar; bila sudah tak tertahankan, pekerjaan ditinggal untuk menghentikan jeritan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bekal niat ini saya tinggalkan dalam menempuh perjalanan menulis sepanjang &lt;a href="http://www.kampungfiksi.com/2011/12/geliat-januari-50000-kata-j50k.html"&gt;50K alias 50 kilo alias 50.000 kata di bulan Januari&lt;/a&gt; ini. Ya. Kalau saya berkeras menulis sebanyak 50K di Januari ini, saya “bite off more than I can chew.” Sayangnya, sejak awal saya sudah niat untuk tidak niat. Tentu saya punya alasan. Pastinya menurut saya alasan itu juga bagus. Terlepas dari alasan, saya membandingkan kegiatan J50K yang saya ikuti tahun 2011 dengan J50K tahun ini. Saat itu separuh waktu di bulan Januari juga tersedot untuk urusan pekerjaan; bahkan saya sedang berada di pedalaman Thailand. Oh, ya, ngomong-ngomong, saya bukan pekerja kantoran, saya banyak jalan-jalan di ‘lapangan’. Namun karena saya mengantungi segepok niat, meskipun tidak tuntas hingga 50 kilo, tulisan saya bisa menembus angka 42K. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan J50K 2012? Dengan kecut saya akui, saya hanya mampu berjalan sejauh 8K. Apakah lalu saya akan mengkambinghitamkan Si Niat – hmmm Niat itu kakinya berapa, ya? Jelas tidak. Ia, Si Niat itu, adalah bagian dari diri saya. Ia menghuni entah di sebelah mana dari tubuh saya. Mungkin di otak, atau sesekali pindah ke hati, kadang-kadang sembunyi di rongga dada, membujuk jantung memompa darah makin cepat, supaya tumbuh semangat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa jam lagi Januari akan pergi. Ia baru pulang 11 bulan kemudian. Saya punya cukup banyak waktu menimbang-nimbang: apakah tahun depan saya akan mengajak Si Niat menyusuri perjalanan 50.000 kata berikutnya? Jawabnya belum pasti, sebab saya harus berusaha agar bisa bertemu dulu dengan Januari...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan pendek ini saya persembahkan untuk semua sahabat tercinta di Kampung Fiksi, saya sebut sesuai abjad: Deasy, Ge, Indah, Meli, Ria, Sari dan Winda; juga semua Nekaders yang meramaikan J50K. BTW, tulisan ini pun dibuat dengan niat bulat, makanya meskipun saya benar-benar sedang tergesa-gesa, bisa selesai juga akhirnya. Olala…&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136808397578530804-8054110562757555528?l=endahraharjo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endahraharjo.blogspot.com/feeds/8054110562757555528/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2136808397578530804&amp;postID=8054110562757555528' title='9 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136808397578530804/posts/default/8054110562757555528'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136808397578530804/posts/default/8054110562757555528'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endahraharjo.blogspot.com/2012/01/oops-j50k.html' title='Oops! J50K'/><author><name>Endah Raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03645756585023929576</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_z5dbjErpZVE/TPx8pBgqdyI/AAAAAAAAADE/nZS418JdwyI/S220/En-Sketch-Kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-MVXgAkm9VqE/TyeWkF4J_5I/AAAAAAAAANg/U_7WyerX1-Q/s72-c/oops2.gif' height='72' width='72'/><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136808397578530804.post-4023602817556635238</id><published>2012-01-26T21:22:00.001+07:00</published><updated>2012-01-29T22:00:14.169+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ceritaku'/><title type='text'>One Little Monkey</title><content type='html'>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-0t5TXGfO_cM/TyFg6uOaU-I/AAAAAAAAANY/oYMoK3j2Kw4/s1600/_1909335_monkey3.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/-0t5TXGfO_cM/TyFg6uOaU-I/AAAAAAAAANY/oYMoK3j2Kw4/s1600/_1909335_monkey3.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://news.bbc.co.uk/cbbcnews/hi/pictures/galleries/newsid_1909000/1909335.stm"&gt;Sumber Gambar&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Aku ingin tahu, apa ada orang di dunia ini yang cintanya belum pernah ditolak. Kalau ada, aku ingin berguru padanya supaya lebih pintar dan mendapatkan cinta yang sudah lama kuidam-idamkan namun belum juga kudapatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usiaku sudah 29 tahun. Sebentar lagi, hanya beberapa bulan lagi, usiaku berkepala tiga. Menyedihkan, ya. Usia sudah hampir kepala tiga tapi belum pernah mendapatkan cinta. Oh, ya, aku seorang perempuan. Pasti kalian langsung menebak bahwa aku tidak cantik. Tunggu dulu. Menurut kakak dan ibuku, aku cukup cantik, tentunya itu pendapat yang sangat subyektif, jadi belum tentu disetujui oleh orang banyak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuhku kurus, dengan tinggi cuma 152 cm dan berat 40 kg aku seperti anak SD kelas enam saja. Apalagi payudaraku hanya sebesar tutup gelas. Tutupnya saja, ya, tidak sama gelasnya. Pinggulku juga tidak begitu bulat. Kata ‘tidak begitu’ hanya untuk memperhalus saja karena boleh dikatakan aku tidak punya pinggul. Bayangkan… wah, untuk apa membayangkan perempuan yang tidak punya pinggul, ya? Aku ulangi, bayangkan, celana jeans yang kubeli selalu ukuran 26, kalau merk-nya lokal biasanya ukurannya tidak standar sehingga harus sedikit dikecilkan agar pas badan, mauku bila diberi ikat pinggang tidak berkerut sana-sini. Kalau mau membeli T-shirt, gaun dan semua pernak-pernik untuk menutup tubuh, aku lebih sering mencari di bagian anak-anak atau konter remaja. Tahu PW? Bukan, itu bukan singkatan dari Posisi Wuenak, tapi Pinkie Winkie, salah satu merk terkenal pakaian anak-anak. Nah, T-shirt yang nomer 10 bisa muat di tubuhku, padahal sesuai nomernya, ukuran itu dirancang untuk anak usia 10 tahun. Memalukan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kisah pendekku ini bukan soal tubuh dan pakaianku. Ini tentang cintaku yang berakhir bahkan sebelum dimulai. Memang, ini bukan yang pertama karena cintaku selalu saja bertepuk sebelah tangan, kandas di tengah jalan, layu sebelum berkembang... ya… ya… itu sebuah judul lagu jaman dulu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebulan lalu di sebuah café tempat aku dan teman-temanku sering nongkrong – FYI, teman-temanku semua sudah punya pacar dan ada pula yang sudah menikah – aku melihat seorang laki-laki cakep dengan tubuh pendek kecil. Wah. Ini kesempatan, pikirku. Lelaki kecil mungkin akan memilih perempuan mungil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan segala cara aku berusaha menarik perhatiannya. Ya, tentu saja aku bilang pada teman-temanku, saat itu ada lima orang, perempuan semua, untuk membantuku. Kami sengaja ketawa keras-keras agar dia menengok. Benar juga. Sekali. Dua kali. Ketiga kali, dia menoleh sambil tersenyum dan memandangi kami satu persatu. Saat itu aku berdiri agar perhatiannya terpusat padaku. Tepat sekali strategiku. Si lelaki bertubuh mungil itu lebih lama memandangku. Amboi, dia tersenyum. Singkat cerita, kami akhirnya berkenalan yang disusul dengan saling bertukar nomor HP. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sorenya, iseng-iseng, lebih tepatnya dengan nekat, aku mengirim sms pada Johan, begitulah nama lelaki mungil itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;i&gt;Hi there&lt;/i&gt;! Lagi apa, Johan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai, Ria. Lagi bengong aja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wuih. Dia langsung membalas sms-ku. Lalu kami saling berbalas sms sampai ada kalau seratusan. Jemariku terasa pegal-pegal. Di kamar aku cekikikan bagai ABG yang sedang dirundung cinta monyet saja. Aku juga meloncat-loncat di atas tempat tidur, sambil bernyanyi, sampai menimbulkan suara tidak nyaman di telinga akibat decit pegas-pegas berbenturan dengan suaraku yang melengking. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; One little monkey jumping on the bed,&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; She fell off and bumped her head.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Mama called the Doctor and the Doctor said,&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; "No more monkey jumping on the bed!"&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Riaaaa…. Kamu ngapain? Loncat-loncat kayak anak kecil aja!” Tegur ibu dari ruang baca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, acara hebohku di kamar berlangsung beberapa lama sampai saat makan malam tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, ketika aku baru mau gosok gigi dan siap-siap tidur, Johan mengirim sms lagi. Isi sms itu menghentikan sorak-soraiku. Mau tahu apa isinya? Begini: “Ria, yang pakai baju hijau tadi namanya siapa? Cakep. Body-nya keren. Dadanya mantep. Kenalin ya. Pls….” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud Johan adalah sahabatku bernama Intan, yang tubuhnya tinggi sintal, yang baru sebulan melahirkan dan masih menyusui. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja sms itu tidak kubalas. Setelah mematikan HP aku melompat ke atas tempat tidur, lalu kutarik selimut menutupi tubuhku hingga ke ujung kepala. Tanpa gosok gigi, tanpa cuci muka, mataku yang basah kupejamkan kuat-kuat. Hingga pukul tiga pagi aku belum tidur juga.***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136808397578530804-4023602817556635238?l=endahraharjo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endahraharjo.blogspot.com/feeds/4023602817556635238/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2136808397578530804&amp;postID=4023602817556635238' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136808397578530804/posts/default/4023602817556635238'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136808397578530804/posts/default/4023602817556635238'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endahraharjo.blogspot.com/2012/01/one-little-monkey.html' title='One Little Monkey'/><author><name>Endah Raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03645756585023929576</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_z5dbjErpZVE/TPx8pBgqdyI/AAAAAAAAADE/nZS418JdwyI/S220/En-Sketch-Kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-0t5TXGfO_cM/TyFg6uOaU-I/AAAAAAAAANY/oYMoK3j2Kw4/s72-c/_1909335_monkey3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136808397578530804.post-4947309892030980278</id><published>2012-01-24T13:08:00.001+07:00</published><updated>2012-01-24T13:21:09.070+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ceritaku'/><title type='text'>Perempuan di Ambang Jendela</title><content type='html'>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-kBsmdD7tkZs/Tx5KcpLE9PI/AAAAAAAAANQ/vIKF7MUL_do/s1600/stock-photo-black-and-white-image-of-girl-looking-out-window-1703373.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-kBsmdD7tkZs/Tx5KcpLE9PI/AAAAAAAAANQ/vIKF7MUL_do/s320/stock-photo-black-and-white-image-of-girl-looking-out-window-1703373.jpg" width="204" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.shutterstock.com/pic-1703373/stock-photo-black-and-white-image-of-girl-looking-out-window.html"&gt;Sumber Gambar&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Sebagai tukang kebun yang baru bekerja seminggu Marno rajin sekali. Ia selalu datang 30 menit lebih awal. Waktu setengah jam itu dipakai Marno untuk tiga hal. Selalu tiga hal. Menyeduh kopi pahit dengan mug besar merah bata, berbincang dengan Mak Darti, pembantu rumah tangga yang sudah puluhan tahun bekerja di rumah milik keluarga Rusman dan memandangi kebun yang tertata asri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marno senang karena Ibu Rusman, sang pemilik rumah besar sekaligus majikannya itu, puas akan hasil kerjanya. Perempuan kaya itu belum lama menjadi janda, di kampungnya ia dikenal murah hati. Walau usianya hampir 80 tahun, Ibu Rusman masih kuat berjalan kaki keliling kampung tiap pagi. Tangannya yang berkulit langsat dan berkeriput selalu menenteng tas plastik berisi aneka jajanan yang ia beli di toko kecil milik tetangganya, di ujung kampung. Di sepanjang jalan pulang jajanan itu ia bagikan pada anak-anak kecil yang ia temui. Kadang Marno kebagian tiga-empat kue yang tersisa, untuk oleh-oleh dua anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama seminggu bekerja, Marno pelan-pelan mengenali semua penghuni rumah. Pak Nardi, supir yang telah bekerja sejak cucu pertama Ibu Rusman lahir. Kemudian Suci, pembantu yang bertugas khusus menyapu dan mengepel lantai, serta membersihkan perabotan rumah. Lalu Mak Darti, orang pertama yang dikenalkan Ibu Rusman, yang mengurus dapur, memasak, mencuci dan menyeterika. Masih ada Johan yang datang dua hari sekali, bertugas merawat burung-burung, ayam-ayam kate dan kelinci di halaman belakang. Yang paling jarang ia lihat adalah Ricky, salah satu cucu Ibu Rusman yang masih kuliah dan memilih tinggal bersama neneknya daripada kos seperti sepupu-sepupunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Mak Darti, Ricky sangat sayang pada neneknya dan tidak tega melihatnya tinggal sendiri di rumah besar dengan para pembantu dan binatang-binatang peliharaannya saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas Ricky itu cucu dari anak nomer berapa?” tanya Marno pada Mak Darti suatu hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anak nomer dua yang tinggal di Afrika. Jadi diplomat atau apa, gitu.” Mak Darti mulai cerita tentang tujuh anak-anak keluarga Rusman yang semuanya menjadi orang sukses. Bila mereka berkumpul, rumah akan ramai sekali dan Ibu Rusman akan memasak berbagai makanan kegemaran anak-menantu-cucu yang jumlahnya lebih dari 30 orang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marno selalu takjub akan kisah-kisah keluarga kaya pada siapa ia sering bekerja. Kalau bukan kantor besar atau orang kaya, siapa yang akan memerlukan jasa tukang kebun seperti dirinya. Ia berharap akan kerasan bekerja pada majikan barunya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu, Marno memotong ranting-ranting mawar dan beberapa tangkai bunganya yang masih belum sepenuhnya mekar.  Ia ingin menaruh bungaan itu ke dalam vas setinggi bocah dua-tahunan yang kemarin ia ambil dari gudang. Sehabis ia bersihkan, vas dari tembikar itu ia letakkan di teras samping. Marno berjongkok, meletakkan serumpun mawar di bibir vas ketika dilihatnya seorang perempuan muda, cantik, berambut lurus melewati bahu, tengah mengamatinya dari ambang jendela ruang tidur samping. Ah, pasti salah satu cucu Ibu Rusman baru datang dari belahan bumi bagian mana lagi, pikir Marno. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu tersenyum padanya. Marno membungkukkan badan tanda hormat. Ia berdiri saja di ambang jendela sambil mengawasi Marno bekerja. Ia mengagumi kecekatan tangan Marno memotong tangkai-tangkai mawar. Ada yang pendek, ada yang panjang, sebagian dedaunnya dihilangkan, sebagian dibiarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama vas itu dipenuhi warna-warni mawar. Sambil mengangkat vas yang bertambah berat itu, Marno menoleh ke arah jendela, namun perempuan muda itu sudah tidak dilihatnya. Vas itu kini menghiasi meja di sudut ruang tamu, Marno bangga akan hasilnya. Tersenyum lebar tukang kebun itu keluar, mengitari rumah sambil memeriksa hasil kerjanya. Semoga Ibu Rusman dan cucu cantiknya itu senang menikmati kebun ini, doanya dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mak, tadi aku lihat ada nona muda, cantik, rambutnya lurus segini.” Marno menjangkau punggungnya sendiri. “Cucu dari anak nomer berapa? Baru datang ya?” Sambil menikmati makan siang, Marno berharap bisa mendengar cerita dari Mak Darti tentang gadis cantik itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nona muda? Rambut lurus sepunggung? Di ambang jendela salah satu kamar samping?” Mak Darti balik bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya. Cantik. Aku diajak senyum.” Marno menyeringai gembira, ada perempuan cantik, muda dan kaya yang melempar senyum padanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ahhh….” Mak Darti menghela nafas. Menunduk. Terdiam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa, Mak? Siapa gadis itu?” Marno jadi penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mak Darti memegang erat tangan kanan Marno yang terjulur meraih mangkuk sayur. “Itu tandanya kamu akan lama bekerja di rumah ini, Marno. Nona muda itu namanya Shovia. Anak bungsu. Ia hanya menunjukkan diri sesekali saja, kalau ada orang baru yang disukainya. Ia meninggal karena sakit jantung, dua puluh lima tahun lalu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marno tersedak. Matanya terbelalak.***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136808397578530804-4947309892030980278?l=endahraharjo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endahraharjo.blogspot.com/feeds/4947309892030980278/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2136808397578530804&amp;postID=4947309892030980278' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136808397578530804/posts/default/4947309892030980278'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136808397578530804/posts/default/4947309892030980278'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endahraharjo.blogspot.com/2012/01/perempuan-di-ambang-jendela.html' title='Perempuan di Ambang Jendela'/><author><name>Endah Raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03645756585023929576</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_z5dbjErpZVE/TPx8pBgqdyI/AAAAAAAAADE/nZS418JdwyI/S220/En-Sketch-Kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-kBsmdD7tkZs/Tx5KcpLE9PI/AAAAAAAAANQ/vIKF7MUL_do/s72-c/stock-photo-black-and-white-image-of-girl-looking-out-window-1703373.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136808397578530804.post-1542710272525821877</id><published>2012-01-21T12:57:00.005+07:00</published><updated>2012-01-21T13:09:13.694+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatanku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jomblo'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ria Tumimomor'/><title type='text'>Membaca Curhatan Jomblo</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-JMb_YUirypY/TxpSx9nVvII/AAAAAAAAANI/yfDVLldfH6w/s1600/Jomblo-Ria.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-JMb_YUirypY/TxpSx9nVvII/AAAAAAAAANI/yfDVLldfH6w/s320/Jomblo-Ria.jpg" width="226" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;“Tidak bisakah orang-orang itu mengurus dirinya sendiri dan menerima dirinya apa adanya?”  Begitu &lt;i&gt;ending&lt;/i&gt; dari The Beginning, salah satu tulisan dalam buku &lt;i&gt;Cuplikan Kisah Si Jomblo&lt;/i&gt; (CKSJ), karya sahabat saya Ria Tumimomor. Sulit mau memutuskan tersenyum atau meringis kecut membacanya. Ya. Diakui atau disangkal, kita sering pengin mengurus orang lain, entah itu anak, suami/istri, pacar, teman, orang tua… tetangga… bahkan orang lalu-lalang di jalanan. Dan bila kita ketemu seorang jomblo, perempuan, berusia kepala 4… waaah… rasa ingin ngurus itu jadi makin tebal!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku CKSJ berisi 14 curhatan pendek. Sepuluh di antaranya memakai judul berbahasa Inggris. Curhatan Ria merangkum hampir semua ‘tuduhan’ yang sering ditudingkan pada para jomblo perempuan berusia matang – untuk tak menyebut usia di atas tiga-puluhan. Jomblo itu dosa (Ouch!!!). Jomblo itu pemilih. Jomblo perlu diobral biar cepet laku. Jomblo sering menjadi olok-olokan dalam pertemuan keluarga. Jomblo tidak punya rasa keibuan; atau sebaliknya, karena usianya (hadeeeh… bisa berhenti nulis usia nggak, nih?) jomblo sering disangka sudah punya anak! Benar-benar sebuah posisi tidak nyaman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi benarkah para jomblo tidak nyaman? Menurut curhat-curhat yang ditulis Ria, ternyata tidak benar. Sebaliknya, justru orang lain – termasuk keluarga dan sahabat – yang merasa tidak nyaman. Sebabnya… ya… itu tadi… orang cenderung ingin mengatur hidup orang lain. Orang cenderung merasa ingin membuat orang lain seperti dirinya.&lt;i&gt;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Being Picky Picky&lt;/i&gt; adalah salah satu curhatan yang saya suka. Sang Wanita - begitu Ria menyebut tokoh dalam semua tulisannya – dituduh sangat pemilih hingga berat jodoh dan menjomblo sampai tua (Alamaaak!!!). Namun ternyata ibu Sang Wanita tak kalah pemilihnya: ia tak suka kalau anak jomblonya menikah dengan lelaki lebih muda, atau beda agama, atau pengagguran… atau…  Di sini Ria ingin menekankan bahwa setiap perempuan lajang, tak peduli usianya, berhak memilih calon suami, sebab bila ia menikah, ia yang akan menjalani. Demikian pula bila ia menjomblo, itu merupakan pilihan karena ia punya alasan. Jadi, jangan dibalik, bahwa perempuan jomblo itu akibat terlalu pilih-pilih calon suami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, ada juga jomblo yang setelah menikah bisa tiba-tiba lupa bagaimana rasanya menjomblo. “Kesimpulannya, kalau wanita yang sudah lama melajang akhirnya menikah, ia bagai kacang lupa akan kulitnya.” Demikian cuplikan dialog antarjomblo dalam curhatan berjudul &lt;i&gt;Short Memory Syndrome&lt;/i&gt;. Tulisan yang satu ini membuat saya terbahak-bahak, sebab sadar atau tak sadar Ria mengakui bahwa ada perempuan yang terbebani oleh kejombloannya, dan beban itu otomatis terangkat bila ia mengakhiri masa jomblonya… alias menikah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya yang menikah di usia 26 ini, tidak mudah membayangkan perasaan para jomblo usia matang (&lt;i&gt;Stop wiriting ‘usia’, please&lt;/i&gt;!). Kalau saya mengatakan bahwa saya bisa mengerti, saya pasti bohong, atau basa-basi. Jadi harus ada toleransi. Nah… salah satu curhatan Ria dijuduli ‘Toleransi’. Selesai membaca tulisan yang satu itu, saya langsung berpikir bahwa jomblo pun tidak memahami sulitnya menjadi ibu atau istri. Ada saatnya seorang perempuan beranak-bersuami berharap kembali menjadi jomblo. Saya kebetulan bersuamikan lelaki sabar penuh pengertian. Ia rela melepas saya pergi keliling dunia, sendiri! Anak semata wayang saya juga, menurut emaknya, cukup mandiri. Ia hampir tak pernah menahan langkah ibunya yang kerap keluar rumah berhari-hari. Meskipun begitu, sesekali saya berharap menjomblo, supaya ‘rasa bersalah’ akibat sering meninggalkan anak dan suami bisa terkurangi… bukan karena pengin punya pacar lagi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lega bisa menyelesaikan membaca ebook setebal 63 halaman ini. Paling tidak, saya jadi tahu diri, tidak lagi asal nyelonong bertanya soal pernikahan atau anak pada perempuan yang baru saya kenal. Sebuah kesalahan yang selalu dianggap wajar, padahal harus dihindari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini dijual dalam format ebook. Para pemilik iPad bisa membelinya lewat &lt;a href="http://evolitera.co.id/ebook/cuplikan-kisah-si-jomblo/"&gt;Evolitera&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui tulisan &lt;i&gt;cethek&lt;/i&gt; ini, saya ucapkan salut pada Ria Tumimomor yang sudah menuliskan curhatnya dengan segar dan ceria. Selera humornya yang tinggi tergambar dalam buku ini. Mungkin karena itu ia mampu menikmati kejombloannya. Para istri, termasuk saya pastinya, perlu belajar dari Ria agar bisa nyaman menjalani hidup bersuami…&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Cethek&lt;/i&gt; (bahasa Jawa): dangkal, tidak bernas.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136808397578530804-1542710272525821877?l=endahraharjo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endahraharjo.blogspot.com/feeds/1542710272525821877/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2136808397578530804&amp;postID=1542710272525821877' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136808397578530804/posts/default/1542710272525821877'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136808397578530804/posts/default/1542710272525821877'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endahraharjo.blogspot.com/2012/01/membaca-curhatan-jomblo.html' title='Membaca Curhatan Jomblo'/><author><name>Endah Raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03645756585023929576</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_z5dbjErpZVE/TPx8pBgqdyI/AAAAAAAAADE/nZS418JdwyI/S220/En-Sketch-Kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-JMb_YUirypY/TxpSx9nVvII/AAAAAAAAANI/yfDVLldfH6w/s72-c/Jomblo-Ria.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136808397578530804.post-1434179245980116578</id><published>2012-01-12T20:44:00.002+07:00</published><updated>2012-01-12T20:51:12.282+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatanku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='es krim magnum'/><title type='text'>Hmmm... Magnum!</title><content type='html'>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-WEGgTxNKhRo/Tw7i9GgckrI/AAAAAAAAANA/FgZK6vEEakE/s1600/charles-bronson-on-the-se-005.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="198" src="http://4.bp.blogspot.com/-WEGgTxNKhRo/Tw7i9GgckrI/AAAAAAAAANA/FgZK6vEEakE/s320/charles-bronson-on-the-se-005.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://kittypackard.wordpress.com/2009/10/16/sergio-leone/charles-bronson-on-the-se-005/"&gt;Sumber Foto&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Wah. Judul yg saya pilih membuat saya ingat Charles Bronson. Hmmm… Mandom! Namun ini bukan tentang si bintang yang konon jenazahnya pun sexy itu; meskipun saat mendengar kata ‘magnum’ banyak perempuan juga menjerit histeris. Ya, seperti Charles Bronson, Magnum memang sexy.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah es krim yang satu ini. Kemasannya tak seberapa menggoda, tak beda dengan es krim lainnya. Tapi bila kita buka… hmmmm… Magnum! Bentuknya yang pipih lonjong sangat pas masuk ke dalam mulut siapapun. Warnanya yang coklat eksotis merangsang si lidah segera menjilatnya. Dengan pelan, penuh perasaan. Setiap jilatan membawa sensasi. Untuk Magnum Classic, saat digigit rasa vanilla dan coklatnya melebur dan meleleh di lidah dengan sempurna. Hmmm… Magnum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan pecinta es krim begitu tergila-gila pada produk yang satu ini. Sampai-sampai Brand Manager-nya berani mengatakan bahwa es krim ini diciptakan untuk membantu para konsumen bisa merasakan kenikmatan luar biasa, intens, dan sensasional. Hmmm… Magnum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kota-kota besar Indonesia, varian Magnum yang mudah ditemui ada empat, yaitu Classic, Almond, Choco-Cappucino dan Chocolate Truffle. Sementara di kota-kota besar di Asia Tenggara, varian yang dipasarkan lebih banyak lagi seperti Mint, Equador Dark, Temptation Chocolate, Caramel and Nuts dan Double Caramel. &lt;br /&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-xw91RARJBGw/Tw7isywlFuI/AAAAAAAAAM4/MWor-iqF1aI/s1600/magnum.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="246" src="http://1.bp.blogspot.com/-xw91RARJBGw/Tw7isywlFuI/AAAAAAAAAM4/MWor-iqF1aI/s320/magnum.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://djriyan.wordpress.com/2010/11/26/sedepnya-eskirm-magnum/"&gt;Sumber Gambar&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Kurang tahu mengapa di kota-kota Indonesia toko-toko swalayan sering kehabisan stok. Sedangkan, menurut pengalaman, di Kota Bangkok, Kuala Lumpur, Singapore dan Melbourne, di tiap outlet 7-Eleven selalu tersedia minimal varian Classic dan Almond. Bahkan suatu saat di Jakarta, salah satu sahabat saya asal Medan bernama Meli, penggila Magnum juga, sampai termehek-mehek menyusuri jalan untuk memburunya. Beruntunglah Meli, tiga potong akhirnya berhasil ia dapatkan sebagai pereda hasratnya. Saya pun tak kuasa menolak es krim yang bila digigit lapisan coklat Belgianya akan merekah, kressshhhh… lalu menebarkan sensasi vanila di lidah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surga ternyata ada di dalam sekeping es krim. Hmmm… Magnum.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136808397578530804-1434179245980116578?l=endahraharjo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endahraharjo.blogspot.com/feeds/1434179245980116578/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2136808397578530804&amp;postID=1434179245980116578' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136808397578530804/posts/default/1434179245980116578'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136808397578530804/posts/default/1434179245980116578'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endahraharjo.blogspot.com/2012/01/hmmm-magnum.html' title='Hmmm... Magnum!'/><author><name>Endah Raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03645756585023929576</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_z5dbjErpZVE/TPx8pBgqdyI/AAAAAAAAADE/nZS418JdwyI/S220/En-Sketch-Kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-WEGgTxNKhRo/Tw7i9GgckrI/AAAAAAAAANA/FgZK6vEEakE/s72-c/charles-bronson-on-the-se-005.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136808397578530804.post-2724711230942753301</id><published>2012-01-11T10:31:00.000+07:00</published><updated>2012-01-11T10:31:21.405+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ceritaku'/><title type='text'>Pelacur dan Penjual Terompet</title><content type='html'>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-EDGHq2XbO0E/Tw0CIt_SMQI/AAAAAAAAAMw/SIB9j0efavI/s1600/pelacur-penjualtrompet.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="280" src="http://1.bp.blogspot.com/-EDGHq2XbO0E/Tw0CIt_SMQI/AAAAAAAAAMw/SIB9j0efavI/s400/pelacur-penjualtrompet.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Ilustrasi oleh Azam Raharjo&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Wangi aroma hujan menyapa lembut nafas perempuan itu lalu mengalir hingga ke rongga dadanya, menyegarkan paru-parunya.  Di atap derai hujan bertalu-talu terdengar ngilu mengiris hati. Perempuan itu tahu, hujan di awal malam ini tak beda dengan hujan yang turun tengah malam lalu, mengalirkan berkah yang sama ke nadi-nadi bumi. Jatuhnya hujan condong ke barat hingga sebagian rinainya mengetuk-ngetuk permukaan daun jendela kamarnya. Ia buka salah satu daunnya dan perciknya halus mengelus wajah telanjangnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku harus cepat berdandan,” pikir perempuan itu. “Pasti akan banyak pelanggan. Ini malam tahun baru,” selapis doa ia campurkan dalam bedaknya yang ia oleskan tebal-tebal ke pipinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar kamarnya yang sempit, yang terletak paling depan dari rumah yang ia sewa bersama empat sejawatnya, di bawah jendela, seorang penjual terompet sedang berteduh. Sarungnya yang lusuh setengahnya tergulung ke atas memperlihatkan ujung-ujung celana kolor hitamnya yang menyentuh bawah lutut. Puluhan terompet yang memenuhi pikulan ditutupi dengan plastik transparan. Wajah penjual terompet tampak muram. Matanya layu memandangi guyuran hujan. Sesekali mulutnya terlihat komat-kamit. Ia berdoa. Memohon agar Tuhan menghentikan hujan dengan kuasaNya lalu mengguyurinya dengan rejeki melalui terompet-terompetnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hmmm…,” selesai bersolek si pelacur memandangi bayangan dirinya di dalam cermin. Ia puas dengan apa yang dilihatnya. Wajahnya penuh warna. Ia matikan lampu neon yang benderang lalu menyalakan lampu dinding yang temaram. Kakinya yang diganjal high-heels hijau pupus membawa tubuhnya, yang terbalut gaun mini ketat warna kuning, melangkah ke ambang jendela. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah teritisan, si penjual terompet menoleh ke arah jendela karena mencium aroma manis parfum yang terhembus angin hingga ke hidungnya. Dalam sorot redup lampu jalanan yang sinarnya susah payah menembus hujan, mata penjual terompet tampak sedikit membelalak melihat wajah si pelacur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf, Mbak…. Saya cuma nunut neduh sebentar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nggak apa-apa, Pak. Santai aja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari dandanan dan baunya, penjual terompet itu tahu kalau perempuan itu salah satu dari puluhan penjual jasa pemuas nafsu syahwat di kawasan pelacuran itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan menderas. Jalanan melengang. Mobil pun hanya lewat sesekali. Ponsel si pelacur ikut membeku. Diam sejak tadi. Ada beberapa sms masuk dari teman-teman dan keluarganya yang mengucapkan selamat tahun baru. Tahun-tahun sebelumnya, mulai siang, ponselnya sudah berdering berkali-kali. Tiap malam tahun baru perempuan itu biasanya menerima lima atau enam pelanggan. Mulai jam enam sore hingga jam 10 ia akan melayani pelanggan dengan kategori &lt;i&gt;short term&lt;/i&gt;, setelah itu ia akan memilih pelanggan berkantung tebal yang mengajaknya pesta hingga pagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam kecil di atas meja riasnya menunjukkan pukul 7. Pelacur itu mulai gelisah. Sedari tadi, selama hampir satu jam, ia hanya duduk saja di ambang jendela sambil menyandarkan kepala ke salah satu kusennya. Ia berdiri, melongok ke samping kanan. Terlihat penjual terompet yang berjongkok terkantuk-kantuk. Sarungnya diangkat ke atas menutupi tubuhnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelacur itu menjulurkan tangannya dan membiarkan pucuk-pucuk hujan membelai telapaknya. Rasa sejuk menjalar dari ujung jemari ke jantungnya, menenangkan kegundahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sepi ya, Pak,” si pelacur menyapa si penjual terompet. “Jam segini belum ada telpon dari pelanggan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ehh…! Iya…,” si penjual terompet tersentak dari kantuknya. Mukanya menengadah ke arah jendela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah berlapis bedak putih itu tampak suram. Matanya menerawang ke atas menerobos hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin orang-orang milih di rumah dengan keluarga,” gumam si penjual terompet sambil mengusap-usap plastik penutup dagangannya dengan handuk kusam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dengan keluarga…,” si pelacur menirukan. Ia katupkan matanya sambil membayangkan sebuah keluarga bahagia di dalam sebuah rumah entah dimana. Keluarga yang bahagia. Ada ibu. Ada bapak. Ada anak-anak. Bila perlu ada kucing yang meringkuk di bawah kursi. Atau beberapa ikan mas di dalam akuarium kecil bulat. Bayangan di kepalanya pelan-pelan menjalar ke bawah lalu menekan tombol duka di ulu hatinya. Ia menghela nafas panjang sambil membuka mata untuk mengusir impiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Punya keluarga, Pak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Punya, Mbak. Anak saya tiga. Perempuan semua.” Ada sedikit getar tak terdengar, namun terasa, saat penjual terompet itu mengucapkan kata ‘perempuan semua’. Dalam hati, ia berdoa agar anak-anaknya tidak menjual jasa seperti pelacur yang sedang mengajaknya bicara di ambang jendela itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semoga mereka lebih beruntung dari saya,” pelacur itu seakan bisa mendengar bisikan hati si penjual terompet. Teringat ia akan dua adik perempuannya yang kini diasuh oleh keluarga pihak ibunya, nun di sebuah desa di ujung timur pulau Jawa. Teringat ia akan bapaknya yang meninggal terlindas roda-roda truk yang akan ia rampok bersama kawan-kawannya. Teringat ia akan ibunya, yang minggat seminggu setelah bapaknya dikubur. Ibunya itu kini entah ada dimana.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya punya dua adik perempuan.” Pelacur itu menghela nafas. Menghirup partikel-partikel air hujan yang dibawa angin masuk ke kamarnya melalui jendela. “Tiap bulan mereka saya kirimi uang. Mereka tidak tahu pekerjaan saya. Yang penting mereka bisa sekolah dan bahagia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si penjual terompet terbatuk-batuk. Ia merasa bersalah atas pikiran buruknya. Si pelacur menawarinya sebotol kecil air mineral. Satu-satunya yang tersisa di dalam kamar. Setelah berterima kasih isi botol itu ia teguk pelan-pelan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua manusia yang sama-sama menyesali derasnya hujan itu saling diam memandangi hujan. Merenungi nasib mereka di penghujung tahun. Hujan mereda. Satu persatu kendaraan mulai melintas di jalan. Si penjual terompet berdiri sambil melipat sarungnya lalu melingkarkannya di pinggang. Dua tangannya mengibas-ngibaskan percikan air yang membasahi ujung-ujung celana kolor hitamnya. Bersamaan dengan itu, terdengar dering ponsel dari dalam kamar. “Ah, semoga seorang pelanggan akan membeli jasanya,” dalam hati si penjual terompet berdoa untuk si pelacur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hujan reda, Pak.” Si pelacur kembali menengok keluar jendela setelah selesai berbicara melalui ponsel. “Ada pelanggan mau datang, Pak.” Seulas senyum menambah warna-warni di wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Syukurlah, Mbak.” Si penjual terompet bersiap-siap pergi. “Terima kasih minumnya, Mbak. Doakan terompet saya laku semua, ya.” Lelaki tengah baya itu menarik sebuah terompet warna biru mengkilap yang ujung-ujungnya dihiasi rumbai-rumbai kertas keemasan. “Ini buat Mbak. Yang mbikin terompet ini anak-anak saya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aduh, Pak. Nggak usah. Nggak usah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anggap aja ini pengganti air yang tadi saya minum, Mbak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih banyak ya, Pak. Saya doakan kelarisan. Kalau saya punya uang, terompetnya saya bayar.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si penjual terompet tersenyum, memperlihatkan kerut merut di pinggir pipi-pipinya yang coklat tua. Pelan-pelan, ia membungkukkan badan, menelusup di bawah kayu pikulan, di antara timbunan terompet. Dua lengan ia rentangkan ke depan dan belakang. Begitu kayu pikulan itu mapan di pundaknya, ia bediri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepasang mata si pelacur mengikuti dua kaki si penjual terompet yang menapaki trotoar pelan-pelan. Dua keping hati berdoa agar dagangan mereka malam ini kelarisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*** &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136808397578530804-2724711230942753301?l=endahraharjo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endahraharjo.blogspot.com/feeds/2724711230942753301/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2136808397578530804&amp;postID=2724711230942753301' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136808397578530804/posts/default/2724711230942753301'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136808397578530804/posts/default/2724711230942753301'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endahraharjo.blogspot.com/2012/01/pelacur-dan-penjual-terompet.html' title='Pelacur dan Penjual Terompet'/><author><name>Endah Raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03645756585023929576</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_z5dbjErpZVE/TPx8pBgqdyI/AAAAAAAAADE/nZS418JdwyI/S220/En-Sketch-Kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-EDGHq2XbO0E/Tw0CIt_SMQI/AAAAAAAAAMw/SIB9j0efavI/s72-c/pelacur-penjualtrompet.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136808397578530804.post-906393528938672548</id><published>2012-01-06T20:10:00.003+07:00</published><updated>2012-01-06T20:25:13.500+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ceritaku'/><title type='text'>Suatu Pagi di College Park</title><content type='html'>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-mzwQA1rP4h0/Twbxjp-Kv3I/AAAAAAAAAMg/zuFvr_zJz6M/s1600/Feb16-2.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://4.bp.blogspot.com/-mzwQA1rP4h0/Twbxjp-Kv3I/AAAAAAAAAMg/zuFvr_zJz6M/s400/Feb16-2.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;College Park-Winter 2002 oleh Endah Raharjo&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Sambil mengancingkan jaket kulitnya Wulan menengok keluar jendela. Badai salju yang baru saja melanda kawasan Pantai Timur telah membuat semua benda yang tertangkap matanya dilapisi warna putih, sebersih malaikat. Diperkirakan sepanjang minggu ini cuaca tidak akan seekstrim minggu lalu. Arloji di tangan Wulan telah menunjukkan pukul 9.45. Tadi malam dari stasiun radio favoritnya Wulan mendengar pengumuman transportasi umum hari ini mulai pukul 6 pagi telah beroperasi secara normal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima belas menit lagi bis jalur 83 yang menyusuri US Route 1 yang akan ia tumpangi menuju Washington DC tiba di halte dekat apartemennya. Dengan salju setebal itu, ia tak yakin bis akan tiba di halte tepat waktu. Namun Wulan tak ingin berspekulasi. Bila terlambat ia harus menunggu satu jam hingga bis berikutnya datang. Sekali lagi Melalui jendela Wulan melihat termometer warna merah di dinding luar seolah menggigil sambil menunjukkan angka 27 derajat Fahrenheit. Dinginnya bisa ia bayangkan. Apalagi semalam hujan. Sebelum meninggalkan kamar, Wulan meraih topi biru tua dan scarf motif garis warna senada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;i&gt;Take care&lt;/i&gt;, Wulan.” Zhihong menelungkup di atas tempat tidur, melambai dari dalam kamar yang pintunya terbuka memperlihatkan semua isinya. Perempuan dari China itu sedang sibuk menyelesaikan laporan. Rambut lurusnya bertebaran di antara empat buku yang semuanya terbuka. “&lt;i&gt;It’s pretty cold out there… and the sidewalk must be slippery&lt;/i&gt;…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;i&gt;Don’t worry. I’ll be fine… Bye…&lt;/i&gt;” Wulan melemparkan kecupan ke udara dengan tangannya. Zhihong pura-pura menangkapnya dengan tangan kiri lalu menyelipkan kecupan itu di antara halaman buku yang tengah ia baca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wulan mengenakan kacamata hitam sebelum membuka pintu lobi. Ia tak mau putihnya salju mnyilaukan matanya yang penat. Semalam ia hanya tidur tak lebih dari empat jam. Sekali lagi ia memeriksa ikatan tali sepatu, lalu mempererat lilitan scarf. Topi biru penghangat kepalanya telah bertengger manis saat Wulan mendorong salah satu daun pintu yang berat dan lebar itu. Terpaan angin musim dingin terasa menyayat kulit wajahnya, menimbulkan sedikit rasa perih yang ia suka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati-hati Wulan melangkah menyeberangi halaman depan apartemen. Tanpa salju yang menutupi seluruh permukaan trotoar Wulan biasanya hanya perlu waktu lima menit untuk mencapai halte bis. Namun salju yang tebal, yang sebagian mengeras akibat semalam terguyur hujan memperlambat langkahnya. Timbunan salju itu juga licin dan berbahaya. Para penghuni rumah dan pengelola apartemen tampaknya belum sempat menyingkirkan timbunan salju yang menjadi tanggung jawab mereka. &lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Sorry, lady. I am about to start shoveling&lt;/i&gt;!” Seorang lelaki penghuni rumah di sebelah apartemen Wulan berteriak ke arahnya. Di tangan kanan tergenggam sekop. Paduan senyum lebar berbingkai hitam kulitnya, putihnya salju dan merahnya gagang sekop di tangannya terlihat amat indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;i&gt;It’s okay&lt;/i&gt;!” Wulan melempar senyum tanda maklum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;i&gt;Take care and stay warm&lt;/i&gt;!” Teriak si lelaki lagi, melambai dengan tangan kiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wulan berjalan sambil menunduk, mencari-cari salju yang tampak empuk. Para penghuni rumah di kanan-kiri jalan satu persatu mulai keluar dengan sekop di tangan. Seorang lelaki muda dengan jaket biru terang tampak mengerahkan seluruh tenaganya untuk menyingkirkan salju yang mengeras yang menimbuni mobilnya. Seorang lainnya yang memakai topi hijau membersihkan trotoar tak jauh di depan Wulan. Sepatu karet kuning melindungi kaki-kaki mereka hingga ke bawah lutut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru saja Wulan akan mengangkat tangan membalas sapaan mereka ketika ia tergelincir. Terdengar teriakan bertepatan dengan tubuh Wulan yang meluncur lalu terjerembab ke depan. Telapak tangan kanan Wulan tergores salju yang ujung-ujungnya tajam. Darah segar mengalir kemerahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua lelaki yang namanya belum diketahui Wulan namun selalu saling menyapa bila berpapasan itu tergopoh-gopoh menolongnya, memondong tubuhnya ke dalam rumah, lalu mendudukannya di atas sofa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, Tuhan! Lukanya cukup panjang!” Seru si jaket biru sambil menekan telapak tangan Wulan, mencegah agar darah tidak banyak keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu akan baik-baik saja,” hibur lelaki satunya. Topi hijaunya ia lepaskan. Seorang perempuan yang masih mengenakan piyama flannel bermotif bunga muncul dari salah satu kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Momma, tolong ambilkan kotak P3K,” pinta si jaket biru pada ibunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;i&gt;Poor little thing&lt;/i&gt;…” ucap si ibu yang berambut ikal sambil memandangi wajah Wulan. “Kamu akan baik-baik saja. Maafkan kami. Seharusnya kami membersihkan salju itu sejak tadi.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sudah ingatkan kamu, Trent,” perempuan lewat tengah baya yang cantik itu seolah menyalahkan anak lelakinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hati-hati, Marc,”  Trent, lelaki yang lebih muda, yang tadi mengenakan topi hijau, mengingatkan kakaknya yang sedang membersihkan luka Wulan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan kami,” sepasang mata hijau milik Trent menatap mata coklat Wulan dengan penuh penyesalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak apa-apa,” Wulan sedikit meringis, menahan perih ketika cairan betadine mengenai lukanya, “Nama saya Wulan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita harus membawanya ke dokter, Mom,” Marc menutup luka Wulan yang sepanjang empat senti dan tampaknya cukup dalam. Mendengar ucapan kakaknya Trent langsung bangkit dan pergi keluar. Ia membersihkan sisa-sisa salju yang masih menutupi mobil. Sementara di dalam rumah Marc dan ibunya sibuk membebatkan perban ke tangan Wulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mobil sudah bersih,” Trent masuk lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya punya asuransi,” Wulan membiarkan dirinya dituntun keluar oleh Marc. Di pintu Marc melepaskan sepatu karetnya lalu menggantinya dengan salah satu sepatu boot yang berjajar rapi di atas rak dekat pintu. Ia juga menukar jaket birunya dengan jaket suede coklat tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan kuatir, Wulan. Kami akan mengurus semuanya,” ibu Marc mengelus punggung Wulan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar, seorang lelaki yang tinggal di seberang jalan sedang menyeroki salju di trotoar yang tadi membuat Wulan terpeleset. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya akan meneruskan membersihkan salju. Kami tidak ingin ada yang terluka lagi,” Trent menutup pintu mobil setelah Wulan duduk dengan nyaman dan seatbelt-nya terpasang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hati-hati,” si ibu melepas Marc dan Wulan. Dua tangannya terlipat erat di dada menahan hawa dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mobil yang masih sedikit berlapis salju itu melaju pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Zhihong!!!” Wulan memekik keras, mengejutkan &lt;i&gt;roommate&lt;/i&gt;-nya yang tengah menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Wulan berjalan ke dapur. Tangan kirinya menenteng koran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa?” Zhihong meletakkan telur yang baru saja hendak ia pecahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bis jalur 83 mengalami kecelakaan. Lima penumpangnya meninggal, belasan lainnya luka parah. Ini bis yang seharusnya aku tumpangi kemarin pagi.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata Zhihong membelalak. Ia tak tahu harus mengucap syukur untuk Wulan atau mendesah prihatin untuk para korban. Wulan menutup mukanya dengan tangan kanannya yang terbalut perban tebal. Masih dengan spatula di tangan Zhihong mengulurkan lengan untuk memeluk tubuh sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*** &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136808397578530804-906393528938672548?l=endahraharjo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endahraharjo.blogspot.com/feeds/906393528938672548/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2136808397578530804&amp;postID=906393528938672548' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136808397578530804/posts/default/906393528938672548'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136808397578530804/posts/default/906393528938672548'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endahraharjo.blogspot.com/2012/01/suatu-pagi-di-college-park.html' title='Suatu Pagi di College Park'/><author><name>Endah Raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03645756585023929576</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_z5dbjErpZVE/TPx8pBgqdyI/AAAAAAAAADE/nZS418JdwyI/S220/En-Sketch-Kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-mzwQA1rP4h0/Twbxjp-Kv3I/AAAAAAAAAMg/zuFvr_zJz6M/s72-c/Feb16-2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136808397578530804.post-4841531459403143931</id><published>2011-12-28T16:23:00.001+07:00</published><updated>2011-12-28T16:34:51.420+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='J50K'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ceritaku'/><title type='text'>Bapakku, Bapakmu, Bapak Kita</title><content type='html'>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-D_OTk8fDrwo/TvrfACXWyxI/AAAAAAAAAMY/xu9pzW-AvOk/s1600/lulu.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-D_OTk8fDrwo/TvrfACXWyxI/AAAAAAAAAMY/xu9pzW-AvOk/s320/lulu.jpg" width="233" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Lulu oleh Azam Raharjo&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&amp;nbsp;“Siapa coba yang nggak kenal bapakku di kampung ini?” Wajah Lulu bagai siap perang saat teman mainnya, Herman, mengejek nama sang ayah. Dua tangan kurusnya berkecak pinggang. Kaki-kakinya mengangkang. “Bapakku orang penting, tahu!” Kini mata Lulu melotot. Rambut ekor kudanya seolah ikut menegang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Salah sendiri… punya nama kayak gitu…” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Beraninya cuma sama anak perempuan!” sungutnya, memandang anak lelaki berkaus sewarna bunga sepatu itu. “Lihat kausmu itu. &lt;i&gt;Kemayu&lt;/i&gt;!” Lulu menekan kata ‘kemayu’ kuat-kuat. Anak lelaki pasti marah kalau dibilang &lt;i&gt;kemayu&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lulu…” Dari jendela di belakang punggung Lulu terdengar suara perempuan dewasa yang menyiram sejuk tengkuknya. Suara Yu Mugir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Salah sendiri! Dari tadi ngeledekin Bapak. Jauhari… jauhari… jauh di mata dekat di hari…!” Gadis 10 tahun itu mencibirkan bibir menirukan ejekan Herman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku kan udah minta maaf!” protes Herman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Halah! Kemarin juga udah minta maaf. Nyatanya diulangi lagi! &lt;i&gt;Semprul&lt;/i&gt;!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lulu…” Yu Mugir kini tidak hanya mengeluarkan suara, kepalanya ikut menyembul dari jendela. Perempuan itu meletakkan selembar seprei biru langit yang hendak ia pasang di kasur Mimi, adik Lulu. “Jangan begitu. Ndak baik &lt;i&gt;misuh-misuh&lt;/i&gt;, Nanti &lt;i&gt;didukani&lt;/i&gt; Ibu…” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun wajah Lulu berkerut, ia menurut. Hatinya meleleh oleh kata-kata Yu Mugir yang tak pernah bosan mengingatkan bila &lt;i&gt;momongannya&lt;/i&gt; itu berucap sembarangan. Berangsur-angsur cemberut di wajah Lulu menghilang, digantikan senyum tertahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf, ya, Lu…” Herman mengangsurkan tangan kanannya, jempol dan tiga jarinya tergenggam menyisakan kelingkingnya. Pertanda ia ingin berbaikan dengan sahabatnya. “Kamu boleh kok ganti &lt;i&gt;ngenyek&lt;/i&gt; bapakku,” ujar anak lelaki 11 tahun itu malu-malu. Nama ayah Herman lebih sering dipakai sebagai bahan olok-olok oleh teman-temannya karena tak sebagus nama bapak Lulu …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;Ikuti lanjutan ceritanya  di bulan Januari… &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136808397578530804-4841531459403143931?l=endahraharjo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endahraharjo.blogspot.com/feeds/4841531459403143931/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2136808397578530804&amp;postID=4841531459403143931' title='11 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136808397578530804/posts/default/4841531459403143931'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136808397578530804/posts/default/4841531459403143931'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endahraharjo.blogspot.com/2011/12/bapakku-bapakmu-bapak-kita.html' title='Bapakku, Bapakmu, Bapak Kita'/><author><name>Endah Raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03645756585023929576</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_z5dbjErpZVE/TPx8pBgqdyI/AAAAAAAAADE/nZS418JdwyI/S220/En-Sketch-Kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-D_OTk8fDrwo/TvrfACXWyxI/AAAAAAAAAMY/xu9pzW-AvOk/s72-c/lulu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>11</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136808397578530804.post-1972462733961437638</id><published>2011-12-17T11:13:00.002+07:00</published><updated>2011-12-29T19:41:28.295+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='J50K'/><title type='text'>Kumpulan Kisah Masa Kecil</title><content type='html'>Ini dia yang akan menjadi sasaran tembak J50K saya. Sudah lama saya &lt;i&gt;pengin banget&lt;/i&gt; nulis kisah petualangan masa kecil saya. Cuma, yaaa… keinginan suka &lt;i&gt;temangsang&lt;/i&gt; di awang-awang. Maunya cerita ini saya juduli “Merangkai Kisah Masa Kecil”. Namun bisa jadi – seperti biasa - saya berubah pikiran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah ini akan menampilkan tiga gadis cilik, yang pasti semua imut dan cerdas dan ceria. Nama mereka Lulu, Mimi dan Riri. Jaman saya kecil dulu, seabad lalu, yang namanya anak cewek harus &lt;i&gt;gemi-setiti-ati-ati&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;manut-miturut-andap-asor&lt;/i&gt;…. Padahal si Lulu itu bandel setengah mati; suka ngejar lori apa gerobak pengangkut tebu cuma untuk &lt;i&gt;nyuri&lt;/i&gt; sebatang tebu. Si tebu yang malang itu lalu ia potong-potong kecil dengan pisau &lt;i&gt;kethul&lt;/i&gt;, terus disesap airnya sampai tinggal ampasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-EEkALZ6yU9M/Tvrclk5UojI/AAAAAAAAAMM/QbpO6B3Fqm8/s1600/trio.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="297" src="http://1.bp.blogspot.com/-EEkALZ6yU9M/Tvrclk5UojI/AAAAAAAAAMM/QbpO6B3Fqm8/s640/trio.jpg" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Trio Lulu-Mimi-Riri. Ilustrasi oleh Azam Raharjo&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;Mereka bertiga tumbuh di sebuah kampung di Jogja yang tergolong ‘elit’ di masa itu. Namun di dalam kampung itu ada juga keluarga yang tidak berpunya dan mereka suka bermain dengan anak-anak mereka. Di rumah mereka ada beberapa pembantu. Para pembantu ini akan menjadi semacam ‘malaikat penjaga’ bagi si trio imut itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah akan dibangun sekitar petualangan mereka bertiga. Para malaikat penjaga dan anak-anak kampung akan menjadi tokoh-tokoh yang terlibat dalam kisah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu hal yang sulit dalam merangkai kisah ini adalah risetnya. Mengapa? Yaa… karena peristiwa-peristiwanya sudah begitu lama dan banyak hal tidak saya ingat lagi. Misalnya kelereng; saya sungguh lupa harganya sebutir. Atau harga segelas es dawet… ini pasti akan bikin &lt;i&gt;mumet&lt;/i&gt;!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun begitu saya tetap berharap kisah ini akan jadi asyik; nulisnya dan terutama bacanya. Kalau tidak… yaaa… anggap saja saya sedang berusaha &lt;i&gt;nyengget&lt;/i&gt; mimpi yang &lt;i&gt;temangsang&lt;/i&gt; itu tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*** &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136808397578530804-1972462733961437638?l=endahraharjo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endahraharjo.blogspot.com/feeds/1972462733961437638/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2136808397578530804&amp;postID=1972462733961437638' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136808397578530804/posts/default/1972462733961437638'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136808397578530804/posts/default/1972462733961437638'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endahraharjo.blogspot.com/2011/12/kumpulan-kisah-masa-kecil.html' title='Kumpulan Kisah Masa Kecil'/><author><name>Endah Raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03645756585023929576</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_z5dbjErpZVE/TPx8pBgqdyI/AAAAAAAAADE/nZS418JdwyI/S220/En-Sketch-Kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-EEkALZ6yU9M/Tvrclk5UojI/AAAAAAAAAMM/QbpO6B3Fqm8/s72-c/trio.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136808397578530804.post-6299258296485195421</id><published>2011-12-16T13:44:00.003+07:00</published><updated>2011-12-16T21:40:13.912+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='J50K'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ceritaku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='endah raharjo'/><title type='text'>Malaikat Penjaga</title><content type='html'>Kalian di rumah punya pembantu? Aku punya. Sepanjang hidupku yang bisa kuingat, di rumahku selalu ada pembantu. Bahkan waktu aku kecil, kami punya lebih dari satu. &lt;br /&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: right; margin-left: 1em; text-align: right;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-kf3NH9Spfq8/TuroNa-mcBI/AAAAAAAAALg/ijbNfpEHK90/s1600/untitled+2.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-kf3NH9Spfq8/TuroNa-mcBI/AAAAAAAAALg/ijbNfpEHK90/s320/untitled+2.jpg" width="290" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;'Mbok Mangun' oleh Azam Raharjo&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;Ada yang tugasnya khusus memasak dan mencuci, namanya Mbok Mangun. Kok Mbok, sih? Ya, karena di mataku, saat itu, ia tua sekali. Setiap hari ia pakai kain dan kebaya. Badannya, seingatku, besar dan kokoh. Rambutnya selalu digulung cepol seperti umumnya perempuan desa di Jawa. Oh, ya, dia juga suka &lt;i&gt;nginang&lt;/i&gt;. Itu lho, mengunyah daun sirih dicampur &lt;i&gt;injet&lt;/i&gt;. Selepas makan siang, setelah pekerjaannya beres, Mbok Mangun akan duduk di amben besar, di dapur, mengunyah sirih sampai keluar cairan merah sewarna darah. Hiii…, ngeri! Terus, cairan merah itu ia ludahkan ke dalam kaleng bekas susu bubuk, “Cuiihhhh…,” lalu dia usapkan segenggam tembakau ke mulut dan giginya. Bibirnya merah menyala seperti drakula. Kalau sudah begitu, Mbok Mangun betah duduk berlama-lama, sampai terdengar adzan ashar dari masjid. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Luluuuu…! Mimiiii…! Ririii…! Mandiii…!!!” Begitu cara Mbok Mangun memanggil-manggil nama kami kalau kami masih asyik bermain selepas pukul 4 sore. Lulu itu namaku, Riri adikku yang nomer dua dan Mimi adik bungsuku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak semata wayang Mbok Mangun juga tinggal di rumah kami. Namanya Boiman, panggilannya Kebo. Waktu aku kecil, ibuku punya usaha batik, orang-orang menyebutnya juragan batik. Kebo ini salah satu asisten Ibu. Pekerjaannya menyeterika kain-kain batik dan melipatnya dengan rapi sebelum dikirim ke toko-toko di Malioboro. Seterika berisi arang itu besar sekali, melihatnya saja ngeri. Kalau berdiri di dekat seterika itu rasanya seperti berada di depan kompor. Panas sekali. Mungkin itulah sebabnya, Kebo jarang memakai baju. Tubuhnya yang besar – ya, memang seperti kebo – dan kulitnya yang gelap itu hanya ditutupi selembar singlet. Kopiah yang kekecilan selalu nangkring di kepalanya. Ia sering disuruh Ibu menjemputku dan Riri di sekolah dengan sepeda. Kami akan dibonceng berdua. Wah. Bau keringatnya menyengat. Tapi kami tidak berani protes, sebab dia akan menyuruh kami turun lalu pulang berjalan kaki. Tentunya waktu itu Kebo hanya bercanda, meskipun saat itu kami anggap ia sungguh-sungguh dengan ancamannya. &lt;br /&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-9C41x6atlog/TurobnO0BuI/AAAAAAAAALo/3ON9e_gSJmc/s1600/Untitled-1.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-9C41x6atlog/TurobnO0BuI/AAAAAAAAALo/3ON9e_gSJmc/s320/Untitled-1.jpg" width="158" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;'Kebo' oleh Azam Raharjo&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;Nah. Yang ketiga bernama Mugirah. Kami memanggilnya Yu Mugir. Pembantu yang satu ini, sungguh, di mata kami cantik sekali. Kulitnya langsat. Alisnya tebal hitam dan senyumnya manis. Tidak seperti Mbok Mangun, suara Yu Mugir lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau Lulu mandi dulu, Riri dan Mimi pasti juga mau mandi,” begitu caranya membujuk kami untuk mandi sore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau habis keramas, rambutnya yang panjang dan hitam mengkilat itu ia biarkan terurai. Hmmm…, wangi sekali. Yu Mugir, seperti Mbok Mangun, sehari-hari juga memakai kain dan kebaya. Tapi tubuh Yu Mugir langsing dan kebayanya lebih warna-warni. Mungkin karena ia masih muda. Kata Ibu, Yu Mugir itu kembang desa. Ia semacam &lt;i&gt;baby sitter&lt;/i&gt; Mimi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu aku kecil, Mbok Mangun, Kebo dan Yu Mugir adalah malaikat penjaga yang senantiasa melindungi kami meskipun kehadiran mereka tidak begitu aku sadari. Baru bertahun-tahun kemudian ketika mereka sudah pergi, dan aku beranjak dewasa, aku mengerti betapa berartinya peranan mereka dalam membesarkan aku dan adikku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih teringat hingga kini, bagaimana adikku, Mimi, menjerit-jerit karena sehabis menikah Yu Mugir diboyong oleh suaminya keluar dari rumah kami.&lt;br /&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: right; margin-left: 1em; text-align: right;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-Xy-bKwG0zX0/TuropaA75HI/AAAAAAAAALw/rMvtepDZlIE/s1600/untitled+3.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-Xy-bKwG0zX0/TuropaA75HI/AAAAAAAAALw/rMvtepDZlIE/s320/untitled+3.jpg" width="232" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;'Yu Mugir' oleh Azam Raharjo&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;“Aku mau Yu Mugiiir…!!!” Begitu teriakan Mimi. Mukanya sampai jadi biru akibat menangis sepanjang hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yu Mugir pulang ke rumahnya, Sayang,” bujuk Ibu. Tapi Mimi tetap tak bisa menerima. Akhirnya, Yu Mugir kembali lagi ke rumah kami. Kalau malam, setelah Mimi tidur, suaminya menjemput. Pagi-pagi, sebelum Mimi bangun, Yu Mugir sudah datang lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yu Mugir baru benar-benar berhenti merawat Mimi tiga bulan sebelum melahirkan anaknya yang pertama. Aku lupa kapan tepatnya, Mbok Mangun juga harus pulang ke desa karena tak kuat lagi bekerja. Sesekali ia masih menengok kami. Akan halnya Kebo, ia keluar juga karena Ibu memutuskan berhenti jadi juragan batik. Kebo lalu jadi petani. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh sulit melupakan cinta mereka pada keluarga kami dan rasanya jasa mereka tak akan terbalaskan. Mbok Mangun meninggal saat aku sudah duduk di bangku kuliah. Yu Mugir masih hidup hingga kini, namun suaminya meninggal lima tahun lalu karena sakit paru-paru. Anak sulungnya menjadi pegawai bank swasta ternama di Surabaya. Bila Lebaran mereka tak pernah lupa berkunjung ke rumah Ibu, dengan mobil mengkilap, tak beda dengan mobil-mobil kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Kebo sudah bergelar haji dan kini dipanggil kyai.  Kata Mimi, ia datang melayat dan membantu ini-itu ketika Bapak meninggal tujuh tahun lalu. Ia pun menengok Ibu saat rumah keluarga kami sebagian ambruk akibat gempa. Namun aku tidak sempat bertemu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang tadi, kami merayakan ulang tahun Ibu. Kami tengah asyik menikmati kue ketika kudengar ketukan di pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mbak Lulu ya?” Sapanya sewaktu pintu terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya. Bapak siapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kebo, Mbak. Boiman,” senyumnya lebar, memamerkan giginya yang ompong dua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Haaa? Kebo? Ya ampuuun…!” seruku beberapa detik kemudian. Tanpa sungkan, tubuhnya kupeluk dengan sayang. Ia sudah tua. Keringatnya tidak lagi bau. Yang pasti, tubuhnya tidak tampak sebesar dan sekokoh ingatanku. Ia datang untuk mengucapkan selamat ulang tahun pada Ibu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Waaah… kelapa muda!” teriakku menerima seikat kelapa muda dari tangannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini kelapa kopyor, Mbak. Kesukaan Ibu…” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Waaah…!!!” tanpa sadar aku bersorak seperti puluhan tahun lalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata Kebo berbinar. Beberapa butir kelapa kopyor di tangan kananku merayu-rayu minta segera dibelah sementara tangan kiriku  menggandeng lengan Kebo; menuntunnya menemui Ibu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenit kemudian, ruang keluarga pecah oleh hingar bingar sorak dua adikku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Appetiser untuk suguhan &lt;a href="http://gratcianulis.blogspot.com/2011/11/jelang-januari-50k.html#%21/2011/11/jelang-januari-50k.html"&gt;Pesta J50K&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136808397578530804-6299258296485195421?l=endahraharjo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endahraharjo.blogspot.com/feeds/6299258296485195421/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2136808397578530804&amp;postID=6299258296485195421' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136808397578530804/posts/default/6299258296485195421'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136808397578530804/posts/default/6299258296485195421'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endahraharjo.blogspot.com/2011/12/malaikat-penjaga.html' title='Malaikat Penjaga'/><author><name>Endah Raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03645756585023929576</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_z5dbjErpZVE/TPx8pBgqdyI/AAAAAAAAADE/nZS418JdwyI/S220/En-Sketch-Kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-kf3NH9Spfq8/TuroNa-mcBI/AAAAAAAAALg/ijbNfpEHK90/s72-c/untitled+2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136808397578530804.post-6153829483498394415</id><published>2011-12-11T10:17:00.000+07:00</published><updated>2011-12-11T10:17:09.316+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatanku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='haiku'/><title type='text'>Haiku: Drizzle in Snowy December</title><content type='html'>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: right; margin-left: 1em; text-align: right;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-9lXycnQQSNM/TuQgDHqvJ1I/AAAAAAAAALQ/PFYb2JrFjFs/s1600/Haiku-Dec.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://2.bp.blogspot.com/-9lXycnQQSNM/TuQgDHqvJ1I/AAAAAAAAALQ/PFYb2JrFjFs/s400/Haiku-Dec.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Winter of 2002. College Park, MD, USA. Foto oleh Endah Raharjo&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Silvery pale sun&lt;br /&gt;A half open window&lt;br /&gt;Late morning smiles&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serene drizzle&lt;br /&gt;A cup of mint tea &lt;br /&gt;On the kitchen table&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Splashing water&lt;br /&gt;Children’s laughter in a distance&lt;br /&gt;New spirits awaken&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Snowy sidewalk&lt;br /&gt;A couple holding hands&lt;br /&gt;Leaving footprints behind&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sparkles of snow&lt;br /&gt;An old soul running&lt;br /&gt;A young heart waiting&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;December drizzle&lt;br /&gt;Short days long nights&lt;br /&gt;High hopes for a warm heart&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136808397578530804-6153829483498394415?l=endahraharjo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endahraharjo.blogspot.com/feeds/6153829483498394415/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2136808397578530804&amp;postID=6153829483498394415' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136808397578530804/posts/default/6153829483498394415'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136808397578530804/posts/default/6153829483498394415'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endahraharjo.blogspot.com/2011/12/haiku-drizzle-in-snowy-december.html' title='Haiku: Drizzle in Snowy December'/><author><name>Endah Raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03645756585023929576</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_z5dbjErpZVE/TPx8pBgqdyI/AAAAAAAAADE/nZS418JdwyI/S220/En-Sketch-Kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-9lXycnQQSNM/TuQgDHqvJ1I/AAAAAAAAALQ/PFYb2JrFjFs/s72-c/Haiku-Dec.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136808397578530804.post-5320474716482720252</id><published>2011-12-09T21:38:00.000+07:00</published><updated>2011-12-09T21:38:18.694+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ceritaku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='endah raharjo'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='romansa tengah baya'/><title type='text'>Semanis Carrot Cake</title><content type='html'>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-cXgzR7RZbIE/TuIcnXrcxWI/AAAAAAAAALI/DtpZNF_Uhk0/s1600/SEPTEMBER+FLOWERS+CARROT+CAKE+004%25281%2529.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://4.bp.blogspot.com/-cXgzR7RZbIE/TuIcnXrcxWI/AAAAAAAAALI/DtpZNF_Uhk0/s320/SEPTEMBER+FLOWERS+CARROT+CAKE+004%25281%2529.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.betterbaking.com/viewArticle.php?article_id=236"&gt;Sumber ilustrasi&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Kaki-kaki Wulan dengan lincah menapaki eskalator agar lebih cepat sampai ke atas. Dari bawah cuaca pagi itu tampak cerah. Beberapa meter lagi Wulan akan sampai di mulut gerbang Stasiun Metro Dupont Circle.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;“Huffff…! Dingin juga.” Bisik Wulan pada diri sendiri begitu sampai di luar stasiun. Sambil  merapatkan scarf ke lehernya, Wulan melirik arloji di pergelangan tangannya. Wulan tahu kalau ia telah terlambat 5 menit. Perempuan 40 tahun itu melangkah lebar-lebar ke arah kanan. Kaki-kakinya seolah tahu kemana pemiliknya hendak menuju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menyeberang dan beberapa meter berjalan ke arah kanan dari persimpangan, sampailah Wulan ke toko buku itu. Kramerbooks. Salah satu toko buku favoritnya yang terletak di Connecticut Avenue.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya akan menunggu di coffee shop di Kramerbooks. Meja sudut kiri dekat jendela menghadap Q Street,” begitu pesan yang diterima Wulan lewat email dua hari lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ambang pintu Wulan menengok ke kiri, ke arah coffee shop. Di salah satu sudutnya di dekat jendela dilihatnya lelaki itu sedang duduk sambil membaca. Rambut peraknya tampak indah terkena bias-bias sinar matahari musim gugur yang terpantul dari kaca jendela. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba saja Wulan teringat pada pertemuan dan perbincangan pertama mereka.&lt;br /&gt;“Wulan. Satu kata. Saya kira tadinya dua kata. Terdengar seperti nama perempuan China. Empat puluh tahun. Menikah dengan dua anak. Aaaahhh….” Dan laki-laki itu, mentor Wulan, mengembangkan senyum lewat matanya, bukan bibirnya. Indah. Terasa lunak. Bersahabat. Wulan suka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, banyak teman-teman saya di sini mengira itu nama China.” Jawab Wulan dengan sopan. “Wulan itu nama Jawa. Bulan. Moon,” jelasnya.&lt;br /&gt;“Ahhh… moon?” serunya pelan, “Empat puluh tahun? Apakah tidak salah?” Mata si mentor masih tersenyum.&lt;br /&gt;“&lt;i&gt;I’ll take that as a compliment&lt;/i&gt;,” jawab Wulan waktu itu. Bercanda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan mereka segera akrab. Tidak butuh waktu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andrew Reynolds, demikian nama mentor Wulan itu. Duda dengan dua anak perempuan. Dalam usianya yang 61 tahun itu, Andy, demikian orang-orang  menyapanya, termasuk para mahasiswanya, masih tampak keren. Selain tubuhnya tegap, gagah dan sehat, wajahnya mengingatkan Wulan pada Richard Gere. Bila sang bintang itu memotong cepak rambut peraknya dan memakai kaca mata, Andy jadi tampak seperti kembarannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah karena tampangnya itu atau karena hanya kesepian saja akibat jauh dari suami dan dua anaknya, Wulan merasa hangat saat pertama Andy ada di dekatnya. Padahal waktu itu mereka bertemu untuk berbincang tentang rencana kegiatan dan kuliah Wulan. Bukan untuk kencan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya Wulan selalu berusaha keras untuk membentengi hatinya dari terobosan cinta selain yang berasal dari suaminya. Namun kali itu, ketika melihat Andy dengan mata teduhnya yang tersenyum hangat padanya, Wulan seperti tak ingin menutup gerbang bentengnya. Wulan justru membiarkannya sedikit terbuka. Sambil mengintip dan berharap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan begitulah awalnya. Mereka pertama bertemu pada bulan Agustus, saat musim panas sedang terik-teriknya menyengat kota Washington DC. Sebulan berikutnya, Wulan mulai merasa kangen bila dua hari tidak berpapasan di kampus dengan Andy yang matanya senantiasa tersenyum padanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak butuh waktu lama, ketika Oktober tiba, bersama guguran dedaunan Andy muncul di lobby apartemen Wulan sambil membawa setangkai bunga. Untuk persahabatan katanya. Dan sejak itu, mereka membuka alamat email baru khusus untuk saling bertukar pesan-pesan mesra. Wulan dan Andy jatuh cinta.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“May I help you, Ma’am&lt;/i&gt;?” seorang lelaki muda bercelemek coklat muda dengan logo K besar di bagian dada mengagetkan Wulan dari lamunannya.&lt;br /&gt;“Ah…. Saya harus menemui laki-laki itu,” Wulan terperangah dan menunjuk Andy yang masih asyik dengan bukunya. Perempuan bertubuh mungil itu melangkah melalui beberapa meja dan kursi diiringi pelayan yang tadi menyapanya. Scarf batik sutera menari-nari di pundak kanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika tinggal berjarak satu meja, Andy mendongak dan memandangnya. Ah. Matanya itu tersenyum dengan hangat. Rambut peraknya berkilauan mempesona.&lt;br /&gt;“Maaf, terlambat,” Wulan malu, tersipu.&lt;br /&gt;Lelaki itu membantu Wulan melepas jaket dan manyampirkannya ke sandaran kursi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;i&gt;Mint tea? And carrot cake?&lt;/i&gt;” Wajah Andy yang bersih dengan kerutan di sana-sini tampak sedikit gundah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wulan mengangguk. Setelah memberi isyarat pada pelayan, tangan Andy yang kokoh dan buku-buku jarinya menonjol itu menggenggam dua tangan mungil Wulan yang tergolek tak berdaya di atas meja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;i&gt;I don’t want to beat around the bush,&lt;/i&gt; Andy.” Nada bicara Wulan tegas namun suaranya bergetar. “Kita tidak boleh meneruskan hubungan ini. Saya bersuami.” Hanya itu yang keluar dari mulut Wulan karena ia merasa tak ada lagi yang perlu dikatakan. Semua sudah jelas. Andy juga sudah tahu, bahkan sebelum bertemu, ketika ia membaca CV Wulan, salah satu mahasiswa yang dibimbingnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya mengerti, Wulan.” Andy mempererat genggaman tangannya. Mata teduhnya menatap lurus mata coklat Wulan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau usianya telah memasuki masa senja, Andy masih merindukan manisnya cinta. Dan kedatangan Wulan dalam hidupnya yang tiba-tiba telah membuat hatinya merasa muda. Wulan bagaikan hujan yang menyegarkan tandusnya hati Andy yang telah tiga tahun menduda. Tubuhnya, walau mulai menua, masih mendambakan usapan cinta. Perbedaan usia dan budaya telah membuat hubungannya dengan Wulan, yang harus berakhir saat baru berawal, menjadi romantis dan eksotis. Bagai iklim katulistiwa yang menyimpan jutaan pesona di mata seorang Amerika. Namun Andy bisa mengerti. Bila pun tanpa kata-kata, Andy telah tahu apa yang dimaksud Wulan ketika perempuan Jawa itu ingin mengajaknya bicara tentang hubungan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya mengerti, Wulan.” Andy mengulang kata-katanya. “Teh kita hampir dingin.” Andy melepaskan genggaman tangannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelan-pelan mereka menyeruput teh dari cangkir putih bulat yang bibirnya berlapis stainless steel itu. Dalam hening, Wulan dan Andy menikmati manisnya carrot cake, sementara sekelilingnya orang-orang berceloteh dengan ceria. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua keping jiwa dari belahan dunia berbeda yang tersesat dalam rimba cinta itu berusaha keras saling menguatkan lewat sorot mata. Mereka bertatapan lama.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136808397578530804-5320474716482720252?l=endahraharjo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endahraharjo.blogspot.com/feeds/5320474716482720252/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2136808397578530804&amp;postID=5320474716482720252' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136808397578530804/posts/default/5320474716482720252'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136808397578530804/posts/default/5320474716482720252'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endahraharjo.blogspot.com/2011/12/semanis-carrot-cake.html' title='Semanis Carrot Cake'/><author><name>Endah Raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03645756585023929576</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_z5dbjErpZVE/TPx8pBgqdyI/AAAAAAAAADE/nZS418JdwyI/S220/En-Sketch-Kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-cXgzR7RZbIE/TuIcnXrcxWI/AAAAAAAAALI/DtpZNF_Uhk0/s72-c/SEPTEMBER+FLOWERS+CARROT+CAKE+004%25281%2529.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136808397578530804.post-5167718703953311052</id><published>2011-12-05T21:53:00.002+07:00</published><updated>2011-12-05T22:02:15.248+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatanku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fantasi perempuan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='endah raharjo'/><title type='text'>Fantasi Seksual Perempuan</title><content type='html'>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-6KHjvI6DSbg/TtzXY2QoEGI/AAAAAAAAAKo/0WjCxAFk2pM/s1600/essay_16_okeeffe.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-6KHjvI6DSbg/TtzXY2QoEGI/AAAAAAAAAKo/0WjCxAFk2pM/s320/essay_16_okeeffe.jpg" width="305" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.brooklynmuseum.org/eascfa/dinner_party/view_georgia_o_keeffe.php"&gt;"The Dinner Party" karya Judy Chicago&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Benarkah perempuan umumnya tidak memiliki fantasi seksual sebagaimana lelaki? Bagaimana saya tahu kalau saya belum pernah melakukan penelitian mengenai hal ini? Tulisan ringan ini bukanlah jawaban pasti, hanya sekedar menyajikan hasil dari kegiatan saya ngintip sana-sini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, saya mengintip Wikipedia. Katanya fantasi seksual, atau fantasi erotis, adalah fantasi atau rangkaian pikiran yang dapat menimbulkan atau meningkatkan perasaan seksual; atau segala bentuk bayangan yang dapat merangsang seseorang secara seksual dan erotis. Masih kata Wikipedia nih, ya, fantasi seksual pada laki-laki lebih fokus pada bayangan atau gambaran visual dan detil-detil anatomi yang eksplisit sedangkan perempuan cenderung fokus pada hal-hal yang melibatkan perasaan dan kasih sayang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah! Jadi, sampai di sini sudah saya ketahui bahwa perempuan juga suka atau bisa berfantasi. Untuk sampai pada jawaban yang lebih memuaskan saya mencoba mengintip karya-karya para seniman, khususnya lukisan, laki-laki dan perempuan. Mengapa lukisan? Menurut saya, lukisan adalah salah satu representasi yang kuat dari imajinasi, perasaan, pikiran dan gagasan para pelukisnya. Mudah sekali mencari hasil karya pelukis laki-laki yang sesuai dengan kebutuhan ini, tapi tak begitu halnya dengan pelukis perempuan, apalagi pelukis perempuan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: right; margin-left: 1em; text-align: right;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-hU_m1NBa_20/TtzXuiMlgdI/AAAAAAAAAKw/Qa7iP_5nPEo/s1600/kahlo3.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="269" src="http://4.bp.blogspot.com/-hU_m1NBa_20/TtzXuiMlgdI/AAAAAAAAAKw/Qa7iP_5nPEo/s320/kahlo3.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.abcgallery.com/K/kahlo/kahlo3.html"&gt;"My Birth" karya Frida Kahlo&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Untungnya saya salah satu pengagum Frida Kahlo dan Judy Chicago, dua dari sedikit pelukis perempuan yang karya-karyanya menggebrak begitu kuat di dunia seni lukis yang (juga) didominasi oleh lelaki itu. Kebetulan saya punya salah satu buku tentang Judy Chicago yang berisi foto-foto hasil karyanya – lukisan dan porselin -  serta aneka cerita di baliknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata benar dugaan saya. Para pelukis laki-laki secara eksplisit memaparkan fantasi seksual mereka, mulai dari yang lembut hingga yang membuat merinding bulu roma – saking indahnya, liarnya, anehnya sekaligus beraninya. Tengoklah dan bandingkan fantasi lembut &lt;a href="http://www.mcgoodwin.net/pages/otherbooks/ws_romeoandjuliet.html"&gt;Sir Frank Dicksee&lt;/a&gt; yang diilhami oleh kisah abadi Romeo dan Juliet dan fantasi liar &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/File:Dream_of_the_fishermans_wife_hokusai.jpg"&gt;Katsushika Hokusai&lt;/a&gt; yang menghiasi halaman Wikipedia yang berisi referensi tentang fantasi seksual itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan karya-karya Judy Chicago dan Frida Kahlo lebih banyak menyajikan perasaan mereka tentang diri mereka, penderitaan batin dan kegelisahan seksual mereka. Bila mengamati karya-karya Frida, naluri keperempuanan saya ikut menjerit merasakan penderitaan sang artis atas kecelakaan yang meremukkan pinggul dan rahimnya. Karena itu Frida, yang kisah hidupnya difilmkan dengan bintang Salma Hayek, tak bisa punya keturunan. Sementara karya-karya Judy Chicago dalam lukisan maupun porselin dengan beraninya menjelajahi kedahsyatan sekaligus misteri vagina dan klitorisnya. Alat kelamin perempuan itu rupanya bila diperlakukan dengan ‘baik dan benar’ (yang bagaimana lagi ini…), bisa menghasilkan kenikmatan seksual yang luar biasa yang jarang disadari oleh pemiliknya atau para lelaki pada umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-byIXhLGm8DE/TtzaKU3pavI/AAAAAAAAALA/DN7csCEOhxU/s1600/liam-neeson.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-byIXhLGm8DE/TtzaKU3pavI/AAAAAAAAALA/DN7csCEOhxU/s320/liam-neeson.jpg" width="203" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.taringa.net/posts/noticias/2305315/Murio-la-actriz-Natasha-Richardson.html"&gt;Mr. Neeson&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Dari berbagai sumber yang saya baca, baik dari buku maupun internet, pada umumnya diakui bahwa perempuan cenderung meredam, menyembunyikan atau mengingkari fantasi seksual mereka. Salah satu sebabnya mudah diduga, konstruksi sosial yang memposisikan (baca: menuntut) perempuan sebagai pribadi yang (harus) lebih alim dan lebih santun serta lebih mampu menjaga norma-norma daripada pasangannya, sang lelaki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situasi  yang secara luas kemudian dianggap sebagai fakta tersebut sebenarnya bukanlah keadaan yang sesungguhnya, hanya kenyataan semu belaka. Sebab diakui atau tidak, disembunyikan atau diumbar, perempuan juga punya fantasi seksual. Dalam tulisan ini dijabarkan minimal ada &lt;a href="http://www.healthyplace.com/sex/psychology-of-sex/womens-top-ten-sexual-fantasies/menu-id-1482/"&gt;10 macam fantasi seksual&lt;/a&gt; yang jadi favorit para perempuan. Benarkah hanya 10 saja? Sudah saya tulisakan &lt;i&gt;&lt;b&gt;‘minimal’ &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tulisan ini juga saya pajang gambar Liam Neeson, yang di mata saya merupakan salah satu lelaki paling sexy di dunia. Apakah saya suka berfantasi tentang bintang asal Irlandia yang berusia 58 tahun itu? Suami saya, untungnya, tidak pernah bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*** &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136808397578530804-5167718703953311052?l=endahraharjo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endahraharjo.blogspot.com/feeds/5167718703953311052/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2136808397578530804&amp;postID=5167718703953311052' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136808397578530804/posts/default/5167718703953311052'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136808397578530804/posts/default/5167718703953311052'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endahraharjo.blogspot.com/2011/12/fantasi-seksual-perempuan.html' title='Fantasi Seksual Perempuan'/><author><name>Endah Raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03645756585023929576</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_z5dbjErpZVE/TPx8pBgqdyI/AAAAAAAAADE/nZS418JdwyI/S220/En-Sketch-Kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-6KHjvI6DSbg/TtzXY2QoEGI/AAAAAAAAAKo/0WjCxAFk2pM/s72-c/essay_16_okeeffe.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136808397578530804.post-8186672082239735635</id><published>2011-12-03T21:01:00.002+07:00</published><updated>2011-12-03T22:59:08.265+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatanku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dark tourism'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='endah raharjo'/><title type='text'>Dark Tourism</title><content type='html'>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-I3eVBBkXf-E/Ttoq4ZK2ELI/AAAAAAAAAKQ/OrmM3ueIVT4/s1600/poland2800.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://1.bp.blogspot.com/-I3eVBBkXf-E/Ttoq4ZK2ELI/AAAAAAAAAKQ/OrmM3ueIVT4/s320/poland2800.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.talkphotography.co.uk/forums/showthread.php?t=95775"&gt;Sumber Foto&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Meskipun orang senantiasa berharap terjauh dari segala penderitaan dan marabahaya, rupanya banyak yang suka kalau hanya sekedar melihatnya. Kira-kira, sisi gelap dari perjalanan hidup manusia itulah yang mendorong orang menikmati dark tourism. &lt;br /&gt;Wikipedia mendefinisikan dark tourism sebagai wisata yang melibatkan perjalanan yang berkaitan dengan kematian dan penderitaan. Dalam prakteknya, makna kematian dan penderitaan itu meluas hingga ke peristiwa bencana, lokasi-lokasi yang dianggap angker dan berbahaya, benda-benda yang dianggap memiliki kekuatan super dan magis, bahkan konflik berkepanjangan dan perang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-z9WilW-ThlQ/Ttook1_LrgI/AAAAAAAAAJ4/sFoOUmAYkcI/s1600/Ground+Zero1.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://2.bp.blogspot.com/-z9WilW-ThlQ/Ttook1_LrgI/AAAAAAAAAJ4/sFoOUmAYkcI/s320/Ground+Zero1.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Ground Zero, NYC, AS - Winter 2002. Foto: Endah Raharjo&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Salah satu situs untuk dark tourism yang paling terkenal di dunia adalah bekas kamp konsentrasi Auswitch. Tempat ini kabarnya pada tahun 2009 saja menyedot sekitar 1,3 juta pengunjung dari seluruh penjuru dunia. Untuk mancanegara, selain Auswitch, bekas lokasi Menara Kembar di pusat kota New York, yang dikenal dengan Ground Zero, juga merupakan salah satu yang cukup populer bagi para wisatawan. Tidak hanya itu, ada orang yang tega datang ke Jalur Gaza dalam rangka perjalanan wisata semacam ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beragam alasan mengapa orang ingin mengunjungi tempat-tempat yang menyimpan sejarah atau cerita kelam yang mendirikan bulu roma itu. Salah satunya adalah rasa ingin tahu atau penasaran. Banyak orang ingin melihat dan merasakan sendiri suatu bencana, sebuah tragedi atau bahkan teror yang pernah dialami oleh orang lain di masa lalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: right; margin-left: 1em; text-align: right;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-rRRfpkOH2FI/TtopH2LMPdI/AAAAAAAAAKA/nPg9e3FhCyI/s1600/Merapi-3.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://4.bp.blogspot.com/-rRRfpkOH2FI/TtopH2LMPdI/AAAAAAAAAKA/nPg9e3FhCyI/s320/Merapi-3.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Parkir mobil wisatawan di lereng Merapi. Foto Endah Raharjo&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Beberapa tahun terakhir ini sejak tragedi tsunami yang menghancurkan Aceh yang disusul dengan rangkaian gempa bumi yang mengguncang ibu pertiwi, orang tak segan-segan untuk melihat langsung kematian dan kehancuran yang terjadi. Bukan rahasia bahwa antara awal 2005 hingga kini, ada orang datang ke Aceh sekedar untuk melihat langsung malapetaka tsunami yang merenggut nyawa ratusan ribu warganya itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula dengan gempa bumi Jogja yang terjadi akhir Mei 2006. Selama sebulan sejak gempa terjadi, lalu lintas menuju Kabupaten Bantul, wilayah yang paling parah, setiap hari macet total saking banyaknya orang yang - selain membantu - ingin membuktikan sendiri kedahsyatan bencana yang merobohkan ribuan bangunan itu. Tak beda dengan peristiwa meletusnya Gunung Merapi. Saat ini, sebagian besar wisatawan yang datang ke Jogja tak akan melewatkan kunjungan ke lereng atas Merapi, khususnya Dusun Kinahrejo, untuk melihat dengan mata-kepala sendiri, betapa mengerikannya akibat muntahan lava dan awan panas salah satu gunung berapi teraktif di dunia itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu obyek dark tourism di Indonesia yang belum berhenti menuai kontroversi adalah tragedi Lumpur  Lapindo. Menurut kabar, selain jembatan baru Suramadu, wilayah yang terkubur lumpur itu menjadi salah satu tujuan favorit para wisatawan yang beranjangsana ke Jawa Timur. Memang menyedihkan, tapi itulah kenyataan. Tidak ada yang bisa meramal kapan bencana lingkungan yang menyengsarakan ribuan orang ini akan berakhir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: right; margin-left: 1em; text-align: right;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-GTnhxVOr4_w/TtopiEzx87I/AAAAAAAAAKI/687iaW12Zes/s1600/Lapindo-1.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://2.bp.blogspot.com/-GTnhxVOr4_w/TtopiEzx87I/AAAAAAAAAKI/687iaW12Zes/s320/Lapindo-1.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Kampung yang terkubur lumpur Lapindo. Foto: Wing Raharjo&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Sementara obyek dark tourism lainnya yang juga sering ditayangkan di TV, dan pernah dipakai sebagai setting sebuah film, adalah Lawang Sewu yang terletak di Semarang. Bangunan yang telah berusia lebih dari 180 tahun ini memiliki sejarah panjang dari jaman penjajahan Belanda hingga Jepang. Setelah Indonesia merdeka, gedung ini pernah pula dipakai sebgai kantor PT. Kereta Api. Kini gedung kosong yang dianggap angker dan ‘berpenghuni’ itu telah dinobatkan sebagai bangunan kuno dan bersejarah yang dikuatkan dengan Surat Keputusan Pemkot Semarang.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam skala mikro, keris-keris dan aneka senjata yang dianggap bertuah yang konon masih tersimpan di keraton-keraton di Jawa, khususnya Jogja, juga bisa dimasukkan dalam kategori ini. Barang-barang yang sulit ditaksir nilainya itu sesekali dipamerkan juga. Termasuk dalam kategori lokal ini adalah Museum Taman Prasasti di Jakarta, dimana jenazah Soe Hok Gie yang meninggal dalam usia teramat muda itu dibaringkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak heran bila di lokasi runtuhnya Jembatan Kutai Kartanegara yang menghubungkan Tenggarong dan Tenggarong Seberang itu konon sudah banyak didatangi para pedagang; mereka proaktif menyambut para wisatawan.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*** &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136808397578530804-8186672082239735635?l=endahraharjo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endahraharjo.blogspot.com/feeds/8186672082239735635/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2136808397578530804&amp;postID=8186672082239735635' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136808397578530804/posts/default/8186672082239735635'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136808397578530804/posts/default/8186672082239735635'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endahraharjo.blogspot.com/2011/12/dark-tourism.html' title='Dark Tourism'/><author><name>Endah Raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03645756585023929576</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_z5dbjErpZVE/TPx8pBgqdyI/AAAAAAAAADE/nZS418JdwyI/S220/En-Sketch-Kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-I3eVBBkXf-E/Ttoq4ZK2ELI/AAAAAAAAAKQ/OrmM3ueIVT4/s72-c/poland2800.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136808397578530804.post-5100273912607257302</id><published>2011-12-02T17:42:00.001+07:00</published><updated>2011-12-02T18:11:17.401+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ceritaku'/><title type='text'>Buah Rahim</title><content type='html'>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-ALwDLsEATYo/TtiphQROidI/AAAAAAAAAJo/azWCTAxpXBs/s1600/stock-photo-embryo-in-amniotic-sac-illustration-68728480.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="290" src="http://1.bp.blogspot.com/-ALwDLsEATYo/TtiphQROidI/AAAAAAAAAJo/azWCTAxpXBs/s320/stock-photo-embryo-in-amniotic-sac-illustration-68728480.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.shutterstock.com/pic-68728480/stock-photo-embryo-in-amniotic-sac-illustration.html"&gt;Sumber Ilustrasi&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Septi membuka jendela kamar tidur lebar-lebar. Aroma khas tanah dan rumput berembun segera tercium begitu ia menghirup udara kuat-kuat. Dibiarkannya kesegaran pagi masuk melalui dua lubang hidungnya, menuju paru-parunya, dan menyegarkan setiap sel dalam tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Matahari yang sama. Rumput yang sama. Pagi yang baru,” bisiknya pada diri sendiri sambil memandang keluar jendela, membiarkan wajahnya dibelai sejuknya angin pagi. Dua tangannya lincah menyibak rambut panjangnya ke belakang, menggulungnya ke atas, membentuk sanggul kecil yang manis. Leher jenjangnya tertimpa bias sinar lampu teritisan yang masih menyala, membentuk siluet yang eksotis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Udah bangun, ya?” Ketukan pelan diikuti suara Febri terdengar dari balik pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah Septi menyembul begitu pintu terbuka, menyajikan senyuman pagi yang sangat dikenal Febri. Wajah manis yang mulai dihiasi sedikit keriput lembut di sekitar matanya. Keriput yang kentara ketika adiknya itu tersenyum, menandai kematangan pribadinya dan menambah kekuatan karakter pada wajahnya yang berdahi tinggi, bermata serupa biji almon yang besar, dan berbibir penuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semua sudah di sini?” Febri bertanya, tangannya menepuk-nepuk sebuah koper kulit hitam besar di atas sofa merah bata. Septi mengangguk pasti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku udah mandi, lho. Tinggal ganti baju. Kita berangkat lebih awal dan sarapan di bandara saja,” kata Febri lagi sambil matanya mengikuti kaki telanjang adiknya yang berjingkat-jingkat menuju kamar mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu ini Septi tidak banyak bicara. Febri juga tidak yakin apa masih ada lagi yang perlu dibicarakan yang akan mengubah ketetapan hati Septi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu yakin tidak akan menyesal nanti kalau kamu benar-benar hamil?” Tanya Febri seminggu yang lalu ketika ia baru saja tiba di rumah Septi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku mau punya anak, Mbak. Aku mau mewujudkan mimpi Ibu,” kata Septi dengan serius. “Kalau laki-laki bisa menebar benihnya di rahim perempuan mana saja ia mau, kenapa perempuan tidak bisa menanami sendiri rahimnya dengan benih yang ia mau?” Suara Septi terdengar sangat tajam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Febri hanya bisa menarik nafas dalam-dalam mendengar jawaban adiknya. Sejak itu Febri tidak lagi menanyakan hal-hal prinsip. Ia tak ingin memancing bara amarah yang sudah padam. Ia memilih membantu mengurus hal-hal teknis seputar rencana keberangkatan adiknya ke San Francisco. &lt;br /&gt;Selama seminggu Febri membantu mengepak barang-barang Septi dan memisah-misahnya menjadi tiga, yang mau diberikan ke saudara sepupu dan teman-teman Septi, yang mau ia bawa ke rumahnya sendiri, dan yang ditinggal di rumah itu sebagai bonus untuk keluarga yang membeli rumah Septi. &lt;br /&gt;Febri bisa mengerti kalau Septi berubah menjadi demikian keras hati sejak bercerai dari suaminya sepuluh tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Septi tengah menyelesaikan pendidikannya di sebuah perguruan tinggi di Amerika ketika dia menerima kabar bahwa suaminya menghamili perempuan lain. Perempuan yang sering diajak suaminya keluar malam setelah Septi pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu pergi terlalu lama! Aku kesepian! Ngerti nggak?” Hardik suaminya ketika Septi berusaha meminta penjelasan melalui telepon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan entah bagaimana kejadiannya, perempuan yang tidak pernah dikenal Septi itu akhirnya memutuskan untuk menggugurkan saja kandungannya dan menghilang dari kehidupan suaminya. Septi berusaha keras untuk memaafkan suaminya dan menenggelamakan diri dalam buku-buku dan tugas-tugas yang menghujaninya setiap minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kejadian buruk itu berulang hanya dalam waktu tiga bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku mau punya anak! Aku butuh istri! Aku nggak mau nunggu kamu!” Hardikan itu kembali menghantam gendang telinga Septi ketika ia ingin memahami perbuatan suaminya. &lt;br /&gt;Septi bingung karena disalahkan atas perilaku suaminya. Sebelum berangkat ke Amerika, Septi sudah mencari sebanyak mungkin informasi kalau-kalau suaminya mau diajak pergi. Kata teman-temannya, beasiswa yang diterima Septi cukup untuk hidup berdua dengan suami, asal mau hemat. Apalagi suaminya punya kemahiran bermain musik yang diakui banyak orang. Bisa saja dia manggung di kelab-kelab kecil dengan bayaran minimum atau bekerja sebagai pencuci piring atau yang sejenisnya, seperti yang dilakukan banyak mahasiswa yang membawa keluarganya. Tapi suaminya menolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku harus ninggalin kerjaanku? Ikut kamu? Jangan ngawur!” Bentakan itu keras sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun dengan hati berat Septi pergi juga. Kala itu ia berharap suaminya akan menyusul sebulan atau dua bulan kemudian. Tapi harapannya sia-sia. Sejak itu, hardikan demi hardikan rutin ia dengar setiap kali ia menelpon ke rumah untuk berkabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepulang dari Amerika Septi segera bercerai dari suaminya. Septi meminta agar suaminya bertanggung jawab atas anaknya. Buah dari benih yang ia taburkan ke rahim perempuan muda yang bekerja sebagai kasir di kelab tempatnya bermain musik setiap malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Septi memilih hidup sendiri. Meniti karirnya dengan serius. Ketika bapaknya meninggal, ia tinggal serumah lagi dengan ibunya. Bertahun-tahun waktunya ia habiskan untuk pekerjaan dan mendampingi sang bunda. Dua tiga kali dalam setahun Septi bertugas ke luar negeri. Kesendiriannya membuatnya mandiri dan sigap dalam menghadapi persoalan hidup. Karakter maskulinnya terasah dan terpancar dari sorot matanya dibalik penampilannya yang feminin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah ia dua kali mencoba menjalin hubungan dengan laki-laki yang telah mapan. Namun keduanya gagal karena alasan yang sama. Mereka meminta Septi meninggalkan pekerjaannya untuk pindah ke kota lain tempat mereka bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu harus mengubah pendirianmu kalau mau menikah lagi,” begitu nasihat ibunya selalu. Namun Septi tidak pernah mengubah pendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu ingin kamu bahagia, Septi. Seperti Febri.” Pinta ibunya ketika ia merasa hari-harinya sudah akan berakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku bukan Mbak Febri, Bu. Aku bahagia hidup dengan caraku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu ingin punya cucu dari kamu. Ibu ingin kamu merasakan nikmatnya mengandung janin di dalam rahimmu, Septi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkali-kali, ketika penyakit kanker hati semakin melemahkan tubuhnya, ibunya berpesan pada Febri agar membujuk Septi untuk segera menikah dan memberinya cucu. Sebelum Septi sempat menemukan pasangan, apalagi memberi cucu, ibunya menghembuskan nafas terakhir di pangkuannya. Sambil menabur genggaman tanah terakhir di atas pusara ibunya, di sela-sela doa, Septi berjanji akan memenuhi permintaan sang ibu. &lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Katanya mau ganti baju? Kok malah ngelamun?” Percikan air dari rambut basah Septi yang baru keluar dari kamar mandi mengagetkan Febri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah! Cuma ingat mendiang bapak dan ibu.” Febri beranjak dari kursi dan berganti baju. Sebentar kemudian ia membantu mengeringkan rambut Septi sementara adiknya itu mengatur ulang isi tas cangklongnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan mau terbelenggu masa lalu, Mbak. Bapak dan ibu sudah bahagia di surga. Kita punya dunia sendiri. Saat ini.” Kata Septi. “Dunia ada di genggaman kita kan?” Lanjut Septi ceria sambil memasukkan blackberry ke dalam saku luar tasnya. “Dan di pangkuan kita,” tambahnya sambil menjejalkan laptop ke dalam tas. Senyum Septi terkembang manis sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Febri terharu melihat senyum yang akan dirindukannya itu. Diletakkannya pengering rambut dan dipeluknya tubuh adiknya. “Aku khawatir, Septi,” bisik Febri dengan suara hampir menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan. Jangan khawatir.” Septi menatap kedua mata kakaknya yang memancarkan rasa khawatir. Kakaknya yang menikmati hidupnya dan sukses sebagai ibu rumah tangga itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mbak tahu kan, semua sudah aku pikirkan sejak ibu meninggal. Tabunganku udah banyak. Ditambah uang warisan dan hasil penjualan rumahku. Aku bisa hidup di sana selama setahun tanpa kerja. Teman-temanku banyak. Aku juga akan segera cari visa kerja,” jelas Septi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi San Francisco itu jauh sekali, Septi. Kalau aku kangen bagaimana?” Febri mencoba melucu. Dia tahu adiknya punya banyak teman di sana. Ia juga tahu, Septi akan bisa mencari pekerjaan dengan kemahirannya berbicara dan menulis dalam empat bahasa dan pengalaman kerjanya di dunia internasional selama ini. Suami Febri, Mas Anung, juga meyakinkannya bahwa perempuan sepintar, sekuat dan semandiri Septi bisa hidup dimana saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Febri khawatir akan masa depan Septi dan anaknya yang akan lahir tanpa bapak. Ia tidak bisa membayangkan bila keponakannya kelak tahu bahwa ia lahir karena donor sperma. Selama dua tahun berkali-kali Febri meminta Septi untuk berpikir ulang. Untuk menikah saja, bila perlu setelah hamil Septi minta cerai. Atau menjadi istri kedua asal bisa hamil dan punya anak. Septi menolak mentah-mentah permintaan Febri. Katanya semua itu pilihan yang buruk, karena membawa dampak yang lebih panjang, salah-salah bisa menyakiti banyak orang. Menurutnya, langkah yang sudah ia pilih itu hanya akan melibatkan dirinya dan anaknya. Dan Septi yakin dirinya akan mampu mendidik anaknya dengan cara yang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau banyak perempuan bisa melakukannya, dan mereka bahagia, mengapa saya harus ragu?” Tegas Septi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun bukan hanya itu saja yang dikhawatirkan Febri. Ia yakin, akan ada tekanan dan cemoohan dari keluarga besarnya bila mereka nanti tahu keputusan yang telah dipilih adiknya. Mereka pasti akan menuduh Septi telah melanggar aturan agama. Namun Septi berkeras. Septi juga sudah bertekad untuk tidak tinggal di Indonesia bila situasi memaksanya begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tuhan menciptakan bumi begini luasnya. Kalau orang-orang yang mengaku sebagai keluarga tidak bisa menerima pilihanku, masih ada banyak teman yang bersedia menjadi keluargaku, Mbak.” Septi yakin sekali dengan kata-katanya. “Nanti kamu nengok kalau aku melahirkan, ya. Aku kirimi tiket. Atau minta Mas Anung.” Septi mencubit pipi kakaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anakmu kira-kira akan kayak siapa ya? Kamu atau bapaknya? Kamu sudah punya pilihan calon donor kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sudah mantap dengan tiga calon donor. Tapi nanti saja aku milih setelah di sana. Campuran Vietnam dan Perancis, campuran Turki dan Irlandia, dan campuran Jepang dan Italia.” Septi membuka tas cangklongnya. Mengambil beberapa lembar kertas dari kumpulan dokumen yang dibendel rapi. &lt;br /&gt;Febri membaca sekilas profil tiga laki-laki pendonor sperma yang akan dipilih Septi sesampainya di San Francisco, tempat adiknya akan membeli sperma di salah satu bank sperma terbesar dan tertua. Walaupun Septi telah menjelaskan pada Febri tentang semua hal-hal teknis, ia masih saja ternganga mendapati kenyataan adiknya akan mengijinkan rahimnya dibuahi oleh sperma milik seorang laki-laki yang hanya disebut dengan kode dan angka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku memilih donor yang punya program yang mengijinkan aku dan anakku menghubunginya. Suatu saat. Khususnya setelah anakku berusia 18 tahun. Jadi anakku akan tahu siapa bapaknya. Anakku juga akan tahu siapa saja saudara seayahnya kalau-kalau donor yang aku pilih juga dipilih oleh perempuan lain.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Febri takjub memandang adiknya yang tampak telah siap dengan semua kemungkinan yang akan ia hadapi di masa depan. Selama dua tahun Septi melakukan riset dan memantapkan hati untuk menjalankan niatnya itu. Sebenarnya bisa saja Septi melakukannya di Singapore atau China yang tidak jauh dan biayanya relatif lebih murah, tapi di negeri itu ia tidak punya teman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibantu teman-temannya di Amerika dan setelah berkonsultasi dengan sebuah bank sperma yang berkualitas yang dilengkapi dengan klinik dan layanan konsultasi jarak jauh, Septi memutuskan untuk menanam benih di rahimnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pasti aku akan kasih kabar terus, Mbak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Janji ya. Kita Skype tiap hari ya!” ujar Febri sambil menyisiri rambut adiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Septi meraih tangan Febri. Digenggamnya tangan kakaknya kuat-kuat. Ia sadar telah memilih cara yang tidak biasa. Cara yang dianggap menyimpang oleh sebagian besar orang. Namun ia juga telah mengalami kegagalan dan merasakan pahitnya cara biasa yang dulu ia lakoni ketika bersuami. Septi tidak akan menoleh ke belakang. Ia menatap mantap ke depan. Ia ingin memiliki dan membesarkan anak yang merupakan buah dari rahimnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Febri dan Septi saling bertatapan dalam diam. Bahkan sebelum keduanya benar-benar berpisah di bandara, kakak beradik itu lama berpelukan sampai bunyi klakson taksi yang berhenti di depan rumah mengagetkan mereka. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Ngaglik, April 2010&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Dipersembahkan untuk Mila Kasalica dan Cai Yiping, dua sahabatku yang jauh, yang tak henti-henti memberi inspirasi.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136808397578530804-5100273912607257302?l=endahraharjo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endahraharjo.blogspot.com/feeds/5100273912607257302/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2136808397578530804&amp;postID=5100273912607257302' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136808397578530804/posts/default/5100273912607257302'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136808397578530804/posts/default/5100273912607257302'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endahraharjo.blogspot.com/2011/12/buah-rahim.html' title='Buah Rahim'/><author><name>Endah Raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03645756585023929576</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_z5dbjErpZVE/TPx8pBgqdyI/AAAAAAAAADE/nZS418JdwyI/S220/En-Sketch-Kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-ALwDLsEATYo/TtiphQROidI/AAAAAAAAAJo/azWCTAxpXBs/s72-c/stock-photo-embryo-in-amniotic-sac-illustration-68728480.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136808397578530804.post-6320812920537532680</id><published>2011-07-01T13:20:00.001+07:00</published><updated>2011-11-29T17:55:14.528+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perjalananku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='concubine lane'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ipoh malaysia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='endah raharjo'/><title type='text'>Ipoh: Mengintip Rumah Para Gundik</title><content type='html'>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-UJxUggvPkqU/Tg1ieGX8grI/AAAAAAAAAH0/JEkbUbhBAJg/s1600/Ipoh-Blog-5.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="179" src="http://3.bp.blogspot.com/-UJxUggvPkqU/Tg1ieGX8grI/AAAAAAAAAH0/JEkbUbhBAJg/s320/Ipoh-Blog-5.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Salah satu sayap Stasiun Ipoh&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Duduk di jok belakang mobil yang dikendarai pelan-pelan, sepasang mata saya terpaku pada bangunan-bangunan tua yang berjajar di kiri-kanan jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Endah, &lt;i&gt;are you listening&lt;/i&gt;?” tanya team leader saya, yang duduk di samping saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;i&gt;Yes, of course&lt;/i&gt;…” jawab saya, berbohong. Sebenarnya telinga saya tidak mendengar arahan yang ia berikan untuk wawancara yang harus saya lakukan, karena otak saya dikuasai hasrat mencari waktu luang guna mengambil foto bangunan-bangunan tua yang menarik perhatian saya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena padatnya acara, sebelum berangkat ke Ipoh, saya tidak punya waktu untuk mempelajari ibukota negara bagian Perak, Malaysia, ini. Sesampai di sana dan keluar dari stasiun, baru saya tahu kalau kota ini memiliki kawasan Kota Tua yang mempesona. Stasiun kereta api yang bangunannya bergaya arsitektur Neoclassical itu merupakan salah satu landmark-nya. Saya menyesal. Andai saya tahu lebih dulu, pasti saya akan berangkat dengan kereta paling pagi, agar punya waktu lebih banyak untuk menikmatinya, sebelum dan sesudah menunaikan tugas di kota berpenduduk sekitar 700 ribu jiwa itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: right; margin-left: 1em; text-align: right;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-X33M0riQhkM/Tg1jQKKV0SI/AAAAAAAAAH4/a0u4jPJGNAI/s1600/Ipoh-Blog-4.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="179" src="http://1.bp.blogspot.com/-X33M0riQhkM/Tg1jQKKV0SI/AAAAAAAAAH4/a0u4jPJGNAI/s320/Ipoh-Blog-4.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Bagian dalam Stasiun Ipoh&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Setelah tugas usai, saya hanya punya waktu 4 jam hingga saatnya kembali lagi ke Kuala Lumpur dengan kereta listrik (ETS – Electric Train Service) terakhir yang meninggalkan stasiun Ipoh pukul 18.30. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bulan Juni, cuaca di kota terbesar keempat di Malaysia yang kira-kira sejauh 2 jam perjalanan dengan ETS dari Kuala Lumpur ini panas dan sangat lembab, hingga baju serasa lengket di badan. Untung setiap kali bertugas di lapangan saya gemar memakai tank top di bawah blus. Cara ini cukup efektif; di cuaca lembab yang panas tank top akan menyerap keringat sedangkan bila suhu menjadi dingin, si tank top siap membantu menghangatkan badan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan lagak fotografer professional – yang cuma menenteng kamera digital poket – selepas makan siang, sekitar pukul 14.30, di bawah terik matahari, sambil menghirup oksigen dari udara yang kelembabannya sangat tinggi, saya berjalan keliling kawasan Kota Tua. Jepret sana. Jepret sini. Sesekali menyeka keringat di wajah dengan tisu. Maksud hati berjalan santai tak terpenuhi karena dikejar waktu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-6Z40KOi_F0Q/Tg1jg0eqELI/AAAAAAAAAH8/RTYdq-JjO8k/s1600/Ipoh-Blog-1.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="179" src="http://4.bp.blogspot.com/-6Z40KOi_F0Q/Tg1jg0eqELI/AAAAAAAAAH8/RTYdq-JjO8k/s320/Ipoh-Blog-1.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Concubine Lane&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Dalam brosur yang saya comot di Tourist Information Center, yang terletak sekitar 10 menit jalan kaki dari stasiun kereta api, disebutkan di kawasan Kota Tua terdapat 24 bangunan bersejarah yang layak dikunjungi. Bangunan-bangunan itu berlanggam arsitektur hybrid – ini istilah saya - campuran antara Neoclassical, China, Mogul, Melayu dan Gothic. Di brosur disebutkan ada beberapa bangunan bergaya Renaissance Itali.  Saya tidak punya cukup waktu untuk benar-benar mengamati. Yang pasti, langgam-langgam arsitektur tersebut diperkenalkan oleh Pemerintah Inggris – dikenal sebagai arsitektur British Colonial - ketika mereka menduduki Malaysia dan membangun gedung-gedung megah di negeri tetangga itu; seperti corak ragam arsitektur Kolonial Belanda yang terlihat di ratusan bangunan tua di berbagai kota besar Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-vK-Zkr4V3vU/Tg1k5qZolfI/AAAAAAAAAII/-YybHOiyrrI/s1600/Ipoh-Blog-6.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="179" src="http://2.bp.blogspot.com/-vK-Zkr4V3vU/Tg1k5qZolfI/AAAAAAAAAII/-YybHOiyrrI/s320/Ipoh-Blog-6.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Rumah yang masih dihuni - Concubine Lane&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Nah. Bicara soal jaman kolonial itu, yang bagi beberapa kalangan cukup sensitif bahkan bisa menyakitkan, supir peranakan India yang mengantar kami sana-sini bercerita tentang beberapa keputusan penguasa Ipoh yang menurutnya aneh. Apa, sih? Mereka mengubah nama-nama jalan, dari nama beraroma ‘penjajah’ menjadi nama-nama lokal. Misalnya Belfield Street, yang merupakan jalan utama di pusat bisnis Ipoh, diganti menjadi Jalan Sultan Yussuf; atau Hugh Low Street diubah menjadi Jalan Sultan Iskandar. Ya. Begitulah. Kadang kita – maksudnya saya – juga ingin melupakan sejarah yang getir… yang dikenang maunya yang manis-manis saja…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-eokl-dwR21g/Tg1jv0v1OhI/AAAAAAAAAIA/XrPh1hvbbAI/s1600/Ipoh-Blog-2.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="179" src="http://2.bp.blogspot.com/-eokl-dwR21g/Tg1jv0v1OhI/AAAAAAAAAIA/XrPh1hvbbAI/s320/Ipoh-Blog-2.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Ruang dalam salah satu rumah di Concubine Lane&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Di kawasan Kota Tua ini ada jalur jalan selebar kira-kira 3 meter yang dinamai Panglima Lane atau Concubine Lane. Kira-kira seabad lalu, bagian Kota Tua ini dikenal sebagai ‘kawasan merah’ yang dipenuhi rumah bordil, tempat judi dan rumah-rumah candu. Beberapa dekade berikutnya, rumah-rumah yang berderet itu berubah fungsi jadi sangkar para concubines atau gundik atau selir atau perempuan simpanan atau WIL milik para penguasa dan saudagar kaya keturuan China. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat saya sampai di sana Concubine Lane tampak sepi, bagai mati. Hampir semua bangunan yang berlantai dua itu masih tampak asli, namun kondisinya sangat mengenaskan. Rumah-rumah yang ditinggali terlihat lebih bersih dan terawat. Beberapa penghuninya yang sempat saya temui berwajah China. Sebagian rumah yang tak dihuni jendelanya dibiarkan terbuka sehingga saya bisa mengambil foto ruang dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: right; margin-left: 1em; text-align: right;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-R3yy_kLLQSA/Tg1knNeBPgI/AAAAAAAAAIE/kfK4wy4lLas/s1600/Ipoh-Blog-3.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="179" src="http://1.bp.blogspot.com/-R3yy_kLLQSA/Tg1knNeBPgI/AAAAAAAAAIE/kfK4wy4lLas/s320/Ipoh-Blog-3.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Jendela lantai atas - Concubine Lane&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;Di salah satu jendela yang terbuka itu, saya menyempatkan diri berhenti sebentar, membayangkan berbagai hal yang pernah terjadi di dalam ruangan. Terlintas wajah cantik perempuan muda berkulit pualam bertubuh indah terbalut cheongsam merah menyala, duduk di pangkuan lelaki tua gendut yang mengalungkan seuntai permata ke leher jenjangnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu saya mendesah, “Andai tembok-tembok bata itu bisa bicara…” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat sedang asyik mengintip bekas rumah gundik-gundik para taipan China itu, team leader saya mengingatkan untuk segera beranjak dari sana, karena dia tak mau ketinggalan kereta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Catatan: semua foto adalah dokumentasi pribadi &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136808397578530804-6320812920537532680?l=endahraharjo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endahraharjo.blogspot.com/feeds/6320812920537532680/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2136808397578530804&amp;postID=6320812920537532680' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136808397578530804/posts/default/6320812920537532680'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136808397578530804/posts/default/6320812920537532680'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endahraharjo.blogspot.com/2011/07/ipoh-mengintip-rumah-para-gundik.html' title='Ipoh: Mengintip Rumah Para Gundik'/><author><name>Endah Raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03645756585023929576</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_z5dbjErpZVE/TPx8pBgqdyI/AAAAAAAAADE/nZS418JdwyI/S220/En-Sketch-Kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-UJxUggvPkqU/Tg1ieGX8grI/AAAAAAAAAH0/JEkbUbhBAJg/s72-c/Ipoh-Blog-5.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136808397578530804.post-5588424409050742103</id><published>2011-06-20T13:33:00.002+07:00</published><updated>2011-12-02T19:30:18.202+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='t-shelter'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gempa jogja'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatanku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='endah raharjo'/><title type='text'>Mengenal T-Shelter</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-5SYI2OOtohA/Tf7opzeXB-I/AAAAAAAAAHU/gDOB-s4KQ74/s1600/Rumah+bambu.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="239" src="http://4.bp.blogspot.com/-5SYI2OOtohA/Tf7opzeXB-I/AAAAAAAAAHU/gDOB-s4KQ74/s320/Rumah+bambu.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Ingat bencana tsunami di penghujung tahun 2004 dan gempa bumi Jateng-Jogja pada Mei 2006? Aktivitas alam yang berdampak buruk pada manusia itu – sehingga disebut bencana – menghancurkan ratusan ribu rumah penduduk yang bermukim di lokasi kejadian dan sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika terjadi bencana alam sedahsyat itu, bantuan belum tentu bisa sampai ke tujuan tepat waktu, termasuk bantuan untuk rekonstruksi dan rehabilitasi, khususnya rumah. Untuk membantu para korban selamat, banyak kalangan terutama LSM lokal, nasional dan internasional membangun rumah sementara atau temporary/transitional shelter yang biasa disingkat T-shelter, agar mereka bisa lebih terlindungi daripada tinggal di tenda-tenda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;T-shelter ini dimaknai sebagai sebuah konstruksi sederhana yang lebih baik dan aman dari tenda namun belum bisa disebut sebagai rumah. Yang pasti penghuninya bisa lebih ternaungi dan terlindungi dari angin, panas dan hujan. Pembangunan T-shelter harus memenuhi standar minimal yang diatur secara nasional dan internasional dalam pemberian bantuan kemanusiaan, murah, dapat didirikan dengan cepat dan mampu bertahan sekitar 2 tahun hingga penghuninya bisa membangun rumah layak huni.&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-zlaBJ2tahc8/Tf7o042XpUI/AAAAAAAAAHY/0AnM_WEywIs/s1600/Rumah+Bambu+4.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="242" src="http://3.bp.blogspot.com/-zlaBJ2tahc8/Tf7o042XpUI/AAAAAAAAAHY/0AnM_WEywIs/s320/Rumah+Bambu+4.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Salah satu bahan dasar T-shelter yang dianggap mudah dan murah adalah bambu, baik untuk konstruksinya maupun dindingnya (yang disebut gedheg). Namun bila kebutuhannya sangat banyak, bisa jadi suplai bambu yang memenuhi syarat akan  terganggu. Saat terjadi gempa Jogja-Jateng 2006, lembaga-lembaga pemberi bantuan membeli bambu dan gedheg hingga ke Jawa Barat karena tingginya permintaan. Harga batang bambu dan gedheg pada saat itu  sempat melambung sampai 3 atau 6 kali lipat dari harga biasa. Selain itu kualitasnya kurang baik karena banyak penjual yang asal memotong saja, termasuk batang-batang bambu muda dan gedheg yang dianyam dengan tergesa-gesa. Situasi semacam ini tidak mudah dihindari meskipun sudah diantisipasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menghemat baiaya, lembaga-lembaga lokal yang dananya terbatas membangun T-shelter dengan melibatkan warga dalam proses konstruksinya. Warga yang mendapat bantuan T-shelter wajib berkontribusi dalam bentuk bahan bangunan bekas yang masih layak pakai dan tenaga kerja (pengerjaannya secara gotong royong untuk menghemat biaya tukang). Oleh karena itu, tak jarang konstruksinya dilaksanakan sore hari atau Sabtu dan Minggu agar para buruh harian bisa ikut gotong royong tanpa kehilangan penghasilan. &lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-pniMIojYj2A/Tf7pAf4KiRI/AAAAAAAAAHc/jcjjRboNrsM/s1600/Rumah+Bambu+6.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="237" src="http://3.bp.blogspot.com/-pniMIojYj2A/Tf7pAf4KiRI/AAAAAAAAAHc/jcjjRboNrsM/s320/Rumah+Bambu+6.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini langkah-langkah yang diterapkan oleh salah satu lembaga lokal yang berhasil membangun lebih dari 1.000 unit T-shelter di beberapa lokasi di Kabupaten Bantul dalam jangka waktu sekitar 5 bulan:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Permintaan dari kelompok warga diajukan ke lembaga.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Lembaga mengirimkan tim ke lokasi untuk melakukan rapid assessment.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berdasarkan hasil rapid assessment Lembaga membentuk tim fasilitator untuk mengadakan pertemuan warga yang dihadiri oleh sebanyak mungkin wakil warga. Tujuan pertemuan adalah menyusun kriteria keluarga yang layak menerima bantuan diikuti dengan bersama-sama memilih keluarga. Pertemuan ini wajib dilakukan karena jumlah bantuan tidak mencukupi untuk diberikan pada semua korban. Salah satu kriterianya adalah mendahulukan janda tanpa keluarga, orang lanjut usia, dan keluarga dengan balita atau cacat badan. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Segera setelah para penerima bantuan terpilih, pertemuan warga diadakan kembali dengan mendatangkan para calon penerima bantuan. Pertemuan lanjutan ini tujuannya memilih warga lokal (bisa penerima bantuan atau bukan penerima bantuan) sebagai team leader yang diikuti dengan penyusunan rencana pelaksanaan. Dalam pertemuan ini tim fasilitator berdiskusi tentang kebutuhan gotong royong, penyusunan jadwal atau giliran kerja dan pemilihan material bekas yang masih layak pakai.  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Setelah semua siap, konstruksi dilaksanakan dengan pengawasan dari tim fasilitator yang sekaligus memberikan bantuan teknik. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Lembaga tidak menggunakan prototip. Keluwesan rancangan membuat para penerima bantuan dapat mengekspresikan karakter yang berbeda-beda dan merasa bebas menggunakan material bekas milik mereka sendiri. Lembaga tentu saja tetap menetapkan syarat-syarat dasar yang tidak bisa ditawar demi keamanan dan keselamatan penghuni. Di antara syarat-syarat itu adalah T-shelter terletak sedekat mungkin dengan rumah awal yang ambruk, ukuran minimal 24 m2 sehingga cukup untuk membuat 3 sekat ruang, konstruksinya mengacu pada standar minimal konstruksi bambu yang lebih aman gempa dan ada cukup pembukaan untuk pencahayaan dan penghawaan.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-bCig35JsW28/Tf7pLJVc2uI/AAAAAAAAAHg/tu9ALBhGBuY/s1600/Rumah+Bambu+7.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://3.bp.blogspot.com/-bCig35JsW28/Tf7pLJVc2uI/AAAAAAAAAHg/tu9ALBhGBuY/s320/Rumah+Bambu+7.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Kata kunci dari proses konstruksi semacam ini adalah peran serta warga dan bantuan teknis dari orang yang ahli/paham. Dengan cara ini warga didorong untuk menggali sumberdaya yang mereka miliki dan meningkatkan modal sosial. Hasilnya, selain pekerjaan berjalan lebih cepat, para penerima bantuan merasa bangga, bermartabat  serta punya rasa kepemilikan yang lebih tinggi karena terlibat langsung dalam pembangunan T-shelter yang mereka tempati. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Peringatan&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;:&lt;br /&gt;Semua foto dalam tulisan ini merupakan copy right dari Yayasan Griya Mandiri, Yogyakarta dan para donor yang menjadi mitranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136808397578530804-5588424409050742103?l=endahraharjo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endahraharjo.blogspot.com/feeds/5588424409050742103/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2136808397578530804&amp;postID=5588424409050742103' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136808397578530804/posts/default/5588424409050742103'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136808397578530804/posts/default/5588424409050742103'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endahraharjo.blogspot.com/2011/06/mengenal-t-shelter.html' title='Mengenal T-Shelter'/><author><name>Endah Raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03645756585023929576</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_z5dbjErpZVE/TPx8pBgqdyI/AAAAAAAAADE/nZS418JdwyI/S220/En-Sketch-Kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-5SYI2OOtohA/Tf7opzeXB-I/AAAAAAAAAHU/gDOB-s4KQ74/s72-c/Rumah+bambu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136808397578530804.post-2134989108921848145</id><published>2011-06-06T20:48:00.005+07:00</published><updated>2011-12-02T19:35:56.167+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='single mother'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatanku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='janda'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='endah raharjo'/><title type='text'>Mereka Pilih Menjanda</title><content type='html'>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-xylO5YeZqsE/TezacyKxhlI/AAAAAAAAAHQ/qZtSruglERU/s1600/janda.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="http://1.bp.blogspot.com/-xylO5YeZqsE/TezacyKxhlI/AAAAAAAAAHQ/qZtSruglERU/s400/janda.jpg" width="312" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Ilustrasi oleh Azam Raharjo&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;Menjadi janda, di Indonesia, saat usia masih relatif muda katanya ibarat memakai sepatu sebelah saja. Aneh. Tidak nyaman. Serasa pincang. Diperhatikan orang. Sudah pasti, perempuan yang belum mengalaminya akan sangat sulit membayangkan bagaimana rasanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada empat janda yang menjadi teman saya, sebut saja Lili, Lala, Lolo dan Lulu. Mereka masih tampak muda, dari penampilan dan semangat hidupnya. Tulisan ini adalah sekelumit cerita mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lili belum lama merayakan ulang tahunnya yang ke 38 ketika suaminya tiba-tiba meninggal dunia. Hidupnya yang indah dan nyaris sempurna itu tiba-tiba berubah menjadi malapetaka. Dua anaknya masih sangat belia. Sejak menikah, Lili meninggalkan pekerjaannya karena suaminya tidak menginginkan ia bekerja. Kematian suaminya yang mendadak itu berarti pula terhentinya sumber penghasilan keluarga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan semangat menyambung hidup dan membesarkan kedua buah hati warisan tak ternilai dari suaminya, Lili rela bekerja mengelola sebuah rumah makan kecil milik temannya. Tentu saja uang bulanannya tidak dapat mencukupi bahkan untuk kebutuhan dasar. Satu persatu harta yang ada dilepaskan. Walau berat dan menyakitkan dengan cepat Lili mampu menyesuaikan diri terhadap himpitan situasi. Namun Tuhan senantiaa beserta mereka dan karena kegigihannya, Lili mampu bertahan hingga kini, kira-kia 13 tahun setelah suaminya meninggal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam usianya yang menginjak 51 di tahun 2011 ini, Lili masih tampak segar. Tubuhnya semampai. Wajah mungilnya senantiasa berhias senyuman. Tak heran bila ada beberapa lelaki yang tertarik untuk mengisi hatinya yang kosong sejak lama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suami Lili dulu, menurut saya, adalah lelaki sempurna. Perawakannya tinggi dan atletis karena semua jenis olah raga ia kuasai. Sikapnya juga santun, rendah hati dan penuh perhatian pada tetangga. Siapa saja yang membutuhkan pertolongan pasti ia bantu tanpa pandang bulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sulit bagiku mencari pengganti suamiku. Berkali-kali aku berusaha menerima lelaki yang mencoba mendekatiku. Tapi ternyata tidak mudah. Selalu saja aku membanding-bandingkan mereka dengan suamiku dulu. Dan aku juga tidak mau memaksakan diri.” Begitu cerita Lili.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajar saja bila Lili kesulitan mencari pengganti suaminya itu karena lelaki dengan karakter dan penampilan fisik yang mampu ‘menandingi’ almarhum suaminya, kemungkinan besar sudah berkeluarga. Baginya menjalani hidup dengan lelaki yang tidak mengena di jiwa dan hasratnya, sama saja dengan mempertaruhkan kebahagiannya. Itulah salah satu sebab utama hingga kini Lili memilih menjalani hidupnya dalam indahnya kenangan bersama almarhum suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain lagi cerita Lala. Perempuan cerdas dan mandiri ini harus berpisah dari suaminya karena lelaki yang telah memberinya tiga dara itu berselingkuh dan hampir saja membunuh Lala ketika perbuatannya terungkap. Sejak awal pernikahannya, Lala lebih sukses secara professional dan finansial. Namun situasi itu mestinya tidak bisa dijadikan alasan, karena seharusnya suami Lala bersyukur memiliki istri yang bisa mencukupi kebutuhan keluarga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu hal yang saya kagumi dari Lala adalah konsistensinya terhadap prinsip-prinsip hidupnya. Walaupun tidak sedikit tetangga yang menggunjingkannya ketika konflik rumah tangganya terbuka, ia tidak mengubah pendiriannya. Ketika suaminya memukulinya sedemikian hebatnya hingga Lala harus dirawat di rumah sakit selama seminggu, ia memutuskan untuk berpisah darinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini Lala hidup tenteram dan bahagia bersama tiga anak gadisnya yang sudah dewasa. Lala beberapa kali pernah dilamar namun ia memilih sekedar berteman. Dalam kesendirian Lala menemukan kebebasan dan Lala tidak ingin terpenjara kembali atas nama cinta yang dulu pernah menyengsarakan. Terlebih karena ketiga anaknya semua perempuan. Tak bisa disalahkan bila kini Lala memilih sendiri karena pengalaman telah mengajarkan padanya untuk tidak percaya pada lelaki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang satu ini, Lulu yang jelita dan bertubuh aduhai, memang luar biasa. Perceraiannya dengan suaminya dulu tak jelas karena apa. Ia sengaja memilih tetap menjanda karena ingin ‘menyimpan lelaki’ sebanyak-banyaknya. Sungguh, prinsipnya itu ia pegang teguh tak peduli apa yang didengar dari tetangga, teman dan keluarganya. Lulu pernah berpacaran dengan lebih dari selusin pria. Ada yang masih mahasiswa, perjaka tua, duda dan tentu saja lelaki berkeluarga. Kini ia hidup mewah dan memiliki sebuah rumah megah karena menjadi simpanan lelaki kaya yang memberinya apa saja yang Lulu suka. Sebuah butik pun ia buka sebagai kedok untuk sumber hartanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita Lolo beda lagi. Kebalikan dengan Lala, Lolo dikaruniai tiga arjuna dari perkawainannya yang bahagia. Namun semua itu harus berakhir ketika kanker menggerogoti tubuh suaminya dan akhirnya merenggut nyawanya. &lt;br /&gt;Lolo tentu saja berduka. Tidak seperti Lili, Lolo punya pekerjaan yang mapan di sebuah perusahaan besar. Kabarnya, ketika suaminya masih ada, Lolo pula yang menjadi tulang punggung keluarga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama juga dengan Lili dan Lala, penampilan Lolo tetap terjaga dan prima walaupun usianya sudah berkepala lima. Bahkan di mata saya, Lolo tampak sexy. Mungkin karena kedewasaan pikiran dan kemandirian batinnya yang terpancar halus dari sorot matanya yang lembut.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergaulannya yang luas membuat Lolo tidak sepi dari lelaki. Namun ia juga memilih sendiri. Katanya suatu ketika, ia hanya mau dinikahi oleh duda pensiunan jenderal atau yang setara, yang anak-anaknya sudah mentas semua. Mengapa? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, legan golek momongan.” Begitu kilahnya dalam bahasa Jawa. Maksudnya, kini dirinya tidak lagi butuh apa-apa karena sudah punya semuanya. Ketiga anaknya sudah mandiri dan Lolo menikmati hidupnya yang kini bagai jomblo lagi. Ia tidak ingin mengurus lelaki yang bukan ayah anak-anaknya yang nantinya hanya akan merepotkannya saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini hanya sekelumit cerita dari empat perempuan yang memilih menjalani hidupnya sebagai janda. Semoga saja bisa membuat kita sedikit lebih mengenal siapa mereka dan tidak menilai secara sepihak atas pilihan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136808397578530804-2134989108921848145?l=endahraharjo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endahraharjo.blogspot.com/feeds/2134989108921848145/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2136808397578530804&amp;postID=2134989108921848145' title='8 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136808397578530804/posts/default/2134989108921848145'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136808397578530804/posts/default/2134989108921848145'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endahraharjo.blogspot.com/2011/06/mereka-pilih-menjanda.html' title='Mereka Pilih Menjanda'/><author><name>Endah Raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03645756585023929576</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_z5dbjErpZVE/TPx8pBgqdyI/AAAAAAAAADE/nZS418JdwyI/S220/En-Sketch-Kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-xylO5YeZqsE/TezacyKxhlI/AAAAAAAAAHQ/qZtSruglERU/s72-c/janda.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136808397578530804.post-8194659889878480272</id><published>2011-05-30T17:34:00.005+07:00</published><updated>2011-12-02T19:31:28.627+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatanku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='extra large jeans'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jeans for ladies'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='endah raharjo'/><title type='text'>Dicari: Celana Jeans yang 'Ibu-ibu Friendly'</title><content type='html'>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-cT8SZpn29u8/TeNyNEIsN8I/AAAAAAAAAHA/PxHzJ-h6bVo/s1600/500x_500x_v_solve_jeans.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-cT8SZpn29u8/TeNyNEIsN8I/AAAAAAAAAHA/PxHzJ-h6bVo/s320/500x_500x_v_solve_jeans.jpg" width="242" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&amp;nbsp;Tubuh ibu-ibu rata-rata seperti ini, ada tonjolan sana-sini&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Ketika saya masih muda dulu, karena saking kerempengnya, celana jeans ukuran 26 harus dikecilkan di bagian pinggang, agar bisa ngepas badan dan bila diberi ikat pinggang tidak harus diketatkan. Hingga usia awal empat-puluhan pun, celana jeans ukuran 27 – 28 masih bisa membungkus bagian bawah badan dengan sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi masa-masa membeli jeans dengan mudah itu kini berakhir sudah. Setelah usia hampir setengah abad, setiap kali membeli selembar jeans, saya pasti butuh waktu seharian keluar masuk toko karena tidak ada yang benar-benar nyaman. Kalau pinggulnya pas, bagian paha kekecilan. Kalau pahanya masuk, pinggangnya kedodoran. Bahkan ada teman yang frustrasi sehingga harus rela memakai jeans yang mestinya untuk laki-laki yang kemudian harus dipermak sana-sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun, orang bilang, saya tidak gemuk-gemuk amat, ketika membeli jeans itulah baru sadar kalau di sana-sini ternyata ada yang sudah melar, terutama di wilayah P3 alias perut, pinggul dan paha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi bertanya-tanya, belakangan ini, apa ada ibu-ibu setengah baya yang tidak merasa malu ketika mencoba sepasang jeans baru di fitting room? Perancang model pensil, yang kecil-mungil-lucu ngepas kaki itu sungguh kurang ‘sensi’ pada ibu-ibu. Pikir saya, apakah memang produk yang satu itu sebenarnya terlarang untuk para ibu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi model ‘hipster’ itu, yang hingga kini masih digemari, yang juga dikenal dengan sebutan ‘hip-hugger’ atau ‘low-cut’ atau ‘low-rise’ yang kadang-kadang betul-betul ‘dangerously-low’. Tentu saja ibu-ibu bisa tetap memakainya dipadukan dengan t-shirt atau blus yang agak panjang, namun kenyataannya si pemakai merasa takut kalau-kalau celana jeans melorot sewaktu-waktu. Bila diberi ikat pinggang pun masih tetap terasa kurang nyaman, apalagi bila dipakai duduk, timbunan lemak di pinggul pengin ikut bergaya, merengek-rengek mau muncul… &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Amerika Serikat, yang penduduknya luar biasa heterogen, dari orang Asia yang imut-imut hingga keturunan Afrika yang berpantat besar bundar, celana jeans, yang ada di lemari hampir setiap orang ini diproduksi dalam berbagai ukuran dan rancangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang khusus untuk orang yang tinggi semampai semisal model yang biasanya dipajang di konter ‘tall girl’, ada yang disediakan untuk pemilik badan super -duper-extra large dan banyak pula untuk si postur kecil-mungil yang dibuatkan konter khusus ‘petite’.  &lt;br /&gt;Di dalam konter-konter khusus itu, biasanya model jeans yang lebih standard atau reguler tetap dipajang walaupun model lain yang lebih trendy dan up-to-date juga ditawarkan. Dengan begitu, siapa saja bisa memperoleh model jeans yang lebih pas dan lebih nyaman. Sementara bagi kawula muda, atau ibu-ibu yang tetap memiliki bentuk tubuh ideal hingga usia tua, tentunya dengan mudah bisa memilih produk paling up-to-date. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang beberapa produsen pakaian siap-pakai telah mulai menyediakan konter khusus extra-large. Di Jogja - dan mungkin di kota-kota lainnya – sudah ada toko busana yang menyediakan konter khusus extra-large. Langkah ini sungguh menolong para ibu yang badannya tak lagi selangsing ketika masih usia dua-puluhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga saja ada produsen jeans yang mau melakukan riset ukuran tubuh ibu-ibu dan kemudian meluncurkan rancangan jeans yang lebih ‘ibu-ibu-friendly’. Supaya saya tidak perlu lagi merasa malu memandangi diri saya di fitting room ketika membeli selembar jeans baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*** &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://jezebel.com/5456364/more-voices-join-the-plus+size-fashion-conversation"&gt;Sumber gambar&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136808397578530804-8194659889878480272?l=endahraharjo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endahraharjo.blogspot.com/feeds/8194659889878480272/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2136808397578530804&amp;postID=8194659889878480272' title='8 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136808397578530804/posts/default/8194659889878480272'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136808397578530804/posts/default/8194659889878480272'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endahraharjo.blogspot.com/2011/05/dicari-celana-jeans-yang-ibu-ibu.html' title='Dicari: Celana Jeans yang &apos;Ibu-ibu Friendly&apos;'/><author><name>Endah Raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03645756585023929576</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_z5dbjErpZVE/TPx8pBgqdyI/AAAAAAAAADE/nZS418JdwyI/S220/En-Sketch-Kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-cT8SZpn29u8/TeNyNEIsN8I/AAAAAAAAAHA/PxHzJ-h6bVo/s72-c/500x_500x_v_solve_jeans.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136808397578530804.post-9215819091858591953</id><published>2011-05-25T00:56:00.003+07:00</published><updated>2011-12-02T19:34:08.851+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perjalananku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='100-year market'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='klong suan market'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pasar tradisional'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='endah raharjo'/><title type='text'>Pasar Klong Suan</title><content type='html'>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-zU0APKf8cr0/Tdvsw_5t2vI/AAAAAAAAAF4/jKnOybq0KiE/s1600/Klong+Suan+1.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/-zU0APKf8cr0/Tdvsw_5t2vI/AAAAAAAAAF4/jKnOybq0KiE/s1600/Klong+Suan+1.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Gerbang masuk&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Kira-kira sepuluh tahun yang lalu, saat pertama kali bertugas ke Thailand, saya ditawari oleh teman untuk mengunjungi pasar Klong Suan yang  dikenal sebagai 100 year-old  Market. Karena banyaknya tugas, waktu itu saya tidak sempat mampir ke pasar yang konon dibangun pada masa kejayaan Raja Chulalongkorn Agung yang dikenal sebagai King Rama V.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena seringnya bertugas ke Thailand, saya jadi cenderung menunda kunjungan ke Pasar Klong Suan. Pikir saya, nanti saja, pasti ada kesempatan berikutnya. Belum lama ini, saya kembali bertugas ke sana dan kali ini saya luangkan waktu untuk mampir sambil belanja. Saya sempat bercanda pada teman saya bahwa pasar Klong Suan sekarang tentunya sudah berusia lebih dari 110 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-N8oFXw3riBY/Tdvs8vxNnOI/AAAAAAAAAF8/aR0FhoNfYl8/s1600/Klong+Suan+2.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/-N8oFXw3riBY/Tdvs8vxNnOI/AAAAAAAAAF8/aR0FhoNfYl8/s1600/Klong+Suan+2.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Suasana pasar yang penuh warna &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasar ini dibangun di tepi kanal Prawet Burirom. Pada masa itu perdagangan masih mengandalkan transportasi air dan kanal Prawet Burirom merupakan salah satu jalur utama yang menghubungkan Bangkok dengan wilayah di bagian timur. Menurut berbagai sumber, pada masa kejayaannya, Pasar Klong Suan pernah menjadi salah satu pusat perdagangan candu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasar ini terletak di perbatasan Propinsi Samut Prakan dengan Propinsi Chachoengsao, kira-kira 40 menit dengan mobil dari Bangkok, tidak begitu jauh dari bandara Suvarnabhumi. Setiap supir taksi atau biro wisata tahu lokasi pasar ini, sehingga mudah dicari. &lt;br /&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: right; margin-left: 1em; text-align: right;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-sKEgCU_j-zc/TdvtPu87cjI/AAAAAAAAAGA/qXkZCqXDYaE/s1600/Klong+Suan+3.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://1.bp.blogspot.com/-sKEgCU_j-zc/TdvtPu87cjI/AAAAAAAAAGA/qXkZCqXDYaE/s320/Klong+Suan+3.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Penjual ikan menjemur dagangan&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;Hingga sekarang pasar ini merupakan salah satu pasar tradisional yang tetap ramai dan menjadi tujuan wisata, seperti pasar Beringharjo di Jogja atau Pasar Klewer di Solo. Bedanya, mungkin, pada jenis barang yang diperdagangkan saja. Selain itu, pasar ini juga menjadi semacam pusat perdagangan dan pertukaran sosial-budaya antara 3 komunitas, yaitu orang asli Thai, pedagang China dan masyarakat Muslim. Menurut teman saya, warga lokal yang berbeda agama itu gemar nongkrong di warung-warung kopi sambil berbincang tentang apa saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-RR0qkGF07d0/TdvtqCHDaoI/AAAAAAAAAGI/TmiO_bTFQik/s1600/Klong+Suan+6.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-RR0qkGF07d0/TdvtqCHDaoI/AAAAAAAAAGI/TmiO_bTFQik/s320/Klong+Suan+6.JPG" width="239" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Toko emas permata&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang pengamatan saya, barang-barang yang diperjualbelikan di Pasar Klong Suan kebanyakan berupa makanan, khususnya jajanan tradisional. Tentu saja barang-barang lain juga ada, seperti mainan anak-anak - yang sudah pasti made-in China - hingga emas permata. Beberapa brosur mengatakan bahwa para culture junkies akan bersukacita bila mengunjungi pasar ini karena keragaman barang lokal yang dijual di sana. Bagi saya, yang paling menarik adalah beberapa warung kopi yang menyajikan kopi tradisional seperti warung-warung angkringan di Jogja. Saya bukan peminum kopi, tapi saya suka aroma dan rasanya, yang mengingatkan saat-saat santai sehabis menjalani hari yang melelahkan ketika bertugas di Aceh. &lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat kondisi bangunannya, yang sebagian besar merupakan konstruksi kayu, tampak adanya usaha pemerintah lokal untuk mempertahankan keasliannya. Kesederhanaan arsitekturnya, tata-letak dan sirkulasinya bagi saya justru menambah pesona. Tentu saja yang paling utama adalah suasananya dan aneka hiasan pernak-pernik yang tergantung di langit-langit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: right; margin-left: 1em; text-align: right;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-CAoYTJcVzJQ/TdvyvNTg7lI/AAAAAAAAAGQ/DhuvYgbBFBE/s1600/Klong+Suan+4.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://1.bp.blogspot.com/-CAoYTJcVzJQ/TdvyvNTg7lI/AAAAAAAAAGQ/DhuvYgbBFBE/s320/Klong+Suan+4.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Para bhiksu muda sedang meminta sedekah pagi&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;Saat saya berkunjung, kebetulan sedang ada rombongan bhiksu muda yang melakukan ritual pagi, meminta sedekah dari masyarakat. Mereka berbaris rapi, masing-masing membawa kuali logam untuk menampung sumbangan. Setiap beberapa meter mereka berhenti lalu melantunkan pepujian. Para pedagang dan pengunjung pasar tidak hanya memberi uang, ada juga yang memberi makanan dan minuman. Di belakang barisan bhiksu muda itu, ada dua lelaki bertugas membawakan tas berisi macam-macam sumbangan bahan makanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-Sj8cwnMhWUs/TdyUTVJnGUI/AAAAAAAAAGY/eBJSTdwdoAk/s1600/Klong+Suan+5.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://3.bp.blogspot.com/-Sj8cwnMhWUs/TdyUTVJnGUI/AAAAAAAAAGY/eBJSTdwdoAk/s320/Klong+Suan+5.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Bila akan berkunjung ke sana, dua saja pesan saya. Jangan sarapan sebelum berangkat dan jangan bernafsu membeli banyak makanan di salah satu kios saja, karena semakin ke dalam, semakin banyak pilihan. Kalau tidak ingin berjubel dengan puluhan wisatawan, berkunjunglah pada hari kerja. Bila hanya ada waktu di akhir pekan, usahakan untuk tiba di Pasar klong Suan sebelum pukul 10 pagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat berbelanja.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136808397578530804-9215819091858591953?l=endahraharjo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endahraharjo.blogspot.com/feeds/9215819091858591953/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2136808397578530804&amp;postID=9215819091858591953' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136808397578530804/posts/default/9215819091858591953'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136808397578530804/posts/default/9215819091858591953'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endahraharjo.blogspot.com/2011/05/pasar-klong-suan.html' title='Pasar Klong Suan'/><author><name>Endah Raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03645756585023929576</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_z5dbjErpZVE/TPx8pBgqdyI/AAAAAAAAADE/nZS418JdwyI/S220/En-Sketch-Kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-zU0APKf8cr0/Tdvsw_5t2vI/AAAAAAAAAF4/jKnOybq0KiE/s72-c/Klong+Suan+1.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136808397578530804.post-3044632425354219933</id><published>2011-02-17T09:46:00.002+07:00</published><updated>2011-12-02T17:25:14.062+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatanku'/><title type='text'>Haiku, Apa Itu?</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-TctGxk1maWQ/TVyOORBZYjI/AAAAAAAAAD8/mBjYCXF3fbk/s1600/Petchaburi-1.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5574486814516404786" src="http://1.bp.blogspot.com/-TctGxk1maWQ/TVyOORBZYjI/AAAAAAAAAD8/mBjYCXF3fbk/s320/Petchaburi-1.jpg" style="cursor: pointer; float: right; height: 308px; margin: 0pt 0pt 10px 10px; width: 413px;" /&gt;&lt;/a&gt;Setahun lalu, seorang teman dekat  yang romantis menghadiahkan sebuah novel. Di sampul bagian dalam dia tuliskan beberapa kalimat pendek ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Endah dearest,&lt;br /&gt;Along with this book, I am sending you my best &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;haiku&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; of the day:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pale moon&lt;br /&gt;my arms reaching out&lt;br /&gt;yearning for you&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haiku? Apa itu?&lt;br /&gt;Lalu saya mencari tahu.&lt;br /&gt;Begitulah awal perkenalan saya dengan haiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haiku, dikenal juga dengan Hokku, adalah puisi Jepang dengan format terpendek, hanya terdiri dari 17 suku kata yang disajikan dalam 3 baris (kelompok) dengan susunan 5 – 7 – 5. Baris pertama terdiri atas 5 suku kata, kedua 7 suku kata dan ketiga 5 suku kata. Kata yang tersusun dalam haiku tidak berima. Tentu saja aturan ini berlaku untuk penulisan Haiku dengan karakter Jepang, kanji dan kana (hiragana dan katakana).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haiku Jepang tradisional senantiasa berhubungan dengan daya magis dan keindahan alam serta musim. Karena pendek dan indah, haiku sangat menyenangkan untuk dibaca keras-keras dalam bahasa aslinya, sembari memuja-muji alam dan keelokan rasa serta pesona yang menyertainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asal usul puisi pendek ini masih sering diperbincangkan walaupun ia sudah mendunia dan bahkan sudah diajarkan di sekolah-sekolah di Amerika sejak lama. Beberapa sumber menyebutkan bahwa haiku dikembangkan oleh Matsuo Basho (1644 – 1694), seorang penyair terkenal pada periode Edo, yakni masa antara tahun 1603 dan 1867 ketika Jepang diperintah oleh para shogun dari keluarga Tokugawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Bahasa Inggris tentu saja ada adaptasi untuk penulisannya. Haiku tetap terdiri dari 3 baris namun tidak harus 17 suku kata. Karena perbedaan bahasa dan aksara antara Jepang dengan banyak negara, maka penulisan haiku dalam bahasa lain, lebih ditekankan pada ketepatan dan kecermatan pemilihan kata. Jadi beberapa potong kata dalam 3 baris itu mampu mengungkapkan suasana alam dan suasana hati dan jiwa, pada saat kita mengalaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah buku saku tentang Jepang dituliskan bahwa untuk belajar menulis haiku tidak sulit. Yang penting kita mau membuka diri pada sang alam dan mencoba menuliskan apa yang kita lihat, kita rasa, kita dengar, kita cium, kita raba dan menggabungkan semua itu dengan sepenuh hati dan jiwa.&lt;br /&gt;Berikut ini beberapa contoh Haiku dalam Bahasa Inggris:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Moonless winter night—&lt;br /&gt;a billow of rising fog&lt;br /&gt;hides the distant pines&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Lenard D. Moore)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Winter wind—&lt;br /&gt;sound of a skill saw&lt;br /&gt;through the broken window&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Nina Wicker)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan di Indonesia? Apakah haiku ada penyukanya? Tentu saja,  walaupun saya agak sulit menemukan referensinya. Di bagian bawah tercantum beberapa situs yang bisa dirujuk untuk menambah pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perkembangannya, khususnya di Amerika, haiku memang telah mengalami berbagai penyesuaian walau tetap berpijak pada aturan asal. Rupanya manusia mampu pula meleburkan rasa duka dan ketakutannya pada kedahsyatan fenomena alam. Dengan begitu, mungkin, penderitaan manusia dapat sedikit berkurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menutup tulisan ini, ijinkan saya mengungkapkan rasa yang mengusik hati di sore yang mendung ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langit kelabu&lt;br /&gt;Burung terbang meninggi&lt;br /&gt;Merindu kekasih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Situs untuk belajar lebih lanjut:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;http://www.nc-haiku.org/haiku-by-us.htm#nwicker&lt;br /&gt;http://www.nc-haiku.org/index.htm&lt;br /&gt;http://www.indonesiaindonesia.com/f/51744-belajar-haiku-yuk/&lt;br /&gt;http://josephinemaria.wordpress.com/2010/08/20/mengenal-puisi-jepang/&lt;br /&gt;http://fiksi.kompasiana.com/group/puisi/2010/09/25/haiku-tragedi-manusia-19651966/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136808397578530804-3044632425354219933?l=endahraharjo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endahraharjo.blogspot.com/feeds/3044632425354219933/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2136808397578530804&amp;postID=3044632425354219933' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136808397578530804/posts/default/3044632425354219933'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136808397578530804/posts/default/3044632425354219933'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endahraharjo.blogspot.com/2011/02/apa-itu-haiku.html' title='Haiku, Apa Itu?'/><author><name>Endah Raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03645756585023929576</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_z5dbjErpZVE/TPx8pBgqdyI/AAAAAAAAADE/nZS418JdwyI/S220/En-Sketch-Kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-TctGxk1maWQ/TVyOORBZYjI/AAAAAAAAAD8/mBjYCXF3fbk/s72-c/Petchaburi-1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136808397578530804.post-523980286802937102</id><published>2010-12-19T16:15:00.002+07:00</published><updated>2012-01-23T13:44:10.300+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatanku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='the american'/><title type='text'>The American: Wajah Murung George Clooney</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_z5dbjErpZVE/TQ3NwaylfoI/AAAAAAAAADk/-hUq07W35_c/s1600/George-Clooney-in-The-American.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5552320147326598786" src="http://2.bp.blogspot.com/_z5dbjErpZVE/TQ3NwaylfoI/AAAAAAAAADk/-hUq07W35_c/s320/George-Clooney-in-The-American.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 229px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 320px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Mau melihat bagaimana wajah ganteng dan sexy George Clooney berubah menjadi muram tanpa cahaya sama sekali? Tontonlah The American, bukan film baru karena sudah beredar sejak September lalu. Film dibuka dengan scene yang romantis, menampilkan suasana malam di musim dingin bersalju, sebuah pondok kayu terletak di antara pohonan. Di dalam rumah itu terlihat ada cahaya hangat-temaram berasal dari perapian yang menyala. Kemudian tampaklah sepasang manusia sedang berpelukan mesra, sepertinya mereka berdua baru saja selesai berintim-cinta karena terlihat masih dalam keadaan tanpa busana. Rona wajah si perempuan penuh kasih, sementara muka si lelaki, Jack, yang diperankan oleh George Clooney, justru tegang bagai menyimpan kegalauan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jack adalah seorang pembunuh bayaran Amerika yang sedang berada di Eropa. Tanpa sepengetahuan Jack, seseorang berniat membunuhnya. Usaha itu gagal. Oleh lelaki yang di dalam film tidak dijelaskan punya hubungan apa dengan Jack, mungkin seorang perantara atau supervisor, Jack diminta untuk menyepi di sebuah desa terpencil di Italia, yang terletak di pegunungan berpemandangan seindah postcard.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di desa itu  Jack mengaku bernama Edward, seorang fotografer majalah dan sedang bertugas mengambil gambar-gambar pemandangan. Oleh lelaki yang mengasingkannya ke desa itu, melalui perantara seorang pembunuh bayaran perempuan bernama Mathilda, Jack ditugasi membuat sebuah senapan. Itulah tugas terakhir sebelum Jack menyudahi karirnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di desa yang damai-tentram-indah-permai itu Edward berkenalan dengan seorang PSK cantik bernama Clara dan seorang Pendeta Katholik, Benedetto, yang penampilannya ‘sangat pendeta’ dan ‘sangat Italia’. Clara, yang diperankan oleh Violante Placido, dan Pak Pendeta selanjutnya menghiasi hari-hari Edward alias Jack, disela-sela kegiatannya membuat dan merakit senapan. Jack tidak tahu senapan yang ‘punya kapasitas seperti sub-machine gun dan berjarak tembak seperti rifle' itu akan dipakai oleh siapa untuk membunuh siapa. Hal itu baru terungkap di akhir cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The American yang disutradari oleh Anton Corbijn ini bisa dibilang sebuah film yang sangat irit dialog,&amp;nbsp; penuh dengan lansekap elok sebuah desa kecil di pegunungan Italia, lengkap dengan  lorong-lorongnya yang berkelok-kelok, berundak-undak dan, tidak lupa, orang naik vespa. Pengambilan gambar-gambarnya sangat detil, terutama ketika Jack sedang memproduksi senapan. Sering kali kamera terhenti sejenak untuk menangkap sebuah gerakan atau ekspresi wajah, tanpa kata, hingga penonton bisa tahu maknanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para penggemar Mr. Clooney’s deadly smiles tentu akan kecewa karena, walau close-up wajah indahnya sering memenuhi layar, ia hampir tidak pernah mengukir senyum. Bisa dibilang hanya ada satu scene saja, ketika Jack tersenyum mesra pada Clara saat benih-benih cinta tumbuh di antara mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya Pendeta Benedetto yang sering duduk-duduk bersama Jack sudah sedikit mencium adanya keanehan pada si Amerika yang pendiam dan selalu tampak murung itu. Dalam sebuah dialog ketika mereka sedang bersantap malam, Pak Pendeta berucap, “journalist cannot make you a rich man, and I think you are a rich American.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film ini temanya mirip dengan dua film Clooney terdahulu, yang menggambarkan seorang professional yang terperangkap dalam pekerjaaanya, yakni Michael Clayton dan Up In The Air. Menurut saya, di antara tiga film itu, The American merupakan yang paling buruk. Memang penampilan Clooney, dalam memainkan karakter Jack/Edward yang selalu muram, waspada, dengan bibir selalu terkatup rapat dan jidat berkerut serta tidur bersanding pistol, cukup berhasil. Ia bagai sepotong jiwa yang hilang dan tidak tahu cara menggapai kedamaian hidup, bahkan untuk sekedar menjalin cinta, di akhir karirnya sebagai pembunuh bayaran. Dalam banyak adegan, Clooney mampu mengungkapkan isi pikirannya hanya melalui ekspresi wajahnya, tanpa perlu kata-kata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun begitu thriller ini menyimpan cukup banyak pertanyaan yang tidak terjawab hingga film berakhir. Kalau bukan karena wajah George Clooney, mungkin saya sudah beranjak dari depan layar TV sebelum film berakhir. Film ini cocok untuk dinikmati saat sedang santai dan punya waktu luang agar bisa berkonsentrasi untuk mengikuti ceritanya. &lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sutradara: Anton Corbijn, &lt;br /&gt;Adaptasi oleh Rowan Joffe dari novel karya Martin Booth “A Very Private Gentleman’&lt;br /&gt;Pemain: George Clooney, Violante Placido, Paolo Bonacelli, Thekla Reuten, Bruce Altman.&lt;br /&gt;Sumber Ilustrasi: http://www.filmofilia.com/2010/04/19/george-clooney%E2%80%99s-the-american/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136808397578530804-523980286802937102?l=endahraharjo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endahraharjo.blogspot.com/feeds/523980286802937102/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2136808397578530804&amp;postID=523980286802937102' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136808397578530804/posts/default/523980286802937102'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136808397578530804/posts/default/523980286802937102'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endahraharjo.blogspot.com/2010/12/american-wajah-murung-george-clooney.html' title='The American: Wajah Murung George Clooney'/><author><name>Endah Raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03645756585023929576</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_z5dbjErpZVE/TPx8pBgqdyI/AAAAAAAAADE/nZS418JdwyI/S220/En-Sketch-Kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_z5dbjErpZVE/TQ3NwaylfoI/AAAAAAAAADk/-hUq07W35_c/s72-c/George-Clooney-in-The-American.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136808397578530804.post-58179673401677331</id><published>2009-05-14T19:48:00.001+07:00</published><updated>2011-12-02T19:33:31.847+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tahun baru china'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kuala lumpur'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perjalananku'/><title type='text'>Kuala Lumpur</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mengintip Tahun Baru China 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun Baru China kali ini jatuh pada tanggal 26 Januari 2009, namun dua minggu sebelumnya masyarakat Kuala Lumpur, terlebih pusat-pusat keramaian dan perbelanjaan, telah mengadakan berbagai acara istimewa untuk menjelangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_z5dbjErpZVE/SgwXVtLqREI/AAAAAAAAABQ/TNwpv4aM_hg/s1600-h/Blog+Cina2.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5335665320200389698" src="http://3.bp.blogspot.com/_z5dbjErpZVE/SgwXVtLqREI/AAAAAAAAABQ/TNwpv4aM_hg/s320/Blog+Cina2.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 320px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 240px;" /&gt;&lt;/a&gt;Khususnya di Bukit Bintang, salah satu kawasan favorit bagi wisatawan domestik dan mancanegara, keramaian perayaan dapat dirasakan lewat mata dan telinga. Hotel, restauran, mal, dan pusat-pusat hiburan berhiaskan lampion-lampion cantik berbagai bentuk yang didominasi oleh warna merah dengan aksen keemasan. Di setiap lobby atau begitu memasuki atrium mal langsung terdengar musik tradisional China. Vision KL, sebuah bulanan yang menyajikan berbagai informasi tentang city lifestyle, edisi Januari 2009 bertajuk ‘Festival Celebrations: Chinese New Year – What’s In Store for the Year of Ox’, dengan sampul bergambar kerbau emas terbang di antara nyala warna-warni kembang api. Karena tahun ini adalah Tahun Kerbau yang konon akan membawa keberuntungan khususnya bagi orang-orang yang terlahir dengan shio Kerbau, seperti tahun 1949, 1961, 1973, 1985, dan 1997.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pusat-pusat perbelanjaan highend seperti Suria-KLCC, the Curve, dan Pavilion menggelar berbagai performances mulai dari akrobat khas China yang diperankan para remaja, tari Lion yang enerjik dan memukau, festival drum yang menggelegar dan menggetarkan dada para pentonton, aneka tarian China tradisional maupun kontemporer, hingga fashion show. Aneka acara tersebut digelar sebulan penuh, berganti-ganti, sejak 8 Januari hingga awal Februari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_z5dbjErpZVE/SgwU-bNzCRI/AAAAAAAAABA/2IPmFMuiTBM/s1600-h/KL-CNY-3.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5335662721217267986" src="http://3.bp.blogspot.com/_z5dbjErpZVE/SgwU-bNzCRI/AAAAAAAAABA/2IPmFMuiTBM/s320/KL-CNY-3.jpg" style="cursor: pointer; float: right; height: 240px; margin: 0pt 0pt 10px 10px; width: 320px;" /&gt;&lt;/a&gt;Pertunjukan-pertunjukan tersebut dirancang dengan seksama dan terjadwal dengan rapih walaupun kadang-kadang ada sedikit keterlambatan dalam pelaksanaannya. Mal-mal tersebut mencetak brosur khusus berisi jadwal pertunjukan yang dapat diperoleh para pengunjung dengan mudah agar mereka bisa meluangkan waktu menikmati pertunjukan disela-sela kesibukan belanja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu mal memajang patung kerbau keemasan sepanjang sekitar lima meter dan setinggi lebih dari tiga meter yang dikagumi para pengunjung dan dipakai untuk mejeng berfoto-ria. Keberadaan patung kerbau ini mengingatkan pada pohon Natal raksasa yang selalu dipajang di plaza utama Rockefeller Center, New York City, setiap bulan Desember.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kostum yang dipakai oleh para pelakon pertunjukan penuh warna, hijau, merah, biru, kuning, semua dengan aksen kemilau keemasan. Warna-warna ini tampak semakin gemilang di bawah gemerlap lampu-lampu mal-mal yang menjajakan barang-barang mewah serba mahal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perayaan nan meriah ini tidaklah mengherankan karena sekitar 25% penduduk Malaysia berasal dari etnis China. Peranan mereka cukup besar dalam mengembangkan perdagangan dan bisnis, juga politik, di negara berpenduduk sekitar 27,5 juta jiwa itu. Nama tokoh-tokoh seperti Tan Cheng Lock dan Tan Siew Sin pun diabadikan sebagai nama jalan utama di kota Kuala Lumpur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama halnya dengan kota-kota di Indonesia, walaupun sering beredar kabar tak sedap tentang pertentangan kelas, agama dan etnis, namun dalam suasana meriah  menyambut tahun baru China di pusat-pusat keramaian di Kuala Lumpur, masyarakat dengan latar belakang ras, agama, tingkat ekonomi dan pendidikan yang beragam dapat duduk berdampingan dengan damai menikmati pertunjukan gratis di ruangan yang megah, indah dan sejuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_z5dbjErpZVE/SgwWjo-_ECI/AAAAAAAAABI/207-r4g7bro/s1600-h/Blog+Cina3.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5335664460080025634" src="http://4.bp.blogspot.com/_z5dbjErpZVE/SgwWjo-_ECI/AAAAAAAAABI/207-r4g7bro/s320/Blog+Cina3.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 240px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 320px;" /&gt;&lt;/a&gt;Sungguh, dalam suasana hingar bingar dan gilang gemilang sedemikian, sulit melihat datangnya krisis ekonomi global yang memporak-porandakan dapur ribuan keluarga serta merasakan koyak-moyak dan perihnya luka yang diderita para korban serangan Israel di Jalur Gaza. Layaknya masyarakat di negara lain warga Malaysia tentunya berharap agar tahun 2009 diberi kekuatan oleh Yang Mahakuat untuk menjalaninya dengan sebaik-baiknya. Semoga kita semua dapat menjadi sekuat, sesederhana dan setekun kerbau. Gong Xi Fa Cai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kuala Lumpur, Januari 2009.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136808397578530804-58179673401677331?l=endahraharjo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endahraharjo.blogspot.com/feeds/58179673401677331/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2136808397578530804&amp;postID=58179673401677331' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136808397578530804/posts/default/58179673401677331'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136808397578530804/posts/default/58179673401677331'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endahraharjo.blogspot.com/2009/05/mengintip-perayaan-tahun-baru-china-di.html' title='Kuala Lumpur'/><author><name>Endah Raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03645756585023929576</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_z5dbjErpZVE/TPx8pBgqdyI/AAAAAAAAADE/nZS418JdwyI/S220/En-Sketch-Kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_z5dbjErpZVE/SgwXVtLqREI/AAAAAAAAABQ/TNwpv4aM_hg/s72-c/Blog+Cina2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136808397578530804.post-5268122732374192314</id><published>2009-02-01T21:11:00.002+07:00</published><updated>2011-12-02T19:32:44.854+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ceritaku'/><title type='text'>Puisiku</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAYANG-BAYANG&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berteman bayang-bayang,&lt;br /&gt;Karna ia selalu di dekatku, menjagaku,&lt;br /&gt;Di atas aspal, di tembok kamar, sepanjang trotoar,&lt;br /&gt;Dan melonjak-lonjak di rerumputan,&lt;br /&gt;Tubuh mungilku yang ramping membuatnya riang,&lt;br /&gt;Ia melenggok seiring gerak tubuhku,&lt;br /&gt;Ketika aku menari-nari sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berteman bayang-bayang,&lt;br /&gt;Di pagi dan sore hari ia tampak begitu panjang,&lt;br /&gt;Kadang ia menggodaku di depan,&lt;br /&gt;Atau menertawaiku dari belakang,&lt;br /&gt;Bila aku berbalik, ia melompat ke samping,&lt;br /&gt;tawanya berderaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat tengah hari, saat terik mentari,&lt;br /&gt;Ia sembunyi di bawah tubuhku,&lt;br /&gt;Dan tiap kulangkahkan kakiku,&lt;br /&gt;Ia berteriak-teriak lucu.&lt;br /&gt;Bila aku berteduh karena kegerahan,&lt;br /&gt;Ia marah, protes, dan meninggalkanku sendirian,&lt;br /&gt;bila aku banyak waktu, tak terburur-buru,&lt;br /&gt;Kubiarkan protesnya menggangguku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kadang aku benci bayang-bayang&lt;br /&gt;Karna ia terlahir dari sinar mentari,&lt;br /&gt;Yang tak mampu menembus ragaku,&lt;br /&gt;Dan membakar sekujur tubuhku,&lt;br /&gt;Kulitku yang langsat jadi kelam,&lt;br /&gt;Wajah beningku pun jadi kusam,&lt;br /&gt;Kurasakan panasnya sampai ke jantungku,&lt;br /&gt;Hingga menetes keringatku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku jadi enggan melihat bayangku di cermin kamarku,&lt;br /&gt;Ia bukan diriku,&lt;br /&gt;Ia melayang,&lt;br /&gt;Ia menghilang,&lt;br /&gt;Menjadi bayang-bayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Composed in my head along the way from Preinkert Field House to Berwyn House, Sept. 09/02. I felt so alone that I played with my own shadow.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;WAKTU&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya waktu,&lt;br /&gt;yang mampu menghentikan langkahku,&lt;br /&gt;kuhitung hariku,&lt;br /&gt;pagi benderang menjadi siang dan gelap segera&lt;br /&gt;menjelang,&lt;br /&gt;kala pagi datang lagi, kutahu waktuku hilang sehari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau antara kita ada ruang yang membentang,&lt;br /&gt;ia mampu kutentang,&lt;br /&gt;namun waktu pula,&lt;br /&gt;yang ‘kan memisahkanku darimu,&lt;br /&gt;semakin dekat dirimu, semakin waktu menjauhkanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyerah aku pada waktu,&lt;br /&gt;bagai mentari tunduk pada sang malam,&lt;br /&gt;dan tak lagi ku ingin lari,&lt;br /&gt;karna waktuku ‘kan tiba di sini,&lt;br /&gt;mendatangiku dan membawamu pergi.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;Berwyn House, Winter 2002.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SECANGKIR TEH&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibarat secangkir teh di meja dapur&lt;br /&gt;Aku mengepul oleh sentuhanmu&lt;br /&gt;dan siap kau hirup, seteguk demi seteguk&lt;br /&gt;Hingga tetes terakhirku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi secangkir teh hanya sebentar menyegarkanmu&lt;br /&gt;Dari kelelahanmu yang panjang dan tak terhindarkan&lt;br /&gt;Ia tak mampu menyejukkan segala dahagamu&lt;br /&gt;Sekejap ia hangat dan dingin untuk ditinggalkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin menjadi perdu tehmu&lt;br /&gt;Yang tumbuh subur di halaman belakang&lt;br /&gt;Kau bisa petik setiap dahagamu datang&lt;br /&gt;Dan menyedu dengan cangkirmu&lt;br /&gt;Hingga uapku meraba seluruh inderamu&lt;br /&gt;Menjalar ke seluruh nadimu dan menggetarkan jantungmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;College Park, Winter 2002.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136808397578530804-5268122732374192314?l=endahraharjo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endahraharjo.blogspot.com/feeds/5268122732374192314/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2136808397578530804&amp;postID=5268122732374192314' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136808397578530804/posts/default/5268122732374192314'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136808397578530804/posts/default/5268122732374192314'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endahraharjo.blogspot.com/2009/02/puisiku.html' title='Puisiku'/><author><name>Endah Raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03645756585023929576</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_z5dbjErpZVE/TPx8pBgqdyI/AAAAAAAAADE/nZS418JdwyI/S220/En-Sketch-Kecil.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2136808397578530804.post-5775799693031165965</id><published>2009-01-28T20:03:00.001+07:00</published><updated>2011-12-02T17:25:30.294+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perjalananku'/><title type='text'>Rekonstruksi Banda Aceh</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Segelas Kopi di Plaza Tsunami&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menara Masjid Raya Baiturrahman  terlihat putih samar-samar di horizon dari arah desa nelayan Lam Teungoh, salah satu desa di Kecamatan Peukan Bada, Propinsi Nangroe Aceh Darussalam, yang diluluhlantakkan oleh gempa bumi dan tsunami akhir tahun lalu. “Menara itu dulu tak nampak dari sini,” kata salah satu warga desa yang selamat dari bencana dengan logat Aceh yang kental.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi banyak orang yang belum pernah melihat Aceh, berita tentang tsunami dan diberlakukannya hukum cambuk belakangan ini mungkin terasa menyesakkan dada. Seolah-olah orang tidak bisa bergerak leluasa di kota yang dijuluki Serambi Mekah ini. Namun kenyataannya, terlepas dari puing-puing yang masih berserakan di seluruh penjuru propinsi dan ruwetnya proses rekonstruksi, Aceh memiliki warga yang ramah, terlebih pada tamu atau pendatang, karena bagi warga Aceh memuliakan tamu adalah kewajiban.&lt;br /&gt;Aceh tampaknya enggan tenggelam dalam duka terlalu lama. Propinsi yang tak pernah berkesempatan hidup dalam ketentraman ini sudah mulai menggeliat pelan, bangun, dan siap berjalan meninggalkan salah satu lembaran terhitamnya. Sebuah cerita baru telah menunggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Geliat itu mampu menggerakkan propinsi yang masih penuh dengan bercak luka di sekujur tubuhnya. Tak hanya kendaraan roda 4 gagah-perkasa dengan aneka macam logo organisasi tertempel di kaca depan atau pintu samping yang sebagian penumpangnya berkulit putih dengan pakaian lapangan yang tampak berlalu-lalang di jalanan, warga Aceh pun telah menemukan kembali rutinitas mereka dan berkegiatan setiap hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hotel dan losmen telah beroperasi lagi sejak 3-4 bulan yang lalu. Semua hotel di Kota Banda Aceh menaikkan tarifnya, rata-rata hingga 100%, bukan hanya karena tingginya permintaan, namun juga untuk menutup biaya perbaikan dan pengadaan berbagai perabot dan perlengkapan yang hanyut terbawa tsunami. Kamar ber AC di sebuah hotel melati yang terletak di pusat kota kini memasang tarif sekitar Rp.200,000,- per hari, sementara dulu hanya Rp.100.000,-.  Dan itu pun tak pernah sepi. Terlebih hotel bintang 3 yang jumlahnya tak seberapa, daftar tunggunya panjang sekali. Siapa lagi yang tinggal di hotel-hotel dan losmen-losmen ini kalau bukan para tenaga ahli dari dalam maupun luar negeri yang ditugaskan ke Aceh untuk memulai rehabilitasi dan rekonstruksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain hotel, dua buah warung internet di kawasan Simpang Lima pun senantiasa ramai dikunjungi, dari mulai buka pada pukul 9 pagi hingga tutup pukul 2 dini hari. Satu jam nongkrong di tempat itu pasti akan melihat banyak orang keluar-masuk dari berbagai negara: Amerika, Jerman, Perancis, Turki, Jepang; juga wajah-wajah Indonesia dengan aneka logatnya: Jawa, Sunda, dan tentu  saja Jakarta dengan “gitu-loh”-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_z5dbjErpZVE/SYBZhQTf9EI/AAAAAAAAAAU/bgfsHjC9YFo/s1600-h/Coffee+Man+2.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5296331589635011650" src="http://3.bp.blogspot.com/_z5dbjErpZVE/SYBZhQTf9EI/AAAAAAAAAAU/bgfsHjC9YFo/s320/Coffee+Man+2.jpg" style="cursor: pointer; float: right; height: 320px; margin: 0pt 0pt 10px 10px; width: 218px;" /&gt;&lt;/a&gt;Hal lain yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kembalinya denyut jantung Aceh adalah kopi. Bagi penikmat kopi, Aceh adalah salah satu surganya. Kopi yang hitam dan kental itu diseduh secara khusus. Untuk menyeduh kopi penjual menggunakan saringan yang terbuat dari kain kira-kira sepanjang 30 cm dengan bibir berdiameter 15 cm yang di dalamnya berisi bubuk kopi. Saringan itu dicelupkan ke dalam semacam panci berbentuk persegi yang ditumpangkan di atas kompor menyala yang berisi air mendidih. Dengan sigap tangan sang penyedu kopi mengangkat saringan kopi dari bibir panci dan membiarkan kucuran kopi hitam tertuang ke dalam gelas-gelas kecil yang dijejer di atas meja di sebelahnya. Ada penjual yang melakukannya begitu saja, tapi ada pula yang bergaya, terlebih bila pembelinya ingin memotret proses penyeduhan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Yang Serba Manis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_z5dbjErpZVE/SYBY0x-317I/AAAAAAAAAAM/vZI2c9Yndjc/s1600-h/Rex+Square.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5296330825581189042" src="http://1.bp.blogspot.com/_z5dbjErpZVE/SYBY0x-317I/AAAAAAAAAAM/vZI2c9Yndjc/s320/Rex+Square.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 240px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 320px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bertahun-tahun lalu, di Kota Banda Aceh ada sebuah gedung bioskop terletak di pusat kota dekat Simpang Lima yang disebut dengan Rex. Karena suatu hal, gedung tersebut dirubuhkan dan lahannya dibiarkan terbuka dan berfungsi sebagai semacam alun-alun. Menjelang petang hari “alun-alun Rex” ini penuh dengan para pedagang makanan: sate padang, sate jawa, sate matang, kerang rebus dengan sambalnya, mi Aceh yang berkuah kental dan pedas, lengkap dengan jus buah segar aneka rasa tergantung musimnya: mangga, alpukat, jeruk, tomat, jambu, sawo dan timun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap sore menjelang maghrib para pedagang berdatangan dan membariskan kursi-kursi dan meja-meja plastik memenuhi ruang terbuka itu.  Sehabis maghrib orang-orang berdatangan dan mencapai puncaknya pada pukul 9 – 11 malam, menikmati makanan yang dijajakan di tempat ini. Beberapa pendatang, baik yang tinggal di Banda Aceh untuk waktu singkat maupun yang terikat kontrak kerja  tahunan, menyebutnya sebagai plaza tsunami. Mereka sering melakukan rendezvouz di tempat tersebut; melepas lelah sambil mengisi perut yang kosong sehabis bekerja di lapangan atau melepas sumpeg dan buneg akibat berpindah dari satu rapat ke rapat lain  dari pagi hingga malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harga segelas kecil kopi kental di kota Banda Aceh rata-rata Rp.1.000 dan segelas besar jus buah segar rata-rata Rp.4.000. Untuk makan sepiring nasi (putih atau goreng) ditambah sepotong ayam atau daging, sambal, acar, kerupuk, dan sejumput oseng-oseng rata-rata orang membayar Rp.10.000. Tapi para pecinta sayuran segar tampaknya harus bekerja ekstra keras bila ingin menemukan warung atau restoran yang menyediakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Aceh tampaknya teramat suka rasa manis. Segelas teh umumnya disajikan dengan tiga sendok makan (bukan sendok teh) gula, begitu pula jus buah dan apalagi kopi. Bahkan sepiring aneka buah segar atau fruit platter disajikan dengan tuangan sirup merah campur serutan es batu di atasnya. Jadi bagi yang tidak suka manis atau berpantang gula sebaiknya jangan lupa meyakinkan penjual, berkali-kali atau bila perlu menyaksikan langsung pembuatannya, agar tidak memasukkan gula ke dalam gelas atau menuangkan sirup di atas fruit platter pesanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah hiruk-pikuknya pertengkaran dan keributan antarlembaga, baik lokal, nasional maupun internasional, yang sangat kontraproduktif untuk pelaksanaan rekonstruksi dan rehabilitasi Aceh, manisnya kopi dan segarnya jus buah yang dapat ditemukan di seluruh penjuru Aceh merupakan suatu rahmat yang pantas disyukuri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Banda Aceh, Agustus 2005.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2136808397578530804-5775799693031165965?l=endahraharjo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endahraharjo.blogspot.com/feeds/5775799693031165965/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2136808397578530804&amp;postID=5775799693031165965' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136808397578530804/posts/default/5775799693031165965'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2136808397578530804/posts/default/5775799693031165965'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endahraharjo.blogspot.com/2009/01/segelas-kopi-di-plaza-tsunami.html' title='Rekonstruksi Banda Aceh'/><author><name>Endah Raharjo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03645756585023929576</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_z5dbjErpZVE/TPx8pBgqdyI/AAAAAAAAADE/nZS418JdwyI/S220/En-Sketch-Kecil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_z5dbjErpZVE/SYBZhQTf9EI/AAAAAAAAAAU/bgfsHjC9YFo/s72-c/Coffee+Man+2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
